Selasa, 20 Maret 2012

KEMBALI


Akhirnya.. aku kembali.
Senang rasanya kembali setelah setengah tahun lebih vakum nge-blog. Sebenarnya rencana untuk kembali adalah 3 bulan yang lalu, namun karena banyak hal yang terjadi hari inilah KEMBALI itu terealisasi.
...
Tempat baru. Kehidupan baru.
Pertama kali kembali akan aku awali dengan cerita tentang apa yang terjadi selama lebih dari 6 bulan belakangan. Aku sekarang tidak lagi berdomisili di Jakarta karena aku telah pindah ke Makassar.
Meninggalkan Jakarta (dengan segala kenangannya) dan memulai fase hidup baru di Makassar. Sungguh berat sebenarnya meninggalkan Jakarta, namun karena tuntutan tugas mau gak mau aku harus meninggalkannya dan pindah ke kota Makassar (yang ternyata lebih panas dari Jakarta. Wow :p)

Jakarta adalah bagian dari hidupku. Banyak hal yang telah aku temui di Jakarta. Lebih dari setengah tahun yang lalu aku berniat menuliskan pandanganku mengenai Jakarta yang sampai sekarang masih terbengkalai satu paragraf. Oke, mungkin dengan sedikit paksaan aku akan menyelesaikan tulisan tersebut mengingat aku tidak di sana lagi (*sedih sih sebenarnya)

Setengah tahun bukan waktu yang lama. Banyak hal yang telah terjadi.

Suka duka perjuangan melanjutkan kuliah selama satu semester. Ini adalah salah satu pengalaman yang menarik buatku. Saat kuliah dan belajar itu sedang aku nikmati, saat itulah aku dipaksa untuk meninggalkannya walaupun belum kelar itu kuliah. Sungguh berat sebenarnya menyelesaikan kuliah ‘hanya’ satu semester ketika 3 minggu sebelum ujian semester aku dihadapkan oleh kenyataan aku di’mutasi’ ketika kesenangan dan kenyamanan tengah aku rasakan. Sangat berat rasanya belajar dan ikut kuliah serta ujian di antara teman-teman kampus, duduk belajar di dalam kelas sedangkan kita tahu bahwa kita akan meninggalkannya tanpa bisa menyelesaikannya. Namun, akhirnya semua selesai juga dengan akhir yang gak terlalu buruk.

Pernikahan sahabat baikku yang merupakan salah satu moment yang paling membahagiakan dalam hidupku. Pernikahan Ajie dan Heny. Setelah semua hal yang terjadi sungguh bahagia akhirnya mereka berdua menikah. Hal ini jugalah yang membuat aku mati-matian memperjuangkan penundaanku untuk berangkat ke Makassar sampa dengan acara pernikahan mereka selesai.

Berpisah dengan teman-teman di Jakarta (terutama teman-teman PPKCL) membuatku merasa agak berat meninggalkan Jakarta selain semua urusan yang belum selesai. Senang berada di antara kalian.

Masih banyak lagi kejadian selama setengah tahun vakum nge-blog. Tapi tentu saja gak perlu diceritain semuanya walaupun ada yang menarik dan tdak menarik sama sekali. Ada waktunya ketika aku akan menulisakan salah satu di antaranya (*kalau gak males dan inget sih yaa..)

Perpisahan itu mau gak mau terjadi. Perasaanku sangat beraneka ragam ketika harus menghadapi kenyataan tersebut. Suka duka-nya banyak banget. Pertemuan dengan hal baru pun pasti ada setelah perpisahan. Dan itulah yang akan kita hadapi selanjutnya.

Kini aku sedang menikmati hidup yang baru di Makassar. Bagi yang belum mengetahuinya, Makassar itu sungguh terasa "BEDA" dibandingkan dengan kota-kota yang telah aku tempati dan kunjungi. Banyak hal yang beda dan unik di sini dan sangat terbuka kemungkinan bagiku untuk menuliskan sesuatu tentang Makassar.

Apapun yang terjadi. Galau yang ada biarlah berlalu. Kesenangan yang ada marilah kita sambut.
Aku belum tau apa yang akan aku hadapi selanjutnya. Menarik untuk dinantikan.
Aku punya firasat (hayyah) bahwa setelah Makassar, kota Palembang bersiap menantiku. Hahaha..

Okelah, apapun yang terjadi, aku cuma menekankan "SENANG BISA KEMBALI" :)

Senin, 05 September 2011

Menggendong Tas Berisi Batu



Masih nuansa lebaran nih dan lagi semangat aja buat nulis sebelum kesibukan menjelang.

Salah satu hal yang identik dengan lebaran adalah meminta maaf dan memaafkan. Sebenarnya bukan hanya lebaran saja sih minta maaf itu dilakukan, namun rasanya lebaran adalah suatu momen yang dirasakan pas untuk melakukan kegiatan ini jika dibandingkan waktu lainnya. Oleh karena itu, sebaiknya jangan disia-siakan kesempatan yang ada untuk meminta maaf kepada orang lain atas segala kesalahan yang telah kita perbuat. Ini hubungannya dengan hablumminannas..

Meminta maaf itu bisa dibilang mudah untuk dilakukan. Walaupun sebenarnya tidak juga bagi sebagian orang (apalagi bagi orang yang mengaku diri tidak salah atau orang lain yang bersalah). Tinggal mengatakan kata “maaf” tentunya tergantung niat dan ketulusan hati. Apakah benar-benar meminta maaf atau hanya sekadar formalitas saja.

Sebenarnya, hal yang ingin aku katakana adalah ada hal yang lebih sulit dari meminta maaf. Yaitu “memaafkan”. Memaafkan itu sebenarnya jauh lebih sulit daripada sekadar meminta maaf walaupun keduanya tentu saja penting. Cuma, aku gak tau bagaimana mengatakannya dengan baik dan bagaimana membandingkannya (jadi kalau ada kesalahan, mohon dimaafkan).

Memaafkan itu… berkaitan dengan hati dan karena berkaitan dengan hatilah makanya aku mengatakan memaafkan itu sulit untuk dilakukan walalupun tidak mustahil.
Karena berkaitan dengan hati, maka berkaitan pula dengan kesabaran dan keikhlasan. Dua hal itu tentunya tidak dengan begitu mudahnya kita lakukan (terutama untuk saya sendiri).

Coba bertanya sejenak kepada diri kita sendiri bagaimana perasaan dan sikap kita sendiri apabila ada orang yang meminta maaf kepada kita? Kemudian, bagaimana jika yang meminta maaf adalah orang yang kamu benci, tidak sukai dan pernah berbuat sesuatu yang bukan cuma tidak kamu sukai namun juga sangat membuat sakit hati? Benarkan kita memaafkan dengan ikhlas tanpa ada sedikit perasaan tidak suka walaupun cuma sedikit?

Terus terang, bagiku sendiri sulit untuk melakukan hal itu. Pernah juga terlintas dalam hati jengkel dan berpikir buat apa memaafkan dia, apa gunanya bagi kita sendiri, kesalahan yang dia lakukan tidak dapat dimaafkan. Bila perlu kalau bisa dibalas, akan aku balas sakit hati yang ada.

Oke, mungkin itu terlalu berlebihan. Tapi, terhadapa sesuatu yang tidak kita sukai dan atau terhadap orang yang tidak kita sukai (dengan berbagai alasan) begitu dia meminta maaf, mohon maaf aku tidak bisa langsung memaafkan begitu saja. Dalam artian, iya dalam lisan aku mengatakan aku memaafkan, namun hati ini belum sepenuhnya menerima. Dan kadang, akan berangsur membaik seiring dengan berjalannya waktu. Dan itu bisa dibilang memaafkan. Tapi, butuh proses yang berarti bahwa memaafkan dengan ikhlas dan tulus tidak bisa terjadi begitu saja (dalam kasusku).

Padahal sebenarnya, memaafkan itu adalah perbuatan yang sangat mulia. Sebenarnya memaafkan itu akan membawa manfaat yang jauh lebih baik bagi diri kita sendiri.

Aku pernah membaca suatu kalimat menganai memaafkan tersebut. Beginilah katanya …


“Sejatinya, memaafkan adalah untuk kepentingan dan kemaslahatan diri kita sendiri. Ketika kita memaafkan berarti kita melepaskan diri dari ikatan emosi negatif yang merugikan fisik dan psikis kita. Bagaikan orang yang menggendong ransel berisi bebatuan yang berat, kemudian ia membuang batu-batu itu satu persatu. Demikianlah, memaafkan berarti kita melepaskan beban yang menghimpit diri dan jiwa kita.”


Dan tentu saja itu BENAR sekali. Aku sendiri mengakui bahwa ketika kita mulai bisa memaafkan, sebenarnya kita melepas beban yang membelenggu kita secara perlahan-lahan.

Pernahkah kau merasakan kedamaian ketika rasa memaafkan kesalahan orang lain itu kau lakukan daripada memendamnya terus menerus? Perlahan-lahan tubuh dan pikiran, serta hati merasa lebih ringan dan mungkin banyak di antara kita yang tidak menyadarinya (termasuk saya sendiri).

---

Tulisanku di atas sepertinya berat banget ya pembahasannya. Entah ada angina pa yang membuatku menulis hal ini. Mungkin sebagai pembelajaran bagi diri sendiri untuk lebih bisa sabar dan tulus ikhlas dalam memaafkan orang lain.

Sudahlah, berat atau tidaknya bahasan di atas, yang pastinya aku berharap semoga bermanfaat bagi siapa pun yang membacanya. Termasuk diri saya sendiri. Mohon maaf atas segala kesalahan yang tertulis secara sengaja ataupun tidak oleh saya sendiri…

Minggu, 04 September 2011

Ramadhan dan Lebaran – Dahulu dan Kini

gambar dari google


Ramadhan

Ramadhan 1432 H telah berlalu dan tebak apa? Tentunya sering terdengar bahwa Ramdhan itu bulan suci yang penuh dengan keberkahan dan kebaikan. Pahala dilipat gandakan, pintu surga dibuka lebar dan pintu neraka ditutup. Setan dibelenggu. Dan segala kebaikan dan keberkahan lainnya.
Memang itulah kenyataannya.


Tidak banyak yang bisa aku ceritakan mengenai apa yang terjadi selama ramadhan, namun yang pasti perasaanku mengatakan bahwa aku ingin apa yang terjadi di bulan ramadhan bisa aku rasakan, lakukan dan saksikan pada bulan-bulan lainnya. Aku berharap apa yang terjadi, kebaikan dan keberkahan yang ada berlanjut sampai nanti dan akan terus bertambah seiring berjalannya waktu.

Kini ramadhan tahun ini telah berlalu, aku berharap aku masih bisa bertemu dengan ramadhan tahun berikutnya, tahun berikutnya lagi dan untuk seterusnya.
I Think I miss you (Ramadhan) even more...


Lebaran – Iedul Fitri

Horeee.. Lebaran tiba dan tentunya semua umat muslim bergembira menyambut lebaran (termasuk aku dong tentunya!)

