5 Januari 2016

[Book Review] Railway in Love - Viera Fitani



 
Railway in Love 

Penulis : Viera Fitani 
Editor : Afrianty P. Pardede
Penerbit PT Elex Media Komputindo 
Cetakan Pertama November 2015 
ISBN 9786020275413 
Tebal vi + 237 halaman

Novel ini merupakan hadiah giveaway dari rangkain blog tour + giveaway Railway in Love’ karya Viera Fitani di blognya Atria Sartika. Kebetulan aku menang giveaway tersebut dan sebagai hadiahnya mendapatkan satu eksemplar novel Railway in Love ini (ditambah keychain Railway in Love dan sebotol sambal Bu Sandra – yang ternyata enak).

Wah, senang banget dong menang giveaway. Hore. Hore. Hore..

Nah, pemenang giveaway ini ditentukan berdasarkan jawaban dari pertanyaan yang diajukan oleh Atria di blognya. Pertanyaan untuk mendapatkan satu eksemplar novel ini adalah :

Apa pendapatmu tentang orang yang gagal move on?”

Wah, yang terlintas di benakku saat itu adalah pertanyaan ini menarik sekali karena kebetulan aku punya jawaban yang (menurutku) menarik juga. Langsung dong aku ikutan jawab dan syukurlah terpilih jadi pemenang.

Btw, ini nih jawabanku tentang orang yang gagal move on (aku edit sedikit agar kata-katanya lebih mudah dipahami dan lebih teratur)


Pendapat mengenai orang yang gagal move on?



Aku adalah orang yang sering naik angkutan umum, termasuk angkot. Menurutku, orang yang gagal move on itu sering aku analogikan dengan sopir angkot dan penumpangnya.


Ada sopir angkot yang begitu ngotot menunggu penumpang yang jelas-jelas gak mau naik ke dalam angkotnya, walaupun sudah ditolak sampai beberapa kali pun si sopir masih nungguin penumpang tersebut. 
Ada pula sopir angkot yang ngetem sangat lama untuk menunggu penumpang yang tidak jelas ada atau tidak. 
Ada juga sopir angkot yang rela mundur bekali-kali melihat calon penumpang yang masih sangat jauh dan belum tentu mau naik angkotnya. 

Aku sering menganggap orang yang gagal move on mirip dengan sopir seperti yang aku jelaskan di atas. Padahal perjalanan dia mencari penumpang masih panjang. Untuk apa ngetem lama, menunggu penumpang yang jelas-jelas sudah turun dan berharap naik lagi, tidak mau menyerah dengan calon penumpang yang gak mau naik angkotnya? Jelas sekali masih panjang jalan yang akan dia lalui. Masih banyak calon penumpang lainnya di depan, di seberang jalan, atau di ujung jalan yang lain yang mungkin saja lebih banyak dan lebih potensial. 

Si sopir melewatkan kesempatan itu, bahkan mungkin tidak memikirkannya. Dia hanya memikirkan penumpang yang mau dia angkut walaupun ditolak, dan seolah-olah membiarkan begitu banyak kesempatan (penumpang lain) di depannya. Ah, mungkin dia tidak peduli.  

Orang yang gagal move on itu orang yang rugi. Kalau dia mau berpikir, banyak hal yang dia lewatkan, rugi banyak, dan membiarkan kesempatan lainnya dirampas oleh orang lain. Dia tidak tahu banyak hal indah dan kesempatan lain di depannya, yang menantinya, yang bahkan mungkin saja jauh lebih indah. Tapi, dia tidak melihat hal tersebut karena orang yang gagal move-on, PIKIRAN, HATI, dan PANDANGAN-nya selalu berada di masa lalu, enggan menengok ke masa depan, memenjarakan dirinya tanpa mau menoleh ke depan.

Seperti ke-egoisan sopir angkot di atas, ada penumpang lain yang gelisah karena harus menunggu sangat lama. Begitu pula orang yang gagal move-on. Sebenarnya dalam dirinya terdapat kegelisahan yang banyak, tapi mungkin dia tidak menyadarinya. Atau mungkin dia tahu, tapi tidak mau peduli yang penting dia menuruti keegoisannya.

Itulah pendapatku tentang orang yang gagal move-on.

--

Wah, panjang juga ya jawabanku. Hehehe..
Inspirasinya sih gara-gara sering kesal sama sopir angkot yang bertingkah seperti itu, apalagi kalau sedang buru-buru. Daripada dongkol, aku jadi lebih sering melamun dan dapat inspirasi.

Lalu, bagaimana pendapatku tentang novel Railway in Love ini?

“Aku pengennya perjalanan cintaku itu kayak rel kereta api, meskipun banyak belokan, tapi nggak pernah putus sampai tujuan...”
-          Andara Riana Rasyid

Quote itu adalah kutipan dari novel ini yang menggambarkan judul dari novel Railway in Love ini tentu saja (ya iyalaaah). 

Nah, Desember kemarin aku membaca novel ini dan langsung habis hanya dalam waktu satu malam saja.
Wah, cepat juga ya?
Alasan simple-nya sih karena buku ini ringan dibaca, temanya ringan (romcom), bahasanya ngalir lugas, dan lucu. Jadi seru aja bacanya dan tanpa sadar sudah habis dalam semalam. Hehehe..

Railway in Love ini bercerita tentang seorang wanita yang berprofesi sebagai pengacara muda bernama Andara Riana Rasyid.  Andara punya bos bernama Harsya Brataman. Nah, bos Andara ini orangnya ganteng, kalem, keren, pokoknya idola para wanita deh. Apalagi di kantor juga banyak yang suka sama Harsya dan begitu pula dengan Andara.
Rasa suka Andara terhadap Harsya, bosnya, rupanya bukanlah cinta bertepuk sebelah tangan. Harsya juga menyukai Andara, namun ternyata Harsya masih berusaha untuk lepas dari masa lalunya a.k.a berusaha move on dari mantan tunangannya yang meninggalkannya hanya karena ingin melanjutkan studi ke luar negeri.

