29 Februari 2016

[Book Review] The Martian (Si Penghuni Mars) - Andy Weir




THE MARTIAN – Si Penghuni Mars


Judul Asli : The Martian
Penulis : Andy Weir
Alih Bahasa : Rosemary Kesauly
Desain Ilustrasi dan Sampul : Eduard Iwan Mangopang
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal 520 Halaman
Cetakan Pertama 2015
ISBN 978-602-03-2439-5

SINOPSIS

Enam sol yang lalu, astronaut Mark Watney menjadi salah satu orang pertama yang menjejakkan kaki di Mars. Sekarang dia yakin akan menjadi yang pertama mati di sana. Sol adalah perhitungan hari di Mars. 1 sol sama dengan 24 jam 23 menit waktu bumi. 

Pada Sol 6 misi Ares 3, badai yang dahsyat terjadi sehingga para kru terpaksa membatalkan misi mereka dan kembali ke bumi. Namun apa daya, ketika dalam perjalanan menuju MAV (Mars Ascent Vehicle – Kendaraan untuk naik dari Mars) yang akan membawa mereka kembali ke Bumi, Mark Watney terkena hempasan antena. Bahkan ada bagian antena yang tertancap. Mark pun ditinggalkan di Mars oleh rekan-rekannya, yang mengira dia tewas ketika terjadi badai pasir.

Ternyata Mark tidak tewas setelah terhempas dan tertusuk antena, darah yang mengental ternyata menahan kebocoran udara dari pakaian antariksa Mark Watney. Sekarang dia sendirian di Mars. Untung saja Hab (semacam kemah canggih tempat mereka tinggal) masih berdiri kokoh.

Walaupun Hab masih berdiri tegak, namun tak ada satu pun sarana untuk mengirimkan sinyal atau berkomunikasi dengan bumi. Mau tak mau Mark Watney harus bertahan hidup sampai misi selanjutnya dan tim penyelamat tiba. Persediaan makanan sudah pasti tidak akan cukup hingga tim penyelamat datang. Sangat mungkin Mark Watney akan menjadi orang pertama yang tewas di Mars.

Tapi Mark belum mau menyerah. Berbekal keterampilan teknis dan kreativitasnya—plus rasa humor yang terbukti menjadi sumber kekuatan terbesarnya—dia memulai misi untuk bertahan hidup, menanam kentang untuk dimakan, dan bahkan menyusun rencana edan untuk menghubungi NASA di Bumi. Mark Watney adalah seorang Botanis dan juga memiliki keahlian dengan mesin (insinyur). Sungguh kedua hal tersebut adalah hal yang ternyata sangat penting bagi kelangsungan hidupnya di Mars dan Mark Watney sangat bersyukur akan keahlian tersebut. 

Rintangan demi rintangan berhasil diatasinya, dan Mark mulai yakin dia bisa keluar dari Mars hidup-hidup—tetapi planet ini ternyata menyimpan banyak kejutan untuknya.

--

Hmm.. gimana ya mereview buku ini? Agak bingung sih sebenarnya menceritakan ulang buku ini karena lebih enak dibaca langsung saja. 

Membaca novel The Martian ini sungguh mengasyikkan. Bisa dikatakan sebuah pengalaman membaca yang menyenangkan.

Awalnya aku mengira kisah yang ditawarkan The Martian adalah kisah perjuangan bertahan hidup yang berat, kelam, dan mencekam. Aku pun menduga-duga akan disuguhkan cerita dengan aksi spektakuler dan mungkin ditambah sedikit bumbu fantasi (misalnya monster di Mars atau bencana yang sangat menegangkan). Namun tentu saja aku salah. Membaca kisah Mark di Mars seperti membaca diary seorang ilmuan yang gemar uji coba dan nekat, serta jurnal-jurnal penelitiannya.

The Martian bisa dikatakan seperti buku panduan cara bertahan hidup di Mars. Banyak penjelasan ilmiah, baik Matematika, Fisika, Kimia, Astronomi, Biologi, Botani dan sebagainya. Sungguh sangat berpotensi menjadi sangat membosankan (terutama bagi yang gak suka membaca jurnal penelitian atau yang berbau-bau butuh mikir agak berat). 

Tapi, ternyata The Martian tidak membosankan seperti jurnal itu (jurnal penelitian mungkin ada di urutan akhir buku yang ingin aku baca jika ada di rak bukuku). The Martian, secara mengejutkan dan tidak kuduga, sungguh menyenangkan di baca. Bahkan beberapa kali aku tertawa (beberapa kali sampai ngakak) ketika membaca kisah Mark yang dibuat lucu oleh perbuatan dan perkataan mark sendiri. Memang untuk penjelasan-penjelasan yang sangat teknis dan terperinci (ya, novel ini sangat terperinci untuk bagian penjelasan ilmiahnya) terkadang aku membacanya dengan cepat. Bahkan ada jabaran penghitungan, penjumlahan, cara mendapatkan udara aku baca sekilas tanpa benar-benar mencoba memahami. Seperti yang dikatakan Watney dalam buku ini, buat apa kalian pusing-pusing memikirkannya? Dia pun seperti ngomong kepada pembaca bahwa dia menjelaskaan dengan sederhana aja yang dimengerti oleh pembaca. Jadi cukup dinikmati saja. Hahaha...

Mark Watney, oleh Andy Weir – sang pengarang, digambarkan sebagai orang yang sungguh humoris. Bahkan sifatnya yang menyenangkan adalah kelebihan yang dimilikinya. Hal inilah yang sangat menolong buku ini untuk jatuh ke dalam bacaan yang membosankan. Ketika Mark Watney berbicara kepada dirinya sendiri, atau ketika sedang menyemangati dan menghibur dirinya, itu sering kali penuh humor. 

Membaca bab-bab awal The Martian bisa dikatakan masih terasa agak datar, belum timbul sesuatu yang wow. Namun, perlahan-lahan ceritanya menjadi menarik. Selain kisah hidup Mark Watney yang sendiri di Mars, ada pula cerita tentang NASA dan pihak-pihak yang terlibat untuk menyelamatkan Watney ketika diketahui bahwa dia selamat. Selain itu pula, kisah kru Mark Watney lainnya pun mendapatkan porsi cerita yang pas.

Btw, aku membaca The Martian setelah terlebih dahulu menonton filmnya. Kalau mau membandingkan keduanya bagus. Baik film dan bukunya sama-sama memuaskan banget dan masing-masing ada kelebihan dan kekurangannya. 

Buku tentu saja lebih lengkap dan terperinci daripada filmnya. Karakter Mark Watney pun jauh terasa lebih lucu dan humoris di bukunya. Di filmnya karakter Watney tidak sekocak bukunya.
Namun, untuk bagian akhir cerita, aku lebih menyukai ending versi film. Baik buku maupun film memiliki ending yang bagus kok, namun bagian akhir di film menurutku lebih emosional. Ada beberapa bagian yang diubah dan aku lebih menyukainya. 

Setelah selesai baca bukunya, langsung ingin nonton filmnya lagi.

Well, review ini mungkin tidak memberikan gambaran yang banyak tentang The Martian sendiri. Tapi, saranku sih, mending langsung ambil buku ini dan segera bacalah. Masuki dan nikmati petualagan Mark Watney di Mars...


Nilai : 4,5/5

27 Februari 2016

[Movie] Tebak-Tebak Pemenang 88th Academy Awards 2016

Academy Awards a.k.a Oscar semakin dekat nih!
Waktunya untuk main tebak-tebakan pemenang Oscar lagi tahun ini.
Sama seperti tahun sebelumnya, kali ini pun aku menebak pemenang berdasarkan tebakan pribadi juga (yaa.. ada referensi dari ajang penghargaan lainnya yang sudah terselenggara sebelum Oscar sih)

Kali ini aku janji bakal update tebakanku yang tepat dan meleset dan persentase antara keduanya. Mana yang lebih banyak, tebakan benar atau tebakan meleset?
Yaaa.. sadar sih tebakan tahun lalu aku biarkan begitu saja. Hahaha...

Btw, sebenarnya sering banget ingin me-review film-film yang sudah aku tonton, namun lebih sering aku merasa masih kesulitan dalam menceritakan ulang sebuah film yang aku tonton. Jadinya sering kali gagal review-nya aku tuliskan di blog ini. Semoga saja ke depannya review filmku semakin banyak dan tentu saja enak dibaca (ini yang agak susah, hehehe...)

Mulai saja yuk.
Biar deh gak urut ya. Gambar daftar nominasi ambil dari albumnya page "The Academy" di facebook.



Sanjay's Super Team

*Belum ada yang aku tonton sih, tapi sepertinya Pixar berjaya di film animasi pendek ini.

The Hateful Eight

*Waktu nonton The Hateful Eight lantunan musiknya sangat menambah nilai film ini. Suka.

