29 Juli 2016

[Book Review] PENGAKUAN - Anton Chekhov

Pengakuan - Anton Chekhov

Judul buku : PENGAKUAN
Penulis : Anton Chekhov
Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Penerjemah : Koesalah Soebagyo Toer
Penyuntin : Candra Gautama
Perancang Sampul : Teguh Tri Erdyan, Deborah Amadis
Tebal xv + 147 halaman
Cetakan Kedua, April 2016
ISBN 978-602-6208-17-0

*blurb*

Kemunafikan, kecenderungan untuk memanipulasi orang lain, serta praktik penjilatan dan korupsi, adalah sebagian tema cerita pendek Anton Chekhov. Ditulis dengan gaya satire yang begitu memikat, cerita-cerita itu menggambarkan keadaan masyarakat Rusia yang sedang membusuk menjelang Abad XX.

“Apa yang saya inginkan hanyalah berkata kepada masyarakat dengan jujur: ‘Pandanglah diri kalian dan lihatlah betapa busuk dan muramnya kalian.’ Hal yang penting adalah bahwa masyarakat perlu menyadari bahwa mereka... tidak boleh tidak harus menciptakan kehidupan yang lebih baik dan berbeda.... Sepanjang kehidupan itu belum terwujud, saya tidak akan jemu-jemu berkata kepada masyarakat: ‘Please, mengertilah bahwa kehidupan kalian busuk danmuram!’,” demikian komentar Chekhov, Raja Cerpen Rusia.

**

Membaca buku ini merupakan pengalaman yang menyenangkan. Kumpulan cerita pendek penulis Rusia adalah sesuatu yang baru buatku.
Aku cukup menyukai sastra walaupun jarang membacanya. Aku pun menyukai cerita pendek, bahkan dulu aku selalu mengikuti dan membaca cerpen kompas maupun cerpen lainnya di buku, blog, majalah, atau koran.

Cerita-cerita pendek dalam buku ini berisi tentang kehidupan sosial yang penuh intrik, kemunafikan, kecenderungan untuk memanipulasi orang lain, serta praktik penjilatan dan korupsi, dan sudah dijelaskan di cover belakang bukunya.
Ada 25 cerita pendek dalam buku ini. Sayangnya tidak semua cerita dapat aku nikmati. Namun, beberapa cerita justru sangat aku suka dan betul-betul nikmati.

Ada beberapa cerita pendek yang begitu aku sukai, beberapa di antaranya yaitu cerita yang berjudul Pergi, Orang Bebal, Seorang Bandot dan Seorang Wanita, Berterima Kasih, Di Kedai Cukur, Perempuan Tanpa Prasangka, dan cerita Dalam Pertunjukan Hipnotis. Cerita-cerita tersebut membuatku tertawa, bahkan beberapa sampai cukup tergelak karena ceritanya yang seolah menyindir dengan cara yang lucu. Walaupun lucu, tapi tetap ada sentilan terhadap perilaku masyarakat. Hal ini memang terjadi dan terasa agak familiar karena bisa kita temui dalam kehidupan kita sehari-hari.

Beberapa cerita juga malah terasa miris saat membacanya, seperti cerita Pengakuan, Cermin Perot, Wanita-Wanita, Kegembiraan Seorang Pemenang, dan Tetek Bengek Kehidupan.

Beberapa cerita malah tidak bisa aku nikmati dan membuatku mengernyitkan dahi serta berpikir (cukup) keras untuk mengerti maknanya. Bukan berarti cerita tersebut tidak bagus sih, malah sebenarnya terasa unik. Mungkin butuh pemikiran dalam dan dibaca berulang-ulang untuk mengerti maknanya.

Dalam buku ini cukup banyak kata-kata baru yang sebelumnya tidak aku ketahui dan struktur kalimat yang agak unik. Entah karena terjemahan yang kurang pas sehingga agak susah aku pahami atau memang struktur kalimat dan cara penceritaan cerpen tersebut memang seperti itu adanya. Maklum ini adalah karya sastra, dari Rusia lagi, yang aku akui akan sulit menerjemahkan dengan sangat pas tanpa menghilangkan makna dari cerita itu sendiri.

Secara keseluruhan, aku senang membaca buku ini karena menambah wawasan sastra dari negara lain dan merasakan sensasi yang baru ketika membacanya.
Bagi siapapun yang ingin mencoba membaca cerpen unik, tema tentang penyakit sosial, dan ingin merasakan sensasi yang berbeda, buku ini patut kamu coba.

Nilai : 3,5/5 

Nilai 3,5 aku berikan karena beberapa cerita sangat aku sukai, sangat menghibur, dan terasa berkesan.

[Book Review] ELANTRIS - Brandon Sanderson

Buku Elantris koleksi pribadi. Lokasi foto di halaman kantor

Judul Asli : Elantris 
Pengarang : Brandon Sanderson 
Penerjemah : Nur Aini 
Penyunting : Esti Budihasbari 
Penerbit : Mizan Fantasy
Tebal : 544 halaman
Diterbitkan pertama kali Maret 2015 
ISBN 978-979-433-854-4 
Format, Bahasa: Paperback, Indonesia


*Blurb*


KARYA PENULIS YANG DIPERCAYA MELANJUTKAN SERI THE WHEEL OF TIME



Elantris, pusat dari Arelon, kota nan indah, bercahaya dan dihuni oleh makhluk abadi yang menggunakan kekuatan sihir mereka demi kemanusiaan. Penduduk Elantris berasal dari manusia biasa yang disentuh Shaod sehingga mereka dikaruniai kekuatan abadi. Sepuluh tahun lalu, tiba-tiba saja kekuatan Elantris musnah. Shaod mengubah penduduk Elantris menjadi penyakitan, berkeriput dan tak berdaya bagai penderita lepra. Kota yang dulu indah dan bercahaya kini kumuh, kotor, dan diambang kehancuran.
 
Putri Sarene dari Teod tiba di Arelon untuk menikahi pangeran Raoden demi kepentingan politik. Ternyata Raoden sudah meninggal dan Sarene harus hidup tanpa pelindung di bawah ancaman serangan kaum Fjordell yang fanatik. Tetapi, tak ada yang tahu bahwa sebenarnya Raoden telah disingkirkan sang Ayah ke kota Elantris yang terkutuk. Karena Raoden telah ternoda oleh Shaod yang menyerang penduduk Elantris. Sementara itu, Hrathren dan para pendukung fanatiknya dari Fjordell ingin menghancurkan Elantris yang mereka anggap sebagai bukti kebusukan dan kejahatan penghuni kota itu. Bisakah Arelon bertahan dari serbuan Fjordell? Raoden harus menguak rahasia terpendam di Elantris demi menyelamatkan negara dan tunangannya.

 
Sebuah kisah fantasi epik yang lengkap, kuat dan penuh kejutan. Sebuah debut menyegarkan di dunia high-fantasy.

**

Eh, seriusan ini karya debut perdana Brandon Sanderson?
Kok keren banget sih? Apalagi kalau untuk ukuran debut, Elantris ini memang luar biasa banget. Membaca buku ini rasanya asyik banget dan seperti ditulis oleh seorang penulis yang senior dan memiliki banyak pengalaman.

Sebelumnya aku mau cerita sedikit dulu deh.
Sebelumnya aku asing dengan nama Brandon Sanderson, bahkan ketika salah satu group penggemar novel fantasi pernah membahas tentang profil penulis satu ini aku tidak terlalu menaruh perhatian lebih. Sempat sih membaca profil Brandon Sanderson dan mencari tahu karya-karya lainnya, namun masih sebatas itu saja.

Hingga suatu hari di bulan Februari, salah seorang teman memberikan info salah seorang blogger membahas tentang Elantris dan mengadakan giveaway novel ini. Membaca ulasan yang ditulis oleh Ren Puspita dalam blog-nya membuatku penasaran ingin membaca novel Elantris ini. Aku memang cukup menyukai cara Ren Puspita mengulas sebuah buku dan ulasan tentang elantris ditulis dengan sangat menarik (ulasan Ren tentang Elantris bisa dibaca di sini).

Nah, tanpa basa basi dan tanpa pikir panjang, aku langsung mengikuti giveaway tersebut dan sangat bersyukur ketika terpilih menjadi pemenang. Namun aku tidak langsung membaca buku ini begitu mendapatkannya, malah beberapa kali aku tunda setelah membaca 3 halaman. Bukan karena rasa bosan makanya aku belum melanjutkan bacaanku, tapi karena aku merasa waktunya belum ‘klik’ untuk membaca Elantris yang sepertinya membutuhkan mood dan waktu yang pas.

Sampai setelah lebaran aku masih belum juga membaca Elantris, malah membaca Stellheart karya Brandon Sanderson lebih dahulu. Nah, aku langsung menyukai gaya penceritaan Brandon Sanderson di Steelheart, makanya setelah itu aku langsung bertekad untuk langsung membaca Elantris tanpa pikir panjang. Beberapa halaman awal sih memang masih belum terasa feel-nya, namun semakin membaca halaman demi halaman justru aku tidak bisa berhenti membacanya. Rasa capek dan mata mengantuklah yang membuatku istirahat dari membaca buku ini, bahkan di kantor kadang-kadang gelisah karena ingin segera melanjutkan membaca Elantris ini.

Hasilnya WOW...
Aku suka banget cerita high fantasy seperti ini. Dunia Elantris yang diciptakan Brandon Sanderson sangat keren.

Ringkasan di atas memang sudah cukup menggambarkan faris besar cerita Elantris, namun jangan pernah ragu untuk membacanya karena banyak hal luar biasa yang akan kamu temukan lembar tiap lembar.

Elantris diceritakan dari tiga sudut pandang karakternya. Masing-masing sudut pandang akan diceritakan per bab. Mereka adalah Raoden, pangeran Arelon yang terkena Shaod dan dibuang ke Elantris, yang kedua adalah tunangan Raoden, Sarene, putri negara tetangga Teod yang berusaha menyelamatkan Arelon dari cengkeraman musuh. Tokoh ketiga yang merupakan tokoh antagonis yaitu Hrathren, seorang gyorn (atau imam besar) agama Shu-Dereth yang mempunyai misi untuk menyebarkan agamanya dan juga membuat Arelon bergabung dengan kerajaan Fjordell.

Ketiga karakter ini menurutku keren dan luar biasa. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing yang membuat pembaca mudah menyukai mereka.

Raoden sang pangeran adalah sosok yang cerdik, pantang menyerah, penyayang, dan optimis. Dia meyakini bahwa ada alasan dia menjadi seorang Elantrian dan mungkin takdirnya adalah menyelamatkan Elantris.
Sarene, sang putri, tampil sebagai sosok perempuan cantik, kuat, pintar, mandiri, berpendirian teguh, dan jago politik. Sifatnya juga keras kepala dan merasa tidak banyak orang yang menyukainya karena sifatnya tersebut.
Hrathen, sang gyorn, adalah tokoh antagonis yang sangat mudah disukai akibat kecerdikan, strategi, dan pergolakan batinnya yang mebuatnya sebagai tokoh antagonis dengan alasan yang masuk akal dan bisa diterima.

Para tokoh pendukung lainnya pun digambarkan sangat bagus. Suka.
Beberapa di antaranya adalah teman Raoden di Elantris, Galladon yang (secara mengejutkan) sangat sering pesimis, Karata, dan Saolin. Ada pula bangsawan - bangsawan Arelon seperti Duke Roial, Count Elondel, Baron Shuden yang merupakan teman Raoden dan kini mendukung Sarene. Kemudian ada pamannya Sarene, Kiin, yang ternyata seorang koki handal istri dan anak-anak mereka yang memiliki keunikan sendiri. Dari pihak antagonis selain Hrathren ada juga Dilaf, yang sifatnya sangat bertolak belakang dengan Hrathen. Bahkan Seon Sarene, Ashe pun menyenangkan.

Cerita tentang kerajaan dan permainan politiknya salah satu tema yang aku sukai. Ada sensasi sendiri dalam membaca buku dengan unsur politik di dalamnya (walaupun dalam kehidupan nyata aku sama sekali gak tertarik akan politik).
Lebih dari 50% buku ini berkutat tentang politik, intrik, strategi, dan permainan di dalamnya. Bukannya bosan, justru cerita tentang politik inilah yang membuatku semakin menyukai Elantris.
Selain politik, ada pula sihir dan keajaiban Elantris yang sangat aku suka. Sihir Aon (AonDor) yang bekerja dengan menggunakan lambang (tulisan, seperti Rune) sangat menarik perhatianku. Bahkan semakin membaca tentang sihir Aon, semakin aku diliputi rasa penasaran dan ingin tahu lebih banyak lagi. Membayangkan cara kerja Aon sembari membacanya terasa menyenangkan.

Elantris ini memang bukan buku yang sempurna. Karena Elantris ini adalah high fantasi dengan dunia yang diciptakan sendiri, oleh karena itu banyak bahasa-bahasa khusus dalam novel ini. Akibat tidak adanya glossarium atau catatan kaki, maka cukup banyak kata dan istilah yang membuat bingung ketika membacanya. Namun jangan khawatir, kata dan istilah tersebut pada akhirnya bisa kita mengerti arti dan maksud penggunannya. Memang sih membutuhkan waktu dan itu pun dari hasil menerka-terka artinya, tapi hasilnya justru lebih menyenangkan sih.

Salah satu hal yang membuatku kurang puas akan buku ini adalah...
Buku ini KURANG TEBAL 
*lho, kok kurang puas?