Kalau di Indonesia, tradisi mudik, THR, baju baru lebaran, kue-kue lebaran, ketupat dan opor ayam, parsel dan sebagainya menghiasi nuansa lebaran sebagian besar masyarakatnya (termasuk aku lagi dong!). Menyenangkan ya keliatannya.

Hmm.. dalam umurku yang kesekian ini, ramadhan dan lebaran nuansanya sudah sangat berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, terutama sewaktu aku masih di bangku sekolah dan saudaraku belum menikah dan memiliki keluarga sendiri. Perbedaan itu sangat terasa.

Dan nuansa ramadhan dan lebaran akan berbeda lagi aku rasakan jika aku sudah menikah dan memiliki keluarga sendiri. Perubahan emang selalu terjadi, namanya juga hidup.

Karena perubahan keadaan dan suasana itulah aku ingin mengingat-ingat apa saja yang berbeda dan kadang (terus terang) aku rindukan suasananya.
Sewaktu kecil dan masih di bangku sekolah, inilah nuansa Ramadhan dan Lebaran yang aku alami.

1. Buka Puasa – tentu saja kadang (jarang sih sebenarnya) aku membantu ibu menyiapkan makanan buka puasa (lebih sering sih minuman dan makanan ringannya) dan beberapa menit sebelum adzan maghrib aku sudah duduk manis, menata makananku plus lauknya dengan rapi. Setelah adzan biasanya aku makan dengan sangat tenang tanpa berbicara sepatah katapun sampai makanku habis (ibuku sering mengatakan itu) dan kadang aku tidak menyadarinya.

Sekarang – Kalau buka puasa, ya keluar cari makanan di warung. Kalau nggak, cari takjil ke masjid-masjid (namanya juga anak kost – perantauan. Hehee). Atau makan bareng teman ke mana gitu. Dan sejak kuliah sampai sekarang, aku lebih sering makan setelah tarawih. Padahal selama di rumah hampir gak pernah lho. Kadang-kadang, kangen sih makanan ibu kalau buka puasa.

2. THR – Eh, ini salah satu bagian yang bikin bahagia lho. Walaupun sebenarnya aku jarang dapat THR sewaktu kecil (jarang yang ngasi sih) dan jumlahnya gak terlalu banyak sih (kadang gak cukup buat beli baju dan celana baru). Tapi, begitu ada yang ngasi THR, langsung deh berbunga-bunga perasaan ini.

Sekarang – Heee, tentu saja terbalik sebagai pemberi THR. Setelah aku pikir-pikir kok aku sewaktu kecil jarang dapet ya? Dan pengen balik lagi jadi anak kecil biar ada yang ngasi THR. Tapi, namanya juga berbagi, membahagiakan lho bisa berbagi.

3. Baju/Pakaian Baru – hei, setiap anak menadambakan pakaian baru (bila perlu ditambah sandal, sepatu dan barang-barang lainnya yang juga baru) untuk dipakai selama lebaran. Menanti-nanti dikasi uang oleh bapak-ibu dan pergi beli baju lebaran. Aku ingat aku bahagian saat milih baju baru.

Sekarang – Beli sendiri baju lebarannya. Siapa yang mau beliin udah gede gini? Haha. Lagipula, seumuranku sih ada atau gak baju baru sewaktu lebaran bukan masalah (sewaktu masih kecil sih – baju lebaran adalah masalah), ini pendapatku lho ya. Lagipula, sekarang gantian beliin baju lebaran buat anak kecil (enak ya jadi anak kecil).

4. Kue Lebaran – Ini juga bagian yang menyenangkan, membuat kue lebaran. Walaupun bantu-bantu dikit, aku merasa senang aja melihat keluargaku bikin kue lebaran. Walaupun setelah kue-nya jadi, merasa kenyang sendiri hanya dengan melihat kuenya. Hehehe..

Sekarang – Karena aku jauh dari rumah dan saudaraku yang perempuan sudah menikah semua, gak ada lagi yang bikin kue lebaran di rumah. Aku sih sekarang gak terlalu antusias untuk makan kue lebaran, tapi kalau ada ya dimakan sih tetep. Hehehe...

5. Bersih-bersih rumah – Kebiasaan di rumah menjelang lebaran adalah bersih-bersih rumah bareng saudar-saudaraku. Pokoknya bagian-bagian yang jarang dibersihkan akan dibersihkan semua. Lebaran adalah kondisi rumahku yang paling bersih sepanjang tahun. Apalagi aku ingat membersihkan rumah ditemani lagu-lagu nasyid. Aku ingat suasanya dan kadang terbayang. Jadi kangen..

Sekarang – tentu saja siapa yang akan bersih-bersih? Beresin rumah juga seadanya kalau aku pulang ke rumah.

6. Jalan-jalan ke pantai – Ini sebenarnya sering terjadi sewaktu aku masih kecil, SD-lah. Setiap lebarang aku sekeluarga biasanya main ke pantai. Sejak SMP dan sampai sekarang malah gak pernah lagi, padahal kadang kepengen sih.

7. Ketupat dan Opor Ayam – perasaan ini gak ada yang berubah drastis deh, tetap bisa disantap selama lebaran. Hehehee..

8. Sebenarnya dulu sewaktu lebaran, aku dan keluargaku langsung bisa kumpul bersama. Tapi, tidak dengan sekarang karena seperti yang tadi telah aku katakan, saudaraku telah banyak yang menikah dan punya keluarga sendiri. Jadi sewaktu lebaran palingan aku langsung bisa bertemu ibu, bapak dan kakak laku-lakiku. Saudaraku yang lainnya biasanya datang siang atau sore atau keesokan harinya, jarang bisa kumpul bareng dalam satu waktu seperti dulu. Padahal kadang-kadang aku kangen dan ingin kumpul semua dalam satu waktu dan berlebaran bersama.

Aku sadar sih, keadaan akan jauh berbeda lagi kalau aku sudah menikah dan meiliki keluaraga sendiri.

9. Takbiran dambil nonton pawai lampion – Ini dulu mengasyikkan lho. Kadang-kadang main kembang api. Tpi, sekarang bukan menjadi sesuatu yang menarik lagi sih. Hehehee...

10. Es Krim dan Bakso - ini juga adalah kebiasaan sewaktu masih kecil. Sekitar jam 10-an setelah keliling salaman, biasanya setelah itu beli es krim deh (dan kadang bakso), rasanya kurang afdol kalo belum makan es krim sewaktu lebaran. Jadi pengen makan es krim. Hehehee...

Berhubung sepertinya ada yang aku lupakan, jadi itu saja dulu.

Selain itu pula, selama menjelang lebaran dan lebaran, ada hal-hal khusus (menurutku) yang patut menjadi perhatian dan jarang terjadi di waktu yang lain. Apa saja itu?

1. Ziarah kubur – Biasanya, sore hari pada hari lebaran, aku dan keluargaku akan ziarah ke makam keluarga. Ziarah kubur dan berdoa. Jarang terjadi di hari-hari yang lain kan? Makanya lebaran seperti menjadi momen yang pas untuk ziarah kubur, untuk mendoakan kerabat dan tentu saja kadang mengingatkanku akan kematianku ssendiri. Untung ya ada lebaran.

2. Halah bihalal atau Silaturrahim – Lebaran menjadi momen yang pas untuk maaf-memaafkan dan tentu saja untuk silaturrahim dengan keluarga, rekan, teman dan tetangga. Kapan lagi coba waktu lainnya di mana aku keliling kompleks dan berkunjung kesana kemari untuk silaturrahim? Eh, tapi terus terang ni ya, karena jarang kumpul keluarga besar aku tidak mengenal keluargaku sebagian besar. Cuma nyengir dan salaman aja sambil mikir (siapa ya?) – maklum jarang ketemu sih dan begitu juga dengan teman masa kecil dan tetanggaku. Kadang aku gak ingat lho saking lamanya gak di rumah. Lagipula, keluarga besarku sangatlah besar dan banyak. Kata bapakku sih, bisa jadi satu kampung kalau keluarga besarku kumpul semua. Wew. Makanya dulu sering males diajakin karena tentunya capek salaman dan banyak yang gak dikenal. Tapi, lebaran jadi momen yang pas untuk saling mengel lagi. Untung ada lebaran ya.

3. Mudik – Mudik memang mungkin terjadi cuma di Indonesia. Sudah menjadi semacam budaya dan aku pun iktu-ikutan. Hehehe.. Maklum, anak perantauan. Lagipula, mudik menjadi momen yang menyenangkan, karena ada yang dirindukan dan ada yang merindukan kedatanganku. Mudik sudah menjadi bagian dari hidupku dan aku senang bisa mengalaminya juga.

4. Kumpul-kumpul dengan teman lama (sekolah) – Hal ini juga seperti menjadi sebuah acara rutin karena libur lebaran menjadi waktu yang pas untuk pelaksanaannya. Sulit untuk mencari waktu lain karena masing-masing tentu saja memiliki kesibukan masing-masing.

5. Saat yang tepat untuk berbagi – Yap, ramadhan dan lebaran menjadi waktu yang pas juga untuk berbagi dengan sesama. Baik itu keluarga, tetangga, kerabat maupun orang-orang lain yang membutuhkan. Mumpung waktunya ada dan lagi berbahagia, kita manfaatkan saja momen itu untuk berbagi dan berbuat baik. Syukur ya ada lebaran.

Ada yang ingin menambahkan dengan versinya sendiri? Kalau ada tambahan dikasitau lagi deh nanti.



Akhirnya, walaupun agak terlambat aku ingin mengucapkan “Selamat Iedul Fitri 1432 H”
Taqabbalallah minna waminkum. Minal Aidin wal Faidzin.

Mohon maaf lahir dan bathin atas segala kesalahan yang aku perbuat baik sengaja maupun tidak. Semoga kita semua kembali ke fitrah, menuju kemengan, dan selalu mendapatkan rahmat dan taufik dari Allah SWT. Aamiin..

Rabu, 17 Agustus 2011

Simulasi Segelas Air

Jadi, pada suatu hari beberapa waktu yang lalu aku ketiban suatu masalah seperti yang (mungkin) pernah dialami oleh (sebagian besar) orang lain di dunia ini. Masalah yang membuat hari-hari terasa begitu berat. Tubuh capek, pikiran terasa lelah, begitu pula dengan perasaan. Bahkan ketika bangun tidur pun badan terasa begitu lelah dan pikiran nggak jernih. Tidur yang seharusnya untuk mengistirahatkan tubuh dan pikiran justru malah membuat lelah.


Mungkin hal ini yang dinamakan stress. Akumulasi dari masalah-masalah kecil yang kadang secara tidak sadar dan secara gak langsung membebani pikiran dan hati (itu kadang terjadi). Ditambah suatu masalah yang cukup besar dan menjadi pemicu meledaknya tumpukan masalah (besar dan kecil) yang membuat diri tidak bias lagi membendungnya. Kira-kira itulah gambaran yang terjadi pada diriku (wew, serem ya).

Masalahnya apa? Hehehe, gak perlu diceritain. Pokoknya ada masalah dan kejadian yang terjadi. Sampai-sampai aku hanya ingin hari segera berakhir, pulang, istirahat dan menenangkan diri. Kalau mau agak lebay, inilah yang dinamakan ‘aku merasa lelah menjalani hari’..

Karena terasa lelah badan dan perasaan ini menanggungnya, akhirnya aku mencoba berusaha menyelesaikan semuanya. Namun, semangat kurang karena kondisi cukup lelah. Akhirnya sempat berbagi dengan seorang teman dan meminta bantuin sesuatu.

Naah, dalam peristiwa meminta bantuan itu dengan bijaknya dia mengatakan sesuatu kepadaku yang katanya emang mungkin aku sudah mencapai batas untuk menahan beban itu…



"Beban itu kalo udah terasa berat ya ditaruh dulu"
Sama aja kayak simulasi segelas air..”

“Maksudnya, misalkan kita memegang segelas air dengan tangan lurus ke depan.
Awalnya sih biasa aja, tapi semakin lama semakin capek dan terasa berat.
Semakin lama semakin banyak kekhawatiran yang muncul.
Takut gelasnya pecah
Takut airnya tumpah
Takut kamunya pingsan, dll, dst..
Kalau udah terasa capek dan berat, sebaiknya segelas air itu ditaruh dulu.
Jangan dipegang terus..

“Dan, ibaratkan segelas air itu adalah sebuah masalah yang sebenarnya kecil dan simple, semakin lama akan semakin terasa berat dan kompleks kalau terus dipendam.”


Hal itulah yang dikatakan kepadaku.

Kemudian aku berpikir, “iya sih. Secara tidak sadar aku mungkin memendam beberapa masalah yang awalnya aku kira kecil dan biasa-biasa saja, namun justru ketika ada masalah yang menjadi pemicu, masalah kecil yang menumpuk itu semakin membebani”

Naah, akhirnya aku mencoba untuk memaparkan maksud simulasi segelas air tersebut, yaitu sebagai berikut :

1.  Kalau ada masalah, besar atau sekecil apapun, janganlah dipendam. Keluarkan, selesaikan dan jangan diambil pusing (tapi bukan berarti diremehkan begitu saja). Karena kadang-kadang masalah-masalah kecil jika terakumulasi dan ada pemicu (masalah yang lebih besar) membuat kita tiba-tiba meledak karena tidak sanggup menampungnya lagi.
Cara menyelesaikannya gimana?
Aku gak bisa memberikan tips ataupun cara yang jitu. Aku bukan ahlinya. Lagipula setiap orang biasanya memiliki cara yang berbeda dalam menyelesaikan masalahnya dan tentu saja memakai cara yang paling nyaman untuknya.

2.  Aku pernah membaca suatu buku yang mengatakan kalau ada masalah, rasakanlah masalah tersebut. Rasakan dan resapi kemudian lepaskan.
Merasakan dan meresapi masalah itu bertujuan agar pada saat kita mengalami masalah yang mirip atau serupa pada suatu waktu, kita tau rasanya dan bias lebih ringan dalam menjalani dan menyelsaikannya (kurang lebih begitu yang aku ingat).

3.  Perbanyak beribadah dan berdoa.
Mengadu kepada sang Maha Pencipta akan semua keluh kesah dan permasalahan yang kita hadapi. Kemana lagi kita akan mengadu selain kepada Allah SWT?
Kadang tanpa kita sadari, ketika kita menjauh dari Allah dan segala perintah dan ajaran-Nya, hati akan merasakan kekosongan dan biasanya gak tenang apalagi ketika menghadapi suatu masalah.

4.  Perbanyak melakukan kebaikan. Cara ini ampuh untuk lebih menenangkan diri sendiri dan bisa merasakan kebahagiaan yang tulus.

5.  Jangan lari dari masalah, karena kemana pun kamu pergi masalah itu bisa membayangi sewaktu-waktu tanpa kita sadari, kapan pun dan di manapun.
Jangan pula memecahkan masalah, karena kalau pecah akan semakin banyak masalah yang timbul.
Lalu bagaimana? Selesaikanlah masalah tersebut. Kalau sudah selesai kan tidak aka nada kelanjutannya bukan? Lo (masalah), gw, eeend….

Cukup itu saja dulu. Cuma itu juga yang kepikir sama otakku sekarang ini.
Sekarang aku apa kabar? Alhamdulillah, baik-baik saja (gak ada yang nanya padahal ya..)

Btw, pembahasan di atas cukup berat ya? Tapi gak apalah. Aku ingin berbagi pengalaman, siapa tau ada yang bias kalian dapatkan dari tulisan ini…

Kamis, 04 Agustus 2011

Untitle (2)

Aku sadari bahwa blog ini jarang diurus akhir-akhir ini.
Selain karena tingkat kesibukan yang bertambah, hal ini diperparah lagi oleh kemalasan yang bertambah.
Kadang banyak (atau kalaupun tidak, pasti ada walaupun satu dua) hal yang ingin aku tulis dan bagikan, namun sering kali mengetik satu kata pun terasa malas karena capek lebih dulu terasa.

Apalagi mulai tanggal 8 Agustus 2011 besok, statusku bertambah satu lagi. Menjadi MAHASISWA.
Yap, selain menjadi karyawan, status sebagai mahasiswa akan melekat padaku.
Senin sampai Jumat bekerja dari pagi sampai sore, setelah itu langsung dilanjutkan dengan kuliah sampai jam 9 malam. Kedengarannya capek ya? Dan kalau dihitung-hitung aku hanya punya waktu yang benar-benar luang untuk beristirahat adalah di hari Minggu.

Wah, lalu bagaimana dengan nasib blog ini? Hehehe, aku doain baik-baik saja deh.
Semoga saja disela-sela kesibukan yang ada aku sempatkan untuk menge-post sesuatu dan juga blogwalking.
Kesibukan ini memang menjadi salah satu alasan terbesarku, selain alasan-alasan lainnya.

Emang pengunjung blog ini banyak? Emang ada yang menantikan tulisan-tulisan di blog ini?
Terus terang aku tidak tau, cuma yaaa.. kalaupun ada atau tidak siapa tau ada yang sengaja maupun tidak mengunjungi blog ini dan aku berharap mendapatkan sesuatu (yang bermanfaat).

Akhir kata, good luck buat saya sendiri yang akan kuliah lagi sebagai sampingan (pokoknya bekerja) dan good luck buat kalian semua.

Oia, aku lupa..
*SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA 1432 H*

Semoga amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT, semoga kita menjadi hamba yang beriman dan bertaqwa.
Semoga kita juga tetap semangat untuk terus menjadi orang baik dan meningkatkan semua amal kebajikan kita. Mohon maaf atas kesalahanku ya....

Sabtu, 30 Juli 2011

Harry Potter – Novel dan Film


Tulisan ini pun tercipta tentu saja karena akhirnya film terakhir Harry Potter – Harry Potter and The Deathly Hallows Part.2 ditayangkan juga di bioskop Indonesia. Alhamdulillah, karena terus terang aku pun turut senang (padahal pada saat tulisan ini dibikin, aku sendiri belum nonton). Penasaran bagaiman visualisasi terakhir dari Harry Potter ini. Lagian nonton di bioskop ada nilai lebih sendiri dalam menikmati sebuah film.

Aku gak akan meresensi atau menceritakan novel ataupun film Harry Potter di sini. Aku menganggap sebagian besar orang sudah tahu ceritanya. Sudah membaca dan menonton filmnya. Kalau belum tahu yaaaa....
Buku - novel = baca sendiri aja. Filmnya - tonton sendiri aja. Hehehee...


Novel HP 1 - 7

Aku dan Novel Harry Potter

Kalau mengingat masa lalu, pertama kali perkenalannku dengan novel Harpot (sebut saja seperti ini) adalah melalui majalah Bobo (Cuma lupa apakah majalah Bobo-ku sendiri atau Majalah Bobo Pinjaman), tapi Bobo memang teman bermain dan belajarku zaman itu. Pada saat itu aku tidak memiliki ketertarikan akan novel ini hingga akhirnya seorang teman yang baik hati (Zundina Ulya) meminjamkan aku buku pertama – Harry Potter and The Sorcerer’s Stone pada saat kelas 3 SMP, setelah dibaca habis, ya..ya..ya.. seperti kebanyakan orang lain (terutama para anak-anak dan remaja) di belahan dunia ini, aku pun terkena imbas akan ajaibnya dunia Harpot ini. Demam dan tergila-gila akan dunia Harry Potter . Ah, iya, tega bener temanku saat itu cuma minjemin setengah hari karena sore hari setelah pulang sekolah novelnya harus dibalikin.

Setelah membaca buku pertama, akhirnya dipinjamkan lagi buku kedua. Namun karena pada saat itu ada kesempatan ke Bali, bacanya ditunda. Nah, kebetulan waktu di Bali sempat mampir ke toko buku. Tanpa basa-basi pada saat itu aku langsung membeli buku ke 3 Harpot – Harry Potter and The Prisoner of Azkaban. Jadi, aku bacanya tidak urut karena buku ketiga lebih dulu aku habiskan daripada buku kedua – Harry Potter and The Chamber of Secrets.

Buku keempat tidak lama setelah itu akhirnya aku baca hanya dalam jangka waktu satu hari (waktu itu bulan Ramadhan). Kebetulan sepupuku – Huda Tula – ke Jakarta karena lomba karya ilmiah dan pulang dari sana akhirnya dia membeli buku ke empat Harry Potter and The Goblet of Fire. Pinjam deh. Hehehe... Semuanya hanya pada saat aku kelas 3 SMP.

Setelah menunggu sekitar 2 tahun, ketika kelas 2 SMA, berbekal uang hadiah lomba aku memberanikan diri membeli novel kelima – Harry Potter and The Order of The Phoenix dengan cara titip Dina untuk  beli dan aku bawa pulang ke rumah dengan alasan pinjam punya teman (Ah, iya. Sebenarnya aku sering dimarahi sama kedua orang tuaku karena sering beli buku – bukan buku pelajaran). Ah, betapa senangnya aku saat itu. Buku itu aku rawat dengan sangat baik dan tentu saja aku perlakukan layaknya barang berharga.

Setelah menunggu dua tahun lagi, ketika tingkat 1 kuliah di Jakarta, dengan menyisihkan uang saku bulanan dan mengurangi jatah makan, dengan nekat tanpa diketahui kedua orang tuaku, aku mebeli novel keenam – Harry Potter and The Half Blood Prince.

Dan dua tahun setelah itu, tingkat 3 kuliah, ternyata novel ketujuh Harry Potter and The Deathly Hallows terlalu mahal jika dibandingkan tiga novel sebelumnya padahal bisa dibilang lebih tipis dari buku sebelumnya. Akhirnya, dengan menyesal aku hanya meminjam teman dan dengan sabarnya aku membaca buku ketujuh sekaligus terakhir hanya dalam waktu setengah hari karena hanya diberi pinjaman satu hari. Yaaah.. akhirnya selesai juga dengan novelnya.

Film Hp 1 - 7 (gambar dari Google)

Aku dan Film Harry Potter

Agak berbeda dengan novelnya, film Harry Potter juga hal yang aku nantikan. Alasannya tentu saja sebagai penggemar berat bukunya, aku ingin melihat bagaimana dunia sihir Harry Potter dalam sebuah film. Tapi, tentu saja karena tempatku tidak ada bioskop, maka media menonton adalah VCD – bukan DVD.

Film pertama yang aku tonton kelas 3 SMP – HP1 (sebut saja seperti ini selanjutnya biar gak kepanjangan) akhirnya aku tonton berbekal pinjaman VCD seorang teman sekolah. Mencari info filmnya dari majalah-majalah. Setelah menonton tentu saja apa yang aku bayangkan berbeda ketika menonton filmnya. Terus terang aku kecewaa...

Aku lupa mana yang aku tonton terlebih dahulu, apakah HP2 atau HP3. Tapi, lagi-lagi inipun berbekal pinjaman VCD teman sekolah. Sudahlah.. Filmnya pun berbeda dari yang aku bayangkan. Lagi dan lagi aku kecewa...

Film keempat ditanyangkan pada saat aku tingkat 1 kuliah. Aku di Jakarta namun tidak mengenal dunia per-bioskop-an. Hanya bisa gigit jari dan kecewa melihat dan mendengar teman-temanku menonton film HP4 di bioskop. Padahal aku kepengeeen banget. Akhirnya film ini pun tidak aku tonton.

Film kelima akhirnya tayang ketika tingkat 2 kuliah. Sempat janjian dengan teman kuliah untuk nonton di bioskop dan akhirnya kembali kecewa karena nontonnya gak jadi. Sabar aja lah. Hingga akhirnya film ini aku bisa nonton dari komputer teman (download-an *malu), lagi dan lagi tidak seperti yang aku harapkan. Kecewa..

Film keenam, HP6 tayang ketika aku sudah bekerja – lagi magang tepatnya. Sayangnya adalah tayang pada saat aku sedang melaksanakan diklat prajabatan. Setelah prajab aku pulang ke rumah dan akhirnya gagal kembali menyaksikan HP6 di bioskop. Menonton pun lewat DVD, karena kualitas gambar yang jelek dan alur yang agak lambat, aku pun tertidur beberapa kali dan denga perjuangan yang berat akhirnya aku pun menyelesaikan film ini.

HP 4 terus terang belum juga aku tonton. Sampai ditayangkan di tivi swasta pun aku gagal nonton karena alasan mataku tidak bisa diajak kompromi. HP4 aku tonton tahun 2010 (can u imagine that? Haha) dengan membeli VCD asli sendiri – obralan. Hahahaa..
HP7 Part.1 adalah film pertama Harry Potter yang akhirnya aku tonton di bioskop. Yey. Senang. Karena bioskop dekat dan udah punya penghasilan, jadi hal ini bukan masalah lagi. Hahaha...
Sekarang pun karena akhirnya HP7 Part.2 ditayangkan di Indonesia, akhirnya kekhawatiran gagal nonton dibioskop lenyap sudaaah...

Hmmm.. tadi aku katakan bahwa tidak ada satupun film Harry Potter yang membuatku puas. Hal itu tentu saja karena bukunya sangat amat melekat di ingatanku. Tidak sesuai dengan yang aku bayangkan. Namun, setelah melepaskan bayang-bayang novelnya dan karena aku juga tidak terlalu ingat dengan keseluruhan detail cerita di novel Harry Potter, aku pun menonton ulang keseluruhan film Harry Potter dari film pertama sampai dengan film ketujuh (yang terakhir film kedelapan). Apa yang aku dapatkan? Kepuasan tentu saja. Filmnya ternyata bagus. Diadaptasi dan divisualisasikan dengan baik. Sebagai sebuah film, filmnya pun bagus, bisa dimengerti dan aku menikmatinya tanpa harus ada rasa kecewa dan membanding-bandingkan lagi dengan novelnya.

Heii.. itu media yang berbeda.

Nah, inilah awal mula tulisan ini sebenarnya. Membuat daftar urutan buku dan film Harry Potter berdasarkan kesukaanku. Eh.. malah nerocos duluan. Hahaha..
Okelah.. ini dia daftarnya :

Buku – Novel

1. Harry Potter and The Order of The Phoenix
Yap, inilah buku favorit saya. Buku kelima sekaligus yang paling tebal. Aku menyukai kisah yang terjadi di buku ini, dengan pemberontakan yang ada dan dengan emosi Harry yang sering meledak. Ah, pokonya kisahnya keren-lah.

2. Harry Potter and The Prisoner of Azkaban
Buku ketiga ini ceritanya tidak berhubungan dengan Lord Voldemort sendiri. Namun, entah kenapa kisah yang ada sungguh menarik dan aku begitu terkagum-kagum dengan cerita yang diangkat, dengan alur yang ada dan dengan kejutan yang ada di akhir buku ini. A great book.