Secara kebetulan Andara dimintai tolong oleh Harsya untuk menangani kasus sahabat baiknya, Ribeldi Bimantara (Ibel). Ibel seorang yang kaya raya, keren, idola para wanita, namun juga playboy abis. Ibel tersangkut masalah karena tuntutan dari seorang wanita yang sedang hamil dan mengaku bahwa anak tersbut adalah anak Ibel.
Andara pun menangani kasus tersebut, namun sepertinya menyesal telah menerima kasus tersebut karena Ibel ternyata bukan cuma playboy, namun ditambah dengan sifat angkuh, sombong, mesum, menyebalkan.

Masalah pun mulai timbul ketika Harsya dan Andara akhirnya semakin dekat dan jadian. Ibel semakin akrab dan mulai menunjukkan kepedulian terhadap Andara. Ibel pun begitu mempercayai Andara untuk menyelesaikan kasusnya.

Di saat Andara tengah merasakan kebahagiaan bersama Harsya, sang masa lalu dari kehidupan Harsya pun muncul. Sang mantan tunangan yang jauh lebih sempurna dari Andara kembali membuat Harsya bingung untuk menentukan sikap.
Andara tentu saja tidak mau digantung oleh Harsya, apalagi Harsya semakin menunjukkan kepedulian terhadap mantan tunangannya. Harsya seperti seorang laki-laki yang ingin bersama Andara, namun tidak bisa melupakan masa lalunya.

Andara tentu sakit hati dong diperlakukan seperti ini. Nah, di saat maslah inilah Ibel justru semakin peduli terhadap Andara. Andara pun merasa semakin nyaman bersama Ibel. Andara merasa ada yang aneh dengan dirinya. Andara pernah bersumpah untuk tidak akan tergoda dan jatuh cinta kepada lelaki playboy, mesum, dan menyebalkan seperti Ibel. Namun, hati tidak bisa dibohongi, semakin dia merasa sakit hati karena Harsya, semakin Ibel membuatnya nyaman, semakin pula dia merasakan sesuatu perasaan cinta kepada Ibel.

Lalu, bagaimana akhir kisah ini? Baca sendiri saja deh ya. Hehehe...

Railway in Love ini dari segi cerita sih tergolong standar ya. Tidak ada hal yang baru yang ditawarkan. Cewek yang jatuh cinta dengan playboy yang menyebalkan dan angkuh – musuhan dulu kemudian suka – walaupun sebelumnya suka dengan cowok yang dia idam-idamkan karena terlihat sebagai cowok baik-baik. Jangankan novel romcom, ftv aja banyak yang alurnya seperti ini. Tapi ya gak masalah asal ceritanya bagus dan seru.

Membaca setengah, ah, seperempat bagian bukunya saja deh, sudah psti ketahuan akhir ceritanya seperti apa. Namun, bukan itu masalah utama yang menentukan bagus tidaknya sebuah cerita. Walaupun tema yang ditawarkan biasa, namun apabila disampaikan dengan menarik dan bahasa yang lugas – mengalir begitu saja – akan tetap menarik.

Aku suka cara penceritaan novel ini, mbak Viera Fitani mampu meramu percakapan yang kocak. Banyak obrolan dan kalimat yang menurutku lucu dan menghentak begitu saja. Karena beberapa kali aku tertawa spontan dan cukup keras ketika membaca Railway in Love ini.

Hal yang kurang dari novel ini menurutku adalah karakter Ibel yang kurang kuat dan tergali dengan baik. Memang dia adalah bad boy, playboy, suka gonta-ganti wanita. Tapi, alasan mengapa dia berbuat seperti itu dan kenapa dia harus berubah demi Andara kurang kuat. Lagipula, kasus dengan Kristal juga sekadar tempelan. Padahal kasus Ibel yang dituduh menghamili Kristal sangat berpotensi untuk menggali karakter Ibel. Dari kasus ini seharusnya bias terlihat dan tergambarkan karakter Ibel, bagaimana dia ‘harus’ menghadapi kasus seperti ini. Kristal pun seharusnya tergali karakternya walaupun sedikit, karena dia tokoh yng cukup penting dalam pembentukan karakter Ibel.
Penyelesaian kasus mereka pun terkesan digampangkan dan berlalu begitu saja. Sayang sekali.
Interaksi antara ketiga karakter utama, saudara Andara, dan sahabatnya berlangsung bagus dan natural. Suka.

Sebagai penutup aku ungkapkan bahwa romance adalah salah satu genre yang aku sukai. Aku senang menonton film romance – terutama romcom, membaca novel romance pun demikian. Walaupun kalau ke toko buku, romance bukan pilihan utama buku yang aku beli, namun aku selalu menikmati setiap cerita yang dituturkan. Membaca romance itu ibarat makanan ringan yang enak. Kan capek juga kalau baca bacaan yang berat melulu, ya refreshing dikit lah.

Hadiah Giveaway *yey* di ttd Mb. Viera Fitani langsung
Nah, begitu pula dengan Railway in Love ini. Memang tidak ada hal yang begitu special dan baru untuk ditawarkan, namun aku cukup menikmati novel ini dan beberapa kali dibuat tertawa. Sebuah bacaan ringan untuk bersantai. Itu sudah lebih dari cukup menurutku.

Good luck buat mbak Viera Fitani untuk karya selanjutnya.


Nilai: 3,2/5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar