8 Februari 2017

[Blogtour + Giveaway] Simon Vs. The Homosapiens Agenda (Becky Albertalli) - Penerbit Spring



Simon Vs The Homosapiens Agenda

Penulis : Becky Arbertally
Penerjemah : Brigida Ruri
Penyunting : Selsa Chyntia
Desain Sampul : Marla Putri
Penerbit : Spring
Tebal :  324 halaman
Cetakan Pertama : Januari 2016
ISBN : 978-602-60443-0-3

Rating : ★★★☆☆


*blurb*

"Gara-gara lupa me-logout akun E-mailnya, Simon tiba-tiba mendapatkan sebuah ancaman. Dia harus membantu Martin, si badut kelas, mendekati sahabatnya, Abby. Jika tidak, fakta bahwa dia gay akan menjadi urusan seluruh sekolah.

Parahnya lagi, identitas Blue, teman yang dia kenal via E-mail akan menjadi taruhannya.
Tiba-tiba saja, kehidupan SMA Simon yang berpusat pada sahabat-sahabat dan keluarganya menjadi kacau balau."

---

Nah, inilah awal mula konflik yang akan menjadi inti cerita dalam buku "Simon vs. The Homosapiens Agenda" karya Becky Arbertally ini. 

Punya email (surel) - memakai fasilitas umum untuk mengaksesnya - lupa log out (karena tidak sengaja ata kebiasaan) - ada rahasia di dalamnya yang tidak ingin diketahui orang lain (tidak selama kamu ingin itu rahasia) - diketahui orang lain - digunakan sebagai alat pemerasan.

Simon Spier setidaknya memiliki ke-sial-an tersebut karena ketidaksabarannya untuk berkomunikasi dengan Blue, teman berkirim pesan, yang sama-sama memiliki orientasi menyukai sesama jenis. Blue ini 'ditemukan' oleh Simon melalui postingan di "Tumblr Creeksecrets" sekolahnya (jujur aku gak tau Tumblr creeksecrets apaan. Kalau sekadar tumblr sih tahu - dasar katrok). Melalui keberanian dan kenekatan, Simon mencari tahu email Blue. 

Martin, teman sekolah dan teman satu klub drama, adalah orang yang mengetahui rahasia Simon tersebut melalui email yang dia 'temukan'. Selama ini tidak ada yang mengetahui Simon 'gay' kecuali dirinya sendiri dan Blue.
Martin, orang yang kikuk dan tidak populer, menggunakan rahasia Simon untuk memanfaatkan Simon mendekatkan dia dengan Abby (teman dekat Simon). Screenshot email antara dSimon dan Blue-lah senjata yang dia gunakan. Namun, Simon menanggapinya dengan setengah hati yang akhirnya membuat perubahan yang sangat besar dalam kehidupan sekolahnya, hubungannya bersama keluarga dan teman-temannya, serta yang paling dia khawatirkan yaitu identitas Blue dan juga perasaan Blue apabila semua ini terbongkar.

Makanya jangan lupa "log out" email maupun media sosialmu ya! :)

---

"Ini persoalanmu, Simon." - Leah.
"Tapi kau punya hak terhadap emosimu." - Simon 
"Meski begitu, ini bukan tentang aku." - Leah 
     -hal. 191-

Ada alasan mengapa aku tertarik untuk membaca buku ini.
Sejak tahun lalu, aku pernah melihat buku ini di toko buku, goodreads, maupun media sosial para 'bookish' dan membaca judulnya membuatku tertarik.

"Buku tentang apa ini? Kok judulnya ada homasapiens-nya?" Setidaknya, hal inilah yang pertama muncul dalam benakku. Homosapiens kan nama makhluk purba waktu belajar sejarah dulu.
Kemudian aku pun mencari tahu. Penasaran soalnya.

Selanjutnya Penerbit Spring mengumumkan akan menerbitkan buku ini. Aku tertarik apalagi cover yang ditawarkan untuk di-vote jauh lebih menarik dibandingkan cover aslinya.

Buku ini tentang LGBT, lebih tepatnya “gay” yang sangat sensitive, terutama di Indonesia. 

Beneran nih Penerbit Spring menerbitkan buku ini? Aku penasaran buku ini menceritakan apa lebih tepatnya dan penasaran untuk mengetahui, buku dengan tema LGBT ini mau di bawa ke arah mana? Aku merasa cerita remaja, romansa, apalagi LGBT palingan akan bercerita dengan formula yang hamper sama. Aku penasaran, apakah buku ini akan menawarkan sesuatu yang unik atau berbeda? Oleh karena itu, aku pun semakin penasaran.

Seperti kutipan di atas, buku ini memang fokus terhadap kisah hidup Simon yang mencakup dirinya sendiri, keluarganya, sahabat-sahabatnya, rahasianya, asmara dan orang dia sukai, dan problematika di dalamnya. Jadi, buku ini tidak hanya fokus terhadap rasa suka sesama jenis, jika kita bisa lebih terbuka, akan ada makna kekeluargaan dan persahabatan di dalamnya.

siapa suka Oreo?? Aku suka :P

Kalian mungkin sudah membaca postingan blogtour hari pertama di blog @raafian dan hari kedua di blog @widywenny yang lebih lengkapnya. Oleh karena itu aku akan membahas apa yang menarik bagiku dari buku ini.


  • Buku ini berkisah tentang fase "coming age" atau masa remaja karena kisahnya sendiri mengenai kisah anak SMA. Bagiku tidak ada masalah dengan tema ini karena kisah masa sekolah selalu punya cerita terseniri walaupun kisahnya hampir sama. Kisah cinta masa remaja pun pasti berkutat masalah 'itu-itu saja', yaitu masa kasmaran, pendekatan, tingkah konyol, dan persaingan perebutan hati, dan drama yang 'dilebih-lebihkan'. Yah, namanya juga remaja. Aku sudah melewati fase tersebut dan sekarang palingan senyum saja membaca kisah para remaja.
  • Kisah hubungan Simon dengan keluarganya (Orang tua dan saudara perempuannya) menarik. Hubungan mereka terasa sangat real dan alamiah layaknya hubungan dalam keluarga. Bagaimana orang tua atau saudara kita selalu melebih-lebihkan suatu hal sehingga kita malas untuk bercerita dan cenderung menyimpannya buat diri sendiri. Ada pula bagaimana orang tua menetapkan aturan yang ketat untuk anak-anaknya. Tapi, yang namanya keluarga pasti akan selalu mendukung anggota keluarganya yang lain.
  • Kisah hubungan Simon dan sahabat-sahabatnya (Nick, Leah, dan Abby) juga menarik. Hubungan persahabatan yang lama kadang justru membuat kita tidak nyaman untuk langsung bercerita. Hal ini bisa disebabkan karena kita menganggap terlalu banyak hal yang mereka ketahui tentang kita. Persahabatan yang telah bertahun-tahun pun sering tidak menyadarkan kita bahwa banyak hal yang (kadang) tidak kita ketahui tentang sahabat kita. Hal inilah yang dialami Simon Spier. Rahasia membuatnya harus lebih memperdulikan sahabat-sahabatnya dan memperjuangkan kebersamaan mereka.
  • Simon suka OREO. Banyak Oreo yang dibahas di buku ini sebagai makanan kesukaan Simon. Bahkan dibahas mengenai Oreo goreng. Aku sampai berpikir bentuk dan rasanya seperti apa. Hehehe...

Harry Potter - suka dong!
  • Simon suka Harry Potter (siapa sih yang tidak suka? Siap-siap dikatai yang pedas sama Simon kalau gak tahu Harry Potter) dan suka superhero. Aku juga suka sih. Membaca hal yang kita sukai dibahas dalam sebuah buku tentu saja menyenangkan.
  • Identitas Blue dirahasiakan hingga akhir cerita. Sama seperti para pembaca lainnya, aku pun ikutan menebak sosok Blue yang sebenarnya. Aku beberapa kali menebak orang yang aku curigai sebagai Blue, namun ujung-ujungnya salah. Identitas Blue yang susah ditebak (bagiku) ini menarik sih.
  • Komunikasi melalui email. Aku suka hal ini. Entah mengapa, namun sejak dulu aku suka konsep cerita yang bertukar pesan dengan orang yang tidak mereka kenal dan timbul rasa ketertarikan di sana. Banyak cerita dan film dengan konsep seperti ini dan aku selalu suka. Bahkan aku akui bahwa percakapan melalui email antara Simon dan Blue adalah salah satu hal yang paling aku sukai di buku ini.
  • Sikap Simon dalam menghadapi situasi yang dia hadapi aku suka. Reaksinya terhadap segala sesuatu tidak berlebihan, malah cenderung "nyantai". Well, ini lebih baik sih, daripada remaja emosi dan baperan (#eh).
Ada adegan Simon dan kopi yang cukup menarik di buku ini

Kalau catatan penting lainnya terhadap buku ini adalah:

Kisah yang ditawarkan sebenarnya biasa saja dengan konflik yang biasa saja sebenarnya. Tidak ada sesuatu yang baru, tidak ada sesuatu yang spesial. Namun, tema 'gay' inilah yang membuatnya cukup berbeda. Bukan berarti aku setuju/mendukung tentang hal ini sih. Seandainya ini kisah antara remaja putra dan putri, maka terasa 'sweet'-nya, namun karena ini antara dua remaja laki-laki, ya aku akui ada perasaan yang agak 'geli' gimana gitu sewaktu membacanya. Dibutuhkan kedewasaan dan pikiran yang terbuka untuk membaca buku ini.

Namun, terlepasa dari semua hal tersebut di atas, buku ini layak kok dibaca sebagai bacaan yang menghibur, menyegarkan, dan menyenangkan. Setidaknya beberapa kali dibuat tertawa oleh buku ini.

"Ada sebagian besar dari diriku yang sedang kuuji coba. Dan aku tidak tahu bagaimana bagian diriku berjalan selaras. Bagaimana aku harus menjalaninya. Ini seperti versi baru diriku. Aku hanya perlu seseorang yang bisa menemaiku menjalaninya." -hal. 302-



**GIVEAWAY**
**UPDATE PEMENANG**



Ada satu buah bookmark Oreo persembahan dari Penerbit Spring buat kalian nih. Kalau giveaway buku "Simon" sepertinya akan bisa kalian ikuti setelah mengikuti seluruh rangkaian blog tour.
Siapa yang mau bookmark Oreo? Angkat tangan!! *aku sebenarnya mau juga sih.

Nah, caranya gampang kok:
  1. Ikuti blog "Just a Though" via Google Friend Connect (GFC), Google+. Follow akun Twitter @sulhanhabibi dan Twitter @penerbitspring (wajib). Boleh juga ikuti IG @PenerbitSpring dan IG @sulhanhabibi (yang ini tidak wajib. Tapi boleh lho intip-intip instagram saya #sekalianpromosi).
  2. Bagikan tautan giveaway ini via akun media sosialmu dengan mention akun di atas.
  3. Tulis akun Twitter, kota domisili, dan tautan share tweet pada kolom komentar di bawah ini. 
  4. Giveaway ini berakhir pada 12 Februari 2016 pukul 24.00 WIB. Pengumuman pemenang secepatnya (paling lambat 3 hari setelahnya).
Semoga beruntung ya!




Jangan lupa besok mampir di blog noeranggadila.blogspot.co.id ya di pemberhentian terakhir rangkaian blogtour "Simon vs The Homosapiens Agenda" dari Penerbit Spring.


Terima kasih banyak buat yang telah membaca review dan mengikuti giveaway Simon dari Penerbit Spring ini. Ada 31 orang yang mengikuti giveaway perdana di blog-ku. Banyak juga sih.

Nah, karena ada satu orang pemenang, aku memilih secara acak. Maunya sih menangin semua, tapi apa daya hadiahnya cuma buat satu orang.

Pemenang GA Simon Blog Tour kali ini adalah...

Kiki RizRyeo (@Kikii_Rye)

Selamat untuk pemenang!!

Data diri berupa nama, alamat, dan nomor HP mohon segera kirim ke email soulhahnmail@gmail.com ya.

Buat yang lain semangat dan semoga beruntung di kesempatan lain.

**


Regards,



Sulhan Habibi

9 Januari 2017

WRAP UP POST – READ BIG CHALLENGE 2016 Host by SASTI @Legitur15



Tahun 2016 merupakan tahun yang bagus buatku dalam hal membaca. Dari target awal 50 buku yang rencananya aku baca tahun 2016, aku ubah menjadi 60 buku, dan terakhir 75 buku hingga akhir tahun. Kenyataannya adalah aku membaca sekitar 117 buku di tahun 2016 (sebuah angka yang fantastis buatku).

Naah, walaupun tahun 2016 adalah tahun yang indah buat membaca buku, namun tidak dengan menulis ulasannya. Setelah selesai membaca buku, keinginan untuk langsung mengulasnya sering kali tidak ada. Lebih sering menunda-nunda hingga akhirnya gak ditulis sama sekali. Hahaha…
Berdasarkan catatanku sendiri (dan daftar di goodreads), untuk tantangan membaca buku bantal ini aku membaca 21 buku yang tebalnya lebih dari 500 halaman. Wow, banyak juga ya. Jangan heran ya, aku juga heran kok sama diri sendiri. Namuuun… lagi-lagi aku malas membuat ulasannya dan posting di blog ini.

Dari total 21 buku bantal yang aku baca, hanya 3 buku yang aku ulas di blog ini.
Yang lainnya mana? Mbuuh, malas nulisnya. Hahaha…

Tapi, buku-buku tersebut aku ulas kok di goodreads, ada yang singkat, ada yang cukup panjang.
Aku akan tetap buat daftarnya sih dan menyertakan link-nya (untuk yang di blog). Kalau ulasan singkat di goodreads link-nya aku setor juga. Untuk penilaiannya aku serahkan kepada host-nya saja ya, apakah masuk hitungan atau tidak. Hehehe…

Berikut daftar buku bantal yang aku baca selama 2016:

  1. The Martian (Si Penghuni Mars) – Andy Weir - http://mshabibi.blogspot.co.id/2016/02/book-review-martian-si-penghuni-mars.html
  2. Beyonders #1 (World Without Heroes) – Brandon Mull
  3. Beyonders #2 (Seed of Rebelion) – Brandon Mull
  4. Beyonders #3 (Chasing The Prophecy) – Brandon Mull
  5. Fablehaven #2 (The Rise Of The Evening Star) – Brandon Mull
  6. Fablehaven #3 (Grip of The Shadow Plague) – Brandon Mull
  7. Fablehaven #4 (Secrets of The Dragon Sanctuary) – Brandon Mull
  8. Fablehaven #5 (Keys to The Demon Prison) – Brandon Mull
  9. Career of Evil (Cormoran Strike #3) – Roberth Galbraith
  10. Cress (The Lunar Chronicles #3) – Merissa Meyer
  11. Five Kingdoms #2 (The Rogue Knight) – Brandon Mull
  12. The Child Thief (Si Pencuri Anak) - Brom
  13. Every Dead Thing (Charlie Parker #1) – John Connolly
  14. Steelheart (The Reckoners #1) – Brandon Sanderson - http://mshabibi.blogspot.co.id/2016/07/book-review-steelheart-reckoners-1.html
  15. Firefight (The Reckoners #2) – Brandon Sanderson
  16. Elantris – Brandon Sanderson - http://mshabibi.blogspot.co.id/2016/07/book-review-elantris-brandon-sanderson.html
  17. Red Queen – Victoria Aveyard
  18. The Queen of The Tearling – Erika Johansen
  19. The Invasion of The Tearling – Erika Johansen
  20. Eleanor & Park – Rainbow Rowell
  21. Unwholly – Neal Shusterman


Terima kasih dan sampai jumpa lagi di tantangan selanjutnya.
Tahun ini mungkin mau ikutan challenge ini lagi. Target tetap kelas menengah juga.

21 September 2016

#Cumangomong Ketika Semangat Membaca Buku Meningkat Drastis Akibat Butuh Pelarian Pikiran (Hahaha...)

Edisi curhat.
Curhat dikit ya...

Baca dan berbahagialah!!


Tahun 2016 ini aku bikin target baca buku sebanyak 75 buku selama setahun.
Target awal tahun yang aku buat sih hanya 50 buku. Namun, selama bulan Januari sampai Maret ternyata minat bacaku meningkat drastis dan lebih cepat dari jadwal seharusnya, sehingga aku pun menambah target jumlah buku yang aku baca selama tahun 2016 menjadi 75 buku.

Sampai bulan September ini baru berhasil baca 66 buku ditambah 2 sedang proses baca (yang numpuk dan menunggu dibaca sih banyak)

Minat bacaku akhir-akhir ini meningkat drastis, padahal tahun 2009-2014 aku pernah kehilangan minat baca dan cuma semangat baca komik. Lebih tepatnya sih sejak mulai bekerja, stamina baca menurun. Niat membaca buku hanya tinggal niat karena kondisi badan yang sudah lelah tidak memungkinkan untuk membaca buku lagi.
Oleh karena itu, selama periode 2009-2014 aku lebih banyak membaca komik dan menonton film.

