5 September 2011

Menggendong Tas Berisi Batu



Masih nuansa lebaran nih dan lagi semangat aja buat nulis sebelum kesibukan menjelang.

Salah satu hal yang identik dengan lebaran adalah meminta maaf dan memaafkan. Sebenarnya bukan hanya lebaran saja sih minta maaf itu dilakukan, namun rasanya lebaran adalah suatu momen yang dirasakan pas untuk melakukan kegiatan ini jika dibandingkan waktu lainnya. Oleh karena itu, sebaiknya jangan disia-siakan kesempatan yang ada untuk meminta maaf kepada orang lain atas segala kesalahan yang telah kita perbuat. Ini hubungannya dengan hablumminannas..

Meminta maaf itu bisa dibilang mudah untuk dilakukan. Walaupun sebenarnya tidak juga bagi sebagian orang (apalagi bagi orang yang mengaku diri tidak salah atau orang lain yang bersalah). Tinggal mengatakan kata “maaf” tentunya tergantung niat dan ketulusan hati. Apakah benar-benar meminta maaf atau hanya sekadar formalitas saja.

Sebenarnya, hal yang ingin aku katakana adalah ada hal yang lebih sulit dari meminta maaf. Yaitu “memaafkan”. Memaafkan itu sebenarnya jauh lebih sulit daripada sekadar meminta maaf walaupun keduanya tentu saja penting. Cuma, aku gak tau bagaimana mengatakannya dengan baik dan bagaimana membandingkannya (jadi kalau ada kesalahan, mohon dimaafkan).

Memaafkan itu… berkaitan dengan hati dan karena berkaitan dengan hatilah makanya aku mengatakan memaafkan itu sulit untuk dilakukan walalupun tidak mustahil.
Karena berkaitan dengan hati, maka berkaitan pula dengan kesabaran dan keikhlasan. Dua hal itu tentunya tidak dengan begitu mudahnya kita lakukan (terutama untuk saya sendiri).

Coba bertanya sejenak kepada diri kita sendiri bagaimana perasaan dan sikap kita sendiri apabila ada orang yang meminta maaf kepada kita? Kemudian, bagaimana jika yang meminta maaf adalah orang yang kamu benci, tidak sukai dan pernah berbuat sesuatu yang bukan cuma tidak kamu sukai namun juga sangat membuat sakit hati? Benarkan kita memaafkan dengan ikhlas tanpa ada sedikit perasaan tidak suka walaupun cuma sedikit?

Terus terang, bagiku sendiri sulit untuk melakukan hal itu. Pernah juga terlintas dalam hati jengkel dan berpikir buat apa memaafkan dia, apa gunanya bagi kita sendiri, kesalahan yang dia lakukan tidak dapat dimaafkan. Bila perlu kalau bisa dibalas, akan aku balas sakit hati yang ada.

Oke, mungkin itu terlalu berlebihan. Tapi, terhadapa sesuatu yang tidak kita sukai dan atau terhadap orang yang tidak kita sukai (dengan berbagai alasan) begitu dia meminta maaf, mohon maaf aku tidak bisa langsung memaafkan begitu saja. Dalam artian, iya dalam lisan aku mengatakan aku memaafkan, namun hati ini belum sepenuhnya menerima. Dan kadang, akan berangsur membaik seiring dengan berjalannya waktu. Dan itu bisa dibilang memaafkan. Tapi, butuh proses yang berarti bahwa memaafkan dengan ikhlas dan tulus tidak bisa terjadi begitu saja (dalam kasusku).

Padahal sebenarnya, memaafkan itu adalah perbuatan yang sangat mulia. Sebenarnya memaafkan itu akan membawa manfaat yang jauh lebih baik bagi diri kita sendiri.

Aku pernah membaca suatu kalimat menganai memaafkan tersebut. Beginilah katanya …


“Sejatinya, memaafkan adalah untuk kepentingan dan kemaslahatan diri kita sendiri. Ketika kita memaafkan berarti kita melepaskan diri dari ikatan emosi negatif yang merugikan fisik dan psikis kita. Bagaikan orang yang menggendong ransel berisi bebatuan yang berat, kemudian ia membuang batu-batu itu satu persatu. Demikianlah, memaafkan berarti kita melepaskan beban yang menghimpit diri dan jiwa kita.”


