21 September 2016

#Cumangomong Ketika Semangat Membaca Buku Meningkat Drastis Akibat Butuh Pelarian Pikiran (Hahaha...)

Edisi curhat.
Curhat dikit ya...

Baca dan berbahagialah!!


Tahun 2016 ini aku bikin target baca buku sebanyak 75 buku selama setahun.
Target awal tahun yang aku buat sih hanya 50 buku. Namun, selama bulan Januari sampai Maret ternyata minat bacaku meningkat drastis dan lebih cepat dari jadwal seharusnya, sehingga aku pun menambah target jumlah buku yang aku baca selama tahun 2016 menjadi 75 buku.

Sampai bulan September ini baru berhasil baca 66 buku ditambah 2 sedang proses baca (yang numpuk dan menunggu dibaca sih banyak)

Minat bacaku akhir-akhir ini meningkat drastis, padahal tahun 2009-2014 aku pernah kehilangan minat baca dan cuma semangat baca komik. Lebih tepatnya sih sejak mulai bekerja, stamina baca menurun. Niat membaca buku hanya tinggal niat karena kondisi badan yang sudah lelah tidak memungkinkan untuk membaca buku lagi.
Oleh karena itu, selama periode 2009-2014 aku lebih banyak membaca komik dan menonton film.

Sejak pindah tugas di kantor baru dan dengan jabatan baru pada pertengahan tahun 2015, minta bacaku meningkat drastis. Pekerjaan dan beban kerja di kantor baru dan dengan jabatan baru ternyata sangat menguras tenaga dan pikiran. Alih-alih badan capek dan tidak ada tenaga membaca buku, justru aku tambah semangat membaca.

Alasan sebenarnya sih (berdasarkan analisis sendiri), setelah capek badan dan pikiran di kantor, aku butuh pelarian pikiran biar lebih fresh. Aku membaca buku untuk membawa pikiran dan imajinasi keluar dari dunia nyata dan bersenang-senang di sana (apalagi sekarang ini aku lebih banyak membaca buku fantasi, romance, atau buku-buku yang ringan dan menyenangkan)
Hasilnya aku merasa lebih rileks secara pikiran dan juga fisik.

Memang benar yang dikatakan bahwa membaca buku itu menghilangkan stress karena aku membuktikannya.
Kadang kalau tekanan pekerjaan cukup terasa, aku melarikannya dengan cara membaca buku.
Lebih seringnya lagi, ketika pikiranku kalut dan tekanan pikiran agak terasa membebani, aku ingin segera melarikan diri dari keramaian dan membaca buku dalam sepi.
Sungguh, akhir-akhir ini aku sering memikirkan hal tersebut.

Sekarang ini aku punya kebiasaan membaca di mana pun dan kapan pun ada waktu.
Sebelum tidur aku pasti baca buku, sewaktu dalam perjalanan ke kantor aku sempatkan baca buku sekitar 15 menit. Kalau ada waktu senggang pun aku sempatkan baca buku dan mengurangi bermain gadget.
Dalam perjalanan ke suatu tempat, aku pasti membaca sebuah buku untuk dibaca.

Mungkin sekarang aku dalam tahap kecanduan membaca.
Tapi, selama keguatan ini begitu menyenangkan aku akan terus melakukannya.

Membaca itu menyenangkan kawan...

😍😍🎉👍📚📚

-- udahan deh curhatnya :P

9 Agustus 2016

[Book Review] Norwegian Wood - Haruki Murakami


Judul Buku : Norwegian Wood
Penulis : Haruki Murakami
Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Penerjemah : Jonjon Johana
Penyunting : Yul Hamiyati
Perancang Sampul : Deborah Amadis Mawa
Cetakan ketujuh, April 2016
Tebal iv + 423 halaman
ISBN 978-602-6208-94-1

 *blurb*

Ketika ia mendengar Norwegian Wood karya Beatles, Toru Watanabe terkenang akan Naoko, gadis cinta pertamanya, yang kebetulan juga kekasih mendiang sahabat karibnya, Kizuki. Serta-merta ia merasa terlempar ke masa-masa kuliah di Tokyo, hampir 20 tahun silam, terhanyut dalam dunia pertemanan yang serba pelik, seks bebas, nafsu-nafsi, dan rasa hampa—hingga ke masa seorang gadis badung, Midori, memasuki kehidupannya, sehingga ia harus memilih antara masa depan dan masa silam.

 --
"Kamu jangan mengasihani diri sendiri. mengasihani diri sendiri itu adalah perbuatan orang hina."

Hmm...

Aku berpikir cukup lama untuk merenungkan apakah buku ini aku sukai atau tidak. Bukan cuma ketika selesai membaca buku ini, namun aku pun memikirkannya ketika membaca sampai pertengahan buku.


Aku memutuskan kalau aku menyukai buku ini.
Buku ini sepertinya bukan tipe buku yang mudah disukai kebanyakan orang.
Buku ini cenderung depresif dan jauh dari unsur menyenangkan.
Buku ini lebih cenderung menceritakan psikologis manusia, masalah kejiwaan tokoh-tokohnya, dan aku malah berpendapat semua tokoh dalam buku ini memiliki masalah psikologis.

Haruki Murakami bisa dikatakan menulis Norwegian Wood dengan baik sekali.

Kisah yang ditawarkan terasa seperti kehidupan sehari-hari seorang remaja normal (atau bisa dikatakan tidak normal) semasa kuliah yang penuh kebebasan (merokok, minum, berkencan, berhubungan badan). Tokoh Toru Watanabe yang tidak suka bergaul, pendiam, jatuh cinta pada Naoko yang merupakan pacar sahabatnya dan merupakan cinta pertamanya terasa nyata dan bisa kita temui dalam kehidupan sehari-hari.

Naoko sang tokoh perempuan yang tanpa disangka memiliki masalah yang sangat kompleks pun dapat digambarkan dengan sangat baik.
Midori, sosok yang terlihat ceria namun memiliki ketakutan dan harapan terhadap pertemanannya dengan Watanabe.
Rieko, teman Naoko di pondok pun digambarkan sebagai sosok yang berperan sebagai kakak dan memiliki permasalahan yang masuk akal dengan tekanan yang sangat mungkin dialami oleh orang di kehidupan nyata.
Nagawasa, teman asrama Watanabe yang mengajarkannya kehidupan yang lebih 'berwarna', yang memiliki kehidupan bebas dan tidak mau terikat pun bisa dengan mudah kita temui dalam sosok orang di sekitar kita.
Bahkan tokoh-tokoh lainnya pun terasa begitu lekat dalam kehidupan sehari-hari, karena memang Norwegian Wood ini seperti kehidupan remaja seseorang yang takut menghadapi kedewasaan (bisa dikatakan seperti ini).

Well, aku tekankan lagi bahwa buku ini cenderung kelam walaupun dasar cerita ini adalah kisah cinta. Bahkan buku ini pun ternyata ada unsur dewasanya (cukup kaget sih, karena gak nyangka sebelumnya ada hal ini). Vulgar? Lumayan sih namun sangat masuk ke dalam inti cerita buku ini.

Buku ini selain berkisah tentang 'cinta', juga berisi masalah psikologis para tokohnya. Masalah kejiwaan para tokohnya entah mengapa, bagiku malah terasa masuk akal dan 'sangat' manusiawi.
Aku malah cenderung berempati sama mereka semua, alih-alih membenci mereka. Aku berpikir, apakah para pemuda Jepang yang memiliki kecendrungan bunuh diri memiliki masalah psikologis seperti yang ada dalam buku ini??

Saat membaca buku ini pula lah aku berpikir mengapa agama itu ada. Mengapa percaya kepada Tuhan dan taat beribadah itu perlu. Ada bagian hati manusia yang perlu diisi dari kehampaan.
Kehampaan yang mungkin tidak bisa dijelaskan.

Ah, entahlah.
Aku bingung mendeskripsikan perasaanku terhadap buku ini.
Aku tidak merasakan kegembiraan membaca buku ini, namun mendapatkan suatu perasaan yang 'berbeda' yang (lagi-lagi kukatakan) susah untuk dijelaskan.

Awalnya aku bingung apakah aku menyukai buku ini atau tidak.
Setelah memutuskan menyukai buku ini, aku bingung memberikan berapa bintang. Apakah 3 atau 4.
Setelah memutuskan 4 bintang, aku berpikir apakah nilainya 4 atau 4,5 dari 5 bintang.
*lha? Trus piye??

Ah, semakin aku memikirkan buku ini, semakin aku menyukai buku ini.
Aku menyukai buku ini, namun dengan cara dan perasaan yang berbeda dari buku lainnya...

2 Agustus 2016

[Book Review] 2 in 1 Fakhrisina Amalia – ‘PERSONA’ dan ‘HAPPINESS’



Persona + Happiness
Awal mula aku tertarik untuk membaca karya Fakhrisina Amalia adalah karena membaca ulasan beberapa blogger dan juga pembaca lainnya yang mengatakan bahwa novel ‘Persona’ adalah karya terbaik sang penulis sampai saat ini.

Membaca sinopsisnya pun sebenarnya tidak membuatku begitu tertarik untuk ngebet segera membaca buku ini, namun rasa penasaran itu masih saja terasa apabila melihat buku ini di rak toko buku. Hingga pada akhirnya aku memasukkan ‘Persona’ dalam wishlist-ku dan menjadi salah satu buku yang pasti akan aku beli ketika aku memenangkan voucher belanja buku di suatu toko buku besar dan terkemuka di Indonesia (yaelah, sebut saja Gramedia, Bie!)

Nah, setelah membaca Persona, aku merasa suka dengan tema yang diangkat (cukup terasa pengaruh manga-anime dalam cerita ini, apalagi nama salah satu tokohnya Altair, orang Jepang) dan aku suka cara Fakhrisina menuliskan ceritanya. Cara berceritanya asyik dan tanpa terasa aku pun menyelesaikan buku ini Cuma dalam beberapa jam saja.

Penasaran akan buku lainnya, aku pun berniat untuk membaca ‘Happiness’ karena cukup tertarik tema yang diangkat. Membaca ulasan tentang buku ini pun rata-rata positif sehingga ketika berkesempatan ke toko buku minggu lalu, aku langsung membeli buku ini.

Baiklah, setelah bercerita tentang awal ketertarikanku membaca dua novel karya Fakhrisina Amalia, aku akan membahas secara singkat pendapatku akan kedua buku ini. Pendapatku ini lebih tepatnya disebut perasaanku setelah membaca buku ini sih sebenarnya.
Mulai saja ya.
 

Judul : Happiness
Pengarang : Fakhrisina Amalia
 
Penyunting : Rina Fatiha 
Desain Sampul : Teguh Tri Erdyan 
Penerbit : Ice Cube (imprint Penerbit KPG) 
Cetakan Pertama, Agustus 2015 
Tebal xi + 223 halaman 
ISBN 978-979-91-0907-1

*blurb*

“Berarti nggak masalah, dong, kalau Ceria masuk MIPA tapi ambil Biologi?”

“Bisa aja, sih. Tapi kalau kamu tanya Mama, yang banyak hitung-hitungannya itu lebih spesial. Nggak sembarang orang bisa, kan?”


Bagi Mama yang seorang dosen Matematika, hitung-hitungan itu spesial. Mama selalu membanding-bandingkan nilai rapor Ceria dengan Reina—anak tetangga sebelah yang pandai Matematika—tanpa melihat nilai Bahasa Inggris Ceria yang sempurna. Karena itu, sepanjang hidupnya Ceria memaksakan diri untuk menjadi seperti Reina. Agar Mama dan Papa bangga. Agar ia tak perlu lagi dibayang-bayangi kesuksesan Reina. Agar hidupnya bahagia. Ceria bahkan memilih berkuliah di jurusan Matematika tanpa menyadari ia telah melepaskan sesuatu yang benar-benar ia inginkan. Sesuatu yang membuat dirinya benar-benar bahagia.

--


Bagus. Aku beri nilai 3,5/5 bintang deh
Ceritanya cukup asyik dan cukup menggambarkan kegelisahan anak-anak dan remaja akan tuntutan orang tua dan orang-orang di sekitarnya.

Orang tua sering lupa bahwa anak bukanlah diri mereka. Setiap anak itu berbeda dan spesial. Setiap anak memiliki keahlian, minat, dan kesukaan masing-masing. Sangat tidak tepat jika kita menuntut hal yang kita inginkan (dan menurut kita terbaik) kepada anak kita, padahal mereka adalah bukan diri kita sendiri.

Hmmm...
Baca buku ini jadi teringat suatu hal.

Dulu aku pun menyukai Matematika dan eksakta lainnya. Suka. Unik. Menantang. Bahkan sempat berpikir untuk menekuni ilmu pasti ini. Tapi aku sadar bahwa aku tidak benar-benar menginginkannya dan tidak lagi menganggapnya paling utama.

Sekarang pun kalau aku membaca atau melihat kuis/pertanyaan/soal matematika di media sosial yang "katanya" susah dan cuma bisa dijawab oleh segelintir orang. Jika bisa menjawab maka bisa dikatakan jenius.

Terus terang, kadang aku muak melihatnya. Seolah-seolah cuma yang bisa menjawab adalah orang pintar sedangkan yang tidak bisa menjawab bukan termasuk golongan orang jenius tersebut.

Ah, mereka mungkin terlalu "sibuk" dengan kejeniusan sendiri sehingga tidak sadar bahwa orang pintar dan jenius itu ada dalam berbagai rupa, keahlian, tingkatan, kemauan, keinginan, minat, dan rasa bahagia.

Aku kagum dan respek dengan orang pintar. Namun, aku lebih tercengang dan lebih salut sama orang kreatif, baik hati, pintar bergaul, dan peduli alam serta sesama.

Memang aku akui, pendapat seperti ini masih banyak kita jumpai di sekitar kita.
*lha, malah curhat.

Oke deh, balik ke topik.

Cara penceritaan Happiness ini cukup asyik juga sih. Bagian awal aku menyukai cara penyajian konflik yang dialami oleh Ceria. Namun, semakin Ceria merasa tertekan, aku pun merasakan mood-ku agak menurun dalam menyelesaikan buku ini hingga aku pun melanjutkannya esok hari. Perasaan dan penderitaan yang dialami Ceria bisa dimaklumi.


Judul : Persona 
Pengarang : Fakhrisina Amalia 
Penyunting : Tri Saputra Sakti 
Desain Sampul : Orkha Creative 
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2016 
Tebal 248 halaman 
ISBN 978-602-03-2629-0

*blurb* 

Namanya Altair, seperti salah satu bintang terang di rasi Aquila yang membentuk segitiga musim panas. Azura mengenalnya di sekolah sebagai murid baru blasteran Jepang yang kesulitan menyebut huruf L pada namanya sendiri. 

Azura merasa hidupnya yang berantakan perlahan membaik dengan kehadiran Altair. Keberadaan Altair lambat laun membuat perasaan Azura terhadap Kak Nara yang sudah lama dipendam pun luntur.

Namun, saat dia mulai jatuh cinta pada Altair, cowok itu justru menghilang tanpa kabar. Bukan hanya kehilangan Altair, Azura juga harus menghadapi kenyataan bahwa orangtuanya memiliki banyak rahasia, yang mulai terungkap satu demi satu. Dan pada saat itu, Kak Nara-lah tempat Azura berlindung.

Ketika Azura merasa kehidupannya mulai berjalan normal, Altair kembali lagi. Dan kali ini Azura dihadapkan pada kenyataan untuk memilih antara Altair atau Kak Nara.

--

Jujur, membaca sinopsis di sampul belakang buku ini gak terlalu menggugah minatku untuk langsung membaca buku ini. Aku menganggap kisah yang ditawarkan Fakhrisina hampir mirip dengan kisah segitiga remaja kebanyakan.
Namun, aku salah.
Konflik yang diceritakan dalam buku ini lebih daripada sekadar cinta segitiga ala remaja.
Membaca buku ini ternyata menyenangkan.
Walaupun baru beberapa bab awal aku bisa menduga apa yang sebenarnya terjadi, namun tidak membuatku berhenti membaca buku ini. Twist-nya cukup asyik walaupun bisa aku terka. Mungkin karena pernah membaca dan menonton film dengan tingkah tokoh utama yang mirip dan petunjuk sang penulis yang terbaca olehku makanya aku menebak mungkin "itulah" yang terjadi.

Ternyata aku benar. Walaupun secara garis besar aku bisa menerka apa yang dialami oleh Azura, justru aku penasaran bagaimana penulisnya akan mengungkapkan hal tersebut. Hal ini yang membuatku masih tetap semangat membacanya.
Aku pun semakin penasaran bagaimana sang penulis mengeksekusi cerita seperti ini. Tentu saja rasa penasaran itu sangat ditunjang oleh keasyikan membaca buku ini karena Persona ini bercerita dengan sangat mengalir.

Hasilnya yang aku dapatkan setelah selesai membaca buku ini adalah "asyik".
Menurutku Fakhrinisa pawai menuliskan ceritanya tanpa harus menye-menye berlebih, aksi para tokoh yang lebay atau didramatisir, malah lebih terkesan nyata. Konflik dan permasalahan yang dialami oleh Azura sangat mudah mengundang simpati. Sungguh, aku merasa bersimpati terhadap Azura. Seolah-olah aku mengerti dan bisa memaklumi segala tindakan yang dia lakukan atas apa yang dia hadapi dalam keluarganya.
Tokoh Altair dan Nara pun sangat mudah disukai. Walaupun ada benih-benih cinta segitiga antara mereka, bukan berarti ada salah tokoh yang patut dibenci. Justru sosok Altair dan Nara memiliki porsi masing-masing yang sangt pas untuk Azura dan hidupnya.

Akhir kata, rasa penasaranku akan buku ini terbayarkan dengan rasa puas.
Good job.

Nilai 4/5

29 Juli 2016

[Book Review] PENGAKUAN - Anton Chekhov

Pengakuan - Anton Chekhov

Judul buku : PENGAKUAN
Penulis : Anton Chekhov
Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Penerjemah : Koesalah Soebagyo Toer
Penyuntin : Candra Gautama
Perancang Sampul : Teguh Tri Erdyan, Deborah Amadis
Tebal xv + 147 halaman
Cetakan Kedua, April 2016
ISBN 978-602-6208-17-0

*blurb*

Kemunafikan, kecenderungan untuk memanipulasi orang lain, serta praktik penjilatan dan korupsi, adalah sebagian tema cerita pendek Anton Chekhov. Ditulis dengan gaya satire yang begitu memikat, cerita-cerita itu menggambarkan keadaan masyarakat Rusia yang sedang membusuk menjelang Abad XX.

“Apa yang saya inginkan hanyalah berkata kepada masyarakat dengan jujur: ‘Pandanglah diri kalian dan lihatlah betapa busuk dan muramnya kalian.’ Hal yang penting adalah bahwa masyarakat perlu menyadari bahwa mereka... tidak boleh tidak harus menciptakan kehidupan yang lebih baik dan berbeda.... Sepanjang kehidupan itu belum terwujud, saya tidak akan jemu-jemu berkata kepada masyarakat: ‘Please, mengertilah bahwa kehidupan kalian busuk danmuram!’,” demikian komentar Chekhov, Raja Cerpen Rusia.

**

Membaca buku ini merupakan pengalaman yang menyenangkan. Kumpulan cerita pendek penulis Rusia adalah sesuatu yang baru buatku.
Aku cukup menyukai sastra walaupun jarang membacanya. Aku pun menyukai cerita pendek, bahkan dulu aku selalu mengikuti dan membaca cerpen kompas maupun cerpen lainnya di buku, blog, majalah, atau koran.

Cerita-cerita pendek dalam buku ini berisi tentang kehidupan sosial yang penuh intrik, kemunafikan, kecenderungan untuk memanipulasi orang lain, serta praktik penjilatan dan korupsi, dan sudah dijelaskan di cover belakang bukunya.
Ada 25 cerita pendek dalam buku ini. Sayangnya tidak semua cerita dapat aku nikmati. Namun, beberapa cerita justru sangat aku suka dan betul-betul nikmati.

