29 November 2010

LEMPAR KODOK


Minggu pagi yang cerah. Suasana taman kota tidak begitu ramai. Hanya terlihat beberapa orang yang duduk-duduk di bangku pinggir taman. Dua orang tampak duduk di pinggir kolam di tengah taman dan juga terlihat seorang anak perempuan bersama ayahnya bediri memandangi air mancur di tengah kolam tersebut.
Anak perempuan itu berumur sekitar lima tahun. Rambutnya sebahu di kepang dua. Memakai baju kaus, celana pendek dan sandal jepit.

”Ayah, itu bunga apa yang di tengah kolam? kok gak tenggelam?” Anak perempuan itu tiba-tiba bertanya.

”Oh, itu namanya bungan teratai.” Ayahnya menjawab.

”Kok di tengah air? gak tenggelam, Yah? Terus daun yang bulat di tengah air itu apa?” Anak perempuan itu kembali bertanya.

”Hidupnya memang di air, tapi, akarnya tetap di dalam tanah. Terus, yang hijau bundar itu daunnya.” Ayahnya menjawab.

”Ayah, ada kodok di daun teratai itu.” Anak perempuan itu berteriak senang.
Ayahnya hanya menjawab, ”Iya!”

”Ayah, aku lempar ya!” Kemudian, si anak perempuan mengambil kerikil dan melemparnya ke tengah kolam.
Kodok itu terkejut dan melompat ke dalam kolam.

”Ayah, ada kodok lagi di tengah daun teratai yang di sana. Lempar dong, Yah!”
“Baiklah.” Sang ayah pun mengambil kerikil dan melempar kodok itu.
Kodok itu pun melompat juga ke dalam kolam.

Hari makin siang. Taman itu masih terlihat sepi. Si anak perempuan dan ayahnya kembali pulang.

***
Di atas adalah sebuah cerita yang sangat sederhana. Sebuah cerita yang aku tulis dulu sekali, sudah cukup lama sekitar 3 tahun yang lalu. Sebenarnya tidak ada sesuatu yang istimewa dalam cerita itu.
Sebenarnya hal yang ingin aku sampaikan dari cerita tersebut adalah mengenai 'menikmati waktu' (walaupun mungkin gak nyambung ya). 

Menikmati Waktu Vs. Menghabiskan Waktu
Menikmati waktu tentu saja berbeda dengan menghabiskan waktu.
Jika kau memiliki waktu seharian apa yang akan kau lakukan?
Apakah tidur seharian? membaca? mendengarkan musik? jalan-jalan atau belanja? melukis? bermain bola atau game? atau justru tidak tahu harus melakukan apa?

Bisa saja waktu yang kau miliki kau habiskan dengan kegiatan yang kau sukai, tetapi, apakah kau menikmati waktu yang kau habiskan tersebut?
Apakah kau menikmati hal atau kegiatan yang kau lakukan?

Selama ini, menghabiskan waktu-lah yang kurasa sering aku lakukan. Aku menonton film atau tidur seharian di kala libur, namun kadang aku merasa tidak menikmatinya. Hal itu terbukti dengan kurangnya waktu dan semuanya berlalu begitu saja.
Begitu libur telah mau usai, waktu seolah berlalu begitu cepat tanpa sesuatu yang berkesan.
Begitu pula dengan bekerja. Aku sering menghabiskan waktu dengan bekerja tanpa benar-benar menikati pekerjaan yang aku lakukan.

Lalu bagaimana caranya menikmati waktu itu?
tentunya setiap orang memiliki caranya sendiri. Pernah di suatu sore aku lagi suntuk kemudian keluar ke supermarket untuk membeli makanan. kemudian aku jalan-jalan tak tentu arah dan akhirnya masuk ke sebuah lapangan sepakbola. Aku duduk di pinggir lapangan basket sambil sesekali melihat orang-orang bermain sepak bola. Semakin sore, ternyata banyak anak-anak seumuran 8-12 tahun bermain sepak bola di lapangan basket tesebut.
Sembari menikati makanan, aku menonton mereka bermain, tersenyum melihat tingkah mereka dan candaan mereka. Hari semakin sore, semilir angin semakin terasa, namun justru aku semakin menikati sore itu dan semakin enggan untuk beranjak.
Justru hal-hal sederhana-lah yang membuat kita menikmati waktu itu.

Oleh karena itu mulai sekarang, cobalah untuk menikmati waktu yang kita miliki. Bukan hanya sekedar menghabiskannya. Nikmati waktumu dengan caramu sendiri.

17 November 2010

The History of Love (Novel)
















Berawal dari suatu sore yang cerah (menurut dugaan ingatanku pada saat itu) aku dan seorang teman (sebut saja namanya Ana) jalan-jalan ke toko buku Gramedia Bintaro Plaza. Kebiasaanku kalau ke toko buku adalah keluar dari toko buku dengan membawa pulang apapun dari toko tersebut. Rasanya sia-sia ke toko buku hanya untuk melihat-lihat buku bagus tetapi tidak dibeli (rasanya menyakitkan, jadi lebih baik tidak usah ke toko buku kalau tidak berniat membeli). Bukan kebiasaanku juga ke toko buku hanya untuk numpang membaca buku sambil berdiri atau duduk di tempat duduk yang di sediakan di dalam toko tersebut. Menurutku itu bukan hal yang asyik untuk dilakukan. Aku cenderung pusing kalau hanya menumpang membaca buku, makanya hanya akan membaca ringkasan di sampul belakang buku yang menurutku menarik saja. Lebih enak itu, bukunya dibeli trus dibaca di kamar sambil tiduran, dengerin musik atau ngapain aja.

Ngomong-ngomong soal ini, aku jadi mengagumi orang yang betah membaca di toko buku sambil berdiri bahkan bisa menghabiskan satu buah novel tanpa membelinya sama sekali (walaupun kadang perlu ke toko buku beberapa kali untuk melanjutkan membaca-bukan maksud menyindir ya).

Ah, sepertinya aku ngelantur terlalu banyak. Singkat cerita, temanku ini menemukan sebuah buku yang terlihat menarik dengan judul yang menarik dan ringkasan yang menarik di sampul belakang novel tersebut. Buku itu berada di deretan rak yang memajang novel teenlit, ciklit (gimana tulisannya?) dan tentang cinta-cinta yang lain.

Buku itu berjudul The History of Love dan inilah penampakan bukunya 

The History of Love (Novel)

Dan berikut ini adalah sinopsis yang tertulis di sampul belakang novel ini.

“ The History of Love adalah cerita tentang buku yang berjudul The History of Love...
Si pemilik toko buku tidak berusaha menarik perhatian para pengunjung tokonya terhadap buku itu. Dia tahu di tangan yang salah buku itu akan disia-siakan, atau lebih parah lagi, tidak dibaca. Maka dibiarkannya buku itu di tempatnya, dengan harapan pembaca yang tepat akan menemukannya..


Dan tentang gadis bernama Alma...
Waktu aku lahir, oleh ibuku aku diberi nama menurut setiap gadis di buku pemberian ayahku padanya, judulnya The History of Love


Dan tentang seorang lelaki yang tidak bisa melupakan cintanya
Pada suatu masa ada seorang anak laki-laki. Dia tinggal di desa yang sudah tak ada lagi, di rumah yang sudah tak ada lagi, di pinggir padang yang sudah tak ada lagi, tempat segala sesuatu di temukan dan segala sesuatu mungkin terjadi. Tongkat bisa menjadi pedang. Kerikil bisa menjadi permata. Pohon bisa menjadi puri.


Ketiganya dipertemukan pada suatu Sabtu sore di Central Park. Alma, remaja yang mencoba mengobati kesedihan ibunya. Ia yakin kuncinya da pada The History of Love, buku lama yang diterjemahkan sang ibu dengan penuh cinta. Sementara itu, Leo Gursky, lelaki yang masih terus merindukan cintanya, tidak tahu bahwa buku yang ditulisnya enam puluh tahun silam ternyata masih bertahan, melintasi samudra dan mengubah banyak kehidupan.

Novel ini alur ceritanya bisa dibilang unik karena penceritaannya adalah per chapter.
Setiap chapter menceritakan kehidupan masing-masing tokoh, yaitu Leo Gursky, Alma Singer, Buku The History of Love, dan juga adik dari Alma Singer, yaitu Bird.

Aku dan novel ini

Tidak banyak yang ingin aku ceritakan tentang isi cerita novel ini. Biarlah bagi kalian yang belum membacanya dan kebetulan membaca tulisanku ini mendapatkan kepuasan dari novel ini. Semakin sedikit kalian mengetahui cerita ini, semakin puas yang kalian rasakan (menurut saya dan saya berharap seperti itu).

Membaca ringkasan di sampul belakang buku ini saja membuatku penasaran dengan isi buku ini. Diperkenalkan oleh seorang teman yang begitu bersemangat membaca buku ini di Gramedia dan menunjukkannya padaku. Dengan cara penceritaan yang unik dan kisah yang begitu mengaharukan menjadikan buku ini salah satu buku favoritku.

Pada awalnya sih aku meminjam. Tetapi semakin lama aku semakin menyukai buku ini sehingga mulailah pencarianku untuk mencari (yaiyalah pencarian untuk mencari, masa untuk menyembunyikan?) buku ini. Cukup susah untuk mendapatkannya, bahkan di Gramedia Bintaro Plaza sudah tidak ada lagi. Akhirnya pencarian berakhir di Toko Gunung Agung Margo City, Depok dan itupun hanya tinggal 1 buku yang akhirnya aku beli.

saya nampang deh sama bukunya
Ingin membaca suatu kisah cinta yang unik, romantis mengharukan, dan lucu dengan penceritaan yang berbeda?
Saya merekomendasikan buku ini untuk kamu...
Rating : 4/5 (tentu saja karena aku menyukai novel ini)







Detail Buku
Judul
: Sejarah Cinta - The History of Love  
No. ISBN
: 9792224688 
Penulis
: Nicole Krauss 
Penerbit
Genre
: Romance
Jumlah Halaman
: 335 
Harga
: Rp 40.000



























15 November 2010

QUOTE 6 - 7 - 8

6. SENYUM
 
Tersenyumlah jika kau inginkan dan teruskanlah begitu jika kau tulus

7. WAKTU UNTUK DIRI

Luangkanlah waktu untuk berbicara dengan diri sendiri supaya kau mengetahui apa yang kau inginkan dan apa yang kaurasakan.
Sehingga dengan demikian kau akan lebih mengenal dirimu sendiri dan lebih menghargainya

8. SAHABAT TULUS

Jika berpisah dalam jangka waktu yang lama, maka kau akan merasa seolah perpisahan itu terjadi kemarin saat bertemu kembali.
Kalau dulu kau telah terbiasa, maka tidaklah membutuhkan waktu yang lama untukmu membiasakan diri kembali. 
Itulah yang terjadi apabila suatu hubungan dilandasi oleh ketulusan