Langsung ke konten utama

(Mengukur) Sudut 'Pandang'


Aku melakukan percobaan untuk membenarkan suatu teori (anggap aja itu teori). Suatu hal yang mungkin menurut orang agak aneh, tapi (menurutku) masuk akal untuk teori ini.

Percobaan dilakukan sambil berdiri. Duduk pun bisa. Atau buat diri sendiri merasa nyaman-lah.
Mata terbuka dan pandangan lurus ke depan.
Sesekali mata aku lirikkan ke arah kanan dan kemudian ke arah kiri.
Setelah itu aku coba untuk memandang ke atas dan kemudian ke bawah.

Apa yang aku dapatkan? Tentu saja sewaktu pandangan kea rah depan, aku dapat melihat segala yang ada di hadapankuku. Juga bias melihat hal-hal yang ada di samping, dan apapun yang ada di atas dan bawahku sewaktu menengokkan kepala.
Tetapi tidak semuanya terlihat bukan? Karena apa yang ada di belakangku dan juga beberapa yang berada di sampingku karena tidak bisa kulihat secara keseluruhan. Tidak terlihat karena ketidakmampuan atau karena adanya penghalang.
Yang di samping kiri dan kanan, serta yang di atas dan dibawah bisa aku lihat karena adanya usaha, yaitu dengan cara menengokkan wajahku (menggerakkan leher – intinya).

Lalu, apa hubungannya dengan sebuah teori yang ingin aku uji?
Pernah memdengar suatu hal mengenai “Jangan menilai sesuatu hanya dari sudut pandangmu saja!”
Atau “Jangan hanya melihat dari satu sisi saja, lihatlah sisi yang lain juga.
Kurang lebih perihal itu-lah yang ingin aku coba bahas.

Nah, itu dia.
Dari percobaan (aneh) yang aku lakukan, bias dianalogikan (disimpulkan juga boleh) bahwa sudut pandang manusia itu terbatas.Tidak pernah bisa melihat 360 derajat, tetapi hanya sekitar (maksimal) 180 derajat (kurang lebihnya mohon dimaafkan).
Sisanya ada hal-hal yang tidak bisa kamu ketahui atau lihat ataupun kalau ingin melihatnya membutuhkan usaha, yaitu dengan menengok, memutar atau berpindah.
Namun, tetap tidak akan bisa melihat keseluruhan karena saat kamu menengok atau berbalik arah, hal yang sebelumnya ada di depan mata menjadi berada di belakang kepala sehingga tidak terlihat lagi.

Begitu pula dengan suatu hal atau katakanlah seorang manusia (termasuk saya sendiri).
Kamu tidak akan bisa benar-benar mengetahui segala hal tentang sesuatu atau seseorang, walaupun kau mengatakan telah lama mengenalnya.
Bukan berarti bahwa kita harus mengetahui semua hal tentang sesuatu/seseorang untuk bisa memahaminya.
Dalam menilai seseorang, tidak hanya sudut pandang yang kita miliki yang kita pergunakan. Tetapi ada yang namanya kebijaksanaan dalam menilai sesuatu dan adanya perubahan sudut pandang yang kita miliki (salah satunya dengan memperluas sudut pandang yang kita miliki).
Jangankan orang lain, seseorang bahkan bisa saja merasa tidak mengerti dirinya sendiri.

Oke, mulailah aku dengan teori kehidupan yang dipikirkan sendiri (bahkan mungkin bisa terlihat sok bijak tulisan ini. Apalagi tulisannya rada formal gitu yak. Hehehehe…)

Sebagai contoh ni ya... (contohnya sederhana aja)

  1. Si A temanmu terlihat malas-malasan. Bahkan untuk mengerjakan tugas aja ogah-ogahan.
Atau kamu sering dinasehati atau dimarahi teman karena berbuat sesuatu. Atau kebalikannya, kamu sering menilai teman terhadap sesuatu yang dilakukannya.

  1. Menyukai seseorang karena perilakunya yang sering baik hati, suka menolong dan jarang marah.
Suka melihat seseorang karena selalu terlihat ceria dan bergembira.
Membenci seseorang karena perilakunya yang kasar atau perkataanya yang kadang tidak memperdulikan perasaan orang lain.
Mengagumi seseorang karena kelebihan yang dimiliki atau malah menghakimi dan mengasihani diri sendiri karena banyak kekurangan yang dimiliki.

