29 Mei 2018

[Blogtour + Giveaway] Karung Nyawa - Haditha



Karung Nyawa | Penulis: Haditha | Penyunting: MB Winata | Desainer sampul: Haditha | Penerbit: Bukune | Maret 2018 | Tebal buku: 220 halaman | ISBN: 978-602-220-265-3


Boleh memuji blurb buku ini terlebih dahulu?
Ya! Jujur aku sangat suka pemilihan blurb di sampul belakang. Cukup unik dan membuat penasaran (setidaknya buatku).
Penasaran?
Ini blurb-nya.

*BLURB*

Johan Oman, Pemilik Konter Pulsa
Ah, kejadian lagi, padahal belum juga hilang ingatanku akan kejadian mengerikan itu! Udahlah, tutup konter saja!

Janet Masayu, Pemandu Karaoke
Pacarku memang benar-benar trauma akan kejadian itu. Sekarang dia nggak mau keluar sama sekali dari konter pulsa kecilnya. Harus bagaimana ya kalau sudah begini...

Zan Zabil Tom Tomi, Penjaga Warnet
Menarik! Polisi saja tidak sanggup memecahkan misteri ini.
Sepertinya sudah perlu detektif partikelir yang lama nganggur ini turun tangan.

Tarom Gawat, Cucu Dukun
Gawat... gawat... GAWAT!

Empat pemuda bekerja sama menyelidiki kasus ganjil yang menggegerkan desa. Mereka tidak pernah menyangka akan berada di ranah klenik nan mistik yang membuka rahasia masa lalu kelam Purwosari.
Bukan hanya soal pesugihan dengan tumbal, tapi jauh lebih mengerikan lagi, perihal legenda Toklu--Pemulung pemburu kepala manusia yang mungkin benar adanya.

Kini mereka harus menghadapi tantangan terbesar ketika mendapati bahwa pemburu dan mangsa terakhir dari semua ini lebih dekat dari yang mereka kira.
.
.
.
Dulu, semasa aku kecil (sekitar tahun 90-an) aku pun mendengar desas-desus mengenai orang yang membunuh anak kecil, mengambil kepalanya, dan digunakan buat membangun jembatan. Katanya agar jembatannya kuat dan tidak roboh. Pemburu kepala anak kecil ini sering berkeliaran siang hari.
Aku tentu saja takut mendengar hal tersebut, walaupun dalam hati ada keyakinan bahwa cerita ini buat menakuti anak kecil biar tidak kelayapan siang-siang (dan memilih tidur siang).
Nah! Buku Karung Nyawa karya Hadhita ini mengingatkanku akan hal ini.
Bukan mengingatkan lagi sih lebih tepatnya, tapi memang buku ini menyinggung tentang hal ini. Aku cukup terkejut bahwa cerita ini menyebar di banyak tempat, tidak hanya di Pulau Jawa.

GAWAT!
Ada mayat tanpa kepala ditemukan oleh Johan Oman sewaktu dia berenang di sungai di bawah Jembatan Tobo. Hal ini membuatnya shock.
Tujuh tahun kemudian, mayat tanpa kepala kembali ditemukan dan membuat gempar warga desa. Legenda Toklu – pemulung pemburu kepala manusia kembali terdengar. Duh! GAWAT! GAWAT! Semaikn GAWAT SAJA kondisi kali ini.

Zan Zabil Tom Tomi, alias Jabil, tidak bisa tinggal diam saja melihat fenomena ini. Dia bertekad untuk menyelidiki pelaku dan motif di balik semua misteri yang meneror desa-nya.
Jabil pun meminta bantuan Tarom, si anak dukun, dan juga sahabatnya, Oman Hanoman yang pertama kali menemukan mayat sewaktu dia kecil. Janet, pacar Oman pun turut membantu karena dia secara tidak langsung juga memiliki hubungan dengan kasus ini.

Empat pemuda ini masing-masing memiliki ketakutan sendiri-sendiri. Sembari mengungkapkan kasus mayat tanpa kepala ini, mereka pun berusaha menghadapi ketakutan mereka sendiri. Tidak mudah memang, namun tekad yang kuat membuat mereka mampu menghadapinya.

Banyak hal-hal klenik, mulai dari makhluk halus, pesugihan dengan berbagai macam bentuk dan tumbal, dan kisah rentenir di pedesaan pun dibahas dalam buku ini yang mebuatnya begitu kaya akan nuansa local. Terasa dekat dengan sehari-hari suasana desa apalagi diceritakan pula kebiasaan nongkrong di bawah pohon, ngerumpi penduduk desa, dan keadaan sekitar yang sepi kalau malam.

Suka. Aku suka.

Apa yang sebenarnya terjadi? Hal-hal yang mereka hadapi dalam mengungkapkan misteri ini sungguh menarik. Namun aku tidak akan menceritakan lebih lanjut lagi karena lebih asyik jika kalian membaca dan mencari tahu sendiri misteri di dalam buku ini.