Buku Elantris ini padahal tebal lho, 500an halaman lebih, ukuran buku yang besar dan font agak kecil, margin tulisan mepet pinggiran halaman juga, tapi kok rasanya masih saja kurang.
Aku masih penasaran dan ingin tau lebih banyak tentang sihir AonDor yang seperti sihir Rune, Ingin membaca lebih banyak lagi tentang tentang kisah Raoden dan Sarene, masih ingin baca kisah tentang Elantris beserta orang-orangnya, dan masih ingin tahu lebih banyak lagi.

Aku berharap buku ini lebih tebal lagi sekitar 200an halaman deh, biar makin puas. Banyak hal yang ingin aku tahu lagi. Rasanya nagih sih. Hahaha...

TOP BGT

Rating 5/5

 
Penampakan asli Elantris Mizan Fantasi
P.S.
Eh, pada akhirnya ulasanku ini malah lebih banyak membahas perasaanku yang bahagia setelah membaca buku ini bukannya membahas isi bukunya. Tapi, menurutku memang lebih baik begitu sih. Membaca Elantris ini merupakan pengalaman yang sangat mengasyikkan bagiku.

Saranku sih, segeralah baca buku ini. Kalau belum punya, langsung saja ke toko buku atau pesan buku ini. Jangan berpikir panjang lagi. Temukan keindahan, keajaiban, dan sensasi yang memuaskan sewaktu membaca buku ini. Jangan sampai menyesal lho ketika buku ini tiba-tiba menjadi langka (susah didapat).

Ayo...
Segera BACA ya!! :) 

17 Juli 2016

[Book Review] STEELHEART (The Reckoners #1) - Brandon Sanderson




Judul Buku : STEELHEART (The Reckoners #1) 
Penulis : Brandon Sanderson 
Penerjemah : Putro Nugroho 
Penyunting : Rina Wulandari 
Desain Sampul : Aditya “tyo” Satyagraha 
Penerbit Noura Books (Mizan Fantasi) 
ISBN 9786020989983 
Cetakan I, April 2016 (Soft Cover) 
Tebal 565 halaman

*blurb*

Steelheart menghancurkan ruangan, membunuh siapa pun yang dia lihat. Tiran itu berteriak penuh kemurkaan. Kemudian, gelombang energi terpancar dari tubuhnya, dan lantai di sekelilingnya pun berubah warna—menjelma logam.

Saat Calamity muncul, manusia yang terkena efeknya mendapatkan kekuatan super. Orang-orang menyebut mereka Epic. Namun, alih-alih menjadi pahlawan, mereka menggunakan kekuatan untuk menguasai dunia dan menghancurkan siapa pun yang menghalangi tujuan mereka.

Teror menyebar ke seluruh negeri. Bumi diliputi kegelapan. Para manusia biasa harus hidup di bawah tanah. Tak ada yang berani memberontak, kecuali Reckoners—sekelompok manusia biasa yang mengabdikan diri melawan Epic.

David ingin bergabung dengan Reckoners karena dialah satu-satunya saksi mata kelemahan Steelheart. Dan sudah saatnya dia membalaskan kematian ayahnya.

--

Steelheart bercerita tentang vola cahaya merah yang muncul di langit dan menimbulkan efek kekuatan super bagi manusia yang terkena efeknya. Bola cahaya merah ini mereka sebut “Calamity” Manusia yang terkena efek bola merah tersebut memiliki kekuatan super luar biasa bak para dewa, seperti tidak kebal, bisa mengendalikan elemen-elemen, bisa terbang, mengendalikan udara, beralih wujud, meramal masa depan, hingga menghancurkan benda dengan sekali tunjuk. Manusia super ini disebut EPIC. 

Bukannya menolong, para Epic justru menimbulkan kehancuran, kerusakan dan membuat umat manusia biasa ketakutan. David yang kehilangan ayahnya oleh seorang Epic penguasa Newcago (kota tempat David tinggal), Steelheart, berniat membalas dendam dan bergabung dengan The Reckoners yang merupakan sekelompok orang yang berjuang untuk melawan melawan kesewenang-wenangan para EPIC. 

Brandon Sanderson sungguh piawai dalam bercerita. Cerita yang dituliskan dalam buku ini sungguh terasa mengalir dengan aksi dan keseruan yang memukau. Aku gak bisa berhenti membaca buku ini dan selalu merasa penasaran akan apa yang akan dilakukan para tokohnya. Sepanjang membaca buku ini pula aku bergumam, “Wah, keren nih. Gilak. Seru!!