Ada beberapa cerita pendek yang begitu aku sukai, beberapa di antaranya yaitu cerita yang berjudul Pergi, Orang Bebal, Seorang Bandot dan Seorang Wanita, Berterima Kasih, Di Kedai Cukur, Perempuan Tanpa Prasangka, dan cerita Dalam Pertunjukan Hipnotis. Cerita-cerita tersebut membuatku tertawa, bahkan beberapa sampai cukup tergelak karena ceritanya yang seolah menyindir dengan cara yang lucu. Walaupun lucu, tapi tetap ada sentilan terhadap perilaku masyarakat. Hal ini memang terjadi dan terasa agak familiar karena bisa kita temui dalam kehidupan kita sehari-hari.

Beberapa cerita juga malah terasa miris saat membacanya, seperti cerita Pengakuan, Cermin Perot, Wanita-Wanita, Kegembiraan Seorang Pemenang, dan Tetek Bengek Kehidupan.

Beberapa cerita malah tidak bisa aku nikmati dan membuatku mengernyitkan dahi serta berpikir (cukup) keras untuk mengerti maknanya. Bukan berarti cerita tersebut tidak bagus sih, malah sebenarnya terasa unik. Mungkin butuh pemikiran dalam dan dibaca berulang-ulang untuk mengerti maknanya.

Dalam buku ini cukup banyak kata-kata baru yang sebelumnya tidak aku ketahui dan struktur kalimat yang agak unik. Entah karena terjemahan yang kurang pas sehingga agak susah aku pahami atau memang struktur kalimat dan cara penceritaan cerpen tersebut memang seperti itu adanya. Maklum ini adalah karya sastra, dari Rusia lagi, yang aku akui akan sulit menerjemahkan dengan sangat pas tanpa menghilangkan makna dari cerita itu sendiri.

Secara keseluruhan, aku senang membaca buku ini karena menambah wawasan sastra dari negara lain dan merasakan sensasi yang baru ketika membacanya.
Bagi siapapun yang ingin mencoba membaca cerpen unik, tema tentang penyakit sosial, dan ingin merasakan sensasi yang berbeda, buku ini patut kamu coba.

Nilai : 3,5/5 

Nilai 3,5 aku berikan karena beberapa cerita sangat aku sukai, sangat menghibur, dan terasa berkesan.

[Book Review] ELANTRIS - Brandon Sanderson

Buku Elantris koleksi pribadi. Lokasi foto di halaman kantor

Judul Asli : Elantris 
Pengarang : Brandon Sanderson 
Penerjemah : Nur Aini 
Penyunting : Esti Budihasbari 
Penerbit : Mizan Fantasy
Tebal : 544 halaman
Diterbitkan pertama kali Maret 2015 
ISBN 978-979-433-854-4 
Format, Bahasa: Paperback, Indonesia


*Blurb*


KARYA PENULIS YANG DIPERCAYA MELANJUTKAN SERI THE WHEEL OF TIME



Elantris, pusat dari Arelon, kota nan indah, bercahaya dan dihuni oleh makhluk abadi yang menggunakan kekuatan sihir mereka demi kemanusiaan. Penduduk Elantris berasal dari manusia biasa yang disentuh Shaod sehingga mereka dikaruniai kekuatan abadi. Sepuluh tahun lalu, tiba-tiba saja kekuatan Elantris musnah. Shaod mengubah penduduk Elantris menjadi penyakitan, berkeriput dan tak berdaya bagai penderita lepra. Kota yang dulu indah dan bercahaya kini kumuh, kotor, dan diambang kehancuran.
 
Putri Sarene dari Teod tiba di Arelon untuk menikahi pangeran Raoden demi kepentingan politik. Ternyata Raoden sudah meninggal dan Sarene harus hidup tanpa pelindung di bawah ancaman serangan kaum Fjordell yang fanatik. Tetapi, tak ada yang tahu bahwa sebenarnya Raoden telah disingkirkan sang Ayah ke kota Elantris yang terkutuk. Karena Raoden telah ternoda oleh Shaod yang menyerang penduduk Elantris. Sementara itu, Hrathren dan para pendukung fanatiknya dari Fjordell ingin menghancurkan Elantris yang mereka anggap sebagai bukti kebusukan dan kejahatan penghuni kota itu. Bisakah Arelon bertahan dari serbuan Fjordell? Raoden harus menguak rahasia terpendam di Elantris demi menyelamatkan negara dan tunangannya.

 
Sebuah kisah fantasi epik yang lengkap, kuat dan penuh kejutan. Sebuah debut menyegarkan di dunia high-fantasy.

**

Eh, seriusan ini karya debut perdana Brandon Sanderson?
Kok keren banget sih? Apalagi kalau untuk ukuran debut, Elantris ini memang luar biasa banget. Membaca buku ini rasanya asyik banget dan seperti ditulis oleh seorang penulis yang senior dan memiliki banyak pengalaman.

Sebelumnya aku mau cerita sedikit dulu deh.
Sebelumnya aku asing dengan nama Brandon Sanderson, bahkan ketika salah satu group penggemar novel fantasi pernah membahas tentang profil penulis satu ini aku tidak terlalu menaruh perhatian lebih. Sempat sih membaca profil Brandon Sanderson dan mencari tahu karya-karya lainnya, namun masih sebatas itu saja.

