12 Januari 2016

[WRAP UP] Rekap Read Big Challenge 2015 host @Alvina



...... [suara musik latar ala Star Wars terdengar]


2015 sudah berakhir (hampir dua minggu yang lalu kali – telat!) dan teringatlah tantangan membaca buku tebal yang di-host-in (apalah istilah ini) sama Alvina yang aku ikuti.

Tantangan yang ingin aku ikuti waktu itu adalah middleweight/kelas medium, yaitu membaca 5 – 8 buku tebal lebih dari 500 halaman sekaligus mencoba kelas khusus karena kebetulan masih ada novel setebal sekitar 1200-an halaman. Hasilnya gimanaaaa? 
Berhasil sih baca 5 buku dengan jumlah halaman lebih dari 500. Link-nya juga sudah disetorkan. Tapiii… rasanya agak kecewa dan belum puas sih.

Kenapa, eh, kenapa aku merasa begitu?
  1. Buku ke-5 selesainya mepet banget akhir tahun 2015 dan ulasannya dibuat bulan Januari 2016 ini.
  2. Beberapa buku bantal seperti Game of Thrones, Geography of Bliss, bahkan buku super tebal Gone With The Wind sudah aku baca beberapa bab namun belum dilanjutkan lagi sampai sekarang. Mungkin lain kali kalau mood baca lagi bagus (tapi tumpukan antrian buku yang mau dibaca semakin banyak). Sudahlah dinikmati saja.
  3. Tiga bulan terakhir minat baca mulai membaik walaupun dengan sedikit paksaan. Seandainya mood baca seperti ini sejak awal tahun 2015 mungkin buku yang selesai aku baca semakin banyak.
Btw, karena aku berhasil masuk dalam Middleweigt / Kelas Menengah (horee...!!), ini nih daftar buku yang aku baca dan ikutkan dalam Read Big Challenge 2015 dan sudah diulas dalam blog ini :
  1. The Silkworm – Robert Galbraith - link Review [ulasan]
  2. A 100-Years-Old-Man Who Jumped Out The Window and Dissapeard – Jonas Jonasson - link Review [ulasan]
  3. No Baby’s But Mine –Suzan Elizabeth Phillips - link Review [ulasan]
  4. All The Creatures Great and Small – James Herriot - link Review [ulasan]
  5. To Kill a Mockingbird – Harper Lee - link Review [ulasan]
Tahun 2016 ini semoga semangatku untuk membaca semakin meningkat dan bisa membaca lebih banyak buku dan tentu saja mengulasnya ke dalam blog ini.

Terima kasih banyak kepada Alvina yang telah mengadakan Read Big Challenge ini. Tanpa tantangan ini mungkin aku tidak akan memaksakan diri membaca buku bantal koleksiku dan akan sedikit terabaikan.

Terima kasih sekali lagi…

#CumaNgomong “Aku, Kamu, dan Mereka Semua Baik-Baik Saja”


aku baik-baik saja


Cerita seorang teman

Dahulu ada teman kuliahnya yang berasal dari daerah Timur berangkat kuliah dengan mengayuh sepeda. Jarak antara kampus dan kost-nya sekitar 1 jam bersepeda. Jadi, lebih dari satu jam sebelum waktu perkuliahan dimulai, dia harus sudah berangkat dari kostnya. Mandi dan beres-beres lainnya di lakukan di kampus.
Siang pun gak masalah, walaupun panas terik dan kondisi jalanan yang ramai dengan kendaraan. Panas, berdebu, penuh asap. Teman yang lain merasa kasihan melihatnya. Sungguh berat perjuangannya untuk kuliah. Setidaknya itu yang dipikirkan oleh teman-temannya yang lain. Tapi, ketika temannya mengomentari hal tersebut, dia mengatakan bahwa “ini hal yang sudah biasa baginya”.

Istriku pernah bercerita tentang ibu-ibu tetangga yang punya 2 anak kecil yang umurnya masih di bawah 2 tahun. Sendiri mengurusnya anaknya dan tidak bekerja. Kadang membuat kue untuk dijual sama ibu-ibu kompleks. Uang bulanan dari suami yang kalau dari sudut pandang kami tidak cukup untuk sebulan. Apalagi biaya untuk 2 orang anak saja mungkin tidak cukup hanya dengan uang sejumlah tersebut.

