9 Januari 2016

[Book Review] The Night Gardener - Jonathan Auxier


 
THE NIGHT GARDENER 

Judul asli : The Night Gardener 
Penulis : Jonathan Auxier 
Alih Bahasa : Rini Nurul Badariah 
Penyunting : Yenni Saputri 
Desain dan Ilustrasi Sampul : Arrahman Rendi 
Desain Isi : Reza 
Tata letak : Tri 
Cetakan Pertama Mei 2015 
Penerbit Metamind, Creative Imprint of Tiga Serangkai 
Tebal x + 382 halaman 

ISBN 978-602-72510-1-4


“Dongeng jadi buruk jika semua ada jawabannya.” - Molly. Hal. 370

Berawal dari Goodreads aku tertarik untuk membaca buku The Night Gardener ini, alasan pertama adalah karena tertarik melihat cover –nya. Cover buku ini (menurutku) sangat menarik, keren, dan bikin penasaran. Cover The Night Gardener versi Indonesia ini sangat berbeda dengan beberapa novel fantasi yang beredar belakangan ini yang menurut pendapatku cover-nya kurang menarik, bahkan beberapa (maaf) terlihat norak. Seringkali ketika membeli buku, hal yang pertama untuk dipertimbangkan adalah cover yang menarik dalam sekali lihat.

Beruntung saat ke toko buku aku menemukan buku ini. Dapatnya pun setelah meneliti rak buku satu per satu berulang-ulang. Tanpa pikir panjang aku langsung memboyongnya ke kasir.

Setelah selesai aku baca, pendapatku adalah SUKA cerita The Night Gardener ini. Sudah lama rasanya tidak membaca dongeng seperti ini – rasanya seperti membaca dongen klasik – dan rasanya menyenangkan.


*mungkin tulisan di bawah ini mengandung spoiler – karena cukup banyak bagian yang aku ceritakan – jadi kalau tidak suka spoiler mungkin bisa menghindari membaca lebih jauh* 

 
The Night Gardener bercerita tentang dua bersaudara, Molly dan Kip, yang mencari kediaman keluarga Windsor. Mereka mencari keluarga Windsor untuk bekerja di sana dan tempat itu harus mereka temukan agar mereka tidak tinggal di panti asuhan. Orang tua mereka tidak diketahui keberadaannya karena mereka terpisah setelah mengungsi dari Irlandia. Menurut yang Molly ceritakan kepada Kip bahwa orang tua mereka sedang berpetualang di lautan.

Beberapai hari telah terlewati dan mereka masih melakukan perjalanan untuk menemukan lokasi Watsu Windsor. Ketika melewati area pertanian, setiap orang yang mereka temui di sepanjang perjalanan menceritakan hal-hal yang tidak menyenangkan tentang ‘hutan selatan’ mengatakan bahwa bahwa pergi ke kediaman Windsor sama saja dengan menggiring kawanan ternak ke kandang singa.

Sampai akhirnya mereka bertemu dengan seorang nenek tua - sang juru cerita di persimpangan - Hester Kettle, yang menunjukkan arah menuju kediaman keluarga Windsor. Informasi dari Hester pun bukan mereka terima begitu saja dengan gratis, namun dengan imbalan Molly akan memberinya cerita tentang Watsu Windsor setiap minggu. Hester Kettle orang yang kelihatan aneh.

Ketika sampai di kediaman Windsor, aura menyeramkan telah terasa. Hari-hari penuh keanehan dilalui Molly dan Kip bahkan sejak hari pertama mereka di rumah tersebut. Bahaya bahkan mengintai mereka tanpa mereka sadari. Apalagi dengan keberadaan sebuah pohon besar, yang sangat besar, dan tampak menyeramkan menaungi hampir seluruh rumah. Sulur-sulurnya merambati dinding dan atap. Berdiri di bawahnya saja membuat merinding.

Keluarga Windsor yang terdiri dari Bertrand – Tuan Windsor, Constance – sang istri, dan kedua anak mereka Alistair dan Penny. Seluruh anggota keluarga tersebut berkulit sangat pucat, rambut hitam, seperti mayat hidup. Hampir setiap malam seluruh penghuni rumah dihantui oleh mimpi buruk yang hidup seperti nyata, tak terkecuali Molly dan Kip. Setiap pagi di sekitar rumah terdapat jejak-jejak kaki berlumpur yang entah milik siapa. Hingga suatu hari ia melihat seorang lelaki misterius yang memasuki rumah dimalam hari dan memasuki setiap kamar, membawa ember.

