31 Januari 2011

episode Menghibur Diri Sendiri


Menghibur Diri Sendiri

Namanya juga manusia yang dianugerahi emosi, tentu saja berbagai macam perasaan dan suasana hati telah dirasakan.

Mulai dari hal yang membuat hatinya merasa lebih ringan, entah itu yang bernama senang, gembira, riang, ceria, senyum, tertawa atau apalah itu kata lainnya yang menggambarkan bahwa dia sedang senang (jangan bingung bacanya kata-katanya emang rancu. hahaha)
Merasakan sedih, atau menangis, cemberut, marah, atau apapun istilahnya yang membuat beban di hatinya terasa berat.

Manusia atau katakanlah seseorang, sering melakukan sesuatu untuk meringankan sesuatu terhadap dirinya. Hmmm... dalam hal ini mungkin saya akan menegaskan kepada perihal ‘meringankan beban di hati’.
Nah, suatu ini bernama “Menghibur Diri Sendiri”

Menurut pendapat saya seperti ini:
 
Seringkali manusia (atau katakanlah seseorang, apalagi saya sendiri – saya mengakuinya) sering menggeneralisasi sesuatu yang berhubungan dengan dirinya baik baik secara langsung maupun tidak langsung.
Memaklumi dirinya sendiri yang berbuat keliru.
Menerima apa adanya perlakuan atau perkataan orang lain terhadapnya.
Membiarkan dirinya melakukan apa saja yang ingin dia lakukan, atau berpikir positif terhadap segala sesuatu.
Bahkan bisa saja melakukan sesuatu yang sangat mengandung resiko, dan dia sendiri tahu akan hal tersebut. Melakukan sesuatu bisa juga tanpa piker panjang.

Semua hal tersebut pada dasarnya dilakukan untuk menghibur diri sendiri agar tidak larut dalam kesedihan, kekecewaan atau masalah yang lebih dalam.
Atau bisa juga dia melakukan hal tersebut untuk mengeluarkan emosi yang selama ini dia pendam, yang penting apa yang memberatkannya dilepaskan semua.

Hal ini baik kok, asal kita tahu batasan antara yang benar dan salah, pahala dan dosa. Lagipula, selain melatih kesabaran diri sendiri yang tentu saja berdampak positif terhadap diri pribadi, hal ini juga baik untuk hubungan dan lingkungan yang sehat bersama orang lain.

Cara menghibur diri sendiri itu tentu saja berbeda masing-masing orang. Tergantung pribadinya seperti apa dan juga kondisi yang sedang dialaminya.
Seperti yang saya lakukan saat menulis tulisan ini, yaitu mendengarkan musik dengan volume keras. Selain karena kebiasaan, hal seperti ini aku lakukan karena ingin menghibur diri sendiri saja. Hahahahahaa..

**
Jangan bingung. mungkin saja saya mengatakan hal ini untuk menghibur diri sendiri dan mungkin pula saya sedang berusaha untuk melakukannya.

Note : Baca saja beberapa artikel di koran atau internet, banyak kok yang membahas mengenai menghibur diri sendiri. Karena mungkin tulisan ini tidak banyak memberikan hal yang ingin kau ketahui tentang menghibur diri. Hehehe…

29 Januari 2011

Sebuah Keputusan untuk Kebahagiaan


Sebuah status Facebook dari seorang kawan hari ini membuatku tergerak untuk menulis tulisan ini.
Statusnya mengatakan, “Kapan Ku Bahagia?”
Ada pula status yang serupa beberapa hari yang lalu.

Membaca hal ini, aku teringat suatu hal yang ditulis oleh Mario Teguh tentang kebahagiaan.
Berikut ini adalah kutipan yang aku ambil dari perkataan Mario Teguh (Cuma mengambil beberapa bagian):

---
Kebahagiaan adalah hak. Dan seperti semua hak, kitalah yang diharapkan datang menjemputnya. Bersama semua hak, ada tanggung-jawab. Dan tanggung-jawab bagi mereka yang dibahagiakan, adalah membahagiakan saudaranya.

Kebahagiaan adalah masalah keputusan.
Hidup yang berbahagia adalah untaian dari keputusan-keputusan untuk berbahagia, dari satu waktu ke waktu berikutnya.
Maka putuskanlah untuk berbahagia, karena dengannya semua pikiran, perasaan, dan tindakan Anda akan berfokus pada yang membahagiakan.

Tetapi, seperti semua keputusan – ia sering dikerdilkan oleh tidak cukupnya ketegasan.
Keputusan yang berdampak adalah keputusan yang tegas.

Dan ketegasan untuk berbahagia datang dari keikhlasan untuk berpihak kepada yang membahagiakan.
Maka tegaslah untuk memutuskan bahwa:
Waktu terbaik untuk berbahagia adalah sekarang.
Tempat terbaik untuk berbahagia adalah di sini.
Dan cara terbaik untuk berbahagia adalah membahagiakan orang lain.

Tujuan hidup kita bukanlah untuk menjadi berbahagia.
Tujuan hidup kita adalah untuk menjadi sebab bagi kebahagiaan,
bagi diri sendiri dan bagi sebanyak mungkin orang lain.
---

Sebuah perkataan yang sangat indah menurutku. Aku sungguh menyukai kata-kata itu dan menurutku kata-kata itu sangatlah tepat.

Kebahagiaan itu adalah sebuah Keputusan

Bagaimana bukan merupakan suatu keputusan jika kau mau memikirkan sejenak bahwa benar adanya ungkapan yang mengatakan, “kamu adalah apa yang kamu pikirkan tentang dirimu sendiri”

Pernahkah kamu menyadari bahwa ketika kamu memulai suatu hari dan pada hari itu kamu merasa sedang tidak bersemangat dan merasa kesal (tidak nyaman) terhadap sesuatu, bisa mengakibatkan seharian terasa menyebalkan. Bahwa hari itu adalah hari yang buruk.
Atau jika kamu memulai hari (sesuatu) dengan penuh semangat, merasa bahagia, dan seluruh hari itu akan terasa indah.

Sebenarnya pada saat itu tanpa sadar kita elah membuat suatu keputusan apakah kita akan bahagia sepanjang hari atau akan sedih (kecewa) sepanjang hari. Awal mula dan perasaanmu-lah yang secara tidak kau sadari perlahan-lahan membentuk akan jadi apa harimu tersebut.

Apakah kamu bahagia hari ini?

Aku juga pernah mendengar atau membaca suatu kalimat yang mengatakan bahwa seseorang itu jika bertemu dengan keluarga, sahabat atau siapa saja paling sering menanyakan kabar.
“Apa kabar?”
“Hei, gimana kabarmu?”
“Eh, bagaimana kabar si anu?”
Namun, sangat jarang untuk menanyakan, “Apakah kamu bahagia hari ini?”

Dan aku sendiri mengakui hal itu. Pertanyaan itu sangat jarang ditanyakan kepada orang lain. Dan menanyakan hal itu bukan berarti kita harus tahu bagaimana yang sebenarnya.

Begitu aku coba menanyakan pertanyaan “Apakah kamu bahagia hari ini?” kepada teman-temanku, kebanyakan dari mereka tidak bisa langsung menjawab pertanyaan ini.
Ada yang malah balik bertanya, “emang kenapa?” atau malah bingung untuk menjawab karena tidak pernah benar-benar memikirkan atau merasakan apakah pada saat itu dia sedang bahagia atau tidak.
Padahal pertanyaan ini sederhana, tetapi bagiku sendiri pun tidak bisa langsung kujawab begitu pertanyaan tersebut tiba-tiba ditanyakan.

Ketika aku ditanya balik, aku pun kadang berpikir “apakah aku benar-benar bahagia hari ini?” atau kalau memang tidak, maka aku akan menjawab bahwa aku tidak begitu bahagia hari itu. Hehehe...

Cobalah tanyakan kepada dirimu sendiri apakah kamu bahagia. Cobalah juga untuk menanyakan kepada kerabatmu apakah mereka bahagia. Kemudian lihatlah reaksi mereka dan simaklah jawaban mereka akan seperti apa.

Keputusan Terhadap Diri Sendiri

Hei, tentunya sebagai manusia kita terkadang mengeluh terhadap sesuatu. Cara mengungkapkannya pun beragam. Ada yang langsung mengatakannya, ada pula yang memendamnya.

Ada pula yang begitu menampakkan rasa kesal atau keditakbahagiaannya kepada orang lain dengan berbagai cara. Tetapi, saranku adalah jangan terlalu sering menunjukkan rasa amarah, kesal, atau bahkan penderitaanmu kepada orang lain.

Pada dasarnya manusia itu sering mengeluh, tetapi sering tidak suka melihat orang yang mengeluh.
Jangan tunjukkan dirimu seolah-olah kamulah orang yang paling menderita di dunia ini. Bukannya kan mendapat simpati, malah orang lain bisa saja mencemoohmu.

Setiap orang itu punya masalah masing-masing. Yakinlah itu. Yang membedakan masing-masing orang adalah bagaimana mereka mengelola, menyelesaikan masalah mereka sendiri, dan bagaimana mereka bertahan terhadapa masalah tersebut.

Makanya, berhentilah banyak mengeluh!! (karena aku tidak suka melihat orang yang banyak mengeluh, apalagi terlihat ingin menunjukkan bahwa dialah yang paling merasa. Aku akui aku kadang-kadang mengeluh, namun karena aku tidak suka melihat orang mengelauh, aku sadar bahwa orang lain mungkin juga gak suka melihatku banyak mengeluh. Oleh karena itu, aku usahakan untuk tidak sering mengeluh di hadapan orang lain).

Pernah aku membaca status teman seperti ini:

bukan karena hari ini INDAH kita BAHAGIA
tapi karena kita BAHAGIA hari ini menjadi INDAH
bukan karena tidak ada rintangan kita menjadi OPTIMIS
tapi karena OPTIMIS rintangan menjadi tidak ada
bukan karena MUDAH kita YAKIN bisa
...tapi karena kita YAKIN bisa semuanya menjadi MUDAH
bukan karena semua BAIK kita TERSENYUM
tapi karena TERSENYUM semua jadi BAIK :)

Kata-kata tersebut, jujur, aku suka. Itulah yang sebenarnya. Bahwa diri sendiri-lah yang menentukan sesuatu yang akan terjadi kepada diri kita sendiri.

Aku menyukai kata-kata Mario Teguh. Aku tegaskan sekali lagi. Dan kadang aku mengingat dan menerapkannya dalam keseharianku, apalagi jika sedang merasa tidak bahagia atau berpotensi untuk tidak mood dan akan kehilangan semangat.

Jika kondisi itu sudah mulai aku rasakan, maka aku akan mengatakan kepada diri sendiri, “Bahagia itu adalah sebuah keputusan. Aku ingin bahagia, oleh karena itu aku putuskan hari ini aku akan bahagia!”
Terus terang, dengan mengatakan hal itu kepada diriku sendiri, perasaanku tiba-tiba terasa lebih ringan dan aku pun tersenyum. Dan hal itu membuat waktu selanjutkan terasa lebih menyenangkan. Beban terasa berkurang dan suasana hati pun semakin membaik. Kalau aku memang ingin bahagia, maka aku akan memutuskan seperti itu.

Makanya, berhentilah mengeluh dan berkeluh kesah. Berhenti pula menanyakan ‘kapan aku bahagia?’ atau ‘mengapa aku tidak bahagia?’. Tapi, putuskanlah untuk bahagia, kapanpun dan dalam kondisi apapun dirimu.

Mari kita menjadi pribadi yang BAHAGIA...

salam,
M. Sulhan Habibi

si Phone Book, oh, si Buku Telepon..


Aku punya kebiasaan tidak pernah mengurusi catatan nomor telepon (phone book) yang ada di HP-ku. Sekali tercatat disitu, maka bisa jadi akan selamanya tersimpan di situ atau sampai HP-nya rusak atau memang aku yang menghapusnya.

Tapi aku katakan sekali lagi bahwa aku jarang mengurus phonebook di HP-ku sampai suatu hari adikku menginginkan HP-ku dan melihat isi phonebook di HP-ku. Kemudian dia berkomentar, mengapa banyak nomor yang udah gak aktif, banyak yang gak berguna dan banyak nomor dengan nama aneh di phonebook hape-ku.

Sebenarnya sih gini...
Hal yang paling malas untuk aku lakukan adalah memindahkan phonebook yang ada di memori HP jika ingin memakai HP yang baru, tentunya ini terjadi karena terbatasnya memori yang bisa disimpan di sim card dan dan kalau mencatat nomor tersimpannya pertama kali adalah ke dalam memori HP (malas untuk men-setting kembali). Ini adalah hal yang malas untukku berurusan.

Lalu apa yang aku temukan di phonebook-ku?
  1. Nomor keluargaku (Bapak dan saudara-saudaraku). Tentu saja keluarga adalah yang paling utama sehingga nomor mereka harus ada di phonebook. Tetapi masalahnya adalah bahwa kadang kala kalau mereka mengganti nomor, maka nomor yang lama tidak aku hapus. Hasilnya adalah satu orang bisa memiliki lebih dari satu nomor, bahkan bisa empat nomor yang tiga diantaranya tidak terpakai lagi. Kadang-kadang aku sendiri pun bingung ini yang masih aktif dipake yang mana?
  2. Nomor keluarga yang lain. Termasuk keluarga yang lain yang menghubungi saat butuh aku dahulu atau aku yang butuh.
  3. Rekan-rekan kantor dan atasan yang memang sering dihubungi (termasuk nomor telpon kantor).
  4. Guru-guru dan dosen sewaktu sekolah (termasuk nomor telpon sekolah)
  5. Teman-teman sekolah dan kuliah. Ada yang masih berhubungan, ada pula yang entah dimana dan kabarnya bagaimana dan aku tidak tahu apakah nomor itu masih aktif atau tidak. Mereka ganti nomor pun maka kadang lupa untuk menyimpannya, atau menyimpannya dengan nomor yang lama masih tersimpan juga
  6. Tetangga yang tidak pernah aku hubungi sama sekali.
  7. Nomor yang entah punya siapa karena tidak pernah aku kasi nama di phonebook (hanya berinisial titik atau nama yang lain).
  8. Nomor orang yang bahkan tidak pernah aku hubungi sama sekali hanya karena dulu aku pernah meminta nomor tersebut pada seorang teman atau keluarga dengan alasan mungkin akan butuh.
  9. Nomor orang yang dulu kenal tiba-tiba dan saling bertukar nomor hape, siapa tau berguna.
  10. Nomor orang yang bahkan aku lupa dia siapa
  11. Bahkan orang yang telah lama meninggal dunia (sampai bertahun-tahun) pun nomornya masih aku simpan sampai sekarang.
  12. Dan juga nomor-nomor lainnya yang penting dan juga (mungkin) tidak penting sekarang ini.
Bahkan nomor-nomor yang ada itu entah masih aktif atau tidak aku tak tahu. Sudah berganti atau masih kadang aku gak tahu, gak mencari tahu, dan kadang tidak mau tahu. Hahaha...

Kemudian saat aku melihat kembali isi phone book-ku, memang aku hanya menyia-nyiakan memori yang ada. Tetapi untuk menghapusnya entah mengapa aku tidak tega (kadang bukannya gak tega, aku lupa untuk menghapusnya jadi akan terabaikan begitu saja).

Menghapus nomor itu bagiku sama saja perlahan-lahan menghapus sesuatu tentang mereka.

Jadi biarlah nama dan nomor itu tetap ada terlepas apapun kondisi nomor itu, berguma atau tidak. Mungkin suatu hari saat aku membuka phonebook dan melihat nama dan nomor tersebut, aku mengingat mereka walaupun hanya sesaat. Hahahahahaa..

Begitulah kebiasaan saya.


28 Januari 2011

(Mengukur) Sudut 'Pandang'


Aku melakukan percobaan untuk membenarkan suatu teori (anggap aja itu teori). Suatu hal yang mungkin menurut orang agak aneh, tapi (menurutku) masuk akal untuk teori ini.

Percobaan dilakukan sambil berdiri. Duduk pun bisa. Atau buat diri sendiri merasa nyaman-lah.
Mata terbuka dan pandangan lurus ke depan.
Sesekali mata aku lirikkan ke arah kanan dan kemudian ke arah kiri.
Setelah itu aku coba untuk memandang ke atas dan kemudian ke bawah.