Dan tentu saja itu BENAR sekali. Aku sendiri mengakui bahwa ketika kita mulai bisa memaafkan, sebenarnya kita melepas beban yang membelenggu kita secara perlahan-lahan.

Pernahkah kau merasakan kedamaian ketika rasa memaafkan kesalahan orang lain itu kau lakukan daripada memendamnya terus menerus? Perlahan-lahan tubuh dan pikiran, serta hati merasa lebih ringan dan mungkin banyak di antara kita yang tidak menyadarinya (termasuk saya sendiri).

---

Tulisanku di atas sepertinya berat banget ya pembahasannya. Entah ada angina pa yang membuatku menulis hal ini. Mungkin sebagai pembelajaran bagi diri sendiri untuk lebih bisa sabar dan tulus ikhlas dalam memaafkan orang lain.

Sudahlah, berat atau tidaknya bahasan di atas, yang pastinya aku berharap semoga bermanfaat bagi siapa pun yang membacanya. Termasuk diri saya sendiri. Mohon maaf atas segala kesalahan yang tertulis secara sengaja ataupun tidak oleh saya sendiri…

4 September 2011

Ramadhan dan Lebaran – Dahulu dan Kini

gambar dari google


Ramadhan

Ramadhan 1432 H telah berlalu dan tebak apa? Tentunya sering terdengar bahwa Ramdhan itu bulan suci yang penuh dengan keberkahan dan kebaikan. Pahala dilipat gandakan, pintu surga dibuka lebar dan pintu neraka ditutup. Setan dibelenggu. Dan segala kebaikan dan keberkahan lainnya.
Memang itulah kenyataannya.


Tidak banyak yang bisa aku ceritakan mengenai apa yang terjadi selama ramadhan, namun yang pasti perasaanku mengatakan bahwa aku ingin apa yang terjadi di bulan ramadhan bisa aku rasakan, lakukan dan saksikan pada bulan-bulan lainnya. Aku berharap apa yang terjadi, kebaikan dan keberkahan yang ada berlanjut sampai nanti dan akan terus bertambah seiring berjalannya waktu.

Kini ramadhan tahun ini telah berlalu, aku berharap aku masih bisa bertemu dengan ramadhan tahun berikutnya, tahun berikutnya lagi dan untuk seterusnya.
I Think I miss you (Ramadhan) even more...


Lebaran – Iedul Fitri

Horeee.. Lebaran tiba dan tentunya semua umat muslim bergembira menyambut lebaran (termasuk aku dong tentunya!)

Kalau di Indonesia, tradisi mudik, THR, baju baru lebaran, kue-kue lebaran, ketupat dan opor ayam, parsel dan sebagainya menghiasi nuansa lebaran sebagian besar masyarakatnya (termasuk aku lagi dong!). Menyenangkan ya keliatannya.

Hmm.. dalam umurku yang kesekian ini, ramadhan dan lebaran nuansanya sudah sangat berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, terutama sewaktu aku masih di bangku sekolah dan saudaraku belum menikah dan memiliki keluarga sendiri. Perbedaan itu sangat terasa.

Dan nuansa ramadhan dan lebaran akan berbeda lagi aku rasakan jika aku sudah menikah dan memiliki keluarga sendiri. Perubahan emang selalu terjadi, namanya juga hidup.

Karena perubahan keadaan dan suasana itulah aku ingin mengingat-ingat apa saja yang berbeda dan kadang (terus terang) aku rindukan suasananya.
Sewaktu kecil dan masih di bangku sekolah, inilah nuansa Ramadhan dan Lebaran yang aku alami.

1. Buka Puasa – tentu saja kadang (jarang sih sebenarnya) aku membantu ibu menyiapkan makanan buka puasa (lebih sering sih minuman dan makanan ringannya) dan beberapa menit sebelum adzan maghrib aku sudah duduk manis, menata makananku plus lauknya dengan rapi. Setelah adzan biasanya aku makan dengan sangat tenang tanpa berbicara sepatah katapun sampai makanku habis (ibuku sering mengatakan itu) dan kadang aku tidak menyadarinya.

Sekarang – Kalau buka puasa, ya keluar cari makanan di warung. Kalau nggak, cari takjil ke masjid-masjid (namanya juga anak kost – perantauan. Hehee). Atau makan bareng teman ke mana gitu. Dan sejak kuliah sampai sekarang, aku lebih sering makan setelah tarawih. Padahal selama di rumah hampir gak pernah lho. Kadang-kadang, kangen sih makanan ibu kalau buka puasa.

2. THR – Eh, ini salah satu bagian yang bikin bahagia lho. Walaupun sebenarnya aku jarang dapat THR sewaktu kecil (jarang yang ngasi sih) dan jumlahnya gak terlalu banyak sih (kadang gak cukup buat beli baju dan celana baru). Tapi, begitu ada yang ngasi THR, langsung deh berbunga-bunga perasaan ini.

Sekarang – Heee, tentu saja terbalik sebagai pemberi THR. Setelah aku pikir-pikir kok aku sewaktu kecil jarang dapet ya? Dan pengen balik lagi jadi anak kecil biar ada yang ngasi THR. Tapi, namanya juga berbagi, membahagiakan lho bisa berbagi.

3. Baju/Pakaian Baru – hei, setiap anak menadambakan pakaian baru (bila perlu ditambah sandal, sepatu dan barang-barang lainnya yang juga baru) untuk dipakai selama lebaran. Menanti-nanti dikasi uang oleh bapak-ibu dan pergi beli baju lebaran. Aku ingat aku bahagian saat milih baju baru.

Sekarang – Beli sendiri baju lebarannya. Siapa yang mau beliin udah gede gini? Haha. Lagipula, seumuranku sih ada atau gak baju baru sewaktu lebaran bukan masalah (sewaktu masih kecil sih – baju lebaran adalah masalah), ini pendapatku lho ya. Lagipula, sekarang gantian beliin baju lebaran buat anak kecil (enak ya jadi anak kecil).

4. Kue Lebaran – Ini juga bagian yang menyenangkan, membuat kue lebaran. Walaupun bantu-bantu dikit, aku merasa senang aja melihat keluargaku bikin kue lebaran. Walaupun setelah kue-nya jadi, merasa kenyang sendiri hanya dengan melihat kuenya. Hehehe..

Sekarang – Karena aku jauh dari rumah dan saudaraku yang perempuan sudah menikah semua, gak ada lagi yang bikin kue lebaran di rumah. Aku sih sekarang gak terlalu antusias untuk makan kue lebaran, tapi kalau ada ya dimakan sih tetep. Hehehe...

5. Bersih-bersih rumah – Kebiasaan di rumah menjelang lebaran adalah bersih-bersih rumah bareng saudar-saudaraku. Pokoknya bagian-bagian yang jarang dibersihkan akan dibersihkan semua. Lebaran adalah kondisi rumahku yang paling bersih sepanjang tahun. Apalagi aku ingat membersihkan rumah ditemani lagu-lagu nasyid. Aku ingat suasanya dan kadang terbayang. Jadi kangen..

Sekarang – tentu saja siapa yang akan bersih-bersih? Beresin rumah juga seadanya kalau aku pulang ke rumah.

6. Jalan-jalan ke pantai – Ini sebenarnya sering terjadi sewaktu aku masih kecil, SD-lah. Setiap lebarang aku sekeluarga biasanya main ke pantai. Sejak SMP dan sampai sekarang malah gak pernah lagi, padahal kadang kepengen sih.

7. Ketupat dan Opor Ayam – perasaan ini gak ada yang berubah drastis deh, tetap bisa disantap selama lebaran. Hehehee..

8. Sebenarnya dulu sewaktu lebaran, aku dan keluargaku langsung bisa kumpul bersama. Tapi, tidak dengan sekarang karena seperti yang tadi telah aku katakan, saudaraku telah banyak yang menikah dan punya keluarga sendiri. Jadi sewaktu lebaran palingan aku langsung bisa bertemu ibu, bapak dan kakak laku-lakiku. Saudaraku yang lainnya biasanya datang siang atau sore atau keesokan harinya, jarang bisa kumpul bareng dalam satu waktu seperti dulu. Padahal kadang-kadang aku kangen dan ingin kumpul semua dalam satu waktu dan berlebaran bersama.