Sejak pindah tugas di kantor baru dan dengan jabatan baru pada pertengahan tahun 2015, minta bacaku meningkat drastis. Pekerjaan dan beban kerja di kantor baru dan dengan jabatan baru ternyata sangat menguras tenaga dan pikiran. Alih-alih badan capek dan tidak ada tenaga membaca buku, justru aku tambah semangat membaca.

Alasan sebenarnya sih (berdasarkan analisis sendiri), setelah capek badan dan pikiran di kantor, aku butuh pelarian pikiran biar lebih fresh. Aku membaca buku untuk membawa pikiran dan imajinasi keluar dari dunia nyata dan bersenang-senang di sana (apalagi sekarang ini aku lebih banyak membaca buku fantasi, romance, atau buku-buku yang ringan dan menyenangkan)
Hasilnya aku merasa lebih rileks secara pikiran dan juga fisik.

Memang benar yang dikatakan bahwa membaca buku itu menghilangkan stress karena aku membuktikannya.
Kadang kalau tekanan pekerjaan cukup terasa, aku melarikannya dengan cara membaca buku.
Lebih seringnya lagi, ketika pikiranku kalut dan tekanan pikiran agak terasa membebani, aku ingin segera melarikan diri dari keramaian dan membaca buku dalam sepi.
Sungguh, akhir-akhir ini aku sering memikirkan hal tersebut.

Sekarang ini aku punya kebiasaan membaca di mana pun dan kapan pun ada waktu.
Sebelum tidur aku pasti baca buku, sewaktu dalam perjalanan ke kantor aku sempatkan baca buku sekitar 15 menit. Kalau ada waktu senggang pun aku sempatkan baca buku dan mengurangi bermain gadget.
Dalam perjalanan ke suatu tempat, aku pasti membaca sebuah buku untuk dibaca.

Mungkin sekarang aku dalam tahap kecanduan membaca.
Tapi, selama keguatan ini begitu menyenangkan aku akan terus melakukannya.

Membaca itu menyenangkan kawan...

😍😍🎉👍📚📚

-- udahan deh curhatnya :P

9 Agustus 2016

[Book Review] Norwegian Wood - Haruki Murakami


Judul Buku : Norwegian Wood
Penulis : Haruki Murakami
Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Penerjemah : Jonjon Johana
Penyunting : Yul Hamiyati
Perancang Sampul : Deborah Amadis Mawa
Cetakan ketujuh, April 2016
Tebal iv + 423 halaman
ISBN 978-602-6208-94-1

 *blurb*

Ketika ia mendengar Norwegian Wood karya Beatles, Toru Watanabe terkenang akan Naoko, gadis cinta pertamanya, yang kebetulan juga kekasih mendiang sahabat karibnya, Kizuki. Serta-merta ia merasa terlempar ke masa-masa kuliah di Tokyo, hampir 20 tahun silam, terhanyut dalam dunia pertemanan yang serba pelik, seks bebas, nafsu-nafsi, dan rasa hampa—hingga ke masa seorang gadis badung, Midori, memasuki kehidupannya, sehingga ia harus memilih antara masa depan dan masa silam.

 --
"Kamu jangan mengasihani diri sendiri. mengasihani diri sendiri itu adalah perbuatan orang hina."

Hmm...

Aku berpikir cukup lama untuk merenungkan apakah buku ini aku sukai atau tidak. Bukan cuma ketika selesai membaca buku ini, namun aku pun memikirkannya ketika membaca sampai pertengahan buku.


Aku memutuskan kalau aku menyukai buku ini.
Buku ini sepertinya bukan tipe buku yang mudah disukai kebanyakan orang.
Buku ini cenderung depresif dan jauh dari unsur menyenangkan.
Buku ini lebih cenderung menceritakan psikologis manusia, masalah kejiwaan tokoh-tokohnya, dan aku malah berpendapat semua tokoh dalam buku ini memiliki masalah psikologis.

Haruki Murakami bisa dikatakan menulis Norwegian Wood dengan baik sekali.