Writing's On The Wall

*Kaget juga sih lagu "See You Again" nya Furious 7 gak masuk nominasi. Padahal sempat optimis mask nominasi dan peluang menang besar, tapi ternyataa...
James Bond sepertinya berjaya lagi dalam hal original song.

Inside Out

*Pilih Inside Out karena idenya keren. Semoga menang.

Mad Max: Fury Road

*Desain produksi Mad Max ciamik. Peluang menang besar, tapi gak tau juga sih. Lihat pengumuman nanti deh :P

Sicario

*Mencekam.

 Mad Max: Fury Road

*Aku masih gak terlalu ngerti sih, tapi Mad Max musiknya cadas, setiap adegan keren, apalagi guitar hero #eh

Kate Winslet

*Ikutan Golden Globe deh

Tom Hardy

*Ngarepnya sih om Hardy yang menang. Aktingnya sebagai orang yang sangat menyebalkan di The Revenant menurutku keren banget sih. Kalau Sylvester Stallone entah kenapa aku ngerasa aktingnya gak memukau di Creed, bagus sih, tapi masih lebih suka Tom Hardy.


The Revenant

*Hmm.. agak susah nih. Ex Machina juga sangat berpeluang menang.


Mad Max: Fury Road

*Kalau gak menang, itu muka orang-orang komplotan kelihatannya kayak apa? Keren itu..


Alejandro G. Inarritu

*Aku cukup yakin (70% lebih) bakal menang lagi tahun ini.


Inside Out

*Gak ada saingan ini mah.
Sejak nonton Inside Out aku langsung yakin tidak ada yang bakal menyaingi ke-luarbiasa-annya Inside Out. Keterlaluan kalau gak menang :D

 The Martian

*Room bagus. Brooklyn juga.
Tapi, adaptasi The Martian dari novelnya menurutku juara banget. Keren. Diadaptasi dengan sangat baik, bahkan beberapa bagian di filmnya justru lebih aku sukai dibandingkan di novelnya. Semoga tebakanku benar :)

The Revenant

*Suka banget sama cinematography film ini. Pengambilan gambarnya, pemandangannya, landscape-nya, kesunyiannya, adegannya. Semuanya suka :)

Aaah.. binguuuung...
Baru kali ini bingung memilih pemenang Best Picture. Semuanya aku suka. Aku rela kok sebenarnya yang menang film mana saja. Tapi, karena harus memilih dan menebak, maka aku pilih...

The Revenant

ah, tapi Room, Brooklyn, Spotlight sangat mencuri perhatian :(



Cinderella

*Itu gaun keren-keren euy.
Sejak nonton Cinderella sudah yakin bakal masuk nominasi ini. peluang menang besaaarr...

A Girl in the River : The Price of Forgiveness

*asal tebak

Day One

*asal tebak. gak ngerti sih. Belum ada satu pun yang sudah ditonton.



Mad Max: Fury Road

*Sepertinya siih...


Son Of Saul

*Banyak denger film ini menang sih. Jadi kemungkinan besar menang ya memang film ini :)



Leonardo DiCaprio

*Ayo doong menangin Om Leo. Walaupun bukan akting terbaiknya selama ini, tapi semoga lewat akting memukau di The Revenant bikin Om Leo pulang dengan Oscar tahun ini.


Brie Larson

*Sudah pasti menang ini mah. Aktingnya di ROOM emang luar biasah...


What Happened, Miss Simone?

*gak ngerti, asal tebak lagi.








Yaak...
Tebak-tebakannya sudah selesai. Alasannya kurang kreatif ya. Makin banyak yang diketik, makin capek, makin malas mikir, alasannya pun seadanya. Hehehe...
Kita lihat saja hari Senin nanti yang menang siapa aja. Semoga yang terbaik yang bakal menang.



[Book Review] The Girl On The Train - Paula Hawkins



THE GIRL ON THE TRAIN

Judul asli : The Girl On The Train
Penulis : Paula Hawkins
Penerjemah : Inggrid Nimpoeno
Penyunting : Rina Wulandari
Penata Aksara : Axin
Perancang Sampul : Wirda Sartika
Cetakan I Agustus 2015
Penerbit Noura Books

ISBN 978-602-0989-97-6

Sinopsisnya nih...

