12 Januari 2016

#CumaNgomong “Aku, Kamu, dan Mereka Semua Baik-Baik Saja”


aku baik-baik saja


Cerita seorang teman

Dahulu ada teman kuliahnya yang berasal dari daerah Timur berangkat kuliah dengan mengayuh sepeda. Jarak antara kampus dan kost-nya sekitar 1 jam bersepeda. Jadi, lebih dari satu jam sebelum waktu perkuliahan dimulai, dia harus sudah berangkat dari kostnya. Mandi dan beres-beres lainnya di lakukan di kampus.
Siang pun gak masalah, walaupun panas terik dan kondisi jalanan yang ramai dengan kendaraan. Panas, berdebu, penuh asap. Teman yang lain merasa kasihan melihatnya. Sungguh berat perjuangannya untuk kuliah. Setidaknya itu yang dipikirkan oleh teman-temannya yang lain. Tapi, ketika temannya mengomentari hal tersebut, dia mengatakan bahwa “ini hal yang sudah biasa baginya”.

Istriku pernah bercerita tentang ibu-ibu tetangga yang punya 2 anak kecil yang umurnya masih di bawah 2 tahun. Sendiri mengurusnya anaknya dan tidak bekerja. Kadang membuat kue untuk dijual sama ibu-ibu kompleks. Uang bulanan dari suami yang kalau dari sudut pandang kami tidak cukup untuk sebulan. Apalagi biaya untuk 2 orang anak saja mungkin tidak cukup hanya dengan uang sejumlah tersebut.

Tapi, kami tidak tahu kondisi sebenarnya, siapa tau kehidupan mereka baik-baik saja dan mereka menjalaninya dengan hati ikhlas

Masih banyak cerita-cerita lainnya. Tapi cukup dua saja sebagai gambaran.

--

Ceritaku sendiri adalah…

Dulu, sampai tahun 2014 aku hanya punya handphone yang cuma bisa buat nelpon dan sms. Teman-temanku, bahkan istriku menanyaiku apa gak tertarik atau gak pengen punya HP canggih yang bisa internetan, video call, game dan sebagainya?
Aku jawab, “ada keinginan sih, tapi ini juga cukup kok.”

Aku juga senang berjalan kaki, naik kendaraaan umum. Temanku dan juga istriku sempat berkomentar apa aku gak pengen beli motor?

Aku jawab, pengen sih ada. Tapi, belum terlalu butuh banget sih. Masih bisa jalan kaki, naik angkot atau kendaraan umum lainnya. Lagipula agak males juga sih kalau jalanan terlalu ramai, kalau panas, kalau hujan, dsb. Kalau naik angkot atau kendaraan umum kan bisa tinggal duduk santai. Kalau mengantuk tinggal duduk mengangguk-angguk. Hahaha..

Dari hal inilah aku belajar bahwa apa yang mungkin terlihat oleh orang lain atau diri kita sendiri bukan menggambarkan keadaan sebenarnya. Orang yang terlihat kasihan, menyedihkan, menderita belum tentu seperti itu sebenarnya. Mungkin kita melihatnya berdasarkan keadaan yang (mungkin) kita rasakan kalau mengalami hal tersebut. Padahal kalau ditanya, mereka baik-baik saja, tidak masalah.

Lagipula pada dasarnya mnanusia itu tidak mau dikasihani kok. Tapi, bukan berarti hal ini mengharuskan kita untuk tidak berempati atau bersimpati terhadap orang lain. Empati dan simpati itu tetap penting karena kita adalah manusia yang memiliki hati dan perasaan, bukan benda mati. Yang perlu kita perhatikan adalah pengendalian diri untuk mengomentari atau terlalu banyak ikut campur dalam kehidupan orang lain.

Kalau melihat keadaan orang lain yang tidak sesuai dengan ‘standar’ kita, cobalah untuk mengendalikan diri dari komentar-komentar yang sekiranya tidak bermanfaat. Kalau kita rasa apa yang kita katakan kepada orang lain efeknya tidak baik, lebih baik kita memilih diam. Pernah kan membaca artikel di media social tentang ‘basa basi’ yang kita anggap sepele namun berakibat sangat besar bagi orang lain? Ketika ada yang mengometari rumah yang sempit, tidak pernah dikasi hadiah, atau hal lainnya justru menimbulkan benih-benih konflik dalam kehidupan orang lain. Mungkin tanpa kita sadari, kondisi orang lain di sekitar kita baik-baik saja, namun ucapan kitalah yang perlahan-lahan membuat kehidupan mereka ‘tidak baik-baik saja’. Semoga kita bisa menghindarkan diri dari berbuat demikian.

Oleh karena itu, aku berusaha untuk menahan diri untuk tidak terlalu mengomentari atau mengasihani orang lain yang terlihat kesusahan (menurut pandangan kita) karena mungkin saja mereka merasa bahagia dan baik-baik saja (tidak ada masalah) dengan kondisi mereka itu.
Kalau memang menurut pandangan kita orang lain ‘terlihat’ kasihan, maka cukuplah simpati, empati mu kau wujudkan dengan berdoa untuk mereka semoga mereka, berkecukupan,  bahagia dan memang baik-baik saja.

--

Eh, ada sekadar tips nih. Mudah-mudahan bermanfaat.
Ketika kita ada masalah, apapun itu, tetaplah berusaha sebaik mungkin dan berdoa. Katakanlah pada diri sendiri dan yakinkan dirimu bahwa kamu memang baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ucapkan selalu “aku baik-baik saja” untuk menguatkan diri, memberikan efek positif kepada diri sendiri dan karena mungkin saja kita memang baik-baik saja.

***

Sudah lama absen menuangkan isi pikiran dalam sebuah tulisan. Sebenarnya ada beberapa pemikiran hasil merenung dan melamun (sepanjang perjalanan naik angkutan umum atau dalam perjalan menuju dan pulang dari kantor) namun lebih banyak berserakan dalam pikiran. Hasil lamunan itu belum disusun ke dalam kata-kata, alasannya sih klise. MALAS.

Kalau kondisi seperti aku kadang berkhayal dengan sekadar ngomong, apa yang aku ucapkan, bisa langsung menjadi sebuah tulisan yang nanti tinggal diedit dan dirapikan saja (ah! Maumu, Bie)

Selamat membaca tulisan ini. Mohon maaf apabila ada kata-kata yang keliru dan tentu saja aku berharap ada manfaat yang diperoleh dari tulisanku ini.

Terima kasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar