Langsung ke konten utama

(Bukan) JANJI (Joni)


ada lagu kaya gini dulu yak?
Malam-malam aku berpikir lagi. Kali ini tentang janji. Janji-ku, janji-mu, janji-kalian dan bukan janji Joni (tiba-tiba teringat sebuah judul film)
Sebelum membaca lebih jauh tulisan ini, ada satu pertanyaan yang ingin aku ajukan kepada siapapun  yang (memang sengaja atau kebetulan) membaca tulisan ini.
Pertanyaannya sederhana saja, yaitu, “Seberapa sering kamu menepati janjimu kepada orang lain dan sebisa mungkin tidak mengecewakan orang tersebut?”
Jawaban tentunya beraneka ragam. Ada yang bakal menjawab selalu, sering, kadang-kadang, jarang, atau bahkan barangkali ada yang menjawab tidak pernah?
Untuk yang menjawab ‘tidak pernah’ aku jadi berfpkir bahwa orang tersebut termasuk ke dalam tipe ‘orang tidak berperasaan’ sehingga tidak pernah memperdulikan perasaan orang lain (mohon maaf kalau orang itu kamu). Hahahaha...
Sekarang bagi orang yang menjawab ‘selalu, sering, kadang-kadang’, pertanyaannya aku ubah sedikit menjadi, “Seberapa sering kamu berjanji kepada diri sendiri dan menepatinya?”

Nah, inilah yang aku pikirkan dan sepertinya kebanyakan orang tidak menyadarinya.
Beberapa waktu yang lalu inspirasi untuk menulis tulisan ini aku dapatkan saat aku tersadar sudah terlalu seringnya aku membuat rencana (yang lebih mengarah dan mungkin lebih tepat disebut janji kepada diri sendiri) dan mengingkarinya.
Terus terang ya, waktu itu yang aku rasakan adalah malu dan juga penyesalan akan diri sendiri. Sudah terlalu sering dan juga sudah terlalu lama pengingkaran itu aku lakukan.
Janjiku kepada orang lain sebisa mungkin aku tepati. Selalu berusaha menyenangkan dan tidak mengecewakan mereka. Tapi, kepada diriku sendiri kenapa malah sebaliknya?

Berjanji bangun pagi. Berencana sampai membuat jadwal kegiatan sehari-hari dengan niat supaya hidup lebih teratur. Yang kenyataanya aku mungkin menyukai hidup yang lebih spontan daripada yang teratur.
Berjanji untuk lebih rajin beribadah. Katanya berjanji ingin menjadi manusia yang lebih baik dan lebih berguna. Bahkan samapai hal-hal kecil seperti berjanji mencuci baju ayau menyetrika hari ini, atau apapun itu. Terlihat sepele, tapi lebih sering ditunda pengerjaannya. Semua itu memang terlihar layaknya rencana dan tekad. Tapi, pada dasarnya itu semua adalah janjimu terhadap diri sendiri. Sudah terlalu sering semua itu hanya tinggal rencana dan rencana yang terbengkalai.
Bahkan dulu saat-saat di bangku kuliah, ketika melihat hasil ujianku yang sering jauh dari harapanku sebenarnya. Kadang turun bahkan terkadang hancur. Tentunya aku sedih dan kecewa. Sejak itu selalu betekad (berjanji) untuk lebih rajin belajar, lebih keras berusaha dan membuat target sendiri. Tapi yang terjadi? Tentu saja hanya emosi sesaat, terlaksana hanya hitungan hari, setelah itu terbengkalai dan tidak pernak aku tepati lagi, bahkan sampai lulus kebiasaan itu masih berlanjut.
Sering kuberfikir, munafikkah saat aku selalu dan selalu berjanji tapi jarang kutepati?
Tentunya aku dan kalian juga gak mau dong masuk ke dalam golongan tersebut.
Tanpa sadar aku telah berlaku tak adil terhadap diriku sendiri. Ketika perasaan orang lain begitu kujaga, perasaan sediri justru tidak.
Aku mengecewakan diri sendiri dengan perlakuan tak adil ini. Aku tak pernah menyadarinya hingga saat itu aku tersadar akan suatu peristiwa. Jika janji kepada diri sendiri tak pernah (sulit) aku tepati, bagaimana bisa kau meraih impian dan segala yang aku inginkan? Bisakah semua itu bisa kuraih maksimal? Bagaimana bisa aku meraih kepercayaan orang lain jika aku sendiri tidak berusaha untuk mendapatkan kepercayaan diri sendiri? Semua hal dimulai dari diri kita sendiri bukan?
Namanya juga tanpa sadar ya. Begitu sadar akan diubah, tetapi tak lama kemudian amnesia lagi. Susah deh kalau begitu. wkwkwkwkwk...
Coba renungkan sahabat. Sudah berapa kali hal ini kau lakukan? Berjanji kepada diri sendiri dan dengan tak adilnuya kau sendirilah yang mengingkarinya hanya karena alasan bahwa diri sendirilah yang berwenang akan semua yang kita lakukan sendiri.
Banyak yang kau dengan mengatakan bahwa ‘janji irtu ada untuk diingkari’. Menurutku slah, justru janji itu kau buat untuk akau tepati. Camkan itu.
Saat tulisan ini  dibuat pun aku memiliki tekad untuk mengubah perilaku ini. Berjanji akan berlaku adil kepada diri sendiri, menepati janjiku, dan menjadi manusia yang lebih baik.

Kemauan
Kemauan atau keinginan atau tekad. Mungkin itulah yang yang kurang aku miliki.
Semangatnya kadang-kadang menggebu-gebu tetapi cepat menguap.
Aku kagum dengan orang yang memiliki semangat membara, sampai-sampai terlihat dari raut muka dan tindakannya sehari-hari. Atau kalau memiliki intuisi (semoga benar pemakaian katanya) yang kuat, berada di dekatnya aura semangat itu begitu terasa.

Kalau kita kembalikan ke pribadi masing-masing (hmm, kalau kata-katanya sudah begini. Merupakan tanda bahwa pembicaraan mau berakhir) tentu saja ini bisa berkaitan dengan keinginan, cita-cita, emosi dan bisa dikatakan prinsip. Hahahahaa... (begitulah kira-kira, jangan bingung)
yang penting itu TALK LESS, DO MORE...
atau bahasa Indonesianya, SEDIKIT BICARA BANYAK KERJA...
atau bila perlu BANYAK BICARA DAN BANYAK KERJA. Itu lebih baik, apalagi bicara dan tindakan itu setara antara kuantitas dan kualitas atau kualitasnya terjamin.
Penutup
Aku akui makin lama aku makin ngawur. Sudahlah...
Yang penting intinya (inti lagi, inti lagi) adalah bahwa semoga saja setelah membaca tulisan ini kita berpikir tentang menepati janji itu dan ada keinginan untuk menjadi lebih baik. Semoga saja...


M. Sulhan Habibi (Oktober 2007 dan Desember 2010)

Komentar

  1. ya ampun postingan ini gue banget... hahaha
    sering kali mengobral janji ke diri sendiri. gilira ga ditepati malah merasa bersalah. kadang berusaha memaafkan diri sendiri juga si. tapi... entahlah

    saya sering banget berjanji akan manulis cerpen, misalnya (malah sudah satu tahunan ga jadi-jadi). efeknya, karena sering mengingkari janji kepada diri sendiri, kepercayaan terhadap diri malah jadi pudar.

    ups, ga berani bicara lebih banyak lagi. talk less do more..heheh

    BalasHapus
  2. wok...mau ngaku tp malu...but smoga kt bisa brubah utk lebih menghargai janji,menghargai org lain dan tentunx menghargai diri kt sendiri..
    Mulai deh sy geremon..__btw, sy jg minggu ini punya janji ma diri sy sndiri..Smoga Berhasil dech...Introveksi diri lg nech..__Hmm..(satu lg motivasi buat sy..Thanks Aby postinganx B2 jempolin)

    BalasHapus
  3. Huda Tula - situ banget? wkwkwkwk..
    bagi yang sering janji-janji seperti saya maka tulisan ini buat kita semua.