Tapi, kami tidak tahu kondisi sebenarnya, siapa tau kehidupan mereka baik-baik saja dan mereka menjalaninya dengan hati ikhlas

Masih banyak cerita-cerita lainnya. Tapi cukup dua saja sebagai gambaran.

--

Ceritaku sendiri adalah…

Dulu, sampai tahun 2014 aku hanya punya handphone yang cuma bisa buat nelpon dan sms. Teman-temanku, bahkan istriku menanyaiku apa gak tertarik atau gak pengen punya HP canggih yang bisa internetan, video call, game dan sebagainya?
Aku jawab, “ada keinginan sih, tapi ini juga cukup kok.”

Aku juga senang berjalan kaki, naik kendaraaan umum. Temanku dan juga istriku sempat berkomentar apa aku gak pengen beli motor?

Aku jawab, pengen sih ada. Tapi, belum terlalu butuh banget sih. Masih bisa jalan kaki, naik angkot atau kendaraan umum lainnya. Lagipula agak males juga sih kalau jalanan terlalu ramai, kalau panas, kalau hujan, dsb. Kalau naik angkot atau kendaraan umum kan bisa tinggal duduk santai. Kalau mengantuk tinggal duduk mengangguk-angguk. Hahaha..

Dari hal inilah aku belajar bahwa apa yang mungkin terlihat oleh orang lain atau diri kita sendiri bukan menggambarkan keadaan sebenarnya. Orang yang terlihat kasihan, menyedihkan, menderita belum tentu seperti itu sebenarnya. Mungkin kita melihatnya berdasarkan keadaan yang (mungkin) kita rasakan kalau mengalami hal tersebut. Padahal kalau ditanya, mereka baik-baik saja, tidak masalah.

Lagipula pada dasarnya mnanusia itu tidak mau dikasihani kok. Tapi, bukan berarti hal ini mengharuskan kita untuk tidak berempati atau bersimpati terhadap orang lain. Empati dan simpati itu tetap penting karena kita adalah manusia yang memiliki hati dan perasaan, bukan benda mati. Yang perlu kita perhatikan adalah pengendalian diri untuk mengomentari atau terlalu banyak ikut campur dalam kehidupan orang lain.

Kalau melihat keadaan orang lain yang tidak sesuai dengan ‘standar’ kita, cobalah untuk mengendalikan diri dari komentar-komentar yang sekiranya tidak bermanfaat. Kalau kita rasa apa yang kita katakan kepada orang lain efeknya tidak baik, lebih baik kita memilih diam. Pernah kan membaca artikel di media social tentang ‘basa basi’ yang kita anggap sepele namun berakibat sangat besar bagi orang lain? Ketika ada yang mengometari rumah yang sempit, tidak pernah dikasi hadiah, atau hal lainnya justru menimbulkan benih-benih konflik dalam kehidupan orang lain. Mungkin tanpa kita sadari, kondisi orang lain di sekitar kita baik-baik saja, namun ucapan kitalah yang perlahan-lahan membuat kehidupan mereka ‘tidak baik-baik saja’. Semoga kita bisa menghindarkan diri dari berbuat demikian.

Oleh karena itu, aku berusaha untuk menahan diri untuk tidak terlalu mengomentari atau mengasihani orang lain yang terlihat kesusahan (menurut pandangan kita) karena mungkin saja mereka merasa bahagia dan baik-baik saja (tidak ada masalah) dengan kondisi mereka itu.
Kalau memang menurut pandangan kita orang lain ‘terlihat’ kasihan, maka cukuplah simpati, empati mu kau wujudkan dengan berdoa untuk mereka semoga mereka, berkecukupan,  bahagia dan memang baik-baik saja.

--

Eh, ada sekadar tips nih. Mudah-mudahan bermanfaat.
Ketika kita ada masalah, apapun itu, tetaplah berusaha sebaik mungkin dan berdoa. Katakanlah pada diri sendiri dan yakinkan dirimu bahwa kamu memang baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ucapkan selalu “aku baik-baik saja” untuk menguatkan diri, memberikan efek positif kepada diri sendiri dan karena mungkin saja kita memang baik-baik saja.

***

Sudah lama absen menuangkan isi pikiran dalam sebuah tulisan. Sebenarnya ada beberapa pemikiran hasil merenung dan melamun (sepanjang perjalanan naik angkutan umum atau dalam perjalan menuju dan pulang dari kantor) namun lebih banyak berserakan dalam pikiran. Hasil lamunan itu belum disusun ke dalam kata-kata, alasannya sih klise. MALAS.

Kalau kondisi seperti aku kadang berkhayal dengan sekadar ngomong, apa yang aku ucapkan, bisa langsung menjadi sebuah tulisan yang nanti tinggal diedit dan dirapikan saja (ah! Maumu, Bie)

Selamat membaca tulisan ini. Mohon maaf apabila ada kata-kata yang keliru dan tentu saja aku berharap ada manfaat yang diperoleh dari tulisanku ini.

Terima kasih.

9 Januari 2016

[Book Review] The Night Gardener - Jonathan Auxier


 
THE NIGHT GARDENER 

Judul asli : The Night Gardener 
Penulis : Jonathan Auxier 
Alih Bahasa : Rini Nurul Badariah 
Penyunting : Yenni Saputri 
Desain dan Ilustrasi Sampul : Arrahman Rendi 
Desain Isi : Reza 
Tata letak : Tri 
Cetakan Pertama Mei 2015 
Penerbit Metamind, Creative Imprint of Tiga Serangkai 
Tebal x + 382 halaman 

ISBN 978-602-72510-1-4


“Dongeng jadi buruk jika semua ada jawabannya.” - Molly. Hal. 370

Berawal dari Goodreads aku tertarik untuk membaca buku The Night Gardener ini, alasan pertama adalah karena tertarik melihat cover –nya. Cover buku ini (menurutku) sangat menarik, keren, dan bikin penasaran. Cover The Night Gardener versi Indonesia ini sangat berbeda dengan beberapa novel fantasi yang beredar belakangan ini yang menurut pendapatku cover-nya kurang menarik, bahkan beberapa (maaf) terlihat norak. Seringkali ketika membeli buku, hal yang pertama untuk dipertimbangkan adalah cover yang menarik dalam sekali lihat.

Beruntung saat ke toko buku aku menemukan buku ini. Dapatnya pun setelah meneliti rak buku satu per satu berulang-ulang. Tanpa pikir panjang aku langsung memboyongnya ke kasir.

Setelah selesai aku baca, pendapatku adalah SUKA cerita The Night Gardener ini. Sudah lama rasanya tidak membaca dongeng seperti ini – rasanya seperti membaca dongen klasik – dan rasanya menyenangkan.


*mungkin tulisan di bawah ini mengandung spoiler – karena cukup banyak bagian yang aku ceritakan – jadi kalau tidak suka spoiler mungkin bisa menghindari membaca lebih jauh* 

 
The Night Gardener bercerita tentang dua bersaudara, Molly dan Kip, yang mencari kediaman keluarga Windsor. Mereka mencari keluarga Windsor untuk bekerja di sana dan tempat itu harus mereka temukan agar mereka tidak tinggal di panti asuhan. Orang tua mereka tidak diketahui keberadaannya karena mereka terpisah setelah mengungsi dari Irlandia. Menurut yang Molly ceritakan kepada Kip bahwa orang tua mereka sedang berpetualang di lautan.

Beberapai hari telah terlewati dan mereka masih melakukan perjalanan untuk menemukan lokasi Watsu Windsor. Ketika melewati area pertanian, setiap orang yang mereka temui di sepanjang perjalanan menceritakan hal-hal yang tidak menyenangkan tentang ‘hutan selatan’ mengatakan bahwa bahwa pergi ke kediaman Windsor sama saja dengan menggiring kawanan ternak ke kandang singa.

Sampai akhirnya mereka bertemu dengan seorang nenek tua - sang juru cerita di persimpangan - Hester Kettle, yang menunjukkan arah menuju kediaman keluarga Windsor. Informasi dari Hester pun bukan mereka terima begitu saja dengan gratis, namun dengan imbalan Molly akan memberinya cerita tentang Watsu Windsor setiap minggu. Hester Kettle orang yang kelihatan aneh.

Ketika sampai di kediaman Windsor, aura menyeramkan telah terasa. Hari-hari penuh keanehan dilalui Molly dan Kip bahkan sejak hari pertama mereka di rumah tersebut. Bahaya bahkan mengintai mereka tanpa mereka sadari. Apalagi dengan keberadaan sebuah pohon besar, yang sangat besar, dan tampak menyeramkan menaungi hampir seluruh rumah. Sulur-sulurnya merambati dinding dan atap. Berdiri di bawahnya saja membuat merinding.

Keluarga Windsor yang terdiri dari Bertrand – Tuan Windsor, Constance – sang istri, dan kedua anak mereka Alistair dan Penny. Seluruh anggota keluarga tersebut berkulit sangat pucat, rambut hitam, seperti mayat hidup. Hampir setiap malam seluruh penghuni rumah dihantui oleh mimpi buruk yang hidup seperti nyata, tak terkecuali Molly dan Kip. Setiap pagi di sekitar rumah terdapat jejak-jejak kaki berlumpur yang entah milik siapa. Hingga suatu hari ia melihat seorang lelaki misterius yang memasuki rumah dimalam hari dan memasuki setiap kamar, membawa ember.

Setelah beberapa lama Molly mengetahui rahasia keluaga Windsor tentang sebuah ruangan berpintu hijau yang ditutupi oleh nyonya Windsor sejak Molly melihat pintu tersbut. Ternyata dalam ruangan tersebut terdapat sebuah lubang yang merupakan bagian dari pohon tersebut. Ajaibnya adalah pohon tersebut dapat mengabulkan permintaan terdalam seseorang, bahkan keinginan yang tak pernah terucap.

Tuan Windsor selalu mendapatkan uang yang selalu dia inginkan. Nyonya Windsor mendapatkan cincin hadiah dari tuan Windsor yang sangat berharga baginya. Alistair mendapatkan gula-gula yang sangat banyak akibat memendam keinginan sewaktu kecil. Sedangkan Penny mendapatkan buku cerita yang bercerita tentang Penny dan segala dongengnya.
Molly, yang masuk secara tidak sengaja, bahkan mendapatkan apa yang selama ini dia inginkan, yaitu surat dari kedua orang tuanya. Yang paling mengerikan, pelan-pelan dan tanpa disadari Molly berubah seperti keluarga Windsor, dingin dan pucat seperti mayat.

"Cerita membantu orang menghadapi dunia, meskipun mereka takut. Sementara dusta berbuat sebaliknya. Dusta membantu bersembunyi." Hal.300

Molly dan Kip sebenarnya menyadari segala keanehan di temppat tersebut sejak awal, namun mereka tidak bisa pergi begitu saja karena ada sesuatu yang membuat mereka tidak bisa pergi.
Hester Kettle pun menceritakan bahwa ada sebuah legenda tentang pohon tersebut, tentang seorang tukang kebun yang tetap memelihara pohon besar tersebut agar tetap hidup dan memberikan keinginannya. Namun, ternyata setiap keinginan yang terkabul, pohon tersebut meminta imbalan bagian dari jiwa orang-orang yang memeiliki keinginan tersebut. Sehingga, walaupun mendapatkan apa yang mereka inginkan namun ada ketergantungan akan hal tersbut. Bahkan tanpa mereka sadari mengorbankan nyawa sendiri.

"Kupikir itu bukan hidup. Mengabulkan permintaanmu dengan cara menciptakan ketergantungan. Tampaknya, itulah perbedaan keinginan dan kebutuhan."Kip. hal. 294

Apa yang sebenarnya terjadi di Wastu Windsor? Apakah kisah si Pekebun Malam itu memang benar? Bagaimanakah Molly dan Kip menghadapi semua kengerian yang perlahan-lahan melibatkan mereka semakin dalam? Bisakah mereka terbebas?
Baca sendiri deh kelanjutan ceritanya. Bahkan review-ku di atas menceritakan cukup banyak bagian dari novel ini.

Cerita The Night Gardener ini mengalir begitu lancar. Kisahnya dituturkan dengan bagus, tidak perlu berpikir panjang. Cukup dengan membaca kisahnya, maka perlahan-lahan akan terasa keseruan dan kengerian yang diciptakannya. Ya, buku ini cukup membuatku merasa deg-degan, penasaran, dan membayangkan si Pekebun Malam dengan rasa takut yang ditimbulkannya. Misterinya terbangun dengan bagus. Suka. Walaupun mungkin cerita ini ditujukan uuntuk anak-anak dan remaja, namun membacanya sungguh menyenangkan. Sudah lama merindukan dongeng seperti ini, jadi begitu mendapatkannya aku tersenyum puas ketika selesai membaca kisah The Night Gardener ini.

Oia, bagian akhir dari buku ini menceritakan tentang sang pengarang – Jonathan Auxier – yang menyelesaikan cerita ini dalam jangka waktu sembilan tahun. Banyak cerita yang menginspirasinya menulis The Night Gardener ini. Bahkan sejarah tentang kelaparan di Irlandia yang menyebabkan banyak warga yang mengungsi untuk mencari makanan dan pekerjaan, seperti yang dialami keluarga Molly. Yah, kalau membaca novel ini rasanya pantaslah kalau dikerjakan selama 9 tahun. Keren sih.

"Cerita tidak perlu berbuat apapun, hanya mewujud." - Hester Kettle. Hal. 230

*Banyak kutipan bagus dalam cerita ini. Beberapa sudah aku quote di atas.

Nilai : 4,5/5

5 Januari 2016

[Book Review] Railway in Love - Viera Fitani



 
Railway in Love 

Penulis : Viera Fitani 
Editor : Afrianty P. Pardede
Penerbit PT Elex Media Komputindo 
Cetakan Pertama November 2015 
ISBN 9786020275413 
Tebal vi + 237 halaman

Novel ini merupakan hadiah giveaway dari rangkain blog tour + giveaway Railway in Love’ karya Viera Fitani di blognya Atria Sartika. Kebetulan aku menang giveaway tersebut dan sebagai hadiahnya mendapatkan satu eksemplar novel Railway in Love ini (ditambah keychain Railway in Love dan sebotol sambal Bu Sandra – yang ternyata enak).

Wah, senang banget dong menang giveaway. Hore. Hore. Hore..

Nah, pemenang giveaway ini ditentukan berdasarkan jawaban dari pertanyaan yang diajukan oleh Atria di blognya. Pertanyaan untuk mendapatkan satu eksemplar novel ini adalah :

Apa pendapatmu tentang orang yang gagal move on?”

Wah, yang terlintas di benakku saat itu adalah pertanyaan ini menarik sekali karena kebetulan aku punya jawaban yang (menurutku) menarik juga. Langsung dong aku ikutan jawab dan syukurlah terpilih jadi pemenang.

Btw, ini nih jawabanku tentang orang yang gagal move on (aku edit sedikit agar kata-katanya lebih mudah dipahami dan lebih teratur)


Pendapat mengenai orang yang gagal move on?



Aku adalah orang yang sering naik angkutan umum, termasuk angkot. Menurutku, orang yang gagal move on itu sering aku analogikan dengan sopir angkot dan penumpangnya.


Ada sopir angkot yang begitu ngotot menunggu penumpang yang jelas-jelas gak mau naik ke dalam angkotnya, walaupun sudah ditolak sampai beberapa kali pun si sopir masih nungguin penumpang tersebut. 
Ada pula sopir angkot yang ngetem sangat lama untuk menunggu penumpang yang tidak jelas ada atau tidak. 
Ada juga sopir angkot yang rela mundur bekali-kali melihat calon penumpang yang masih sangat jauh dan belum tentu mau naik angkotnya. 

Aku sering menganggap orang yang gagal move on mirip dengan sopir seperti yang aku jelaskan di atas. Padahal perjalanan dia mencari penumpang masih panjang. Untuk apa ngetem lama, menunggu penumpang yang jelas-jelas sudah turun dan berharap naik lagi, tidak mau menyerah dengan calon penumpang yang gak mau naik angkotnya? Jelas sekali masih panjang jalan yang akan dia lalui. Masih banyak calon penumpang lainnya di depan, di seberang jalan, atau di ujung jalan yang lain yang mungkin saja lebih banyak dan lebih potensial. 

Si sopir melewatkan kesempatan itu, bahkan mungkin tidak memikirkannya. Dia hanya memikirkan penumpang yang mau dia angkut walaupun ditolak, dan seolah-olah membiarkan begitu banyak kesempatan (penumpang lain) di depannya. Ah, mungkin dia tidak peduli.  

Orang yang gagal move on itu orang yang rugi. Kalau dia mau berpikir, banyak hal yang dia lewatkan, rugi banyak, dan membiarkan kesempatan lainnya dirampas oleh orang lain. Dia tidak tahu banyak hal indah dan kesempatan lain di depannya, yang menantinya, yang bahkan mungkin saja jauh lebih indah. Tapi, dia tidak melihat hal tersebut karena orang yang gagal move-on, PIKIRAN, HATI, dan PANDANGAN-nya selalu berada di masa lalu, enggan menengok ke masa depan, memenjarakan dirinya tanpa mau menoleh ke depan.

Seperti ke-egoisan sopir angkot di atas, ada penumpang lain yang gelisah karena harus menunggu sangat lama. Begitu pula orang yang gagal move-on. Sebenarnya dalam dirinya terdapat kegelisahan yang banyak, tapi mungkin dia tidak menyadarinya. Atau mungkin dia tahu, tapi tidak mau peduli yang penting dia menuruti keegoisannya.

Itulah pendapatku tentang orang yang gagal move-on.

--

Wah, panjang juga ya jawabanku. Hehehe..
Inspirasinya sih gara-gara sering kesal sama sopir angkot yang bertingkah seperti itu, apalagi kalau sedang buru-buru. Daripada dongkol, aku jadi lebih sering melamun dan dapat inspirasi.

Lalu, bagaimana pendapatku tentang novel Railway in Love ini?

“Aku pengennya perjalanan cintaku itu kayak rel kereta api, meskipun banyak belokan, tapi nggak pernah putus sampai tujuan...”
-          Andara Riana Rasyid

Quote itu adalah kutipan dari novel ini yang menggambarkan judul dari novel Railway in Love ini tentu saja (ya iyalaaah). 

Nah, Desember kemarin aku membaca novel ini dan langsung habis hanya dalam waktu satu malam saja.
Wah, cepat juga ya?
Alasan simple-nya sih karena buku ini ringan dibaca, temanya ringan (romcom), bahasanya ngalir lugas, dan lucu. Jadi seru aja bacanya dan tanpa sadar sudah habis dalam semalam. Hehehe..

Railway in Love ini bercerita tentang seorang wanita yang berprofesi sebagai pengacara muda bernama Andara Riana Rasyid.  Andara punya bos bernama Harsya Brataman. Nah, bos Andara ini orangnya ganteng, kalem, keren, pokoknya idola para wanita deh. Apalagi di kantor juga banyak yang suka sama Harsya dan begitu pula dengan Andara.
Rasa suka Andara terhadap Harsya, bosnya, rupanya bukanlah cinta bertepuk sebelah tangan. Harsya juga menyukai Andara, namun ternyata Harsya masih berusaha untuk lepas dari masa lalunya a.k.a berusaha move on dari mantan tunangannya yang meninggalkannya hanya karena ingin melanjutkan studi ke luar negeri.

Secara kebetulan Andara dimintai tolong oleh Harsya untuk menangani kasus sahabat baiknya, Ribeldi Bimantara (Ibel). Ibel seorang yang kaya raya, keren, idola para wanita, namun juga playboy abis. Ibel tersangkut masalah karena tuntutan dari seorang wanita yang sedang hamil dan mengaku bahwa anak tersbut adalah anak Ibel.
Andara pun menangani kasus tersebut, namun sepertinya menyesal telah menerima kasus tersebut karena Ibel ternyata bukan cuma playboy, namun ditambah dengan sifat angkuh, sombong, mesum, menyebalkan.

Masalah pun mulai timbul ketika Harsya dan Andara akhirnya semakin dekat dan jadian. Ibel semakin akrab dan mulai menunjukkan kepedulian terhadap Andara. Ibel pun begitu mempercayai Andara untuk menyelesaikan kasusnya.