Hingga suatu hari di bulan Februari, salah seorang teman memberikan info salah seorang blogger membahas tentang Elantris dan mengadakan giveaway novel ini. Membaca ulasan yang ditulis oleh Ren Puspita dalam blog-nya membuatku penasaran ingin membaca novel Elantris ini. Aku memang cukup menyukai cara Ren Puspita mengulas sebuah buku dan ulasan tentang elantris ditulis dengan sangat menarik (ulasan Ren tentang Elantris bisa dibaca di sini).

Nah, tanpa basa basi dan tanpa pikir panjang, aku langsung mengikuti giveaway tersebut dan sangat bersyukur ketika terpilih menjadi pemenang. Namun aku tidak langsung membaca buku ini begitu mendapatkannya, malah beberapa kali aku tunda setelah membaca 3 halaman. Bukan karena rasa bosan makanya aku belum melanjutkan bacaanku, tapi karena aku merasa waktunya belum ‘klik’ untuk membaca Elantris yang sepertinya membutuhkan mood dan waktu yang pas.

Sampai setelah lebaran aku masih belum juga membaca Elantris, malah membaca Stellheart karya Brandon Sanderson lebih dahulu. Nah, aku langsung menyukai gaya penceritaan Brandon Sanderson di Steelheart, makanya setelah itu aku langsung bertekad untuk langsung membaca Elantris tanpa pikir panjang. Beberapa halaman awal sih memang masih belum terasa feel-nya, namun semakin membaca halaman demi halaman justru aku tidak bisa berhenti membacanya. Rasa capek dan mata mengantuklah yang membuatku istirahat dari membaca buku ini, bahkan di kantor kadang-kadang gelisah karena ingin segera melanjutkan membaca Elantris ini.

Hasilnya WOW...
Aku suka banget cerita high fantasy seperti ini. Dunia Elantris yang diciptakan Brandon Sanderson sangat keren.

Ringkasan di atas memang sudah cukup menggambarkan faris besar cerita Elantris, namun jangan pernah ragu untuk membacanya karena banyak hal luar biasa yang akan kamu temukan lembar tiap lembar.

Elantris diceritakan dari tiga sudut pandang karakternya. Masing-masing sudut pandang akan diceritakan per bab. Mereka adalah Raoden, pangeran Arelon yang terkena Shaod dan dibuang ke Elantris, yang kedua adalah tunangan Raoden, Sarene, putri negara tetangga Teod yang berusaha menyelamatkan Arelon dari cengkeraman musuh. Tokoh ketiga yang merupakan tokoh antagonis yaitu Hrathren, seorang gyorn (atau imam besar) agama Shu-Dereth yang mempunyai misi untuk menyebarkan agamanya dan juga membuat Arelon bergabung dengan kerajaan Fjordell.

Ketiga karakter ini menurutku keren dan luar biasa. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing yang membuat pembaca mudah menyukai mereka.

Raoden sang pangeran adalah sosok yang cerdik, pantang menyerah, penyayang, dan optimis. Dia meyakini bahwa ada alasan dia menjadi seorang Elantrian dan mungkin takdirnya adalah menyelamatkan Elantris.
Sarene, sang putri, tampil sebagai sosok perempuan cantik, kuat, pintar, mandiri, berpendirian teguh, dan jago politik. Sifatnya juga keras kepala dan merasa tidak banyak orang yang menyukainya karena sifatnya tersebut.
Hrathen, sang gyorn, adalah tokoh antagonis yang sangat mudah disukai akibat kecerdikan, strategi, dan pergolakan batinnya yang mebuatnya sebagai tokoh antagonis dengan alasan yang masuk akal dan bisa diterima.

Para tokoh pendukung lainnya pun digambarkan sangat bagus. Suka.
Beberapa di antaranya adalah teman Raoden di Elantris, Galladon yang (secara mengejutkan) sangat sering pesimis, Karata, dan Saolin. Ada pula bangsawan - bangsawan Arelon seperti Duke Roial, Count Elondel, Baron Shuden yang merupakan teman Raoden dan kini mendukung Sarene. Kemudian ada pamannya Sarene, Kiin, yang ternyata seorang koki handal istri dan anak-anak mereka yang memiliki keunikan sendiri. Dari pihak antagonis selain Hrathren ada juga Dilaf, yang sifatnya sangat bertolak belakang dengan Hrathen. Bahkan Seon Sarene, Ashe pun menyenangkan.

Cerita tentang kerajaan dan permainan politiknya salah satu tema yang aku sukai. Ada sensasi sendiri dalam membaca buku dengan unsur politik di dalamnya (walaupun dalam kehidupan nyata aku sama sekali gak tertarik akan politik).
Lebih dari 50% buku ini berkutat tentang politik, intrik, strategi, dan permainan di dalamnya. Bukannya bosan, justru cerita tentang politik inilah yang membuatku semakin menyukai Elantris.
Selain politik, ada pula sihir dan keajaiban Elantris yang sangat aku suka. Sihir Aon (AonDor) yang bekerja dengan menggunakan lambang (tulisan, seperti Rune) sangat menarik perhatianku. Bahkan semakin membaca tentang sihir Aon, semakin aku diliputi rasa penasaran dan ingin tahu lebih banyak lagi. Membayangkan cara kerja Aon sembari membacanya terasa menyenangkan.

Elantris ini memang bukan buku yang sempurna. Karena Elantris ini adalah high fantasi dengan dunia yang diciptakan sendiri, oleh karena itu banyak bahasa-bahasa khusus dalam novel ini. Akibat tidak adanya glossarium atau catatan kaki, maka cukup banyak kata dan istilah yang membuat bingung ketika membacanya. Namun jangan khawatir, kata dan istilah tersebut pada akhirnya bisa kita mengerti arti dan maksud penggunannya. Memang sih membutuhkan waktu dan itu pun dari hasil menerka-terka artinya, tapi hasilnya justru lebih menyenangkan sih.

Salah satu hal yang membuatku kurang puas akan buku ini adalah...
Buku ini KURANG TEBAL 
*lho, kok kurang puas?

Buku Elantris ini padahal tebal lho, 500an halaman lebih, ukuran buku yang besar dan font agak kecil, margin tulisan mepet pinggiran halaman juga, tapi kok rasanya masih saja kurang.
Aku masih penasaran dan ingin tau lebih banyak tentang sihir AonDor yang seperti sihir Rune, Ingin membaca lebih banyak lagi tentang tentang kisah Raoden dan Sarene, masih ingin baca kisah tentang Elantris beserta orang-orangnya, dan masih ingin tahu lebih banyak lagi.

Aku berharap buku ini lebih tebal lagi sekitar 200an halaman deh, biar makin puas. Banyak hal yang ingin aku tahu lagi. Rasanya nagih sih. Hahaha...

TOP BGT

Rating 5/5

 
Penampakan asli Elantris Mizan Fantasi
P.S.
Eh, pada akhirnya ulasanku ini malah lebih banyak membahas perasaanku yang bahagia setelah membaca buku ini bukannya membahas isi bukunya. Tapi, menurutku memang lebih baik begitu sih. Membaca Elantris ini merupakan pengalaman yang sangat mengasyikkan bagiku.

Saranku sih, segeralah baca buku ini. Kalau belum punya, langsung saja ke toko buku atau pesan buku ini. Jangan berpikir panjang lagi. Temukan keindahan, keajaiban, dan sensasi yang memuaskan sewaktu membaca buku ini. Jangan sampai menyesal lho ketika buku ini tiba-tiba menjadi langka (susah didapat).

Ayo...
Segera BACA ya!! :) 

17 Juli 2016

[Book Review] STEELHEART (The Reckoners #1) - Brandon Sanderson




Judul Buku : STEELHEART (The Reckoners #1) 
Penulis : Brandon Sanderson 
Penerjemah : Putro Nugroho 
Penyunting : Rina Wulandari 
Desain Sampul : Aditya “tyo” Satyagraha 
Penerbit Noura Books (Mizan Fantasi) 
ISBN 9786020989983 
Cetakan I, April 2016 (Soft Cover) 
Tebal 565 halaman

*blurb*

Steelheart menghancurkan ruangan, membunuh siapa pun yang dia lihat. Tiran itu berteriak penuh kemurkaan. Kemudian, gelombang energi terpancar dari tubuhnya, dan lantai di sekelilingnya pun berubah warna—menjelma logam.

Saat Calamity muncul, manusia yang terkena efeknya mendapatkan kekuatan super. Orang-orang menyebut mereka Epic. Namun, alih-alih menjadi pahlawan, mereka menggunakan kekuatan untuk menguasai dunia dan menghancurkan siapa pun yang menghalangi tujuan mereka.

Teror menyebar ke seluruh negeri. Bumi diliputi kegelapan. Para manusia biasa harus hidup di bawah tanah. Tak ada yang berani memberontak, kecuali Reckoners—sekelompok manusia biasa yang mengabdikan diri melawan Epic.

David ingin bergabung dengan Reckoners karena dialah satu-satunya saksi mata kelemahan Steelheart. Dan sudah saatnya dia membalaskan kematian ayahnya.

--

Steelheart bercerita tentang vola cahaya merah yang muncul di langit dan menimbulkan efek kekuatan super bagi manusia yang terkena efeknya. Bola cahaya merah ini mereka sebut “Calamity” Manusia yang terkena efek bola merah tersebut memiliki kekuatan super luar biasa bak para dewa, seperti tidak kebal, bisa mengendalikan elemen-elemen, bisa terbang, mengendalikan udara, beralih wujud, meramal masa depan, hingga menghancurkan benda dengan sekali tunjuk. Manusia super ini disebut EPIC. 

Bukannya menolong, para Epic justru menimbulkan kehancuran, kerusakan dan membuat umat manusia biasa ketakutan. David yang kehilangan ayahnya oleh seorang Epic penguasa Newcago (kota tempat David tinggal), Steelheart, berniat membalas dendam dan bergabung dengan The Reckoners yang merupakan sekelompok orang yang berjuang untuk melawan melawan kesewenang-wenangan para EPIC. 