Rachel, seorang wanita yang mengalami masalah dengan minuman keras. Hidupnya kacau yang berakibat hubungan dengan mantan suaminya (Tom) berakhir dengan tidak baik, Rachel pun harus kehilangan tempat tinggal dan juga pekerjaan. Semua akibat masalah mabuk.
Rachel tinggal (menumpang) di flat teman kuliahnya dulu, Cathy, dan berpura-pura masih bekerja. Setiap hari Rachel menaiki kereta komuter yang sama pagi dan sore. Di pinggiran London, keretanya akan berhenti di sebuah sinyal perlintasan, tepat di depan rumah nomor lima belas. Setiap hari Rachel selalu memperhatikan rumah tersebut, tempat sepasang suami istri menjalani kehidupan yang tampak bahagia, bahkan nyaris sempurna. Pemandangan ini mengingatkan Rachel pada kehidupannya sendiri yang sebelumnya sempurna. Rachel bahkan memberikan mereka nama Jason dan Jess. Rachel selalu membayangkan kehidupan yang dijalani oleh Jason dan Jess, yang juga sering mengingatkannya akan kehidupan bahagianya dahulu bersama Tom.

Bukan cuma suatu kebetulan Jason dan Jess di rumah nomor lima itu mengingatkannya akan masa lalunya. Tak jauh dari rumah nomor lima belas, yaitu rumah nomor dua puluh tiga, tinggallah Tom, mantan suami Rachel, bersama Anna istri barunya. Dahulu Rachel dan Tom tinggal bersama di rumah tersebut. Jadi membayangkan ada wanita lain yang menjalani hidup di tempat dia dulu bahagia sering membuat Rachel sakit hati. Sering kali dia masih mengganggu kehidupan Tom dan Anna, beserta bayi mereka baik dengan terus-menerus menelpon mereka maupun dengan mendatangi rumah mereka. Rachel masih terobsesi dengan mantan suaminya tersebut.

Rachel seorang alkoholik. Setiap hari dia menenggak berbotol-botol minuman keras sampai benar-benar mabuk. Cukup banyak masalah yang dia dapat karena mabuk. Namun, dampak yang paling parah dan yang akan mempengaruhi hidupnya adalah hilangnya ingatan atas apa yang terjadi dan apa yang dia lakukan ketika sedang mabuk berat.

Pada suatu pagi, dari dalam kereta komuter, Rachel menyaksikan sesuatu yang mengejutkannya. Hanya semenit sebelum kereta mulai bergerak, tapi itu pun sudah cukup. Kini pandangannya terhadap pasangan itu pun berubah. Jess bersama laki-laki lain di rumah nomor lima belas tersebut.

Suatu hari, terdengar berita bahwa Jess, yang bernama asli Megan, menghilang dari rumah. Rachel merasa bahwa ia terkait dengan peristiwa hilangnya Megan, terutama saat sebelum Megan menghilang, Rachel melihatnya dari balik jendela kereta, sedang bermesraan dengan seorang laki-laki. Didorong rasa empati yang dalam terhadap Scott, sang suami, Rachel memberitahu polisi apa yang ia ketahui tentang Megan. Sialnya, ternyata Rachel benar benar terkait dengan hilangnya Megan, ada laporan yang masuk ke kepolisian bahwa pada saat hilangnya Megan tersebut, Rachel masuk dan berbuat onar di rumah mantan suaminya yang tinggal hanya berjarak 4 rumah dari rumah Megan.

Celakanya, Rachel mengalami block out, ia kehilangan ingatan tentang apa yang ia lakukan malam itu. Tetapi ia memang mengingat kalau pagi saat ia terbangun di kamar apartemennya, kepalanya terluka dan ada darah di tangannya. Jika Rachel ingin membantu menemukan Megan, yang harus ia lakukan adalah mengembalikan ingatannya kembali. Tetapi bagaimana caranya? Lagipula ia seorang pemabuk, yang tentu saja kesaksiannya akan diragukan oleh polisi. Lalu sebenarnya apa yang terjadi pada Megan?

**

Begitulah kilasan kisah yang dipaparkan novel The Girl on The Train karya Paula Hawkins ini.



The Girl On The Train diceritakan dari tiga sudut pandang yang berbeda. Pertama, Rachel Watson. Bercerai karena suaminya selingkuh, pengangguran, teman serumah yang jorok (pribadinya emang jorok sih), tidak stabil secara emosional, pecandu alkohol. Seorang wanita yang menimbulkan perasaan kasihan dan kesal sekaligus. Sosok yang cukup menyedihkan-lah.

Kedua, Anna. Istri baru Tom, mantan suami Rachel. Tentu saja hal ini menjadikannya mendapat gelar perebut suami Rachel, tidak tahu diri, tipe perempuan yang bakalan dibenci oleh seluruh perempuan di dunia (ya iyalah perebut suami orang)

Ketiga, Megan Hipwell. Perempuan yang tidak tahu bersyukur karena memiliki suami yang sangat mencintainya namun tetap selingkuh. Sebenarnya ada masalah dari masa lalunya juga yang membuatnya menjadi wanita seperti sekarang ini.

