13 Maret 2015

#ikutan Read Big Challenge - Host by @alvina13

Read Big Challenge

Akhir-akhir ini minat buat baca buku kambuh lagi.
Dulu, masih zaman sekolah dan kuliah bisa dibilang aku aktif membaca buku.
Buku tebal? gak masalah.
Buku setebal karya Dan Brown atau Harry Potter 4 bisa aku baca dalam waktu satu hari. Komik bisa sampai belasan ataupun dua puluhan sehari.

Namun, semua itu berubah setelah memasuki dunia kerja (*bukan setelah negara api menyerang). Membaca buku itu terasa sulit. Bukan hanya karena pikiran sudah teralih dengan pekerjaan, namun waktu pun kadang sedikit sekali. Kalaupun ada waktu, rasanya tenaga udah gak ada untuk melototin buku.
Pernah lho novel aku baca sampai berbula-bulan baru selesai, atau bacanya dilanjutkan setelah 6 bulan lamanya. Duh!

Naah, makanya beberapa tahun belakangan ini, semangat membaca itu terasa musiman. Kadang kambuh kadang malas. Tapi, beberapa bulan ini rasanya semangat baca buku.
Hitungan 6 bulan terkahir, sekitar 10 buku yang aku selesai baca (tidak termasuk komik) dan cukup sering bikin review. Kalau diri sendiri gak dipaksa kadang susah sih mau bikin review. Hehehe..

Akhir-akhir ini pula, aku cukup sering baca-baca review novel yang kira-kira menarik untuk dibaca. Kebetulan di blog Alvina13 nemu tantangan untuk membca buku tebal (bantal) selama setahun. Wah, menarik (pikirku) dan akupun merasa tertantang untuk ikut.
Salah satu alasan aku ikut adalah untuk memaksa diri sendiri (agar ada alasan) untuk memantapkan niat menumbuhkan kembali semangat membaca buku.

Ini sedikit keterangan tentang tantangan membaca buku yang diberi nama READ BIG CHALLENGE.

Syarat buku yang dibaca:

  • Jumlah halaman di atas 500. Supaya kesan seksi dan sensasi tebalnya terasa (>_<), tidak boleh berupa ebook atau audio book, kecuali jika ada alasan khusus (hubungi saya kalau kamu merasa sangat perlu pengecualian).
  • Manga, graphic novel, buku dengan banyak ilustrasi (contoh: Hugo Cabret), tidak diperbolehkan.
Kelas yang dipertandingkan:
  • Featherweight / Kelas Bulu: membaca 1 - 4 buku
  • Middleweight / Kelas Menengah: membaca 5 - 8 buku
  • Heavyweight / Kelas Berat: membaca > 8 buku
Selain kelas-kelas utama tersebut, ada pula Kelas Khusus:
Incredible Bulk: membaca minimal 1 (satu) buku dengan jumlah halaman >1000
Untuk info lebih lanjut sih bisa baca di blog MARI NGOMONGIN BUKU -nya Alvina.
Aku sendiri sih merasa tertantang untuk ikut kelas menengah dan berusaha sampai kelas berat. Selain itu, tertantang untuk kelas khusus "Incredible Bulk" soalnya ada novel GONE WITH THE WIND setebal 1.124 halaman yang sudah setahun lebih memanggil-manggil untuk dibaca segera. Hahaha...
Ada 3 buku dengan jumlah halaman lebih dari 500 yang aku punya dan belum dibaca. Sampai akhir tahun tentu saja akan bertambah. Akhirnya, aku mengatakan ini kepada diri sendiri dan siapa pun yang ikut tantangan ini...
Ayo Semangat....!
Ayo Semangat....!
Ayo Semangat....!

11 Maret 2015

[Book Review] Sabtu Bersama Bapak

Sabtu Bersama Bapak Cover + Sinopsis Sampul Belakang
Judul : Sabtu Bersama Bapak
Penulis : Adhitya Mulya
Penerbit : Gagas Media
Cetakan Pertama : 2014
Tebal : 278 halaman, paperback
ISBN : 978-780-721-5

Sabtu Bersama Bapak adalah sebuah cerita tentang sebuah keluarga kecil yang terdiri dari Bapak, Ibu dan dua anak laki-laki mereka.

Bapak Gunawan Garnida, seorang sosok suami dan bapak yang sangat menyayangi keluarganya. Bapak Gunawan meninggal karena kanker, namun sebelum meninggal dia telah mempersiapkan segalanya untuk Istri  dan kedua anak laki-lakinya. Satya yang berumur 8 tahun dan Saka yang berumur 5 tahun. Segala hal telah dipersiapkan sehingga mereka tidak susah dan merepotkan orang lain stelah dia meninggal.

Sang bapak berjanji akan ada bersama mereka walaupun sudah meninggal. Oleh karena itu, sebelum meninggal dia membuat pesan melalui sebuah video yang ditujukan kepada kedua anaknya. Video yang jumlahnya ratusan. Video yang mereka tonton setiap Sabtu sore, sebagai bekal kehidupan mereka kelak dan untuk menjawab pertanyaan mereka tentang hidup yang tidak bisa mereka tanyakan langsung kepadanya.
*Dari kegiatan inilah judul novel ini diambil :)

Ibu Itje, seorang istri dan ibu yang sangat menyayangi keluarganya. Seorang wanita yang tegar, kuat, dan membesarkan kedua anak laki-lakinya seorang diri dengan cara luar biasa. Sosok ibu yang tidak ingin merepotkan siapapun, bahkan kedua anaknya. Bahakan rela menyembunyikan penyakit yang dideritanya. Seorang ibu yang pintar memasak. Seorang ibu yang disayangi dan dikagumi oleh anak-anaknya.

Satya Garnida, adalah anak sulung keluarga Garnida. Seorang yang pintar, tampan, dan tegar. Setelah sukses bekerja di industry minyak mengakibatkan dia harus meninggalkan keluarganya untuk sementara waktu. Dia ingin menjadi sosok kepala keluarga yang tegas dan sempurna sehingga menuntut banyak hal dari keluarganya. Sampai akhirnya dia sadar bahwa dia jauh dari sosok suami dan bapak yang baik. Satya pun belajar menjadi bapak dan suami yang baik.

Cakra Garnida, adalah anak bungsu keluarga Garnida. Belajar mencari cinta. Di usia yang menginjak 30 tahun, belum juga menemukan labuhan cintanya. Walaupun telah menjadi direktur bank yang sukses, namun masih belum sukses dalam soal asmara.

Teringat pesan ayahnya, bahwa pernikahan itu harus dipersiapkan dengan baik. Rencana harus matang. Sebagai kepala keluarga nanti, jangan sampai malah membuat keluarganya menderita. Dia sadar, walaupun ibunya jarang membahas soal pernikahan, dia tahu bahwa ibunya sangat mengharapkan dia untuk segera menikah.

**

Yah, itulah sebenarnya gambaran besar novel Sabtu bersama bapak ini. Terus terang, ini adalah novel pertama Adhitya Mulya yang aku baca jadi aku tidak tahu gaya penceritaan Adhitya Mulya sebelumnya. Ternyata cara berceritanya asyik. Aku suka.

Cerita yang disampaikan ringan dan sederhana. Sederhana tersebut bukan berarti biasa saja. Justru sederhana di sini adalah hal yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, terasa dekat dan nyata, serta penuh dengan makna hidup. Sederhana bersahaya dan melekat di hati *halah bahasa apa pula ini

Cerita tentang keluarga ini pun dibalut dengan kelucuan. Beneran, di beberapa kalimat ataupun dialog terasa lucu. Aku juga suka dengan lelucon yang diselipkan melalui catatan kaki si penulis sendiri. Itu lucu. Keren.

Sebagai seorang anak, aku menyukai kisah dalam novel ini. Aku memang mungkin sosok anak yang dekat banget sama orang tuaku. Namun, novel ini mengingatkanku akan betapa aku menyayangi mereka. Betapa aku menghormati mereka. Betapa banyaknya pengorbanan yang telah mereka berikan, namun betapa sedikitnya yang telah aku berikan kepada mereka.

Sebagai seorang suami, aku juga menyukainya. Cerita ini mengingatkan aku betapa aku menyayangi istriku. Dia pantas untuk seseorang yang lebih baik, oleh karena itu aku harus menjadi lebih baik lagi.
Sebagai seorang ayah, aku pun suka banget cerita ini. Cerita ini mengingatkan aku untuk selalu ada untuk anakku tercinta. Aku ingin selalu ada dalam setiap momen kehidupannya. Membimbingnya, mengajarinya, melindunginya dan sebagainya.

Ah, buku ini mengingatkan aku untuk menjadi kepala keluarga yang lebih baik lagi. Banyak hal yang masih harus aku pelajari dan persiapkan.

Sebagai anak, suami, dan ayah, buku ini terasa personal (semenjak jadi bapak, perasaan lebih sensitive kalau udah menyangkut keluarga. Hehehe) dan kadang membuatku terharu


#maafkan kalau terdengar lebay

Nilai : 4/5