    Meina Hafs - terima kasih telah dibaca. semoga kita semua lebih bertanggung jawab terhadap diri kita sendiri. Hehehehe..

    BalasHapus
  4. tiba tiba lewat di google, tapi berasa ditampar wkwk. makasi tamparannya

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Homunculus Vol.11 (Bayangan?)

Hari Kamis, 23 Juni 2011 kemarin aku membaca komik Homunculus Volume 11. Komik Homunculus ini adalah manga karya Yamamoto Hideo *gak kenal sih sama pengarangnya, dan bercerita mengenai seorang tokoh utama dalam komik ini yang bernama Susumu Nakoshi. Susumu Nakoshi merupakan seorang gelandangan yang hidup dan tinggal di dalam mobilnya yang berada di antara sebuah gedung mewah (hotel) dan taman (tempat banyak gelandangan tinggal) - dua tempat yang dapt menggambar dunia dengan sangat kontras, bertolak belakang. Susumu memiliki kebiasaan unik, yaitu tidur layaknya seorang bayi yang butuh perlindungan (meringkuk sambil menghisap jempol). Suatu hari, dia mendapat tawaran dari seorang yang mengaku sebagai mahasiswa kedokteran bernama Manabu ito. Penampilannya padahal urakan dan metal *gak yakin sama penggambarannya. Manabu menawarkan akan memberikan uang sebesar 700 ribu yen asal bersedia tengkoraknya dilubangi. Jika tengkoraknya dilubangi, maka indera ke...

[Book Review] KISAH TANAH JAWA - Ivestigasi Mitos dan Mistis @KisahTanahJawa

Judul Buku : Kisah Tanah Jawa  Penulis : Team @ksahtanahjawa dan Dapoer Tjerita (Mada Zdan (Mbah KJ)  dan Bonaventura D. Genta  Retro-cogniser : Hari Hao  Editor : Ry Azzura  Desainer Sampul : Rezky Mahangga  Ilustrator isi : Day  Penerbit Gagas Media  Cetakan Pertama 2018, 250 halaman  Sejak zaman dahulu kala, nenek moyang kita menganut paham animism (kepercayaan bahwa roh (jiwa) itu tidak hanya berada pada makhluk hidup, tetapi juga pada benda-benda tertentu) dan dinamisme (kepercayaan yang menyakini bahwa semua benda-benda yang ada di dunia ini baik hidup atau mati mempunyai daya dan kekuatan ghaib). Setidaknya hal inilah yang aku ketahui sewaktu belajar sejarah di bangku sekolah dahulu. Seperti yang kita ketahui pula bahwa bukan hanya manusia yang diciptakan oleh Tuhan. Ada makhluk lainnya yang ada di sekitar kita. Tidak mengherankan jika banyak kejadian mistis, yang kadang tidak bisa dicerna oleh akal sehat, terjad...

KISAH SEBATANG PENSIL (Seperti Sungai yang Mengalir – Paulo Coelho)

Rasanya tangan gatal sekali pengen menulis sesuatu, mencurahkan sesuatu, apapun itu. Tumben, setelah sekian lama, aku ngerasa haus akan buku. Ditengah banyaknya kesibukan, kadang rasanya terlalu lelah untuk melihat rangkaian huruf-huruf dan kata-kata. Minat baca buku dikalahkan oleh rasa lelah. Tapi, entah kenapa, kali ini aku ingin menulis sesuatu. ingin membaca sesuatu. Makanya, aku butuh untuk posting sesuatu di blog dalam waktu yang singkat (*ada apa pula yang terjadi dengan diriku? Hehehe...) Tulisan ini kutipan dari kisah-kisah inspiratif. buah pikiran dan renungan Paulo Coelho. Aku pernah membaca beberapa buku karangan beliau, tapi lupa judulnya. Judul yang paling aku ingat sih The Alchemist (tentu saja - populer banget). Di tengah hasrat ingin membaca buku, aku pinjam nih bukunya teman kantor "Seperti Sungai yang Mengalir - Paulo Coelho". Baru baca sekitar 20-an halaman sih, tapi ada salah satu tulisan yang menurutku menarik. Kenapa aku memposting tulis...