Brandon Sanderson sungguh piawai dalam bercerita. Cerita yang dituliskan dalam buku ini sungguh terasa mengalir dengan aksi dan keseruan yang memukau. Aku gak bisa berhenti membaca buku ini dan selalu merasa penasaran akan apa yang akan dilakukan para tokohnya. Sepanjang membaca buku ini pula aku bergumam, “Wah, keren nih. Gilak. Seru!!

Membaca buku ini membuatku mengajukan pertanyaan ini kepada para pembaca lainnya.
- Suka kisah fantasi penuh aksi, petualangan, dan ketegangan? Steelheart untukmu.
- Suka kisah manusia super dan kisah kepahlawanan layaknya komik? Steelheart untukmu. Apalagi aku menyukai kisah superhero, makanya jadi suka banget sama buku ini. Eh, malahan aku sering berkhayal memiliki kekuatan super lho. Hahaha... (eh, malah curhat)
- Suka cerita fantasi dengan ide cemerlang dan selalu bikin gregetan dan penasaran? Buku ini pun untukmu. 

Membaca Steelheart mungkin akan mengingatkan kita pada kisah superhero dengan kekuatan super mereka. Lebih tepatnya sih kita akan teringat akan para mutan dan kekuatannya dalam serial 'X-Men' dan bisa juga para manusia dengan kekuatan dalam serial 'Heroes'.

Steelheart ini menghadirkan cerita yang berbeda, lebih segar, dan memiliki keunikan sendiri. Karakter-karakter manusia (tokoh utama) terasa lebih manusiawi dan memiliki niat dan alasan masing-masing yang terasa sangat masuk akal.
Para Epic yang sangat tiran dengan kemampuan masing-masing juga sangat unik. Kekuatan yang dimiliki oleh para Epic sangat beragam dan memiliki ciri khas masing-masing. Tidak ada kekuatan yang benar-benar sama. Selain itu pula, para Epic tentu saja bukan tanpa kelemahan. Dalam buku ini, Brandon Sanderson membuat kita penasaran dan menebak kelemahan dari Steelheart sendiri melalui percobaan para tokoh utama. Selain itu pula, kelemahan yang dimiliki para Epic sungguh kadang sesuatu yang tidak terduga dan kadang unik, sederhana, dan tidak akan terpikirkan. Hal ini yang bikin aku semakin suka.
Selain itu pula, akan kita kita nikmati pertempuran apik dan epik antara manusia melawan para Epic. Bukan sekadar adu kekuatan super, novel ini menghadirkan adegan pertempuran fisik yang dramatis, adu kecepatan, adu strategi, dan perang pengaruh sehingga entah mengapa kisahnya jadi lebih mudah untuk dibayangkan. Sungguh, pertempuran dan aksi dalam buku ini penuh dengan persiapan matang dan kejutan, bukan hanya aksi nekat dan aksi gila-gilaan semata. 

Pokoknya ya, dialog buku ini asyik. 
Idenya unik dan keren. 
Aksinya seru dan menegangkan. 
Misteri dan twist plot-nya dapat banget. 
Formulanya gak spesial sih tapi asyik banget diikuti.

Karakter David, Megan, Prof., Abraham, Cody, Tia juga lovable dan mudah disukai. Sepanjang cerita mengalir, kita akan semakin mengetahui kisah para tokohnya dan semakin menyukai mereka.

Oh iya. Mengenai versi bahasa Indonesia ini, aku pun salut dan suka. Terjemahannya keren dan ceritanya pun masih terasa mengalir begitu saja. Gak terasa kaku. Typo sepertinya gak ada deh, kalaupun ada sangat minim banget karena sepanjang membaca buku ini aku gak ingat menemukan kata yang kekurangan/kelebihan huruf.
Desain sampulnya juga bagus. Dengan warna biru dan siluet “Steelheart” menambah daya tarik buku ini.
 
Suka banget dan jatuh cinta (lagi) sama buku ini.
Akhir kisah buku ini membuatku berteriak, "Buku 2 dan 3 cepatlah TERBIIT...!!!"

Selain kisahnya yang APIK dan EPIC, banyak quotes menarik yang akan kita temui dalam buku ini. Beberapa di antaranya adalah :

  • "Terkadang, Nak, kau harus membantu para pahlawan." (hlm. 9)
  • "Kekuatan mengorupsi jiwa, dan kekuatan absolut benar-benar menghancurkannya." (hlm. 171)
  • "Pahlawan akan datang ..., kita mungkin hanya perlu membantu mereka." (hlm. 562)
  • "Ada hal-hal yang lebih kuat daripada Epic. Ada kehidupan dan cinta dan alam itu sendiri." (hlm 547)
  • "Jika Epic merupakan contoh dari apa yang akan kita lakukan dengan kekuatan, maka lebih baik jika kita tidak pernah mendapatkan kekuatan apa pun." (hlm. 333)
  • "Di mana ada kejahatan, akan ada pahlawan. Tunggu saja. Mereka akan datang." (hlm. 547)


Sudahlaaah...
Cepat baca buku ini dan temukan ke-EPIC-annya.

Nilai : 4,5/5