22 Juni 2017

[Book Review] The Wolf in Winter (Serigala Di Musim Dingin) - John Connolly

The Wolf In Winter - Photo by @sulhanhabibi


The Wolf in Winter (Serigala Di Musim Dingin) – John Connolly
Judul Asli : The Wolf in Winter
Penulis : John Connolly
Alih Bahasa : Julanda Tantani
Editor : Rosi L. Simamora
Desain Sampul : Eduard Iwan Mangopang
Cetakan Pertama Maret 2017
600 halaman
ISBN 978-602-03-3932-0


**Blurb**

Masyarakat di Prosperous, Maine, hidup makmur ketika daerah-daerah lainnya menderita. Para penduduknya kaya, masa depan anak-anak mereka cerah. Kota ini sangat tertutup dan tidak menerima pendatang. Di jantung kota Prosperous ada reruntuhan gereja kuno yang dibawa batu demi batu dari Inggris, berabad-abad silam, oleh para pendiri kota itu.

Charlie Parker, si detektif swasta, datang ke Prosperous ketika seorang tunawisma tewas dan anak perempuannya hilang. Parker berbahaya, penuh amarah dan hasrat membalas dendam. Sosoknya menyimpan ancaman lebih serius dibandingkan apa pun yang pernah dihadapi para penduduk kota itu dalam sejarah mereka yang panjang, nyaman, dan terlindung. Dan di kota kecil ini Parker akan berhadap-hadapan dengan lawan-lawan paling keji.

Charlie Parker telah ditandai untuk mati supaya Prosperous bisa bertahan berikut rahasia yang tersembunyi di bawah reruntuhannya.

---

Kisah yang disajikan dalam The Wolf in Winter (Serigala di Musim Dingin) ini dimulai dengan perburuan Charlie Parker bersama Angel dan Louis, dua sahabatnya, memburu Sang Kolektor karena peristiwa yang tidak terduga yang terjadi di buku sebelumnya The Wrath of Angels (Murka Para Malaikat).

Dalam upaya perburuan akan Sang Kolektor yang selalu berpindah tempat, terjadi suatu kejadian di sebuah kota yang makmur dan tertutup akan dunia luar. Kota Prosperous.

Kota Prosperous adalah kota yang ‘jahat’. Para penduduknya sangat tertutup. Mereka memiliki kepercayaan tua dan Tuhan mereka adalah Tuhan yang lapar. Konon katanya, Tuhan yang lapar lebih berbahaya dibandingkan Tuhan yang marah.

Pengurus kota dipilih oleh Dewan yang hanya beranggotakan lima orang. Merekalah yang menentukan dan memutuskan segala hal yang berkaitan dengan Prosperous. Penduduknya terikat oleh pengabdian dan tidak boeh menyebarkan informasi apapun kepada pihak luar. Walaupun ada penduduk Prosperous yang meninggalkan kota, maka mereka dipastikan tidak menceritakan hal apapun tentang kota tersebut. Jika kau membuat masalah, maka seisi kota akan menjadi lawanmu dan bisa saja kau akan lenyap begitu saja atau mati di suatu tempat.

Kota-kota di seluruh wilayah ini perlahan-lahan mati, semua kecuali Prosperous. Sekarang kota itu menderita, tetapi tidak seperti kota lainnya, Posporeus terbungkus, terlindungi. Prosperous menyedot kehidupan dari kota-kota sekitarnya, dan menyerap semuanya.

Ketika Charlie Parker mendatangi Properous untuk menyelidiki kematian seorang Tunawisma dan anaknya yang hilang karena adanya bukti dan saksi yang menyatakan bahwa mereka datang ke kota tersebut. Charlie Parker memiliki daya tarik terhadap masalah. Kota Prosperous tidak siap akan kedatangan Parker. Oleh karena itu, ketika bertemu dengan polisi kota, pendeta, dan pemimpin kota Prosperous untuk pertama kalinya membuat Parker merasa ada aneh dan sesuatu yang ‘jahat’ tentang kota ini. Dia pun melakukan penyelidikan dengan insting dan nalurinya yang tajam, serta dengan kemampuan investigasi yang memang tidak diragukan lagi.