Apa yang aku dapatkan? Tentu saja sewaktu pandangan kea rah depan, aku dapat melihat segala yang ada di hadapankuku. Juga bias melihat hal-hal yang ada di samping, dan apapun yang ada di atas dan bawahku sewaktu menengokkan kepala.
Tetapi tidak semuanya terlihat bukan? Karena apa yang ada di belakangku dan juga beberapa yang berada di sampingku karena tidak bisa kulihat secara keseluruhan. Tidak terlihat karena ketidakmampuan atau karena adanya penghalang.
Yang di samping kiri dan kanan, serta yang di atas dan dibawah bisa aku lihat karena adanya usaha, yaitu dengan cara menengokkan wajahku (menggerakkan leher – intinya).

Lalu, apa hubungannya dengan sebuah teori yang ingin aku uji?
Pernah memdengar suatu hal mengenai “Jangan menilai sesuatu hanya dari sudut pandangmu saja!”
Atau “Jangan hanya melihat dari satu sisi saja, lihatlah sisi yang lain juga.
Kurang lebih perihal itu-lah yang ingin aku coba bahas.

Nah, itu dia.
Dari percobaan (aneh) yang aku lakukan, bias dianalogikan (disimpulkan juga boleh) bahwa sudut pandang manusia itu terbatas.Tidak pernah bisa melihat 360 derajat, tetapi hanya sekitar (maksimal) 180 derajat (kurang lebihnya mohon dimaafkan).
Sisanya ada hal-hal yang tidak bisa kamu ketahui atau lihat ataupun kalau ingin melihatnya membutuhkan usaha, yaitu dengan menengok, memutar atau berpindah.
Namun, tetap tidak akan bisa melihat keseluruhan karena saat kamu menengok atau berbalik arah, hal yang sebelumnya ada di depan mata menjadi berada di belakang kepala sehingga tidak terlihat lagi.

Begitu pula dengan suatu hal atau katakanlah seorang manusia (termasuk saya sendiri).
Kamu tidak akan bisa benar-benar mengetahui segala hal tentang sesuatu atau seseorang, walaupun kau mengatakan telah lama mengenalnya.
Bukan berarti bahwa kita harus mengetahui semua hal tentang sesuatu/seseorang untuk bisa memahaminya.
Dalam menilai seseorang, tidak hanya sudut pandang yang kita miliki yang kita pergunakan. Tetapi ada yang namanya kebijaksanaan dalam menilai sesuatu dan adanya perubahan sudut pandang yang kita miliki (salah satunya dengan memperluas sudut pandang yang kita miliki).
Jangankan orang lain, seseorang bahkan bisa saja merasa tidak mengerti dirinya sendiri.

Oke, mulailah aku dengan teori kehidupan yang dipikirkan sendiri (bahkan mungkin bisa terlihat sok bijak tulisan ini. Apalagi tulisannya rada formal gitu yak. Hehehehe…)

Sebagai contoh ni ya... (contohnya sederhana aja)

  1. Si A temanmu terlihat malas-malasan. Bahkan untuk mengerjakan tugas aja ogah-ogahan.
Atau kamu sering dinasehati atau dimarahi teman karena berbuat sesuatu. Atau kebalikannya, kamu sering menilai teman terhadap sesuatu yang dilakukannya.

  1. Menyukai seseorang karena perilakunya yang sering baik hati, suka menolong dan jarang marah.
Suka melihat seseorang karena selalu terlihat ceria dan bergembira.
Membenci seseorang karena perilakunya yang kasar atau perkataanya yang kadang tidak memperdulikan perasaan orang lain.
Mengagumi seseorang karena kelebihan yang dimiliki atau malah menghakimi dan mengasihani diri sendiri karena banyak kekurangan yang dimiliki.

Sebenarnya banyak sih ya. Tapi kok malah kesannya aku gak ngasi contoh ya? Hahahaha…
Sudahlah..
Mungkin kamu bias pikirkan sendiri juga contoh lainnya, atau apa sebenarnya yang aku maksud.


Hal yang lainnya adlah seperti ini:

Setiap orang itu tidak bisa diperlakukan sama. Tentu saja hal ini dilakukan karena setiap orang berbeda. Tetapi namanya juga sebagai pribadi, tentunya kita tidak bisa selalu bersikap berbeda untuk menyesuaikan dengan orang lain. Capek bukan rasanya? Hehehe..

Namun, yang bisa kita lakukan adalah mengendalikan diri terhadap sesuatu yang kira-kira akan menyinggung perasaan orang lain jika kita lakukan hal itu. (sama aja dengan menyesuaikan diri dong ya. Hahahahaa.. bingung ah..)

Sebaiknya hindari perilaku yang kira-kira akan menyakiti perasaan orang lain. Kita tidak tau kan orang akan bereaksi apa terhadap sikap dan ucapan kita. Taulah juga bahwa kita ini manusia yang bias saja salah dan lupa. Hehehehe…

Hei, aku malah kadang membenarkan suatu perkataan bahwa, “Saat kita merasa mengenal seseorang, saat itulah sebenarnya kita tidak mengenal dia sama sekali”
Aku gak tau ini perkataan siapa, tetapi kadang itulah yang aku rasakan. Ketika aku merasa atau menganggap diri mengenal seseorang, pada saat itulah kadang aku ngerasa banyak hal yang tidak kumengerti dari orang tersebut. Apa karena aku sok tau yak? Hahaha…


Sudahlah..
Akhiri saja teori ini. Mungkin saja bagi beberapa orang aku kesannya hanya menyambung-nyambungkan teori dan percobaanku. Tapi . . .
Apapun yang akan kita lakukan, semoga kita bijak dalam melakukannya.
Semoga kita menjadi orang baik dan bisa berguna bagi orang lain.
Oia, semoga kita juga senantiasa menjadi orang bahagia. Hahahaa…


M. Sulhan Habibi


23 Januari 2011

KONTES MENYANYI (Part II)

lanjutan cerita KONTES MENYANYI...