3. Harry Potter and The Half Blood Prince
Novel keenam sekaligus novel yang penuh kata “gantung”. Kisah tentang Half Blood Prince yang ternyata Snape, ramuan Felix Felicis, mantra Sectumsempra, pengkhianatan yang ada, kematian Dumbledore (*bener gak sih tulisannya?), Horcrux yang ternyata palsu, masa lalu Lord Voldemort semuanya sangat menarik dan rasanya nangguuuung banget setelah halam terkahir. Mana lanjutannya? Mana lanjutannya? Kenapa harus berakhir begini? Inilah yang kau rasalah setelah membaca buku keenam ini.

4. Harry Potter and The Deathly Hallows
Buku ketujuh dan terakhir. Menarik. Bagian yang paling menarik tentu saja kenyataan yang ada di balik tokoh Severus Snape. Wow? Sungguh tokoh yang paling luar biasa yang diciptakan oleh JK Rowling. Setelah aku benci dan kadang bingung dengan sikapnya, di buku terkahir justru aku sangat bersimpati dengan tokoh ini. Bagaimana mungkin tokoh ini menjadi sangat luar biasa seperti ini?
Yang bikin agak kecewa sih karena penyelesaiaan pertarungannya terkesan “berakhir begitu saja”, terlalu datar.

5. Harry Potter and Goblet of Fire
Buku keempat menarik karena da turnamen triwizard. Yap, aku suka bagian itu. Lagipula, baru di buku keempat inilah aku tau cara mengucapkan nama Hermione yang sebenarnya. Hahahaa...

6. Harry Potter and The Chamber of The Secret
Aku suka buku ini. Suka bagian yang misteri membatunya penyihir kelahiran muggle. Namun karena seri setelahnya bagus, terpaksa deh diperingkat enam. Hehehe..

7. Harry Potter and Sorcerers Stone.
Buku pertama yang mengenalkan dunia Harry Potter. Ceritanya menarik, namun tidak sekompleks seri setelahnya.

Film – Movie

1. Harry Potter and The Prisoner of Azkaban
Film ketiga dari buku ketiga. Padahal dari segi cerita, film ketiga adalah yang paling beda dengan bukunya. Tapi, film ketiga dimulainya film yang lebih gelap, dengan sinematografi dan penceritaan yang ada, menjadikan film ketiga ini begitu enak untuk dinikmati. Film yang paling keren dari semua film Harry Potter.

2. Harry Potter and The Deathly Hallow
Okeh, kita jadikan satu film aja ya. Hehehe... Film yang paling setia dengan bukunya (mau komentar apa lagi ya?).

3. Harry Potter and The Order of The Phoenix
Padahal buku yang paling tebal, namun justru film dengan durasi paling pendek dibandingkan dengan film yang lainnya. Namun, lagi-lagi adaptasinya bagus walaupun banyak yang dipotong dari bukunya (yaiyalah). Alurnya pas dan porsinya pas jugalah.

4. Harry Potter and The Goblet of Fire
Entah kenapa, di film keempat ini, tokoh laki-laki di film ini rambutnya gondrong semua. Harry, Ron, Neville, Fred, George gondrong semua dibandingkan dengan film lainnya. Ada apa ini? Hahaha, aku jadi bertanya-tanya sendiri. Hmm.. filmnya bagus lah walaupun turnamennya agak datar menurut saya. But, a good job.

5. Harry Potter and The Half Blood Prince
Entah kenapa alur film ini agak lambat, namun filmnya bijaksana menurutku. Dalam artian enak untuk diikuti dan cukup bagus. Namun, yang bikin kecewa sebenarnya dalah di bagian akhir. Klimaksanya kuraaaangg, gak maksimaaal... Seandainya saja pertempuran di gua didramatisir lagi (diperpanjang) dan setelah kematian Dumbledore ada pertarungan, mungkin film ini akan ada di peringkat 3/4 daftarku ini. Sayang sekali...

6. Harry Potter and The Sorcerers Stone
Sebuah film keluarga dan menarik untuk diikuti. Namun, karena mungkin film pertama, feel-nya kurang terasa di film ini. Tapi baguslah untuk ukuran film perkenalan.

7. Harry Potter and The Chamber of Secrets
Entah kenapa aku merasa film ini paling lemah. Walaupun aku tonton ulang, alurnya terasa lambat dan aku merasa agak berat untuk menyelesaikan film ini sampai akhir. Sayang sekali, padahal ceritanya bagus namun yaaa begitu...

Hoeee, daftarnya selesai juga. Hehehee...

Aku ingatkan sekali lagi, aku pernah mengalami demam Harpot. Aku ingat bagaimana dulu aku begitu mengagumi JK Rowling dan keajaiban Harpot. Aku ingat bagaimana dulu ketika SMP dan SMA semapat kepikiran memiliki model rambut seperti Harry. Ingin sepintar Hermione.

Ketika kelas 3 SMP, aku membuat sebuah tongkat sihir dari bambu dan aku pergunakan di kelas. Melafalkan beberapa mantra sepeti orang gila.

Membeli buku tulis Harry Potter, mencari info tentang Harpot, membeli segala sesuatu tentang Harpot, membeli biografi JK Rowling dan sering menghayalkan tentang dunia sihir.

Foto, poster dan pernak-pernik Harpot aku cari dan kalau bisa dikoleksi.

Kalau mengingat hal ini sekarang, aku Cuma bisa tersenyum sendiri. Ya, aku pernah ada dalam bagian ini. Pernah ada bagian dalam hidupku begitu mencintai Harry Potter dan dunianya. Dan itu adalah hal yang wajarkan? Karena seiring dengan bertambahnya usiaku, aku merasa biasa saja dengan Harry Potter dan dunianya, tapi masih terkagum-kagum dan sebagi fans berat JK Rowling yang dengan jeniusnya menciptakan dunia Harry Potter.