Kalau membaca kisah dari sudut pandang Rachel, kalau akhirnya dia memulai untuk mabuk, secara otomatis aku langsung sebel banget sama dia (yaelaah mbak, sadar apa kalau mabuk-mabukan itu gak baik dan jelas-jelas sudah membuat hidup lo hancur – pengen banget ngatai hal ini langsung ke dia. Hahaha).
Membaca kisah Megan dan saat dia mulai berpikiran aneh tentang kehidupan bersama suaminya aku langsung bergumam dalam hati, “Syukuri apa yang ada mbaak. Kehidupan mu sempurna namun pikiran yang negatif akan merusak kehidupanmu.”
Membaca kisah Anna dan bersikap protetif, possesif, dan tidak tahu diri juga membuatku geram sendiri. Sadar diri dong mbak, kamu telah merebut suami orang tapi seolah-olah tidak merasa bersalah dan malah menyalahkan orang lain.

Yap, benar sekali. The Girl in The Train ini diceritakan dari sudut pandang 3 wanita bermasalah. Ketiga wanita ini memiliki masalah kepribadian dalam diri mereka sendiri. Bahkan rasa sebal, kesal, dan marah terhadap ketiga tokoh ini sering muncul walaupun kadang rasa simpati muncul di beberapa bagian. Selain itu, kalau kita mau mencermatidan mau berpikir, apa yang dilakukan oleh ketiga wanita ini bisa dimaklumi (walalupun tetap saja menyebalkan. Hahaha...)

Tapi, terlepas dari kisah para tokohnya yang tidak normal dan cenderung bermasalah, The Girl on The Train ini diceritakan dengan menarik. Penceritaan dari tiga sudut pandang itu justru menambah nilai bagi novel ini.
Kasusnya pun diselesaikan dengan cukup baik. Twist-nya mulai bisa tertebak menjelang sepertiga akhir novel ini.
Novel ini bagus dan layak kok untuk dibaca, terutama bagi penggemar kisah misteri.
Dengar-dengar sih novel ini banyak disangkut-pautkan dengan Gone Girl-nya Gillian Flynn. Bagiku sih kisahnya berbeda. Gone Girl tetap lebih bagus dan masih beberapa tingkat lebih keren dari novel ini.

Aku suka, tapi...
Tidak se-spektakuler yang aku bayangkan dan sebagus yang aku hrapkan ketika membaca ulasan dan nilai novel ini.

Nilai : 3,75/5

14 Februari 2016

#CumaIseng Photo Quotes dari Buku-Buku Kesukaan (photo dan design by me)

Seminggu terkahir ini aku lagi senang membuat photo quotes dari buku-buku kesukaan-ku.
Ada alasan yang membuatku 'cukup' berpikir keras menemukan ide photo dan kutipan yang unik dan berbeda dari yang lainnya. Aku pengen hasilnya keren.
Selain itu, aku gak mau memakai photo hasil karya orang lain atau ngambil photo dari internet. Sebisa mungkin photo atau gambar yang aku pakai adalah hasil jepretan sendiri. Alasannya sih biar terasa lebih puas dan (tentu saja) bangga.

Sebenarnya alasan lain aku 'cukup sibuk' membuat photo quotes ini adalah dalam rangka ikut "Giveaway Happy 30 Years Old" di blog-nya mbak Melissa Assa.
Aku senang mbak Melissa Assa membuat giveaway dan tantangan ini.
Mengapa?
Tentu saja karena aku suka dan merasa tertantang.

Hmm..
Tanpa banyak basa-basi lagi, aku posting aja deh beberapa photo quotes yang aku bikin dan ikutkan dalam #GAHappy30th nya @Mells_A









Sebagai catatan.

- Photo buku yang ada adalah koleksi pribadi yang aku miliki.
- Semua photo adalah hasil jepretan sendiri (yang tentu saja melalui proses edit seada dan seperlunya)
- Model photo (baik yang terlihat jelas, samar, maupun siluet) adalah diriku sendiri. Jadi malu, soalnya gak pede photo sendiri. Btw, karena gak ada yang photo-in makanya aku photo sendiri (dan itu susah sekali apalagi kalau menginginkan spot atau angle yang bagus). Hahaha...

Sudahlah. Nikmati saja...