Nah, aku akan menyebutkan hal-hal yang aku sukai dari buku ini. Beberapa di antaranya adalah:

  1. Gaya bercerita Haditha yang lebih terasa seperti percakapan sehari-hari. Jika aku menulis sebuah cerita, maka aku merasa akan menulis dengan gaya yang mirip (walaupun akau malas menulis cerita).
  2. Tema dan karakter yang sangat kental dengan nuansa lokalnya (yaiyalah! Buku ini kan memang settinganya di Pulau Jawa). Hal-hal klenik, pesugihan, dan reaksi warga dalam menyikapi hal-hal berbau mistis dan sudut pandang dari agama dan kepercayaan terasa dekat karena memang hal seperti inilah yang terjadi di sekitar kita.
  3. Aku suka pemilihan nama-nama para tokoh di buku ini. Lucu, unik, dan tentu saja ada maknanya. Apalagi memanggil nama disertai dengan julukan yang melekat dalam diri pribadi orang tersebut. Bukankah hal ini banyak terjadi di sekitar kita?
  4. Aku suka dengan penyelesaian konflik di buku ini. Saking terlalu focus kepada hal-hal yang mereka curigai, mereka tidak sadar bahwa sebenarnya sang pelaku sangat dekat dengan mereka. Ah, cukup tidak terduga dan membuat geregetan. Aku sangat berharap lho kisah para tokoh di buku ini dilanjutkan. Penasaran.

Kalau masalah kekurangan buku ini sih masih ada beberapa typo di beberapa kata. Selain itu pula, karena gaya penulisannya agak mirip percakapan, kadang kita harus membaca ulang beberapa kalimat akibat pemenggalan yang mungkin tidak tepat waktu membac pertama kali. Kalau ngomong kan kita tidak memperdulikan EBI makanya susunan kalimatnya sering semau kita sendiri.
Hal lainnya adalah ukuran huruf yang cukup kecil sehingga kurang nyaman di mata ketika membacanya.

Cukup hal ini saja sih.

Oh iya, aku lupa bilang kalau aku suka sekali dengan desain sampulnya. Sederhana tapi keren banget. Warnanya juga pas.

Dampak buku ini buatku adalah aku tidak lagi memandang para pemulung sampah yang membawa arit dan karung dengan cara yang sama lagi seperti dulu. Mau tidak mau aku selalu teringat cerita karung Nyawa dan dongen semasa aku kecil. Apalagi jumlah pemulung yang sering terlihat di komplek perumahan tempat aku tinggal lumayan banyak.


Rating 3,5 bintang

----oOo----



Waktunya PENGUMUMAM GIVEAWAY…

Terima asih kepada semua yang ikutan giveaway ini. Walaupun tidak banyak yang ikutan namun aku senang akan cerita-cerita kalian.

Aku memutuskan pemenang giveaway kali ini adalah...


July Nine (Amy)
@izzahxamy
 
Selamat ya.
Aku akan menghubungi dari twitter. Terima kasih. 



25 Mei 2018

[Book Review] Warcross - Marie Lu


Judul Buku : Warcross | Penulis : Marie Lu | Penerbit @mizanfantasi | Penerjemah Nadya Andwiani @Bookzfreak Editor : Dyah Agustine @Dblueholic | Tebal : 472 Hal | ISBN 9786026699114
.
.
.
Mengetahui Warcross diterbitkan @MizanFantasi aku senang. Diterbitkan dengan cover sama dengan edisi Englis aku juga senang. Colorful.

Aku menikmati Legend dan The Young Elite trilogy makanya aku cukup tertarik dengan Warcross. Apalagi membaca temanya adalah mengenai game. Aku semakin tertarik. Seru sepertinya. Pikirku.

Pertama kali buka buku ini aku langsung mengecek halaman yang mencapai 472. Tebal. Wah! Bisa lama nih bacanya. Gumamku.

Kemudian aku melihat ukuran font yang cukup besar dan enak dipandang. Aku gembira karena tanpa sadar hal ini mempengaruhi semangat membaca. Jujur, melihat font-nya saja langsung membuatku bersemangat untuk mulai baca. Wah! Bisa cepat nih dibacanya. Nyaman di mata dan gak perlu mata disipitin seperti Hideo Tanaka. Ujarku.

Namun, ada sedikit kekhawatiran tentang tema yang cukup mirip RPO yang sedang menjadi pembicaraan banyak orang apalagi film dan bukunya baru saja beredar di Indonesia. Masih hot. Apakah aku akan mendapatkan sesuatu yang mirip? Apakah aku bisa menikmatinya secara utuh? Aku tahu tidak ada ide/hal yang benar-benar baru di dunia ini. Namun, aku ingin mendapatkan sesuatu yang Marie Lu banget.

Nah, setelah membacanya aku bersyukur karena mendapatkan hal yang berbeda dari RPO atau buku sejenisnya. Warcross terasa menyenangkan dan fresh. Khas penulisan dan gaya bercerita Marie Lu sangat terasa. Warcross sangat berbeda dengan Oasis. Aku suka RPO, namun aku tidak butuh Oasis dalam bentuk lain. Warcross berbeda dengan bayanganku, namun aku malah menikmatinya walaupun tidak digambarakan dengan sangat detail.


Nah, saking menikmatinya aku bisa menyelesaikan buku ini cukup cepat. 3 hari.

Lama katamu? Yah, bagi orang sibuk macam saya, 3 hari itu cepat. Haha.

Cerita dalam Warcross kira-kira seperti ini.

Warcross adalah sebuah permainan virtual melegenda dan menjadi bagian dari gaya hidup umat manusia masa kini. Tidak hanya bermain, banyak hal bisa di lakukan di Warcross, termasuk sebagai sumber penghasilan.

Emika Chen seorang yatim piatu merupakan pemain (Player) Warcross, terobsesi dengan Warcross yang menyelamatkan hidupnya dari kehancuran dan mengidolakan Hideo Tanaka, pencipta Warcross.

Emika bekerja sambilan sebagai seorang pemburu bayaran (Hunter) untuk mendapatkan uang buat melunasi utangnya yang semakin. Selain itu pula, Emika adalah seorang peretas (Hacker). Peretasan yang dilakukan dalam “The International Warcross Championships” mengubah hidupnya dan menjadikannya bagian dari pemain (Pawn) Warcross dengan misi rahasia.

Karakter para tokoh di Warcross cukup menarik.

Emika, gadis tangguh berusia 18 tahun berusaha untuk bertahan hidup. Sosoknya yang tangguh dan tidak neko-neko membuatnya menjadi tokoh utama yang gampang disukai pembaca.

Hideo Tanaka, pencipta Warcross, sang billioner muda merekrut Emika untuk mencari peretas yang membahayakan Warcross. Hideo tokoh yang dingin, cuek, dan memiliki masa lalu yang membuatnya menjadi seperti sekarang ini. Hideo memang tidak digambarkan dengan begitu detail, terutama masa lalunya, namun bagiku itu cukup memberikan gambaran sosok Hideo.

Para tokoh Phoenix Riders pun menyenangkan dengan kelebihan dan kekurangan sifat masing-masing, namun mereka bisa saling melengkapi. Team Phoenix Riders mengingatkanku akan Perkumpulan Belati di The Elites Series.

Bagi yang menginginkan Warcross dan pertandingannya diceritakan secara detail, maka bersiaplah untuk tidak puas. Pertandingan Warcross (yang ternyata dimainkan secara team) tidak dikupas dengan mendalam. Bahkan pertandingan tema lain tidak dibahas sama sekali. 

Kalau aku sih maklum, Marie Lu kan emang begini gayanya. Dia hanya fokus kepada cerita utama saja, yaitu masalah pencarian peretas yang ingin mematikan Warcross dan juga hubungan Emika dengan tokoh lainnya.

Cerita ini tidak rumit, tinggal menikmati petualangan Emika.


Warcross juga tidak susah dipahami. Walaupun awal agak susah membayangkan dunia Warcross, saranku sih cukup lanjut baca dan bayangkan, maka akhirnya kita akan bisa membayangkan Warcross itu seperti apa.

Ada hal yang aku sukai di Warcross, yaitu pemberian poin/nilai bagi pemain Warcross selama bermain walaupun hanya melakukan aktivitas biasa, seperti mencoba minum jus enak pertama kali.


Hal ini mengingatkanku akan sebuah kota di Legend series (Prodigy kalau nggak salah ingat) yang memiliki system penilai akan aktivitas penduduknya.



NB:



Karya-karya Marie Lu adalah tipe fast read. Cara bercerita yang enak membuat buku ini tiba-tiba saja sudah selesai.

Perumpamaannya adalah jika kita mengendarai mobil ke suatu tempat, melewati jalan besar, sesekali berbelok, ada lubang sedikit di jalan. Kita sedang asyik berkendara, menikmati pemandangan dan tiba-tiba saja kita sudah sampai di tujuan. Tidak semua pemandangan bisa kita lihat dan perhatikan dengan seksama.
Kita pun merasa, wah, kok sudah sampai. Tidak terasa.
Kadang rasanya perjalanan yang kita tempuh terasa singkat dan ingin menambah waktu perjalanan.

Bagi orang yang menyukai perjalanan dengan banyak tantangan, seperti jalan menanjak, banyak belokan tajam, jalanan batu berkerikil, sesekali mobil mengebut di jalanan, kadang terengah-engah, maka mungkin perjalanan seperti di atas terasa kurang menantang.

Nah, begitu pula dengan tipe penulisan Marie Lu dalam Warcross ini. Penceritaan yang enak dan mengalir membuat bacaan ini tiba-tiba saja selesai padahal rasanya ingin nembah dan masih banyak yang bisa dikembangkan.

Konflik yang diutarakan tidaklah luas, hanya fokus dalam perburuan peretas dalam Warcross. Dunia Warcross pun tidak diceritakan dengan sangat detail namun sudah cukup tergambarkan dengan baik. Aku bisa membayangkan cara permainan dan dunia yang diciptakan dalam Warcross. Team lainnya pun Tidak banyak plot twist dan adegan yang mengejutkan atau membuat nafas berat saking menegangkannya.

Bagi yang ingin menikmati lebih, maka Warcross terasa cukup menyenangkan, tapi tidaklah menakjubkan. Namun, bagi yang menginginkan bacaan seru, tidak terlalu berat, dan bacaan di kala santai, buku ini cocok buatmu.

Mengenai terjemahannya aku suka. Mengalir dan sepertinya dilakukan penyesuaian untuk beberapa kata-kata/kalimat yang membuatku penasaran versi aslinya (English) menggunakan kata apa.

Typo? Entahlah ya, aku tidak teralu memperhatikan yang artinya walaupun ada tidak langsung terlihat.

Btw, ada yang menjadi pertanyaanku.


Cerita Warcross ini settingnya tahun berapa sih? Apakah masa kini atau masa depan? Sepertinya aku terlewat membacanya.

Intinya, Warcross menghibur dan menyenangkan sih.


#TeamSuksesMarieLu #RevieWarcrossUntukDblueholic

26 Maret 2018

[Blogtour + Giveaway] Drama Mama Papa Muda – Punky Prayitno and Topan Pramukti





Judul Buku : Drama Mama Papa Muda – Kisah-Kisah Renyah Penuh Tawa dan Air Mata
Penulis : Pungky Prayitno dan Topan Pramukti
Penerbit Laksana
Cetakan Pertama Februari 2018
Tebal : 232 Halaman
ISBN 9786024073190

“Bagi Bapak, pernikahan dan rumah tangga adalah kerja sama. Kerja sama untuk sama-sama bahagia.” (hlm. 83)
Awal ditawari oleh team dari Penerbit Diva Press untuk mengulas buku tentang parenting, aku menyetujuinya. Alasan aku menerima tawaran ini adalah karena aku memang sedang membutuhkan bacaan non-fiksi dan butuh asupan untuk tambahan ilmu soal parenting. Aku memiliki seorang putri kecil berusia 3 tahun dan aku ingin mendapatkan ilmu dan sudut pandang dari buku parenting yang aku baca.
Namun, ternyata buku yang aku terima bukan tentang parenting tetapi isinya malah curhatan tentang mama dan papa muda dalam mengarungi rumah tangga mereka yang tidak biasa-biasa saja. 

Apakah aku kecewa? Tidak.
Apakah aku menyukai buku ini? YES! 

Sebelum membahas lebih lanjut mengenai buku ini, aku ingin mengatakan kalau aku suka banget sama buku ini. Alasannya adalah karena buku ini terasa nyata, terasa dekat, dan rasanya seperti membaca kisah hidupku yang tercermin dan terwakilkan dalam hidup orang lain.

Mengapa aku mengakan hal ini? Karena aku sangat mengerti apa yang dialami oleh pasangan Mbak Pungku dan Mas Topan ini. Sewaktu membaca ucapan mas Topan mengenai terbitnya buku ini, bahwa hal-hal yang mereka tulis dalam buku ini kontroversial dan bisa menimbulkan perdebatan, caci maki dan pem-bully-an dari pihak lain, aku sih sepakat dengan Punky. Ini adalah kisah mereka dan tidak perlu mendapatkan restu atau persetujuan dari orang lain. 

Aku mengatakan aku mengerti adalah karena aku pun pernah mengalami fase “drama pasangan muda” dengan segala masalahnya. Tidak sama persis memang, tapi mirip. Makanya, membaca buku ini sangat memuaskanku karena seolah bagian dari drama keluargaku tertuang di buku ini.
Sebelum aku (ikutan) curhat setelah membaca buku ini, berikut aku ceritakan sedikit isi dari buku “Drama Mama Papa Muda” ini. 

Buku ini diawali dengan pertemuan (kencan) pertama Mbak Pungky dan Mas Topan yang menjadi awal mula segala cerita dalam kehidupan keluarga kecil mereka. Tanpa basa-basi dan cerita yang panjang, secara singkat dan jelas kisah cinta mereka yang mulai bersemi cukup membuat aku yang membacanya tersenyum. So sweet banget. Lagipula nggak perlu panjang lebar membaca tentang kisah asmara mereka karena bukan itu inti buku ini.

Buku ini dibagi menjadi empat bagian.
Bagian 1 adalah tentang Drama Mama Muda, curhat dari Pungky – sang istri dan sang mama muda. Ada cerita tentang keputusan menikah muda, memiliki anak, dan tentang meraih impian walaupun sudah berkeluarga. Berkeluarga dengan asisten rumah tangga. Hidup tanpa pembantu rumah tangga. Melawan Postpartum Depression.
Bagian ini adalah curhatan seorang wanita yang hidupnya berubah setelah menikah muda, memiliki anak, dan menjadi mama muda, dan problematika rumah tangga. Cerita yang sangat real dan tidak terasa dilebih-lebihkan.


Bagian 2 Drama Papa Muda.
Bagian ini adalah bagian yang paling ingin aku baca pertama kali karena sebagai “suami dan papa muda” aku ingin membaca cerita (penderitaan) yang dialami oleh Mas Topan Pramukti.
Ada beberapa sub judul dalam bab curhatan sang suami dan papa muda ini, di antaranya “Kepada para suami, saya mohon bacalah sebentar. Pergilah Bu, bahagiakan dirimu. Sini nak, sama bapak. PMS selalu benar.”
Aku paling penasaran akan isi curhatan mas Topan tentu saja karena aku adalah lelaki, suami, dan juga seorang papa muda. Apa sih yang dialami oleh mas Topan. Mirip dengan kisahku nggak ya? Aku menyukainya karena banyak yang mirip , namun sayangnya kurang banyak. Haha.


Bagian 3 Drama Tumbuh Kembang.
Bab ini lebih banyak didominasi oleh curhatan mengenai anak mereka, Sujiwo.
Bagian tiga ini berisi pembahasan “Ibu Bangga. Drama penyapihan. Tentang berbagi dan memberi. Jangan pintar, jangan shalih, Jangan berguna bagi nusa bangsa. Mimpi.”
Aku suka karena dalam kehidupan seorang mama dan papa muda, selalu ada hal menarik yang menjadi perdebatan jika berhubungan dengan “membesarkan seorang anak”. 

Bagian 4 Drama Dua Hati
Ah, bagian ini sebenarnya bagian yang akan membuat perasaan campur aduk karena menyangkut tentang suatu hal yang tidak kita harapkan terjadi, namun mau tdak mau ada kemungkinan. Beberapa hal yang dibahas antara lain, “Ibu Macam apa kamu. Urusan rumah tangga kami bukan konsumsi public. Ateis paling sederhana. Karena hati selalu punya jalan sendiri. Menerima kita apa adanya. Menikah itu indah.”

Kalian penasaran tentang hal-hal lebih rinci di setiap bagian? Makanya baca dong. Hehe. 
Membaca buku yang diambil dari kisah penulisnya yang merupakan mama papa muda ini seolah mengingatkanku kembali akan kisah hidup yang aku jalani. Ada orang lain yang menjalani kehidupan yang mirip, bahagia dan susahnya, perjuangannya, dan bahwa ada penyelesaian akan semua masalah yang terjadi. 

Sebenarnya, aku ingin membaca lebih banyak dari sudut pandang sang suami karena aku adalah seorang suami dan papa muda. Soal PMS yangselalu benar itu setuju banget. Kadang tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba ada badai. Apalagi aku LDR selama 5 tahun lebih dan setiap mendekati PMS atau tiba masa PMS, pikiranku seolah-olah ingin meledak dan ingin tidur nyenyak saja melupakan dunia. Haha.

Ada pula bahasan tentang Postpartum Depression. Sebuah fase yang bisa terjadi kepada perempuan mana saja setelah melahirkan. Aku tahu bagaimana rasanya menjadi suami yang menghadapi drama ini. Memang sih, istriku bukan mengalami postpartum depression ini. Aku tidak tahu apakah sama atau berbeda masalah yang aku hadapi. Di tahun keempat usia pernikahan kami dan di usia menjelang tiga tahun anak kami, hubungan kami mulai menunjukkan gejolak akibat hubungan jarak jauh. Hal ini mulai terasa di akhir kehamilan istriku, kelahiran anakku, dan perjuangan istriku membesarkan anak dan berjuang seorang diri tanpa ada aku yang selalu menemani. 
Istriku mengalami perubahan suasana hati yang sangat cepat berubah. Aku harus menghadapi perubahan suasana hati istri yang selalu berubah-ubah, fase depresi, fase ingin menyakiti diri sendiri, menyakiti anak kami, dan fase ingin bunuh diri.

Aku tidak bangga akan hal ini. Aku pun tidak mengatakan aku mengeluh. Aku hanya ingin berbagi pengalaman. Selama menghadapi hal ini dalam kondisi pernikahan jarak jauh, initerasa sangat berat bagi kami. Tapi, seperti Mas Topan, ini bukan hanya perjuangan istri, ini pun adalah perjuangan suami, bersama-sama melewati masa ini dan menguatkan perasaan kami yang tanpa kami sadari semakin jauh akibat jarak jauh. Ini berat tapi kami tidak mau menyerah.
Eh, kok aku malah curhat ya?
Maafkan.

Nah, makanya aku katakan bahwa aku sangat mengerti apa yang diceritakan dalam buku ini. Aku sangat memahami perasaan Mbak Pungky dan Mas Topan karena aku pernah mengalami hal yang mirip dengan kisah mereka. Karena hal inilah makanya aku sangat menyukai kisah di dalam buku ini dan sangat bersyukur diberikan kesempatan oleh penerbit Diva Press untuk mengulas buku ini.

Sungguh sebuah buku yang bagus dan penuh makna. Sayang sekali jika kalian melewatkan membaca buku ini.

“Jiwo nggak usah takut memimpikan apapun. Kalau ada seseorang yang mungkin nanti akan ngeluarin komentar sinis soal mimpimu, kemungkinan besar orang itu Bapak.” – hal.168
Ngomong-ngomong, aku sangat tertohok akan kutipan di atas.

---



GIVEAWAY TIME


Aku sangat menyukai buku ini.
Buku ini bisa memberikan gambaran akan kehidupan lain dari apa yang mungkin kita ketahui dan harapkan dari sebuah pernikahan. Buku ini sangat cocok dibaca oleh siapa saja, baik yang masih sendiri, siapapun yang berniat menikah dalam waktu dekat, seorang yang sudah menikah dan mempunyai anak, atau bagi orang dewasa yang sudah banyak mengecap asam garam kehidupan pernikahan.
Ada yang berminat memperolehbuku ini secara gratis?
Mau? Kebetulan ada satu buku yang akan aku berikan secara gratis buat kalian ini. Berikut syarat dan ketentuannya, ya.
  1. Domisili di Indonesia
  2. Follow Twitter @divapress01, IG @penerbitdivapress, dan like FB Penerbit Diva Press (wajib). Selain itu pula boleh juga follow Twitter @sulhanhabibi dan IG @sulhanhabibi punyaku ya. Mari berteman.
  3. Bagikan tautan giveaway ini di media sosial. Mau mention saya dan penerbitnya atau tidak, bebas.
  4. Tulis nama, akun Twitter/IG, dan domisilimu di kolom komentar, diikuti jawabanmu untuk pertanyaan berikut:
“Bagaimanakah tanggapan kalian mengenai “Pernikahan Jarak Jauh”? Jika kalian dihadapkan akan kenyataan bahwa kalian harus terpisah dalam jangka waktu yang tidak bisa ditentukan, apa yang kalian lakukan?”

Periode giveaway ini dibuka selama satu minggu ya, mulai dari tanggal 26 Maret sampai dengan tanggal 1 April 2018. Pengumuman akan aku posting di sini selambat-lambatnya tanggal 3 April 2018.
Nah, tidak susah, kan? Selamat mencoba dan semoga beruntung, ya.
Terima kasih.

---------------------------------------------oOo-----------------------------------------------

UPDATE PEMENANG

Terima kasih banyak atas partisipasinya dalam giveaway ini.
Walaupun hanya 10 orang yang ikut, namun aku tetap senang dan tertarik dengan bermacam pendapat tentang hubungan jarak jauh.
Tidak ada yang salah dengan pilihan hidup masing-masing.
Tidak ada penyelesaian masalah dengan cara yang sama untuk masalah yang sama untuk beberapa orang.

Nah, aku bingung nih menentukan pilihan.
Setelah membaca jawaban dan juga memilih lewat random.org, terpilihlah pemenangnya.

Jeng...Jeng...Jeng...

Selamat kepada

HAMDATUN NUPUS
Twitter/IG : @hamdatunnupus

Aku akan menghubungi via IG dan/atau twitter.
Mohon direspon dalam waktu 2x24 jam ya.

Terima kasih.

6 Maret 2018

[Book Review] Alctaraz Vs The Evil Librarians series - Brandon Sanderson


Uneg-Uneg ini adalah tentang seri Alcatraz Vs The Evil Librarians karya Brandon Sanderson yang sebenarnya kisah nyata dari Alcatraz Smedry yang menceritakan tentang hidupnya sendiri atau disebut Autobiography diterbitkan menjadi sebuah kisah fantasi padahal bukan dan di Indonesia terjemahannya diterbitkan oleh @mizanFantasi dengan total 5 buku dan sudah diterbitkan semua tapi pengennya sih ada kelanjutannya karena lima buku ini tidak cukup buatku.

Wuiiih.. panjang ya?
Kalian baca dalam satu tarikan nafas nggak? Kalau nggak, tolong ulangi baca dalam satu tarikan nafas. Menantang lho! Haha #iseng

Sepertinya akan pajang nih pembahasannya, tapi aku berharap kalian tidak bosan. Soalnya pengen ngoceh banyak, panjang lebar dari dua sisi, dari sisi bukunya dan sisi penerbitan oleh Mizan Fantasi dan team.
Pertama aku aku bahas dari penerbitan seri ini oleh @MizanFantasi dan team.
  1. Aku suka sama cover seri Alcatraz ini yang penuh warna dan ilustrasi yang cakep. Ada jenis cover yang awalnya kita menganggap bagus tapi lama kelamaan terlihat biasa saja dan kurang menarik, namun seri Alcatraz dari MF ini justru kebalikannya. Awal lihat teaser covernya aku menganggap terlalu kekanakan, tapi semakin lama terlihat semakin bagus dan keren. Aku jujur lho ini, bukan review berbayar. Oleh karena itu, terima kasih buat yang desain sampulnya yang keren ini. SUKA!
  2. Terima kasih buat mbak Dyah @dblueholic dan mbak Nana @bookzfreak yang menerjemahkan seri ini sampai selesai. Terjemahannya enak dan mengalir. Aku pun terkesan akan pemilihan kata-kalimat untuk menyesuaikan lelucon nan absurd di buku ini. Aku tahu itu tidak mudah mencari padanan kata yang sesuai atau kalimat pengganti tanpa mengurangi kenikmatan membacanya.
  3. Aku suka buku ini diterbitkan dalam waktu singkat langsung 5 buku tanpa harus berjamur menunggu lama. Aku suka akan keputusan Mizan Fantasi dan team untuk hal ini karena kadang hype atau rasa sebuah cerita bisa berkurang karena lama menunggu kelanjutan kisahnya. Lagipula sebuah seri yang sudah selesai tidak perlu menunggu lama (sampai setahun atau lebih) untuk diterbitkan lagi. Apalagi tipe pembaca di Indonesia, tunggu lengkap baru beli/baca. Lagipula cerita seru, nunggu terjemahan lama, selain lupa ceritanya, jangan salahkan jika pembaca lari ke edisi English-nya.
  4. Gitu aja sih. Kalau ada tambahan paling edit caption. Haha!

Panjang ya? Huahahaha..
Peduli amat. Nambah deh ocehannya yang membahas tentang seri ini keseluruhan dan tentang si Brandon Sanderson si jenius yang suka menyiksa pembaca dan aku pengen baca buku karya dia lainnya contohnya Mistborn series ((lagi suka nulis panjang-panjang tanpa tanda baca!)).

Apa yang biasanya kalian harapkan dari akhir suatu kisah?
Pertama-tama aku katakan kalau ending buku kelima (seri terakhir) Alcatraz ini sangat jauh dari bayanganku. Akhirnya itu mengguncang jiwa dan perasaan berkecamuk karena kejadian yang begitu tiba-tiba dan diceritakan dengan sesingkat mungkin tapi efeknya “BOOOM…!!!” pengen ngumpat “WHAT THE…..!!”

Eh, kok aku menceritakan bagian ending dulu?
Ya, alasannya biar kalian penasaran. Jika sang penulis, Alcatraz Smedry (bukan si Brandon Sanderson – yang mengalami kelainan jiwa) gemar menyiksa pembacanya, mengapa aku tidak melakukan hal yang sama dengan menyiksa kalian dengan rasa penasaran? **Haha.. rasakan tuh perasaan tersiksa**

Suka baca buku biografi? Atau suka baca fiksi apalagi fantasi?
.
.
Nah, seri Alcatraz Vs The Evil Librarians ini cocok buat kalian yang menyenangi biografi namun fiksi apalagi dengan sentuhan fantasi tidak sembarangan. Buku "Alcatraz Vs. The Evil Librarian" ini sebenarnya adalah biografi Alcatraz Smedry yang disamarkan menjadi buku fiksi fantasi dengan nama samaran Brandon Sanderson.

Kalian tahu nggak kalau semua pengetahuan di dunia ini sudah dimanipulasi oleh para Pustakawan? Kenyataan yang kalian ketahui semua hanyalah kebohongan belaka.
Buku ini berbahaya, makanya disamarkan menjadi kisah fantasi.

Dunia yang kita tinggali ini terdiri dari Dunia Merdeka dan Dunia Sunyi. Dunia Sunyi adalah dunia yang selama ini kita kenal dan dikuasai oleh para Pustakawan.

Buku ini aneh, keren, memiliki ide jenius dan cara penulisan yang juga unik. 
Buku ini absurdnya lucu, unik, kocak, jayus, dan penuh hal-hal aneh tapi memukau. Jujur, aku merasa buku ini mungkin nggak cocok buat beberapa orang (yang normal) karena ke'absurd'annya dan mungkin gaya berceritanya.

Alcatraz ini keluarga Smedry yang memiliki bakat atau kemampuan "merusak barang" dan cenderung berbuat keributan dan menjelaskan hal-hal tidak penting.