Sebenarnya banyak sih ya. Tapi kok malah kesannya aku gak ngasi contoh ya? Hahahaha…
Sudahlah..
Mungkin kamu bias pikirkan sendiri juga contoh lainnya, atau apa sebenarnya yang aku maksud.


Hal yang lainnya adlah seperti ini:

Setiap orang itu tidak bisa diperlakukan sama. Tentu saja hal ini dilakukan karena setiap orang berbeda. Tetapi namanya juga sebagai pribadi, tentunya kita tidak bisa selalu bersikap berbeda untuk menyesuaikan dengan orang lain. Capek bukan rasanya? Hehehe..

Namun, yang bisa kita lakukan adalah mengendalikan diri terhadap sesuatu yang kira-kira akan menyinggung perasaan orang lain jika kita lakukan hal itu. (sama aja dengan menyesuaikan diri dong ya. Hahahahaa.. bingung ah..)

Sebaiknya hindari perilaku yang kira-kira akan menyakiti perasaan orang lain. Kita tidak tau kan orang akan bereaksi apa terhadap sikap dan ucapan kita. Taulah juga bahwa kita ini manusia yang bias saja salah dan lupa. Hehehehe…

Hei, aku malah kadang membenarkan suatu perkataan bahwa, “Saat kita merasa mengenal seseorang, saat itulah sebenarnya kita tidak mengenal dia sama sekali”
Aku gak tau ini perkataan siapa, tetapi kadang itulah yang aku rasakan. Ketika aku merasa atau menganggap diri mengenal seseorang, pada saat itulah kadang aku ngerasa banyak hal yang tidak kumengerti dari orang tersebut. Apa karena aku sok tau yak? Hahaha…


Sudahlah..
Akhiri saja teori ini. Mungkin saja bagi beberapa orang aku kesannya hanya menyambung-nyambungkan teori dan percobaanku. Tapi . . .
Apapun yang akan kita lakukan, semoga kita bijak dalam melakukannya.
Semoga kita menjadi orang baik dan bisa berguna bagi orang lain.
Oia, semoga kita juga senantiasa menjadi orang bahagia. Hahahaa…


M. Sulhan Habibi


Komentar

  1. hahaha...iyaa... jangankan orang lain, kadang mengerti diri sendiri saja susah.

    kadang harus banyak sabarnya juga sih, ktika kita menjadi korban sudut pandang orang lain (hehehe, pengalaman sendiri). dicap ini, diklaim begitu, hhhhhh....

    moga2 saya tidak pernah melukai orang lain dengan sudut pandang saya. coz i know sometimes it hurts. (ko' jadi curhat ga jelas begini ya? hahahah)

    BalasHapus
  2. Iya. begitulah. Mengrti diri sendiri aja kadang susah. hehehe..

    Tau gak sih, setelah saya nge-post tulisan ini siang hari, sore harinya saya mengalami kejadian yang bikin shock karena aku melihat pribadi seseorang yang berbeda dari seseorang hanya karena suatu peristiwa di jalanan.

    padahal kadang-kadang saya ngerasa aku mengerti dia, namun tentu saja saya salah besar. hehehe..

    BalasHapus
  3. Haha..
    ya deh, ditunggu cerita selanjutnya mengenai orang itu.

    BalasHapus
  4. Hmmm... sepertinya cerita itu gak akan saya publish. Biarkan sajalah terjadi.
    ada hikmah di balik semua itu.

    Palingan bakal nulis garis besar dan inti dari kejadian itu aja. hehehe
    tapi, nunggu mood nulis dulu aja deh.

    BalasHapus
  5. Ada cara lain untuk dapat melihat sesuatu secara lebih jelas, adalah dengan memadukan sudut pandang. Manusia kan punya sudut pandang yang berbeda-beda, dari sudut pandang yang dipadukan itu, mungkin kita akan menemukan suatu sudut pandang baru, yang bisa jadi jauh lebih baik.

