21 April 2011

With a Little Help From My Friends


“Jika seseorang berbuat suatu kebaikan kepada kalian, maka balaslah dia. Namun, jika kalian tidak menemukan suatu apapun untuk membalasnya, maka berdoalah untuknya hingga kalian benar-benar melihat bahwa kalian telah membalasnya.”

Sebagai seseorang yang menyukai kebaikan, menurut saya kata-kata tersebut sangat amat keren sekali.
Kalau bagimu biasa-biasa saja, berarti kita berbeda aliran. Dan itu terserah kamu. Hahaha...

Oke, walaupun sebenarnya aku tidak mengingat seperti apa persisnya kalimat di atas karena kata-kata tersebut sudah sangat lama aku dengar (bukannya pelupa, tapi untuk mengingat sesuatu secara sama persis tentu hal yang sangat sulit bukan? Kecuali mungkin aku meiliki ingatan fotografis). Namun sampai sekarang masih aku ingat dan niatnya sih gak akan aku lupain. Kalau ditanya mengapa, tentu saja karena aku sangat menyukai kata-kata tersebut. Bahkan kata-kata di atas adalah salah pedoman yang akan terus aku pegang sampai akhir hayatku *haishlaah...

Hmmm... kalau tidak salah ingat aku baca kalimat ini di majalah tentang agama. Cuma sekali lagi aku lupa nama majalahnya apa. Waktu dulu pinjam teman sih ya sewaktu kuliah. That’s one of my favorite magazine in that time. Selain karena isinya keren, juga karena pembahasan yang di sana kebanyakan mengenai pengetahuan dan kalaupun banyak pembahasan mengenai kehidupan beragama, pembahasannya disampaikan dengan sangat baik tanpa merasa digurui dan dihakimi. Tapi, kalau aku tidak ingat nama majalahnya, buat apa aku bahas panjang lebar ya majalahnya? Mau direkomendasikan pun sia-sia karena aku lupa sama sekali =) 

Tentang kebaikan hati dan tolong menolong. Aku tidak pernah menganggap hal itu sepele, juga tidak memandang sebagai masalah yang sangat berat sehingga susah untuk dilakukan. Bagiku, kebaikan seseorang, siapapun dia, kepadaku atau kepada siapa saja merupakan hal yang tidak bisa begitu saja dilupakan.
Jika seseorang berbuat baik, besar atau kecil, terutama di saat aku sedang merasa butuh bantuan, maka bantuan dan kebaikan hatiyang aku terima adalah suatu hal yang harus aku balas. Ini adalah masalah prinsip. Dan prinsip saya adalah ‘kebaikan itu harus dibalas.

Aku senang dibantu orang lain *siapa juga yang gak suka ditolongin. Dan sama seperti halnya dibantu, aku pun senang membantu orang lain. Terutama siapa saja yang dekat denganku *kerabat. Kalau istilah narsisnya sih kadang aku merasa seolah-olah memang ditakdirkan untuk membantu mereka. Abisnya sering dimintai tolong sih.

Permintaan tolong mereka adalah hal yang harus aku tunaikan. Jujur nih ya, aku itu lemah dalam hal dimintai tolong karena sering adanya ketidakkuasaan bagiku untuk menolak permintaan tersebut. Lagipula aku bahagia bisa membantu mereka karena membantu orang lain dan membuat mereka merasa lebih nyaman sangat menyenangkan. Believe me. Membantu orang lain itu menyenangkan dan mententramkan hati.
Namun sering merasa tidak nyaman kalau dipuji sebagai orang baik. Hahahaha… *penting ya? #preeet

Tapi walaupun bagiku sendiri itu biasa saja, begitulah adanya. Lagipula salah satu hal yang ingin aku capai di dunia ini adalah ingin dikenal sebagai orang yang baik hati dan suka menolong.

--

Hal yang ingin aku utarakan sebenarnya adalah masalah membalas kebaikan orang lain. Masa iya sebagai manusia yang punya hati dan perasaan tidak membalas kebaikan orang lain yang telah diberikan kepada kita? Tentunya harus kita balas bukan?

Jangan seenaknya meminta dan menerima bantuan namun ketika orang lain butuh bantuan, seolah-olah mata buta, telinga tuli, dan indera yang lain mati rasa. Seolah-olah hanya seonggok daging yang hanya bias berjalan *gak segitunya juga sih perumpamaannya.

Tolong-Menolong ada Seninya

Setiap perbuatan itu ada seninya (aku sih meng-istilahkannya seperti itu). Seni di sini bisa berarti kita harus pandai melihat situasi, kondisi, dan lokasi saat hendak melakukan sesuatu.
Minta tolong itu ada seninya, begitu pula menolong orang lain. Seni di sini diperlukan agar apa yang kita lakukan tepat sasaran dan guna *sok tau banget saya ini*

Dalam arti seperti ini..
Kalau hendak membantu orang lain, kamu harus melihat juga situasi dan kondisi orang yang hendak ditolong. Bukan cuma niat yang ada.

Soalnya, ketika orang yang hendak kamu bantu tidak merasa butuh bantuan, janganlah mencoba untuk memaksa untuk membantu. Memang niat kita kadang bagus, tapi kalau justru bantuan kita membuatnya merasa tidak nyaman dan malah merepotkan dia, lebih baik tidak usah dibantu kan? Atau cari waktu lainlah untuk membantunya.

Dalam agama Islam pun tolong menolong itu dianjurkan, dalam surat al Maidah ayat 2 yang berbunyi “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksa-Nya.”
Tolong-menolong menjadi sebuah keharusan karena apapun yang kita kerjakan membutuhkan pertolongan dari orang lain. Tidak ada manusia seorang pun di muka bumi ini yang tidak membutuhkan pertolongan dari yang lain. Kita butuh orang lain, baik secara langsung aau idak langsung. Emang bisa hidup sendiri?

Namun, jika kalian tidak menemukan suatu apapun untuk membalasnya, maka berdoalah untuknya hingga kalian benar-benar melihat bahwa kalian telah membalasnya.

Itu yang perlu diingat. Jika kamu tidak menemukan apapun yang tepat untuk menolongnya, berdoalah untuk mereka yang telah menolongmu. Berdoalah untuk kebaikannya. Berdoalah untuk kesehatan, kebahagiaan, kesejahteraan, keselamatannya dan segala kebaikan untuknya sampai kau melihat bahwa kau telah membalasnya.

Jika ada perasaan agak terbebani, marilah kita latih diri kita menjadi orang yang ikhlas. Saya, kamu, dan siapapun. Lagipula gak akan ada ruginya kok. Percayalah. Allah pasti akan membalasnya *sok bijak banget ya gw kedengarannya..

Aiya, saya lupa. Setiap menerima bantuan dari orang lain jangan lupa mengucapkan “terima kasih” yang tulus yak. Hehehe...

Marilah kita menjadi orang baik =)

--

12 April 2011

Kabur Ke Sungai - Nostalgia Masa Kecil


Hari Minggu. Cuaca mendung. Rudi berencana belajar kelompok bersama teman-teman sekelasnya.
Rudi adalah seorang pelajar kelas 5 Sekolah Dasar.
Anak rajin tapi tidak terlalu mematuhi kata-kata kedua orang tuanya. Terutama ibunya.

”Ibu, aku mau pergi belajar kelompok di rumah Rani. Ada tugas sekolah.” Rudi memberitahu ibunya.

“Hati-hati ya, Nak!! Awas, jangan main-main ke sungai ya! Bahaya. Mendung dan hujan begini air sungainya meluap.” Ibunya menasihati karena rumah Rina dekat dengan sungai dan tahu betul sifat Rudi.

“Iya, Bu. Aku berangkat dulu.” Rudi menjawab dan memang selalu begitu walaupun masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Buru-buru ia menyambar tas, memakai sandal dan pergi meninggalkan ibunya.

”Rudi... Payungnya ketinggalan!” Ibunya berteriak, tapi, Rudi sudah menghilang di tikungan jalan.

Sesampai di rumah Rina, semua sudah berkumpul. Rina, Karim, Abdul, Tonio dan juga Kania. Mereka memang berencana belajar berenam.

”Halo teman-teman!” Rudi menyapa dan langsung duduk di dekat teman-temannya.
Kemudian mereka mulai belajar bersama-sama. Baru lima menit mengerjakan PR, tiba-tiba hujan deras turun. Kilat telihat di langit dan guntur pun terdengar memekakkan telinga.

”Wah, hujan.” Seru Karim.
“Asyik nih. Hujannya deras lagi.” Dilanjutkan oleh Abdul.
”Mmm... Teman-teman, bagaimana kalau kita pergi berenang ke sungai saja. Pasti seru. Airnya deras dan kita bisa bermain sepuasnya!” Langsung Tonio mengusulkan.
”Setuju!” Semua berteriak.
”Ayo kita kabur! PR-nya bisa kita selesaikan nanti saja!!” Rudi juga berseru denga semangat dan langsung berlari ke tengah hujan dan diikuti teman-temannya menuju sungai.

Sesampai di sungai, mereka langsung berenang bersama. Seru. Asyik. Airnya deras, tapi tidak membuat takut mereka.
Ah, tiba-tiba sewaktu asyik berenang, punggung Rudi tergores batu di pingir sungai. Bajunya sobek sedikit dan punggungnya berdarah.
Tiba-tiba juga, sandal Rudi yang di pinggir sungai hanyut begitu saja.

Tak lama kemudian hujan berhenti. Mereka kelelahan dan pulang ke rumah Rina. Rudi kehilangan sandal sebelah kanannya. Tapi, dia tidak mempedulikannya.
Semua basah kuyup. Lelah dan kedinginan.
”Wah, aku capek.” Kata Rina.
”Aku juga!” Yang lain menjawab.
”Kita pulang saja yuk! Tugasnya kita kerjain sendiri di rumah saja.” Kata Kania.
Semua setuju dan pulang segera ke rumah masing-masing.

Sepanjang jalan, Rudi teringat kata-kata ibunya tadi. Dia basah kuyup walaupun hujan sudah reda waktu dia pulang. Bajunya robek sedikit dan punggungnya tergores. Ditambah pula sandal sebelah kanannya hanyut.

”Haaah... Aku pasti dimarahi ibu. Ibu pasti tahu...!” Rudi berkata kepada dirinya sendiri.
.
.
*****

.
Iseng membuat sebuah cerita tentang anak kecil. Sudah lama tidak membaca cerpen atau dongeng untuk anak-anak. Dulu sih sering sewaktu masih kecil, terutama baca dari majalah BOBO.
BOBO teman bermain dan belajar...

Berbicara mengenai masa kecil, sebenarnya saya sedang merindukan masa-masa itu *ah, gak juga sih sebenarnya.
Masa kecilku itu menyenangkan walaupun terbilang biasa saja. Soalnya, aku tipe anak rumahan, lebih sering berada di rumah daripada keluar bermain. Percaya atau tidak, semakin bertambah umurku, semakin jarang keluar bermain. Padahal justru bagi yang lain kebalikannya..

Aku jarang bermain bersama teman-teman sekolahku. Lebih sering bersama tetangga-tetanggaku, sepupu dan saudara-saudaraku.
Bukannya apa atau apa. Rumah teman-temanku lumayan jauh sih, lagipula karena aku dulu (dulu ya) pendiam, makanya sebenarnya gak terlalu akrab dengan teman-teman sekolah. Jarang mengunjungi dan dikunjungi. hehehe...
Jika ingin bernostalgia, banyak permainan yang dulu kami lakukan. Anak sekarang mana pernah terlihat melakukan permainan tradisional. Padahal sangat mengasyikkan.

Tempat bermain yang paling asyik adalah di halaman rumah nenekku yang ada di belakang rumah. Main apa saja jadi di sana.
Banyak jenis permainannya. Mulai dari Geleng (petak umpet), selodor (gobak sodor), main karet, main kelereng, main ketek, benteng, terasi/acan, main pelandang, sebok peta, dengkak (Dengklak), sekolah batu, jeletuk manuk, dan masih banyak yang lainnya.
Aku masih ingat insiden sewaktu bermain petak umpet dan telapak kakiku luka tanpa aku sadari. Ternyata hampir setengah telapak kakiku terluka oleh beling. Berdarah sangat banyak dan tentu saja langsung dilarikan ke rumah sakit sambil nangis sekencang-kencangnya. Hahaha..
Waktu bermain yang paling ayik adalah sore hari tentu saja.
Kadang kami bermain sampai lupa waktu. Sampai diusir dengan cara disiram pake seember air. Sungguh menyenangkan.

Dahulu sering juga main masak-masakan. Pake grabah dari tanah liat.
Bermain bola (walaupun aku gak bisa main bola. hahaha), main kasti sewaktu SD (olah raga favorit) dan permainan lainnya.
Hal yang menggembirakan dahulu adalah pergi bermain ke sawah (alias BANGKET). Sungguh menyenangkan. Kadang untuk menangkap capung, belalang sampai sering dikejar pemilik sawah sambil membawa golok.

Pernah juga main-main ke sungai yang dalam (kokoq) hanya untuk mencari tanah liat untuk prakarya sewaktu SD. Sampai-sampai temanku pernah jatuh dan luka di jidatnya.
Kangen? iya, tentu saja.
Kadang-kadang ingin rasanya mengulang masa-masa itu. Walaupun masa itu sudah pernah terlewati dan dinikmati, namun kadang memang terbersit keinginan untuk menikmati kembali kebahagiaan dan masa-masa itu.
Menjadi anak kecil itu menyenangkan bukan? Bisa bermain sepuasnya, bisa merasakan bahagia tanpa harus memikirkan banyak hal (tidak seperti sekarang).
Mungkin tidak tepat dikatakan bahwa aku ingin kembali ke masa itu dan mengalaminya lagi *tentu saja gak mungkin. Hal yang aku inginkan sebenarnya mungkin saja ingin menikmati kembali perasaan itu. Perasaan dan suasana hati ketika mengalami kejadian itu. Dimana aku beigitu bersemangat dan bahagia. Bahagia yang tulus karena tidak ada beban yang bergelayut di hati dan pikiran.
Bebas dan lepas laksana burung *apa sih...?

Aku akhirnya ingat suatu perkataan, kira-kira seperti ini,
Berpikirlah dewasa namun bertingkahlah seperti anak kecil. Karena dengan berpikir dewasa itu kamu akan bisa menjalani hidup dengan baik, namun saat berada si masa kanak-kanak (dalam dunia anak kecil) kebahagiaan yang tulus dan tanpa beban itu dapat dirasakan.
Kira-kira begitulah kata-katanya. Lupa pernah baca di mana dan bacanya pun sekilas...

Oke deh. Nostalgianya cukup saja ya.
Enjoy everything in you life =)