Di saat Andara tengah merasakan kebahagiaan bersama Harsya, sang masa lalu dari kehidupan Harsya pun muncul. Sang mantan tunangan yang jauh lebih sempurna dari Andara kembali membuat Harsya bingung untuk menentukan sikap.
Andara tentu saja tidak mau digantung oleh Harsya, apalagi Harsya semakin menunjukkan kepedulian terhadap mantan tunangannya. Harsya seperti seorang laki-laki yang ingin bersama Andara, namun tidak bisa melupakan masa lalunya.

Andara tentu sakit hati dong diperlakukan seperti ini. Nah, di saat maslah inilah Ibel justru semakin peduli terhadap Andara. Andara pun merasa semakin nyaman bersama Ibel. Andara merasa ada yang aneh dengan dirinya. Andara pernah bersumpah untuk tidak akan tergoda dan jatuh cinta kepada lelaki playboy, mesum, dan menyebalkan seperti Ibel. Namun, hati tidak bisa dibohongi, semakin dia merasa sakit hati karena Harsya, semakin Ibel membuatnya nyaman, semakin pula dia merasakan sesuatu perasaan cinta kepada Ibel.

Lalu, bagaimana akhir kisah ini? Baca sendiri saja deh ya. Hehehe...

Railway in Love ini dari segi cerita sih tergolong standar ya. Tidak ada hal yang baru yang ditawarkan. Cewek yang jatuh cinta dengan playboy yang menyebalkan dan angkuh – musuhan dulu kemudian suka – walaupun sebelumnya suka dengan cowok yang dia idam-idamkan karena terlihat sebagai cowok baik-baik. Jangankan novel romcom, ftv aja banyak yang alurnya seperti ini. Tapi ya gak masalah asal ceritanya bagus dan seru.

Membaca setengah, ah, seperempat bagian bukunya saja deh, sudah psti ketahuan akhir ceritanya seperti apa. Namun, bukan itu masalah utama yang menentukan bagus tidaknya sebuah cerita. Walaupun tema yang ditawarkan biasa, namun apabila disampaikan dengan menarik dan bahasa yang lugas – mengalir begitu saja – akan tetap menarik.

Aku suka cara penceritaan novel ini, mbak Viera Fitani mampu meramu percakapan yang kocak. Banyak obrolan dan kalimat yang menurutku lucu dan menghentak begitu saja. Karena beberapa kali aku tertawa spontan dan cukup keras ketika membaca Railway in Love ini.

Hal yang kurang dari novel ini menurutku adalah karakter Ibel yang kurang kuat dan tergali dengan baik. Memang dia adalah bad boy, playboy, suka gonta-ganti wanita. Tapi, alasan mengapa dia berbuat seperti itu dan kenapa dia harus berubah demi Andara kurang kuat. Lagipula, kasus dengan Kristal juga sekadar tempelan. Padahal kasus Ibel yang dituduh menghamili Kristal sangat berpotensi untuk menggali karakter Ibel. Dari kasus ini seharusnya bias terlihat dan tergambarkan karakter Ibel, bagaimana dia ‘harus’ menghadapi kasus seperti ini. Kristal pun seharusnya tergali karakternya walaupun sedikit, karena dia tokoh yng cukup penting dalam pembentukan karakter Ibel.
Penyelesaian kasus mereka pun terkesan digampangkan dan berlalu begitu saja. Sayang sekali.
Interaksi antara ketiga karakter utama, saudara Andara, dan sahabatnya berlangsung bagus dan natural. Suka.

Sebagai penutup aku ungkapkan bahwa romance adalah salah satu genre yang aku sukai. Aku senang menonton film romance – terutama romcom, membaca novel romance pun demikian. Walaupun kalau ke toko buku, romance bukan pilihan utama buku yang aku beli, namun aku selalu menikmati setiap cerita yang dituturkan. Membaca romance itu ibarat makanan ringan yang enak. Kan capek juga kalau baca bacaan yang berat melulu, ya refreshing dikit lah.

Hadiah Giveaway *yey* di ttd Mb. Viera Fitani langsung
Nah, begitu pula dengan Railway in Love ini. Memang tidak ada hal yang begitu special dan baru untuk ditawarkan, namun aku cukup menikmati novel ini dan beberapa kali dibuat tertawa. Sebuah bacaan ringan untuk bersantai. Itu sudah lebih dari cukup menurutku.

Good luck buat mbak Viera Fitani untuk karya selanjutnya.


Nilai: 3,2/5