Kisah yang ditawarkan terasa seperti kehidupan sehari-hari seorang remaja normal (atau bisa dikatakan tidak normal) semasa kuliah yang penuh kebebasan (merokok, minum, berkencan, berhubungan badan). Tokoh Toru Watanabe yang tidak suka bergaul, pendiam, jatuh cinta pada Naoko yang merupakan pacar sahabatnya dan merupakan cinta pertamanya terasa nyata dan bisa kita temui dalam kehidupan sehari-hari.

Naoko sang tokoh perempuan yang tanpa disangka memiliki masalah yang sangat kompleks pun dapat digambarkan dengan sangat baik.
Midori, sosok yang terlihat ceria namun memiliki ketakutan dan harapan terhadap pertemanannya dengan Watanabe.
Rieko, teman Naoko di pondok pun digambarkan sebagai sosok yang berperan sebagai kakak dan memiliki permasalahan yang masuk akal dengan tekanan yang sangat mungkin dialami oleh orang di kehidupan nyata.
Nagawasa, teman asrama Watanabe yang mengajarkannya kehidupan yang lebih 'berwarna', yang memiliki kehidupan bebas dan tidak mau terikat pun bisa dengan mudah kita temui dalam sosok orang di sekitar kita.
Bahkan tokoh-tokoh lainnya pun terasa begitu lekat dalam kehidupan sehari-hari, karena memang Norwegian Wood ini seperti kehidupan remaja seseorang yang takut menghadapi kedewasaan (bisa dikatakan seperti ini).

Well, aku tekankan lagi bahwa buku ini cenderung kelam walaupun dasar cerita ini adalah kisah cinta. Bahkan buku ini pun ternyata ada unsur dewasanya (cukup kaget sih, karena gak nyangka sebelumnya ada hal ini). Vulgar? Lumayan sih namun sangat masuk ke dalam inti cerita buku ini.

Buku ini selain berkisah tentang 'cinta', juga berisi masalah psikologis para tokohnya. Masalah kejiwaan para tokohnya entah mengapa, bagiku malah terasa masuk akal dan 'sangat' manusiawi.
Aku malah cenderung berempati sama mereka semua, alih-alih membenci mereka. Aku berpikir, apakah para pemuda Jepang yang memiliki kecendrungan bunuh diri memiliki masalah psikologis seperti yang ada dalam buku ini??

Saat membaca buku ini pula lah aku berpikir mengapa agama itu ada. Mengapa percaya kepada Tuhan dan taat beribadah itu perlu. Ada bagian hati manusia yang perlu diisi dari kehampaan.
Kehampaan yang mungkin tidak bisa dijelaskan.

Ah, entahlah.
Aku bingung mendeskripsikan perasaanku terhadap buku ini.
Aku tidak merasakan kegembiraan membaca buku ini, namun mendapatkan suatu perasaan yang 'berbeda' yang (lagi-lagi kukatakan) susah untuk dijelaskan.

Awalnya aku bingung apakah aku menyukai buku ini atau tidak.
Setelah memutuskan menyukai buku ini, aku bingung memberikan berapa bintang. Apakah 3 atau 4.
Setelah memutuskan 4 bintang, aku berpikir apakah nilainya 4 atau 4,5 dari 5 bintang.
*lha? Trus piye??

Ah, semakin aku memikirkan buku ini, semakin aku menyukai buku ini.
Aku menyukai buku ini, namun dengan cara dan perasaan yang berbeda dari buku lainnya...

2 Agustus 2016

[Book Review] 2 in 1 Fakhrisina Amalia – ‘PERSONA’ dan ‘HAPPINESS’



Persona + Happiness
Awal mula aku tertarik untuk membaca karya Fakhrisina Amalia adalah karena membaca ulasan beberapa blogger dan juga pembaca lainnya yang mengatakan bahwa novel ‘Persona’ adalah karya terbaik sang penulis sampai saat ini.

Membaca sinopsisnya pun sebenarnya tidak membuatku begitu tertarik untuk ngebet segera membaca buku ini, namun rasa penasaran itu masih saja terasa apabila melihat buku ini di rak toko buku. Hingga pada akhirnya aku memasukkan ‘Persona’ dalam wishlist-ku dan menjadi salah satu buku yang pasti akan aku beli ketika aku memenangkan voucher belanja buku di suatu toko buku besar dan terkemuka di Indonesia (yaelah, sebut saja Gramedia, Bie!)

Nah, setelah membaca Persona, aku merasa suka dengan tema yang diangkat (cukup terasa pengaruh manga-anime dalam cerita ini, apalagi nama salah satu tokohnya Altair, orang Jepang) dan aku suka cara Fakhrisina menuliskan ceritanya. Cara berceritanya asyik dan tanpa terasa aku pun menyelesaikan buku ini Cuma dalam beberapa jam saja.

Penasaran akan buku lainnya, aku pun berniat untuk membaca ‘Happiness’ karena cukup tertarik tema yang diangkat. Membaca ulasan tentang buku ini pun rata-rata positif sehingga ketika berkesempatan ke toko buku minggu lalu, aku langsung membeli buku ini.

Baiklah, setelah bercerita tentang awal ketertarikanku membaca dua novel karya Fakhrisina Amalia, aku akan membahas secara singkat pendapatku akan kedua buku ini. Pendapatku ini lebih tepatnya disebut perasaanku setelah membaca buku ini sih sebenarnya.
Mulai saja ya.
 

Judul : Happiness
Pengarang : Fakhrisina Amalia
 
Penyunting : Rina Fatiha 
Desain Sampul : Teguh Tri Erdyan 
Penerbit : Ice Cube (imprint Penerbit KPG) 
Cetakan Pertama, Agustus 2015 
Tebal xi + 223 halaman 
ISBN 978-979-91-0907-1

*blurb*

“Berarti nggak masalah, dong, kalau Ceria masuk MIPA tapi ambil Biologi?”

“Bisa aja, sih. Tapi kalau kamu tanya Mama, yang banyak hitung-hitungannya itu lebih spesial. Nggak sembarang orang bisa, kan?”


Bagi Mama yang seorang dosen Matematika, hitung-hitungan itu spesial. Mama selalu membanding-bandingkan nilai rapor Ceria dengan Reina—anak tetangga sebelah yang pandai Matematika—tanpa melihat nilai Bahasa Inggris Ceria yang sempurna. Karena itu, sepanjang hidupnya Ceria memaksakan diri untuk menjadi seperti Reina. Agar Mama dan Papa bangga. Agar ia tak perlu lagi dibayang-bayangi kesuksesan Reina. Agar hidupnya bahagia. Ceria bahkan memilih berkuliah di jurusan Matematika tanpa menyadari ia telah melepaskan sesuatu yang benar-benar ia inginkan. Sesuatu yang membuat dirinya benar-benar bahagia.

--


Bagus. Aku beri nilai 3,5/5 bintang deh
Ceritanya cukup asyik dan cukup menggambarkan kegelisahan anak-anak dan remaja akan tuntutan orang tua dan orang-orang di sekitarnya.

Orang tua sering lupa bahwa anak bukanlah diri mereka. Setiap anak itu berbeda dan spesial. Setiap anak memiliki keahlian, minat, dan kesukaan masing-masing. Sangat tidak tepat jika kita menuntut hal yang kita inginkan (dan menurut kita terbaik) kepada anak kita, padahal mereka adalah bukan diri kita sendiri.

Hmmm...
Baca buku ini jadi teringat suatu hal.

Dulu aku pun menyukai Matematika dan eksakta lainnya. Suka. Unik. Menantang. Bahkan sempat berpikir untuk menekuni ilmu pasti ini. Tapi aku sadar bahwa aku tidak benar-benar menginginkannya dan tidak lagi menganggapnya paling utama.

Sekarang pun kalau aku membaca atau melihat kuis/pertanyaan/soal matematika di media sosial yang "katanya" susah dan cuma bisa dijawab oleh segelintir orang. Jika bisa menjawab maka bisa dikatakan jenius.

Terus terang, kadang aku muak melihatnya. Seolah-seolah cuma yang bisa menjawab adalah orang pintar sedangkan yang tidak bisa menjawab bukan termasuk golongan orang jenius tersebut.

Ah, mereka mungkin terlalu "sibuk" dengan kejeniusan sendiri sehingga tidak sadar bahwa orang pintar dan jenius itu ada dalam berbagai rupa, keahlian, tingkatan, kemauan, keinginan, minat, dan rasa bahagia.

Aku kagum dan respek dengan orang pintar. Namun, aku lebih tercengang dan lebih salut sama orang kreatif, baik hati, pintar bergaul, dan peduli alam serta sesama.

Memang aku akui, pendapat seperti ini masih banyak kita jumpai di sekitar kita.
*lha, malah curhat.

Oke deh, balik ke topik.

Cara penceritaan Happiness ini cukup asyik juga sih. Bagian awal aku menyukai cara penyajian konflik yang dialami oleh Ceria. Namun, semakin Ceria merasa tertekan, aku pun merasakan mood-ku agak menurun dalam menyelesaikan buku ini hingga aku pun melanjutkannya esok hari. Perasaan dan penderitaan yang dialami Ceria bisa dimaklumi.


Judul : Persona 
Pengarang : Fakhrisina Amalia 
Penyunting : Tri Saputra Sakti 
Desain Sampul : Orkha Creative 
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2016 
Tebal 248 halaman 
ISBN 978-602-03-2629-0

*blurb* 

Namanya Altair, seperti salah satu bintang terang di rasi Aquila yang membentuk segitiga musim panas. Azura mengenalnya di sekolah sebagai murid baru blasteran Jepang yang kesulitan menyebut huruf L pada namanya sendiri. 

Azura merasa hidupnya yang berantakan perlahan membaik dengan kehadiran Altair. Keberadaan Altair lambat laun membuat perasaan Azura terhadap Kak Nara yang sudah lama dipendam pun luntur.

Namun, saat dia mulai jatuh cinta pada Altair, cowok itu justru menghilang tanpa kabar. Bukan hanya kehilangan Altair, Azura juga harus menghadapi kenyataan bahwa orangtuanya memiliki banyak rahasia, yang mulai terungkap satu demi satu. Dan pada saat itu, Kak Nara-lah tempat Azura berlindung.

Ketika Azura merasa kehidupannya mulai berjalan normal, Altair kembali lagi. Dan kali ini Azura dihadapkan pada kenyataan untuk memilih antara Altair atau Kak Nara.

--

Jujur, membaca sinopsis di sampul belakang buku ini gak terlalu menggugah minatku untuk langsung membaca buku ini. Aku menganggap kisah yang ditawarkan Fakhrisina hampir mirip dengan kisah segitiga remaja kebanyakan.
Namun, aku salah.
Konflik yang diceritakan dalam buku ini lebih daripada sekadar cinta segitiga ala remaja.
Membaca buku ini ternyata menyenangkan.
Walaupun baru beberapa bab awal aku bisa menduga apa yang sebenarnya terjadi, namun tidak membuatku berhenti membaca buku ini. Twist-nya cukup asyik walaupun bisa aku terka. Mungkin karena pernah membaca dan menonton film dengan tingkah tokoh utama yang mirip dan petunjuk sang penulis yang terbaca olehku makanya aku menebak mungkin "itulah" yang terjadi.

Ternyata aku benar. Walaupun secara garis besar aku bisa menerka apa yang dialami oleh Azura, justru aku penasaran bagaimana penulisnya akan mengungkapkan hal tersebut. Hal ini yang membuatku masih tetap semangat membacanya.
Aku pun semakin penasaran bagaimana sang penulis mengeksekusi cerita seperti ini. Tentu saja rasa penasaran itu sangat ditunjang oleh keasyikan membaca buku ini karena Persona ini bercerita dengan sangat mengalir.

Hasilnya yang aku dapatkan setelah selesai membaca buku ini adalah "asyik".
Menurutku Fakhrinisa pawai menuliskan ceritanya tanpa harus menye-menye berlebih, aksi para tokoh yang lebay atau didramatisir, malah lebih terkesan nyata. Konflik dan permasalahan yang dialami oleh Azura sangat mudah mengundang simpati. Sungguh, aku merasa bersimpati terhadap Azura. Seolah-olah aku mengerti dan bisa memaklumi segala tindakan yang dia lakukan atas apa yang dia hadapi dalam keluarganya.
Tokoh Altair dan Nara pun sangat mudah disukai. Walaupun ada benih-benih cinta segitiga antara mereka, bukan berarti ada salah tokoh yang patut dibenci. Justru sosok Altair dan Nara memiliki porsi masing-masing yang sangt pas untuk Azura dan hidupnya.

Akhir kata, rasa penasaranku akan buku ini terbayarkan dengan rasa puas.
Good job.

Nilai 4/5