Membaca buku ini membuatku mengajukan pertanyaan ini kepada para pembaca lainnya.
- Suka kisah fantasi penuh aksi, petualangan, dan ketegangan? Steelheart untukmu.
- Suka kisah manusia super dan kisah kepahlawanan layaknya komik? Steelheart untukmu. Apalagi aku menyukai kisah superhero, makanya jadi suka banget sama buku ini. Eh, malahan aku sering berkhayal memiliki kekuatan super lho. Hahaha... (eh, malah curhat)
- Suka cerita fantasi dengan ide cemerlang dan selalu bikin gregetan dan penasaran? Buku ini pun untukmu. 

Membaca Steelheart mungkin akan mengingatkan kita pada kisah superhero dengan kekuatan super mereka. Lebih tepatnya sih kita akan teringat akan para mutan dan kekuatannya dalam serial 'X-Men' dan bisa juga para manusia dengan kekuatan dalam serial 'Heroes'.

Steelheart ini menghadirkan cerita yang berbeda, lebih segar, dan memiliki keunikan sendiri. Karakter-karakter manusia (tokoh utama) terasa lebih manusiawi dan memiliki niat dan alasan masing-masing yang terasa sangat masuk akal.
Para Epic yang sangat tiran dengan kemampuan masing-masing juga sangat unik. Kekuatan yang dimiliki oleh para Epic sangat beragam dan memiliki ciri khas masing-masing. Tidak ada kekuatan yang benar-benar sama. Selain itu pula, para Epic tentu saja bukan tanpa kelemahan. Dalam buku ini, Brandon Sanderson membuat kita penasaran dan menebak kelemahan dari Steelheart sendiri melalui percobaan para tokoh utama. Selain itu pula, kelemahan yang dimiliki para Epic sungguh kadang sesuatu yang tidak terduga dan kadang unik, sederhana, dan tidak akan terpikirkan. Hal ini yang bikin aku semakin suka.
Selain itu pula, akan kita kita nikmati pertempuran apik dan epik antara manusia melawan para Epic. Bukan sekadar adu kekuatan super, novel ini menghadirkan adegan pertempuran fisik yang dramatis, adu kecepatan, adu strategi, dan perang pengaruh sehingga entah mengapa kisahnya jadi lebih mudah untuk dibayangkan. Sungguh, pertempuran dan aksi dalam buku ini penuh dengan persiapan matang dan kejutan, bukan hanya aksi nekat dan aksi gila-gilaan semata. 

Pokoknya ya, dialog buku ini asyik. 
Idenya unik dan keren. 
Aksinya seru dan menegangkan. 
Misteri dan twist plot-nya dapat banget. 
Formulanya gak spesial sih tapi asyik banget diikuti.

Karakter David, Megan, Prof., Abraham, Cody, Tia juga lovable dan mudah disukai. Sepanjang cerita mengalir, kita akan semakin mengetahui kisah para tokohnya dan semakin menyukai mereka.

Oh iya. Mengenai versi bahasa Indonesia ini, aku pun salut dan suka. Terjemahannya keren dan ceritanya pun masih terasa mengalir begitu saja. Gak terasa kaku. Typo sepertinya gak ada deh, kalaupun ada sangat minim banget karena sepanjang membaca buku ini aku gak ingat menemukan kata yang kekurangan/kelebihan huruf.
Desain sampulnya juga bagus. Dengan warna biru dan siluet “Steelheart” menambah daya tarik buku ini.
 
Suka banget dan jatuh cinta (lagi) sama buku ini.
Akhir kisah buku ini membuatku berteriak, "Buku 2 dan 3 cepatlah TERBIIT...!!!"

Selain kisahnya yang APIK dan EPIC, banyak quotes menarik yang akan kita temui dalam buku ini. Beberapa di antaranya adalah :

  • "Terkadang, Nak, kau harus membantu para pahlawan." (hlm. 9)
  • "Kekuatan mengorupsi jiwa, dan kekuatan absolut benar-benar menghancurkannya." (hlm. 171)
  • "Pahlawan akan datang ..., kita mungkin hanya perlu membantu mereka." (hlm. 562)
  • "Ada hal-hal yang lebih kuat daripada Epic. Ada kehidupan dan cinta dan alam itu sendiri." (hlm 547)
  • "Jika Epic merupakan contoh dari apa yang akan kita lakukan dengan kekuatan, maka lebih baik jika kita tidak pernah mendapatkan kekuatan apa pun." (hlm. 333)
  • "Di mana ada kejahatan, akan ada pahlawan. Tunggu saja. Mereka akan datang." (hlm. 547)


Sudahlaaah...
Cepat baca buku ini dan temukan ke-EPIC-annya.

Nilai : 4,5/5