Selain bakat Alcatraz, yang namanya seperti nama penjara terkenal, yang tampak tidak berguna, ada pula bakat/kemampuan lainnya yang bakal kalian anggap lebih "nggak guna”.
Sebut saja bakat bermuka jelek ketika bangun tidur, bakat tersandung terguling-guling,
Awalnya aku merasa bakat kekuatan dibuku ini semacam lelucon.
Namun, begitu bakat itu ternyata sangat berguna, aku langsung tertawa dan berujar, "GILA JENIUS BANGET INI PENULISNYA!" 😂

Buku ini memberikan rasa senang dan membuat tertawa dengan caranya sendiri. Selain Alcatraz suka mengalihkan cerita utama yang sedang seru dengan perkataannya yang tidak penting, Alcatraz akan memuji dirinya sendiri dan mengejek kalian yang suka cerita roman, suka membaca cerita seri bukan dari buku pertama, juga suka menipu kalian dengan perkataannya yang suka melantur kemana-mana.

Buku Satu, si Alcatraz berusaha meyakinkan pembaca bahwa dia bukan pahlawan. Tapi menunjukkan sikap heroiknya.

Buku kedua dia meminta pembaca tidak mempercayainya.

Buku ketiga, dia mengakui dan sering menyebut dirinya keren. Malah mulai besar kepala.

Buku keempat, justru dia menyebut dirinya sendiri dan meyakinkan pembaca bahwa dia BODO, yang saking bodohnya, mengeja kata bodoh saja salah menjadi bodo.

Apa sih maunya si Alcatraz ini? Pengen digampar deh. Hahaha.

Si Alcatraz semakin kurang ajar. Selain mengkambing hitamkan Brandon Sanderson, dia mengakali pembaca dan masih sering mengejek pembaca. Apalagi buat yang suka baca ending buku di awal.

Lelucon di buku ketiga terkesan mirip sama lelucon absurd buku pertama dan kedua. Sempat merasa bakal terjadi pengulangan, namun justru si Brandon Sanderson - yang dicurigai gila dan sering bicara sendiri - membuktikan kejeniusannya lagi.

Pernah nggak sih kalian membaca buku sampai membolak-balik halaman nya dan mengecek urutan nomor halaman karena mengira salah cetak, halaman kurang, atau ada bagian yang terlewatkan?

Buku ini kurang ajar karena membuatku melakukan hal tersebut.
Tahu nggak kenapa?
Karena si Alcatraz BODO ini memulai buku ini dari BAB DUA. Aku sampai bolak-balik halaman nyari Bab SATU nya.
Pengen nampar orang nggak sih?
Dia berdalih bab 1 itu sangat penting dan rahasia, juga seru, dan dia menyebutkan hal tersebut kepada kita sebagai pembaca.

Buku ini adalah buku dengan Bab terbanyak sedunia karena jumlah bab-nya tak terhingga ditambah 1.

Kok bisa? Ya maunya si Smedry ini.

Alcatraz.
Kamu kurang ajar. Hahaha!
Sungguh buku yang unik, menyegarkan, dan menyenangkan.

Buku kelima ini terasa agak berbeda dengan buku sebelumnya. Absurd, lelucon, dan jeniusnya kembali dengan hal yang berbeda dari sebelumnya. Naik tingkat ya, bukan jenis pengulangan jokes atau ke-absud-an dari buku sebelumnya. Di sinilah kejeniusan sang master *troll pembaca* semakin dikukuhkan.

Masih dengan kelakuan keluarga Smedry yang seenaknya, ada pula bakat baru, penamaan BAB yang begitulah, dan penyiksaan dalam bentuk lelucon baru. Coba angkat kakimu, ada tulisannya nggak? Nah, kalau kamu mengerti leluconku ini, itulah jenis penulisan baru yang ditemukan Alcatraz dan dibuat lelucon olehnya.
Buku kelima ini langsung melanjutkan kejadian di buku keempat. Ceritanya berlangsung dalam tempo yang cepat tapi masih diselingi celotehan si Al yang kadang kacau.

Si Al ini sudah mewanti-wanti untuk tidak mempercayainya, mengatakan dirinya bukan Hero, mengatakan dirinya pembohong, pengecut, dan lainnya. Mungkin si Al ini lelah menuliskan kisahnya sehingga jeda antara buku 4 dan 5 ini berjarak 6 tahun. Entah si Al lelah, atau tidak tega (tidak sabar) mengakhiri kisahnya sendiri, aura buku kelima ini lebih gelap dari buku-buku sebelumnya )judulnya saja ada kata DARK #eh nggak ada hubungannya kynya).

Yah, intinya Brandon Sanderson ini jenius dan bersiaplah disiksa olehnya. Disiksa oleh keabsurd-an ceritanya, disiksa oleh leluconnya, dan disiksa oleh bagaimana dia mengakhiri buku ini.

Kata dia sih, pembaca itu suka disiksa. Yes! Aku suka disiksa oleh kisah Al, tapi kan NGGAK GINI JUGA AL!! Kamu berhutang banyak buat kami. Haha! Camkan itu.

Bastille!! Tolong tampar si AL kampret ini!!
.
.
.
Jadi, inti ceritanya apa?
Ya intinya Keluarga Smedry melawan Para Pustakawan Durjana. Biar lebih greget, mending baca sendiri. Haha.