Aku sadar sih, keadaan akan jauh berbeda lagi kalau aku sudah menikah dan meiliki keluaraga sendiri.

9. Takbiran dambil nonton pawai lampion – Ini dulu mengasyikkan lho. Kadang-kadang main kembang api. Tpi, sekarang bukan menjadi sesuatu yang menarik lagi sih. Hehehee...

10. Es Krim dan Bakso - ini juga adalah kebiasaan sewaktu masih kecil. Sekitar jam 10-an setelah keliling salaman, biasanya setelah itu beli es krim deh (dan kadang bakso), rasanya kurang afdol kalo belum makan es krim sewaktu lebaran. Jadi pengen makan es krim. Hehehee...

Berhubung sepertinya ada yang aku lupakan, jadi itu saja dulu.

Selain itu pula, selama menjelang lebaran dan lebaran, ada hal-hal khusus (menurutku) yang patut menjadi perhatian dan jarang terjadi di waktu yang lain. Apa saja itu?

1. Ziarah kubur – Biasanya, sore hari pada hari lebaran, aku dan keluargaku akan ziarah ke makam keluarga. Ziarah kubur dan berdoa. Jarang terjadi di hari-hari yang lain kan? Makanya lebaran seperti menjadi momen yang pas untuk ziarah kubur, untuk mendoakan kerabat dan tentu saja kadang mengingatkanku akan kematianku ssendiri. Untung ya ada lebaran.

2. Halah bihalal atau Silaturrahim – Lebaran menjadi momen yang pas untuk maaf-memaafkan dan tentu saja untuk silaturrahim dengan keluarga, rekan, teman dan tetangga. Kapan lagi coba waktu lainnya di mana aku keliling kompleks dan berkunjung kesana kemari untuk silaturrahim? Eh, tapi terus terang ni ya, karena jarang kumpul keluarga besar aku tidak mengenal keluargaku sebagian besar. Cuma nyengir dan salaman aja sambil mikir (siapa ya?) – maklum jarang ketemu sih dan begitu juga dengan teman masa kecil dan tetanggaku. Kadang aku gak ingat lho saking lamanya gak di rumah. Lagipula, keluarga besarku sangatlah besar dan banyak. Kata bapakku sih, bisa jadi satu kampung kalau keluarga besarku kumpul semua. Wew. Makanya dulu sering males diajakin karena tentunya capek salaman dan banyak yang gak dikenal. Tapi, lebaran jadi momen yang pas untuk saling mengel lagi. Untung ada lebaran ya.

3. Mudik – Mudik memang mungkin terjadi cuma di Indonesia. Sudah menjadi semacam budaya dan aku pun iktu-ikutan. Hehehe.. Maklum, anak perantauan. Lagipula, mudik menjadi momen yang menyenangkan, karena ada yang dirindukan dan ada yang merindukan kedatanganku. Mudik sudah menjadi bagian dari hidupku dan aku senang bisa mengalaminya juga.

4. Kumpul-kumpul dengan teman lama (sekolah) – Hal ini juga seperti menjadi sebuah acara rutin karena libur lebaran menjadi waktu yang pas untuk pelaksanaannya. Sulit untuk mencari waktu lain karena masing-masing tentu saja memiliki kesibukan masing-masing.

5. Saat yang tepat untuk berbagi – Yap, ramadhan dan lebaran menjadi waktu yang pas juga untuk berbagi dengan sesama. Baik itu keluarga, tetangga, kerabat maupun orang-orang lain yang membutuhkan. Mumpung waktunya ada dan lagi berbahagia, kita manfaatkan saja momen itu untuk berbagi dan berbuat baik. Syukur ya ada lebaran.

Ada yang ingin menambahkan dengan versinya sendiri? Kalau ada tambahan dikasitau lagi deh nanti.



Akhirnya, walaupun agak terlambat aku ingin mengucapkan “Selamat Iedul Fitri 1432 H”
Taqabbalallah minna waminkum. Minal Aidin wal Faidzin.

Mohon maaf lahir dan bathin atas segala kesalahan yang aku perbuat baik sengaja maupun tidak. Semoga kita semua kembali ke fitrah, menuju kemengan, dan selalu mendapatkan rahmat dan taufik dari Allah SWT. Aamiin..