    Mungkin, klo hubungannya dengan seseorang, kita bisa membantunya menjadi lebih baik?dll lah pokoknya gt.hehe...

    BalasHapus
  6. Hmm.. bagus juga itu.
    memadukan sudut pandang. itu bisa dikatakan memperluas sudut pandang juga kan? hehehehe...

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Homunculus Vol.11 (Bayangan?)

Hari Kamis, 23 Juni 2011 kemarin aku membaca komik Homunculus Volume 11. Komik Homunculus ini adalah manga karya Yamamoto Hideo *gak kenal sih sama pengarangnya, dan bercerita mengenai seorang tokoh utama dalam komik ini yang bernama Susumu Nakoshi. Susumu Nakoshi merupakan seorang gelandangan yang hidup dan tinggal di dalam mobilnya yang berada di antara sebuah gedung mewah (hotel) dan taman (tempat banyak gelandangan tinggal) - dua tempat yang dapt menggambar dunia dengan sangat kontras, bertolak belakang. Susumu memiliki kebiasaan unik, yaitu tidur layaknya seorang bayi yang butuh perlindungan (meringkuk sambil menghisap jempol). Suatu hari, dia mendapat tawaran dari seorang yang mengaku sebagai mahasiswa kedokteran bernama Manabu ito. Penampilannya padahal urakan dan metal *gak yakin sama penggambarannya. Manabu menawarkan akan memberikan uang sebesar 700 ribu yen asal bersedia tengkoraknya dilubangi. Jika tengkoraknya dilubangi, maka indera ke...

[Book Review] KISAH TANAH JAWA - Ivestigasi Mitos dan Mistis @KisahTanahJawa

Judul Buku : Kisah Tanah Jawa  Penulis : Team @ksahtanahjawa dan Dapoer Tjerita (Mada Zdan (Mbah KJ)  dan Bonaventura D. Genta  Retro-cogniser : Hari Hao  Editor : Ry Azzura  Desainer Sampul : Rezky Mahangga  Ilustrator isi : Day  Penerbit Gagas Media  Cetakan Pertama 2018, 250 halaman  Sejak zaman dahulu kala, nenek moyang kita menganut paham animism (kepercayaan bahwa roh (jiwa) itu tidak hanya berada pada makhluk hidup, tetapi juga pada benda-benda tertentu) dan dinamisme (kepercayaan yang menyakini bahwa semua benda-benda yang ada di dunia ini baik hidup atau mati mempunyai daya dan kekuatan ghaib). Setidaknya hal inilah yang aku ketahui sewaktu belajar sejarah di bangku sekolah dahulu. Seperti yang kita ketahui pula bahwa bukan hanya manusia yang diciptakan oleh Tuhan. Ada makhluk lainnya yang ada di sekitar kita. Tidak mengherankan jika banyak kejadian mistis, yang kadang tidak bisa dicerna oleh akal sehat, terjad...

KISAH SEBATANG PENSIL (Seperti Sungai yang Mengalir – Paulo Coelho)

Rasanya tangan gatal sekali pengen menulis sesuatu, mencurahkan sesuatu, apapun itu. Tumben, setelah sekian lama, aku ngerasa haus akan buku. Ditengah banyaknya kesibukan, kadang rasanya terlalu lelah untuk melihat rangkaian huruf-huruf dan kata-kata. Minat baca buku dikalahkan oleh rasa lelah. Tapi, entah kenapa, kali ini aku ingin menulis sesuatu. ingin membaca sesuatu. Makanya, aku butuh untuk posting sesuatu di blog dalam waktu yang singkat (*ada apa pula yang terjadi dengan diriku? Hehehe...) Tulisan ini kutipan dari kisah-kisah inspiratif. buah pikiran dan renungan Paulo Coelho. Aku pernah membaca beberapa buku karangan beliau, tapi lupa judulnya. Judul yang paling aku ingat sih The Alchemist (tentu saja - populer banget). Di tengah hasrat ingin membaca buku, aku pinjam nih bukunya teman kantor "Seperti Sungai yang Mengalir - Paulo Coelho". Baru baca sekitar 20-an halaman sih, tapi ada salah satu tulisan yang menurutku menarik. Kenapa aku memposting tulis...