Setelah satu jam kemudian, lomba pun dimulai. Cewek makin panik. Kerjaannya mondar-mandir melulu di ruangan peserta. Kakinya pegel tapi untung dia bawa balsam aroma melati (racikan sendiri), jadinya kaki yang pegel bisa dipijit sendiri dan gak berwangikan balsam-mint.
“Baiklah para penonton, kita sambut peserta pertama kita yang datang jauh-jauh dari Kampung An Banget, si Cowok ganteng.... Sanjui.....!!!” suara pembawa acara bergema sampai ruang tunggu tempat si Cewek mondar-mandir.
Peserta pertama tampil. Suaranya cukuplah membuat penonton menutup mata. Begitu mendayu-dayu. Bahkan kalau diperhatikan seksama, ada juga lho penonton yang ketiduran (gara-gara begadang juga sih semaleman-begitu katanya waktu diwawancarai wartawan Koran Kampung).
Peserta kedua pun akhirnya tampil juga. Seorang lelaki dari Kampung Tawaras. Wah, yang ini sih heboh banget. Walaupun suaranya ancur abis, tapi, yang bikin penonton puas, gayanya seru, unik dan lucu abis. Penonton dibikin puas ketawa dengan penampilannya (“Wah, dia emang kurang waras. Mentalnya terganggu sejak tiga tahun lalu” begitu jawaban waktu salah seorang temannya tersebut ditanya tentang peserta kedua ini oleh Koran kampong. Hmm, pantesan gayanya kaya gitu).
Peserta kedua pun akhirnya selesai bernyanyi dan turun dari pentas. Tibalah giliran cewek itu bernyanyi. Penonton bertepuk tangan dan bersorak tak sabar menanti tampilnya. Ternyata penampilannya ditunggu-tunggu oleh sebagian besar penonton, lho. Terkenal juga dia. Tapi, kalau dipikir-pikir ya wajarlah, soalnya kan dia bernyanyi (latihan) dengan membabi buta di pasar, jalan raya dan di tempat-tempat umum.
Dia pun naik ke atas panggung begitu namanya disebut. Begitu berdiri langsung di hadapan beribu penonton (kira-kira sebanyak itu lah), malu dan groginya langsung kambuh. Latihan tempa mentalnya gak berhasil. Gagal total dan tidak membuahkan hasil sama sekali. Saking grogi yang ditambah keringat dingin dan kaki gemetaran, syair, lirik lagu yang akan dia nyanyiin terlupa. Pokoknya semuanya dia lupa. Gak ada sedikitpun yang dia ingat (untung aja dia masih ingat siapa dirinya dan lagi ngapain di atas panggung).
Aku sebagai pencerita sih sebenarnya pengen bantuin mengingat lagunya, tapi, berhubung aku gak tahu apa yang dia nyanyiin (dia merahasiakannya sih, di awal cerita juga gak disebutin), jadi sia-sia saja bantuan mikir. Aku tawarin dia ganti lagu, “gak ah!” gitu jawabannya. Oia, aku juga gak tahu karena emang gak pernah dengerin dia nyanyi. Kalau dia lagi latihan, aku gak ada. Eh, waktu aku ada, dianya nyanyi dalam hati. Rese emang tu cewek (pengarangnya juga iya, rese).
Selama beberapa menit dia cuma berdiri mematung dengan kaki yang terus bergetar. Microfon dia pegang terus dengan kedua tangan di depan mulutnya. Dia berupaya keras mengingat lagunya, tapi melihat penonton yang mukanya udah berubah tak sabaran, gak ada sedikitpun yang dia ingat. Pengen ganti lagu (saranku diterima juga), celaka dua belas dilanjutin dengan celaka tiga belas yang memang dasarnya (katanya) angka sial, gak ada satu pun lagu yang diingatnya. Jadilah dia cuma patung hidup yang hanya bisa bergumam, “eemmm… ee… ee..”.
Ngeliat peserta ketiga yang sudah ditunggu-tunggu gak mulai nyanyi juga, penonton  mulai kesal. Kecewa dan marah-marah. Ada yang berteriak, “Huuu….. Turuuun… cepat turuuunnn” dia disuruh turun dari panggung. Saking marahnya juga, ada penonton yang melempar dia. Kulit pisang, tomat busuk dan kaleng serta sampah-sampah mulai dilemparkan. Wah, ngeliat benda-benda yang tiba-tiba saja melayang ke arahnya membuat si cewek terkejut setengah mati (untung saja yang setengahnya masih hidup dan sadar, jadi bisa langsung bereaksi. Kalau gak, udah bonyok dia). Si cewek pun langsung menghindari semua terjangan lemparan itu.
Tomat busuk di sebelah kanan. Dia pun menghindar ke kiri.
Kaleng bekas dilempar ke sebelah kiri. Dengan anggun plus gemulai, di pun melenggok ke arah kanan.
Sampah-sampah di lempar ke mukanya, bisa dihindari dengan kayang gaya film matrix ke belakang. Lemparan ke arah bawah pun sukses dihindari dengan lompat ke atas.
Melihat gaya menghindar laksana joget gaya kontemporer, musikpun dinyalakan. Si cewek makin bergoyang dengan semangat (bayangin kaya yang di film kartun itu. Pasti seru). Ngos-ngosan euy. Bukan karena musiknya. Tapi, karena lemparan penonton semakin banyak.
Penonton pelan tapi pasti mulai puas. Tapi, seperti kata pepatah, “sehati-hati dan sehebat apapun tupai melompat, akhirnya jatuh juga.” Begitulah nasib si Cewek. Lemparan kulit pisang yang melesat bak peluru yang ditembakkan pistol pertama bisa dia hindari. Saking terkejutnya, diapun berkata, “GAK KENA…” dengan melodi. Lemparan kedua pun dengan susah payah berhasil dihindari sambil berkata, “GAK JUGA…”lagi dengan melodi. Tapi, lemparan kulit pisang ketiga tak bisa dia hindari. Kena telak ke dadanya. Kaget setengah mati dia berkata, “UNTUNG KENA DADA.. TIDAK KENA MATA. BERBAHAYYYAA..” sambil bernyanyi.
Kalimat tadi diulangnya kembali…
“TOMAT BUUSUUK, LEMPAR KE KANAN…”
“GAK KENNA…”
“KALENG MINUMAN KAU LEMPAR KE KIRI…”
“GAK JUUGGAA…”
“AH… KULIT PISANG KAU LEMPAR TAK BISA KUHINDARI…”
“OUCCH…!!!”
“UNNTUNG KENA DHADHA… TIDAK KENA MATA. BERBAYYYAA…”
Ya, itulah lagu yang akhirnya dinyanyikan oleh si Cewek. Lagu dadakan ciptaan sendiri. (Mau tau lagunya kaya gimana? Tanya aku aja ya. Bakalan ta nyanyiin di depan kamu deh ntar. Hahaha…)
Karena suaranya bagus dan ditambah aksi panggung yang atraktif (akibat lemparan), penonton pun tak disangka puaasss dan langsung tepuk tangan, “PLOOK PLOOK PLOOKk…”
Abis itu, penampilannya dikomentari oleh juri.
Juri pertama (diva dangdut local) mengatakan, “Gaya kamu keren banget walaupun penyebabnya aneh. Aku salut dengan kreativitasmu. Gaya itulah yang diperlukan sebenarnya oleh penyanyi dangdut, bukan goyangan seksi dan cabul seperti sebagian penyanyi dangdut belakangan ini. Saya yakin kamu bakalan jadi terkenal. Mengenai suara sudah gak diragukan lagi.”
Juri kedua (juara pertama ‘kontes menyanyi’ tahun lalu) mengomentari, “wow, kamu aneh sekali… gak nyangka tahun ini bakalan ada peserta seaneh kamu. Ok, bukan itu yang mau saya bahas. Untung bukan kali ini saya mengikuti ‘kontes menyanyi ini’, soalnya kalau saya ikut tahun ini, gak yakin bisa menang dari kamu. Tapi, secara keseluruhan, vocal, gaya panggung n fashion  kamu keren. Tepuk tangan buat Cewek Wulandari…”
Juri ketiga (Pak Bupati) mengatakan hal kaya gini, “Bombastis… gak nyangka aku punya warga secantik Nia Ramadhani. Ikutan sms selebriti juga gak? Nomor ponsel kamu berapa? Ok, maap-maap, gak usah teriak gitu dong penonton!! Saya ingin mengatakan kamu adalah penampil terbaik kali ini. Istri saya saja kalah sama kamu. Sukses juga ya buat kamu”
Setelah ketiga juri memberikan komentarnya, si cewek pun turun dari panggung. Lega sudah hatinya. Banyak penonton yang memuji penampilannya. Tak sedikit pula yang langsung menyalami, meminta tanda tangan dan mengajak fot bareng. Kagetlah dia dan gak nyangka sama sekali.
Ok, selanjutnya peserta keempat…
Peserta kelima…
Dan peserta yang lainnya pun tampil hingga peserta terakhir.
Karena pesertanya 60 orang (semula 64 orang. Empat orang mengundurkan diri dengan alasan yang tak jelas), lombanya dibagi dalam tiga hari. Dengan pembagian 20 peserta sehari yang tampil.
Lalu, bagaimana hasilnya???
Cukup mengejutkan. Si Cewek mendapatkan juara III.
Juara III untuk suara (bergelar Cewek_diva bersuara perunggu), kreatifitas, originalitas dan kepercayadirian. Walaupun cuma mendapat juara III, si Cewek merasa cukup puas. Mengapa? Ternyata peserta favorit juga diembatnya. Wah, hebat tuh. Sejak itulah rasa percaya dirinya meningkat. Kini, dia tidak pernah malu lagi untuk tampil di muka umum. Bahkan, dia yang paling antusias untuk menonjolkan diri.
Ngomong-ngomong yang juara I dan II siapa? Kalian mungkin bertanya seperti itu kan? (banyak nanya ya kalian. Atau dari awal kalian gak pernah bertanya? Ah, mungkin emang hanya perasaanku saja). Nih, aku kasi tau. Yang juara satu itu cowok (katanya sih bersuara emas-si golden compass). Julukannya kaya gitu karena cowok itu, denger-denger sih, matre, makanya compass (cowok matre passtinya). Dan yang juara II cewek paruh baya (yang katanya memiliki suara perak-sang silver queen). Julukannya seperti itu karena cewek paruh baya itu emang berangan-angan jadi ratu dangdut (queen gitu de…). Eh, jangan-jangan kalian menyangka dia diberi julukan seperti itu karena suka makan cokelat silver queen ya? He, salah tuh. Mengenai nama mereka aku gak tahu. Gak kenal sih dan gak kenalan juga (apa si? Gak penting).

Epilog Catatan gak penting yang semoga saja memberikan manfaat bagi orang yang berkepentingan membaca tulisan ini maupun tidak…

“Let your problems turn you into a winner…”
“Berhentilah berhenti…”
(itulah pesan-pesan terakhir cewek kepada pembaca sebelum dia menghembuskan nafasnya yang terakhir. Semua warga menangisi kepergiannya. Sungguh haru...
Lho? Emang Cewek meninggal? Kapan?
Belum sih, dia meninggalnya masih lama-gitu katanya. Kan, yang nentuin ajal adalah Tuhan. Tapi, dia pengen kasi wasiat kata-kata bijak lebih awal aja kepada kita semua, biar ntar, kata-katanya abadi. Dikenang semua orang.)
__The end__

Cerita ini hanyalah (memang bukan hanya, tapi emang) fiktif belaka. Apabila ada kesamaan nama tokoh dan tempat (perasaan nama tempatnya gak disebutin deh-gak jelas) itu hanyalah kebetulan belaka. Oia, kalau pun ada yang sama, aneh juga ya ada kejadian beneran kaya gitu. Gak nyangka sih. Ide kreatifku (garing tau…) menjadi inspirasi (??). Hehehe...

Hahaha… cukup seginilah ceritaku. Ide ceritanya aku peroleh dari cerita tanteku waktu SMP (kira-kira waktu itulah. Bahkan mungkin juga waktu SD, aku gak ingat. Pokoknya sudah lebih 10 tahun yang lalu)
Ini cerita lucu. Aku ingin menuliskannya karena ingin membagi tawa dengan pembaca. Tapi, kalau ternyata cerita yang aku niatkan lucu ini tidak membuat kalian tertawa, aku minta maaf.

KONTES MENYANYI (Part I)

Mau nulis cerita lucu ah (garing sih mungkin).
Pengen aja nulis cerita sesekali, tapi kaya'nya bakal panjang.
Bagi yang bersedia (meluangkan waktu) untuk membacanya, selamat menikmati..

***

Alkisah hiduplah seorang cewek yang mempunyai hobi menyanyi. Salah satu impian terbesarnya adalah mengikuti kontes menyanyi dan memenangkannya. Akhirnya setelah cukup lama menunggu kesempatan langka itu, diikuti olehnya-lah suatu ajang pencarian bakat. Kontes menyanyi local, tingkat RW, eh bukan, tingkat kampung ding (gak jauh beda sih). Sebuah acara yang cukup bergengsi di daerah tersebut.
Mengapa dikatakan bergengsi? Tentu saja karena lomba ini meningkatkan kepopularitasan pemenangnya. Orang sekampung bakal mengenalnya, dimintai foto dan juga tanda tangan. Hadiahnya pun menggiurkan. Sebuah sepeda merk terbaru yang bisa berjalan terus walau tidak digenjot. Hadiah lainnya berupa uang tunai tiga juta rupiah, voucher belanja senilai lima ratus ribu rupiah di supermarket terkenal di daerah itu (sponsor utama) dan juga bakalan dibuatkan album rekaman untuk dijual di pasar-pasar local. Indie gitu deh.Terkenal. Itulah sebenarnya keinginan terbesar sebagian besar peserta.
Juri atau komentatornya tiga orang yang punya nama. Mereka adalah penyanyi dangdut terkenal (yang sering muncul-muncul di tivi lokal), pemenang kontes menyanyi tahun lalu dan pak Bupati tentu saja. Hal inilah yang membuat cewek tersebut begitu bersemangat mengikuti kontes menyanyi kali ini (ada idolanya).
Oia, walaupun jurinya penyanyi dangdut, kontes ini bukan kontes menyanyi dangdut lho. Semua peserta bebas menyanyikan lagu apa aja yang dia suka. Mulai dari dangdut, keroncong, kasidahan, pop, r&b, blues, rock, klasik, punk, ska, country, hip hop, reggae, metal, bahkan menyanyikan lagu anak-anak atau lagu perjuangan pun diperbolehkan. Cuma yang paling penting adalah bisa menghibur. Pesertanya dibatasi 17 tahun ke atas.
Hmm, berbicara mengenai cewek ini, umurnya 19 tahun. Muka lumayan cantik, bisa menyamai Nia Ramadhani (kalau kamu bertanya kenapa Nia Ramadhani, jawabannya ya, karena maunya saya sebagai pencerita. Nama itulah yang pertama kali muncul dalam benak saya waktu membuat cerita ini. Gara-garanya sih keinget ama iklan ‘sms selebriti’ yang 9090 itu. Gak mau ikutan sih, cuma iklan itu sering banget muncul di televisi). Body lumayan seksi. Suaranya pun lumayan bagus. Teman-teman, orang tua, tetangga yang pernah secara gak sengaja dengar dia nyanyi bilang gitu. Bahkan bak mandi, gayung, handuk, sabun, sikat gigi, odol dan semua benda yang ada di kamar mandi pun mengakui hal tersebut. Tentu saja karena dia sering banget menyanyi di kamar mandi. Ya, semuanya serba lumayan. Walaupun hanya berbekal ke-lumayanan, mungkin hal inilah yang juga bakal membuat dia lumayan beruntung.
Tetapi, ada hal yang patut disayangkan. Dengan wajah, tubuh dan suara yang lumayan, semua itu tidak bisa memberikan kepercayaan diri kepadanya. Cewek itu gak punya keberanian sama sekali tampil di muka umum. Pemalu dan grogian abis. Wajar kan kalau dia itu punya penyakit demam panggung. Wah, pemalunya ini bukan lumayan parah lagi, tapi, parah abis dah. Jangankan disuruh menyanyi di depan banyak orang, bertemu orang lain atau tetangga dan tiba-tiba menyapanya atau bertanya hendak kemana, eh, dia bukannya menjawab malah lari terbirit-birit. Makanya, orang-orang mengira dia pemalu, ada juga yang menyangka dia itu menderita autis. Kalau yang menganggap dia ‘orang aneh’ ada gak? Nah, itu dia. Aku sendiri sebagai penceritanya mulai beranggapan dia cewek aneh. (mungkin juga kalian berfikir kalau sebenarnya aku-penceritanya yang aneh kan? Gpp kok, nyante aja, udah biasa dikatai aneh).
Jadi, dia mengikuti kontes menyanyi ini hanya dengan modal kenekatan. Bisa dibilang ini kelebihan atau mungkin kekurangannya yang lain. Kalau dia sudah menetapkan akan melakukan suatu hal, maka dia bakal nekat ngelakuinnya. Terserah apapun hasilnya. Makanya, begitu pengumuman lomba ditempel, dia langsung mendaftar dan menjadi pendaftar ketiga (yang sekaligus menjadi nomor urut tampil di panggung). Pesertanya cukup banyak, ada 64 orang lho.
Lombanya tujuh hari lagi. Cewek itu berlatih dengan keras dan gigih. Mentalnya pun dia tempa habis-habisan. Apapun yang dia lakukan, ke mana pun dia pergi bahkan dalam tidur pun dia berlatih menyanyi. Di pasar, di halaman rumah, di lapang bola bahkan di jalan raya pun menjadi medan tempa mentalnya. Sebuah usaha yang gigih. Patut diancungi jempol (semua jari deh).
Hari demi haripun berlalu. Akhirnya tibalah hari kontes menyanyi.
Lomba dimulai pukul delapan pagi berlokasi di lapangan sepak bola RW. Cewek ini pun dandan habis habisan, kostumnya keren. T-shirt (eh, tank top si sebenarnya) motif pelangi, topi dan kain pantai. Make up lumayan tebal dan menor. Wangi parfum pun lumayan semerbak. Tak lupa ditambah kalung dan gelang tangan-kaki dari kerang laut. Lumayan keren kan? Mudah-mudahan para penonton dan dewan juri juga lumayan terkesan dengan penampilannya. Apalagi kalau dia sudah bernyanyi, mudah-mudahan juga dengan tarikan nafas dan kemampuan vokalnya yang lumayan dahsyat (lumayan bertambah bagus dari sebelum lomba) akan lumayan menambah kesan dan nilai dari penonton. Oia, lagu yang bakal dia nyanyikan adalah….
Apa ya? Aku juga lupa sih. Hahaha. Maaf para pembaca. Bayangkan atau kalau gak, pilih sendiri deh lagu yang bakalan cewek itu nyanyiin. Apa aja deh yang kalian sukai.
Aaah… ada satu hal yang aku lupain. Aku belum menyebutkan nama cewek ini kan? Kalian pasti bertanya-tanya siapa nama cewek ini kan? Hehehe. Maap-maap bagi yang merasa gitu.
Cewek ini bernama ’Cewek’. Ya, betul, aku gak bercanda. Nama lengkapnya ’Cewek Wulandari’. Panggilan sebenarnya sih Wulan (dia pengennya begitu), tapi, karena mukanya yang lumayan cantik dan badan yang lumayan seksi, lumayan banyak cowok yang sering godain dan naksir padanya. Kalau cewek ini lewat di depan cowok yang lagi bergerombol, dia selalu dipanggil (istilah lebih kasarnya digodain) “cewek” sambil disiulin. Nah, makanya, orang-orang lebih suka memanggilnya cewek. Awalnya sih dia protes, tapi, lama-lama terbiasa juga. Ok, cukup segitu dulu perkenalannya. Jangan tanyakan kenapa namanya seperti itu, ok! Karena aku pun tidak tahu, jadi percuma saja. Lagian dia juga gak bakalan jawab kok.
Untuk mempersiapkan lahir dan batinnya yang gak karuan, cewek itu berangkat pagi-pagi banget. Jam tujuh dia udah berangkat, padahal lomba dimulai pukul sepuluh waktu setempat. Mempelajari medan tempur, gitu alasannya. Gak ada yang mengantarnya. Orang tuanya sibuk kerja di sawah. Pacar gak punya. Temannya bisa dibilang hampir gak ada gara-gara sifat pemalunya itu. Jadi, terpaksa dia berangkat sendirian. Kaget juga dia kalau ternyata penontonnya sudah berjubel gitu padahal masih tiga jam lagi. Dia juga gak nyangka juga sih kalau kontes menyanyi ini begitu ditunggu-tunggu oleh semua orang. Penontonnya pun gak cuma dari kampung itu, tapi juga dari kampung tetangga bahkan banyak juga dari kampung yang letaknya jauh banget. Kontan aja dia langsung gemetaran, grogi dan katanya sih hampir pingsan.
Lagu yang bakal dia nyanyiin hampir terlupakan. Cepat-cepat dia menghapal dan mengingat kembali lagu yang bakal dibawain. Yap, akhirnya lagu itu sudah diingatnya dengan baik. Di luar kepala, gitu istilahnya.


bersambung ke Part II...