Akibat kecurigaan Parker, Dewan Prosperous memutuskan dia harus mati karena mengancam keberadaan Prosperous. Akibatnya, Parker harus berjuang hingga titik terlemah dalam hidupnya. Namun, tentu saja Parker tidak pernah sendirian. Ada teman-temannya yang jauh lebih berbahaya dari Parker sendiri.

Duka dan derita Charlie Parker kembali terasa di sini. Apalagi ketika insiden terjadi kepadanya. Sangat mudah untuk selalu bersimpati kepada Parker dan akan beban masa lalu yang masih selalu ditanggungnya.

Membaca kemunculan beberapa tokoh dari buku sebelumnya tiba-tiba menimbulkan rasa kangen. Tanpa sadar aku merindukan kemunculan dan peran serta mereka dalam kisah ini walaupun tidak besar. Ada Epstein, Liat, Eldrich, Fuccini bersaudara. Bahkan kisah Sang Kolektor dan beberapa tokoh pendamping sangat ingin aku ketahui lebih banyak lagi.

Awalnya bingung mau beri 4 atau 5 bintang. Tapi, karena ngefans aku beri 4,5 bintang saja walaupun inginnya Charlie Parker berperan lebih banyak lagi menyelesaikan permasalahan di Prosperous.

Aku merasa bahwa Charlie Parker sequence ini semakin bagus. Buku selanjutnya lebih bagus daripada buku sebelumnya. John Connolly pawai bercerita.
Buku selanjutnya pun selalu menimbulkan rasa penasaran dan berharap bukunya lebih tebal lagi (bagiku).
I want more!
I want more!
Aku selalu merasakan hal ini setelah selesai baca seri Charlie Parker.

Ada kutipan keren nih dari tokoh *antagonist* di buku ini.

"Menurutku dia (Charlie Parker) tidak takut mati. Dia tidak mencari kematian, dan dia akan bertarung sekuat tenaga untuk menghindarinya, tapi dia tidak takut.

Menurutku dia hidup dalam kepedihan. Dia sangat terpukul akibat kehilangan istri dan anak perempuannya, dan peristiwa itu membuatnya menderita. Jika kematian pada akhirnya datang menjemputnya, hal itu akan mengakhiri kepedihannya.
Sebelum saat itu tiba, apapun yang dilakukan seseorang terhadap dirinya takkan menjadi lebih buruk daripada apa yang pernah dialaminya. Itu menjadikannya musuh yang tangguh, karena dia sanggup bertahan melebihi lawan-lawannya. Dan hal-hal yang pernah dilakukannya, risiko-risiko yang pernah diambilnya untuk pihak lain, semua itu memberinya sekutu-sekutu, dan beberapa dari mereka bahkan lebih berbahaya daripada dirinya, karena mereka tidak memiliki moral yang sama seperti dia.
Jika detektif itu mempunyai kelemahan, itu adalah karena dia bermoral. Kapan pun dimungkinkan, dia akan melakukan hal yang benar, adil, dan seandainya dia salah, dia akan menanggung kesalahan itu."
- Halaman 373-374.

Kutipan ini adalah perkataan seorang *antagonis* dalam buku ini dan aku sangat menyukainya. Kalimat di atas mewakili karakter Charlie Parker yang sangat aku sukai. Penghormatan kepada Parker bahkan oleh musuhnya sekalipun

Charlie Parker adalah orang yang akan peduli ketika tidak ada orang lain yang peduli akan nasib atau akan menolong orang tersebut.

Aku penasaran akan peran Charlie Parker ke depannya terkait aliran-aliran penganut tua yang banyak jumlahnya dan semuanya berbahaya. Aku pun penasaran akan kemampuan Charlie Parker berkomunikasi dengan arwah orang-orang mati.

---

Perkenalan pertamaku dengan karya-karya John Connolly adalah buku pertama seri/sequence Charlie Parker yang berjudul “Every Dead Thing – Orang-Orang Mati” yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama tahun 2011 yang membuatku langsung jatuh cinta. Aku membaca seri Charlie Parker sejak Desember 2016. Sejak saat itu, aku memburu karya-karya John Connolly untuk aku baca dan juga koleksi. Syukurlah aku memiliki semua terbitan GPU dengan lengkap, walaupun menyayangkan GPU tidak menerbitkan semua seri Charlie Parker ini.

The Wolf in Winter adalah buku ke dua belas dalam sequence Charlie Parker, namun merupakan buku keenam yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.

Bagi kalian yang menyukai genre thriller dengan kisah criminal, detektif, dan ada unsur supernaturalnya, sayang sekali kalau kalian belum membaca kisah Charlie Parker ini.


Rating

 ★★★★1/2


19 Mei 2017

[Just a Thought] Selamat Hari Buku Nasional



Maka membacalah. Sesungguhnya membaca itu menyehatkan jiwa sebagaimana olah tubuh menyehatkan raga." - anonim.

"Baca baca majalah, koran, buku.
Baca baca lah selalu.
Banyak baca, banyak tahu, banyak ilmu, makin maju."


Itulah sepenggal nyanyian iklan yang dulu aku saksikan di televisi. Aku lupa iklan apa karena waktu itu aku masih kecil.

Pentingnya buku / manfaat buku untuk kita hari ini dan masa depan kita.

Buku adalah jendela dunia. Buku adalah portal/gerbang yang bisa membuatmu menjelajah ke berbagai tempat, berbagai pengalaman, dan berbagai rasa tanpa harus beranjak atau bepergian ke mana pun. Cukup hanya dengan duduk membaca buku.

Buku membantu kita untuk mengetahui banyak hal di dunia ini, baik yang terjadi di masa lampau, masa sekarang, bahkan mungkin masa depan. Buku pun membantu kita untuk berkeliling di dunia ini maupun dunia lainnya (imajinasi).

Buku membuat kita mengenal dunia. Dunia yang asing bagi kita bisa kita kenal melalui buku.

Buku membantu kita mengerti banyak hal.

Buku membuat kita mengerti apa yang ada di dalam pikiran seseorang, mengajarkan kita bersimpati dan berempati, dan mengenal karakter orang lain.

Buku bisa membuat pikiran kita semakin berkembang, semakin bijaksana, dan tentu saja semakin matang.

Buku menyehatkan pikiran dan jiwa. Buku juga merupakan makanan buat pikiran dan jiwa. Tanpa buku dan membaca, maka pikiran dan jiwa kita akan tumpul tak terasah.

Buku adalah sumber ilmu pengetahuan.
Buku adalah sahabat dan semakin banyak kita baca, akan semakin bermanfaat luar biasa.

Buku dan membaca dua hal yang tidak terpisahkan.

Well, setidaknya hal ini yang aku rasakan.

Masalahnya adalah, buku itu tidak akan bermanfaat jika tidak dibaca. Oleh karena itu, yuk baca buku!

Eh, bisa sih sebagai hiasan/pajangan, nimpuk tikus, nangkal peluru, bantal, tembok rumah, atau buat bahan bakar. Tapi, tentu bukan hal-hal tersebut dicetak bukan?

Mulailah membaca buku mulai dari sekarang. Jangan tunda lagi.

Gak suka baca buku? Coba saja. Mungkin kamu belum menemukan buku yang tepat buatmu.

Aku menyukai berbagai macam buku walaupun sekarang lebih banyak membaca buku fiksi. Banyak buku yang menjadi favoritku, bahkan sebagian besar buku di foto ini (dan yang kau miliki) adalah favoritku.

Buku membuat hidup kita lebih BERWARNA juga kan? 😊😊.

AYO BACA BUKU!

 

"Tidak perlu membakar buku untuk menghancurkan peradaban sebuah bangsa. Cukuplah dengan melarang mereka membaca." - Ray Bradbury.


Jika "Menulis adalah sebuah keberanian" (Pramoedya A. Toer), maka "Kegemaran membaca adalah sebuah kebahagiaan." (Goenawan Mohamad).


Selamat HARI BUKU NASIONAL (17 Mei 2017) 😊📚❤📖.

 

Regards,

Sulhan Habibi


3 April 2017

[Giveaway] An Ember In The Ashes (Sabaa Tahir) - Penerbit Spring



Hallo...
Sudah baca ulasan dan uneg-uneg dariku tentang novel "An Ember in The Ashes" karya Sabaa Tahir yang kece itu? Apa? Belum? Sana baca dulu kalau belum. Baru setelah itu balik ke postingan ini lagi *galak.

Nah, Penerbit Spring berbaik hati memberikan kepada kalian yang beruntung berupa merchandise set An Ember in The Ashes. Aku juga mau lho sebenarnya.

Nah, caranya gampang kok:
  1. Ikuti blog "Just a Though" via Google Friend Connect (GFC), Google+. Follow akun Twitter @sulhanhabibi dan Twitter @penerbitspring (wajib). Atau bagi yang punya IG boleh juga ikuti IG @PenerbitSpring dan IG @sulhanhabibi (yang ini tidak wajib. Tapi boleh lho intip-intip instagram saya #sekalianpromosi).
  2. Bagikan tautan giveaway ini via akun media sosialmu (twitter) dan boleh juga instagram (baca ketentuannya di IG-ku) dengan mention akun di atas.
  3. Tulis jawaban kalian atas pertanyaan yang aku ajukan beserta akun Twitter/Instagram, kota domisili, dan tautan share tweet pada kolom komentar di bawah ini.
  4. Pertanyaannya adalah, "Berapa poin kelebihan/hal yang aku sukai dari novel An EMber in the Ashes ini?" - Kalau kalian sudah membaca ulasanku sebelumnya, kalian pasti tahu kok. Gampang kan?
  5. Giveaway ini berakhir pada 8 April 2017 pukul 24.00 WIB. Pengumuman pemenang secepatnya (paling lambat 3 hari setelahnya).
Semoga beruntung ya!
---
Kalian mau novel Ember juga?
Tenaaaang....
Masih ada satu giveaway berhadiah satu buah novel "An Ember in the Ashes" dari Penerbit Spring yang menunggu kalian di Fanpage Penerbit Spring tanggal 4 April nanti. Makanya follow juga ya FP-nya Penerbit Spring. Ketentuannya bisa kalian temukan di sana juga.
Aku kasih sedikit bocoran ya.
Kalian harus mengumpulkan kepingan puzzle yang tersebar di 6 host blog tour novel Ember ini. Makanya, intip-intip juga ulasan di blog lainnya ya.

Dari blog-ku sih kalian akan menemukan 4 kepingan puzzle. Tiga kepingan puzzle ada di laman ini.
Satu lagi ada di mana hayooo?

Satu lagi ada di post ulasan ya *sengaja biar kalian berkunjung ke sana juga. :P




** UPDATE PEMENANG ** 

Selamat kepada

Ulfa Yusfia ( @AdinRim )

Mohon kirim nama, alamat, dan no HP ke email soulhahnmail@gmail.com


Buat yang lain yang sudah ikutan dan belum menang, tetap semangat ya.
Semoga beruntung lain kali. Terima kasih.

[Blog Tour + Ask Author] An Ember in the Ashes (Sabaa Tahir) - Penerbit Spring




Judul Asli : An Ember In The Ashes 
Penulis : Sabaa Tahir 
Penerbit : Spring 
Penerjemah : Yudith Listiandri 
Penyunting : Mery Riansyah 
Desain Cover : Aufa Aqil Ghani 
Cetakan Pertama November 2016 
Tebal : 520 halaman

*sinopsis*

Laia seorang budak, Elias seorang prajurit.
Keduanya bukan orang merdeka.

Laia, seorang gadis berusia tujuh belas tahun mengalami perubahan nasib drastis hanya dalam satu malam ketika kakaknya, Darin, ditanggap prajurit Mask karena dituduh melakukan pemberontakan. Pop dan Nan (kakek dan nenek) Laia pun tewas di bunuh. Demi menyelamatkan kakak satu-satunya, dia rela bergabung dengan para pemberontak Resistance Scholar dan menjadi budak di Blackcliff sebagai mata-mata yang sangat berisiko menewaskannya dengan cepat.

Di satu sisi, Elias Veturia, seorang prajurit Mask mengalami pergulatan batin ingin melarikan diri dari cengkraman imperium dan tidak tahan akan kehidupan sekolah militer di Blackcliff yang kejam. Selain itu, ibunya, Keris Veturia adalah sang komandan berhati dan bertangan dingin. Keinginan melarikan diri sudah ada sejak lama dan selalu terbersit. Dia tahu bahwa risiko kalau ketahuan maka dia akan dicambuk sampai mati. Dia hanya ingin bebas.

Lambat laun, nasib Laia dan Elias saling berkaitan, saling mempengaruhi, dan juga akan menentukan nasib Imperium, bangsa mereka dengan keputusan dan tindakan yang mereka ambil. Baik mereka sadari maupun tidak.

Ujung pedang adalah pendetaku. Tarian kematian adalah doaku. Pukulan mematikan adalah pembebasanku.” – Hal.18

Sebagai perhentian terakhir rangkaian blog tour dan ask author novel “An Ember in the Ashes” ini, semoga masih belum bosan membaca ulasan dariku. Aku tidak akan bercerita terlalu banyak karena kalian bisa mendapatkan ringkasan lebih detail di blog-blog sebelumnya, yaitu : Aruki WordsThe Book ConsultantNtarieNovrizalPeek the Book, dan Umi Marfa. Apalagi yang bisa aku tuliskan jika kalian sudah mendapatkan ulasan lengkap di blog-blog kece tersebut - bilang saja malas tulis ulasan panjang-panjang. Makanya, aku tuliskan yang menarik dan inti-intinya saja ya. Hehehe...

Awal mula aku mengenal kata 'Ember' adalah film "City of Ember" yang tayang tahun 2008 lalu. Aku dulu mengira "Ember" adalah ember untuk nampung air, katrok sekali kamu Bie, jadi aku membayangkan kota yang penuh ember. Hahaha...

Tapi, tidak demikian dong dengan novel ini.


"Dari kalangan pemuda yang ditempa oleh pertempuran, akan bangkit Dia Yang Telah Dinubuatkan, Kaisar Agung, momok bagi musuh-musuhkita, panglima militer terhebat. Dan, imperium akan menjadi utuh." - Hal 76


Sejak pertama kali Penerbit Spring mengumumkan akan menerbitkan novel “An Ember in The Ashes” karya Sabaa Tahir, aku tertarik. Melihat cover-nya, aku pun semakin tertarik. Namun, begitu membaca ulasan beberapa pembaca yang aku kenal, sempat muncul keraguan untuk membaca buku ini. Ulasan yang aku baca ada yang suka, ada yang suka banget, biasa saja, ada pula yang kurang menyukainya. Aku semakin ragu karena ada pertanyaan dalam diriku, “Akankah aku menyukai buku ini?”

Sebenarnya keraguan ini tanpa alasan sih. Ada novel yang terkenal, banyak yang suka, promonya bagus, premisnya menjanjikan, dan aku sangat menantikannya. Namun, setelah membaca buku tersebut, aku kecewa karena jauh dari ekspektasiku. Makanya, aku sempat was-was dan takut aku merasakan hal yang sama terhadap novel Ember ini.

Untunglah Spring membuka penawaran untuk menjadi host blog tour buku ini. Aku pun mendaftarkan diri karena aku berprinsip, “Baiklah! Mari coba baca buku ini.”. Syukurlah Spring memilihku. Aku senang. Aku bahagia.

Setelah bukunya aku terima, aku pun langsung membaca Ember ini tanpa pikir panjang lagi. Bahkan buku lain yang sedang aku baca, aku sisihkan dulu demi Ember. Membaca dua bab awal cukup membuatku merasa bahwa aku akan menyukai novel ini. Aku suka dan aku pun puas karena ketakutanku tidak terbukti. Hehehe…


Wah, malah curhat ya.

"Aku tidak percaya kisah itu sedikit pun, karena itu hanya mitos sampah." - Hal.77

Sebagai penutup rangkaian Blog Tour and Ask Author buku “An Ember in The Ashes” karya Sabaa Tahir ini, seperti biasa aku ingin menuliskan hal-hal yang aku suka dari novel ini. Daripada kalian membaca sinopsis atau ulasan lagi, mending aku tuliskan hal-hal yang aku sukai dan menjadi kelebihan novel ini, menurutku. Inilah dia…
  1. Aku suka setting negeri dengan didominasi oleh padang pasir. Setting padang pasir dan daerah kering sangat pas dengan tema cerita yang diciptakan oleh Sabaa Tahir karena lebih terasa menantang dan ‘kejam’. Selain itu aku pun membayangkan kebanyakan rumah penduduk di Imperium (Tribe maupun Scholar) didominasi oleh rumah batu/tanah dan tenda-tenda para pengungsi. Entah mengapa aku membayangkan hal tersebut.
  2. Aku suka tokoh-tokoh di buku ini dan perkembangan karakter mereka. Aku suka dengan kepolosan Laia, keberanian dan perubahan yang dia lakukan walaupun tidak banyak namun terasa pas. 
    Aku suka karakter Elias yang memiliki sifat memberontak dan kepedulian terhadap orang lain.
    Aku pun suka karakter Helene yang tegas, kuat, namun memiliki kerapuhan dan kepedulian. Kekuatannya patut dinanti perkembangannya.
    Karakter Keenan menurutku belum ada yang special sih. Biasa saja, namun ada yang bilang karakternya berkembang di buku selanjutnya. Jadi penasaran.Aku pun suka karakter Keris Veturia yang dingin, jahat, dan ada yang misterius dalam dirinya.
    Tokoh-tokoh pendukung lainnya, bahkan tokoh antagonis lainnya juga menarik untuk dikembangkan lebih lanjut.
  1. Aku suka kadar romance yang pas dan tidak berlebihan. Aku sempat khawatir lho ada yang mengatakan tidak suka asrama, eh, asmara yang terjadi di antara tokoh-tokohnya. Kalau bagiku sih sudah pas. Malah terasa sangat masuk dalam membangun ceritanya.
  2. Aku suka ujian-ujian yang harus dijalani para kandidat menjadi seorang kaisar agung. Penceritaan selama ujian berlangsung memang tidak panjang, namun keseruan dan kengeriannya sangat terasa. Good job Sabaa Tahir.Ada 4 ujian yang harus di taklukan 4 kandidat agar dapat membuktikan dirinya menjadi Kaisar Imperium. Ujian yang sangat menguras energi dan emosi.
    Aku suka  ujian untuk mencari kaisar baru. Memang setiap tahapan ujian tidak diceritakan secara panjang lebar, namun tetap menguras emosi dan jiwa. Aku salut akan penggambaran ujian oleh Sabaa Tahir ini.

Mereka berempat, dan empat sifatlah yang kami cari:
Keberanian untuk menghadapi ketakutan tergelap mereka
Kecerdikan untuk mengecoh musuh mereka
Kekuatan senjata, pikiran dan hati
Kesetian untuk memecahkan jiwa.
Kematian menggantikan segalanya.Persahabatan, cinta, kesetian. Kenangan indah yang kumiliki tentang orang-orang ini—tawa-tawa berderai, taruhan-taruhan yang dimenangkan, dan kenakalan-kenakalan yang direncanakan—semuanya telah dicuri. Yang bisa kuingat hanyalah hal-hal terburuk, hal-hal terkelam.
– Hal 397
  1. Aku suka cover novel ini. Jujur, cover berwarna hitam dengan percikan-percikan (api) berwarna keemasan terlihat sangat elegan. Kalian pasti setuju kan kalau cover “An Ember in The Ashes” ini elegan sekaligus indah.
  2. Mungkin sudah aku gambarkan sedikit di poin nomor dua. Aku suka perkembangan tokoh Laia. Perkembangan tokoh dari gadis lugu dan lemah bisa berubah dengan cara yang perlahan namun berkesan. Aku bersyukur penggambaran karakternya tidak dibuat menyebalkan, lemah, dan cari perhatian. Banyak tokoh utama perempuan yang membuatku illfeel dan ingin mendorong mereka ke jurang saking kesalnyaSelain itu, Helene pun tangguh dan bukan perempuan yang menyebalkan juga. Intinya, aku suka karakter perempuan tangguh.

Membicarakan kelebihan dan hal-hal yang aku sukai, tentu dibarengi dengan hal-hal yang kurang aku sukai dong. Ah, bukan kurang suka sih sebenarnya, cuma menurutku yang lemah dari buku ini. Hal yang menurutku kurang dari buku ini adalah…
  • Ada yang bilang awalnya terasa lambat dan ke belakang semakin seru. Justru buatku, awalnya terasa pas dan menarik, namun sempat terasa lambat dan agak membosankan di pertengahan, kemudian tensi menanjak lagi hingga akhir.

Hmmm...
Cuma ini saja sih. Hampir semua novel memiliki bagian yang menurun dan membuat pembaca bosan.
"Kau adalah bara di tengah abu. Kau akan menyala dan membakar, merusak dan menghancurkan. Kau tak bisa mengubahnya. Kau tak bisa menghentikannya-“ - Hal. 80

--- ** ---


Sebagai pemberhentian terakhir, maka aku pun akan menuliskan pertanyaan yang aku ajukan ke Sabaa Tahir. Cukup sedih sih dari empat pertanyaan yang aku ajukan hanya dijawab satu saja. Tiga pertanyaan lainnya keren, namun yang dijawab malah pertanyaan ini yang bikin sedih karena pertanyaan ini yang paling biasa tapi malah cocok untuk penutup. Hehehe... *labil.


Ini dia pertanyaannya: 

  • Any new book project? What kind of book you want to write in the future?

I am working on the third book in the Ember series. There will be a fourth after that, and then I will start on something new, I hope.
Aku sedang mengerjakan buku ketiga dalam serial Ember. Akan ada buku keempat juga, dan mungkin setelah itu aku akan memulai buku yang baru. Semoga.
Jadi, mohon bersabar ya untuk karya terbaru selain Ember series dari Sabaa Tahir. Jujur, aku penasaran sih kira-kira bakal menulis cerita yang seperti apa setelah Ember series berakhir.

Eh, bocoran juga nih buat kalian.

  • What should we expect that is going to happen on A Torch Against the Night?

Well, expect the story to get more grim, certainly! Bad things are happening in the Empire and our heroes will find it very difficult to stop them! And maaaaybe expect a bit of romance…. 
Yah, ceritanya akan menjadi lebih kelam, tentu saja. Hal-hal buruk terjadi di Imperium, dan pahlawan kita akan kesulitan untuk menghentikannya! Dan muuuungkin, kau bisa mengharapkan sedikit romansa…
  • Are there any message for your Indonesian readers?

I hope you guys enjoy the book, and thank you so so much for all of your support. I hope I will come to Indonesia one day and meet many of you in person! 
Aku harap kalian menikmati buku ini, dan terima kasih sebanyak-banyaknya untuk support kalian. Aku harap, suatu hari nanti, aku bisa datang ke Indonesia dan bertemu dengan kalian secara pribadi!

Untuk GIVEAWAY mohon klik banner di bawah ini saja ya :)


 Rating
 ★★★★☆










Regards,
Sulhan Habibi