Setelah beberapa lama Molly mengetahui rahasia keluaga Windsor tentang sebuah ruangan berpintu hijau yang ditutupi oleh nyonya Windsor sejak Molly melihat pintu tersbut. Ternyata dalam ruangan tersebut terdapat sebuah lubang yang merupakan bagian dari pohon tersebut. Ajaibnya adalah pohon tersebut dapat mengabulkan permintaan terdalam seseorang, bahkan keinginan yang tak pernah terucap.

Tuan Windsor selalu mendapatkan uang yang selalu dia inginkan. Nyonya Windsor mendapatkan cincin hadiah dari tuan Windsor yang sangat berharga baginya. Alistair mendapatkan gula-gula yang sangat banyak akibat memendam keinginan sewaktu kecil. Sedangkan Penny mendapatkan buku cerita yang bercerita tentang Penny dan segala dongengnya.
Molly, yang masuk secara tidak sengaja, bahkan mendapatkan apa yang selama ini dia inginkan, yaitu surat dari kedua orang tuanya. Yang paling mengerikan, pelan-pelan dan tanpa disadari Molly berubah seperti keluarga Windsor, dingin dan pucat seperti mayat.

"Cerita membantu orang menghadapi dunia, meskipun mereka takut. Sementara dusta berbuat sebaliknya. Dusta membantu bersembunyi." Hal.300

Molly dan Kip sebenarnya menyadari segala keanehan di temppat tersebut sejak awal, namun mereka tidak bisa pergi begitu saja karena ada sesuatu yang membuat mereka tidak bisa pergi.
Hester Kettle pun menceritakan bahwa ada sebuah legenda tentang pohon tersebut, tentang seorang tukang kebun yang tetap memelihara pohon besar tersebut agar tetap hidup dan memberikan keinginannya. Namun, ternyata setiap keinginan yang terkabul, pohon tersebut meminta imbalan bagian dari jiwa orang-orang yang memeiliki keinginan tersebut. Sehingga, walaupun mendapatkan apa yang mereka inginkan namun ada ketergantungan akan hal tersbut. Bahkan tanpa mereka sadari mengorbankan nyawa sendiri.

"Kupikir itu bukan hidup. Mengabulkan permintaanmu dengan cara menciptakan ketergantungan. Tampaknya, itulah perbedaan keinginan dan kebutuhan."Kip. hal. 294

Apa yang sebenarnya terjadi di Wastu Windsor? Apakah kisah si Pekebun Malam itu memang benar? Bagaimanakah Molly dan Kip menghadapi semua kengerian yang perlahan-lahan melibatkan mereka semakin dalam? Bisakah mereka terbebas?
Baca sendiri deh kelanjutan ceritanya. Bahkan review-ku di atas menceritakan cukup banyak bagian dari novel ini.

Cerita The Night Gardener ini mengalir begitu lancar. Kisahnya dituturkan dengan bagus, tidak perlu berpikir panjang. Cukup dengan membaca kisahnya, maka perlahan-lahan akan terasa keseruan dan kengerian yang diciptakannya. Ya, buku ini cukup membuatku merasa deg-degan, penasaran, dan membayangkan si Pekebun Malam dengan rasa takut yang ditimbulkannya. Misterinya terbangun dengan bagus. Suka. Walaupun mungkin cerita ini ditujukan uuntuk anak-anak dan remaja, namun membacanya sungguh menyenangkan. Sudah lama merindukan dongeng seperti ini, jadi begitu mendapatkannya aku tersenyum puas ketika selesai membaca kisah The Night Gardener ini.

Oia, bagian akhir dari buku ini menceritakan tentang sang pengarang – Jonathan Auxier – yang menyelesaikan cerita ini dalam jangka waktu sembilan tahun. Banyak cerita yang menginspirasinya menulis The Night Gardener ini. Bahkan sejarah tentang kelaparan di Irlandia yang menyebabkan banyak warga yang mengungsi untuk mencari makanan dan pekerjaan, seperti yang dialami keluarga Molly. Yah, kalau membaca novel ini rasanya pantaslah kalau dikerjakan selama 9 tahun. Keren sih.

"Cerita tidak perlu berbuat apapun, hanya mewujud." - Hester Kettle. Hal. 230

*Banyak kutipan bagus dalam cerita ini. Beberapa sudah aku quote di atas.

Nilai : 4,5/5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar