28 Januari 2011

(Mengukur) Sudut 'Pandang'


Aku melakukan percobaan untuk membenarkan suatu teori (anggap aja itu teori). Suatu hal yang mungkin menurut orang agak aneh, tapi (menurutku) masuk akal untuk teori ini.

Percobaan dilakukan sambil berdiri. Duduk pun bisa. Atau buat diri sendiri merasa nyaman-lah.
Mata terbuka dan pandangan lurus ke depan.
Sesekali mata aku lirikkan ke arah kanan dan kemudian ke arah kiri.
Setelah itu aku coba untuk memandang ke atas dan kemudian ke bawah.

Apa yang aku dapatkan? Tentu saja sewaktu pandangan kea rah depan, aku dapat melihat segala yang ada di hadapankuku. Juga bias melihat hal-hal yang ada di samping, dan apapun yang ada di atas dan bawahku sewaktu menengokkan kepala.
Tetapi tidak semuanya terlihat bukan? Karena apa yang ada di belakangku dan juga beberapa yang berada di sampingku karena tidak bisa kulihat secara keseluruhan. Tidak terlihat karena ketidakmampuan atau karena adanya penghalang.
Yang di samping kiri dan kanan, serta yang di atas dan dibawah bisa aku lihat karena adanya usaha, yaitu dengan cara menengokkan wajahku (menggerakkan leher – intinya).

Lalu, apa hubungannya dengan sebuah teori yang ingin aku uji?
Pernah memdengar suatu hal mengenai “Jangan menilai sesuatu hanya dari sudut pandangmu saja!”
Atau “Jangan hanya melihat dari satu sisi saja, lihatlah sisi yang lain juga.
Kurang lebih perihal itu-lah yang ingin aku coba bahas.

Nah, itu dia.
Dari percobaan (aneh) yang aku lakukan, bias dianalogikan (disimpulkan juga boleh) bahwa sudut pandang manusia itu terbatas.Tidak pernah bisa melihat 360 derajat, tetapi hanya sekitar (maksimal) 180 derajat (kurang lebihnya mohon dimaafkan).
Sisanya ada hal-hal yang tidak bisa kamu ketahui atau lihat ataupun kalau ingin melihatnya membutuhkan usaha, yaitu dengan menengok, memutar atau berpindah.
Namun, tetap tidak akan bisa melihat keseluruhan karena saat kamu menengok atau berbalik arah, hal yang sebelumnya ada di depan mata menjadi berada di belakang kepala sehingga tidak terlihat lagi.

Begitu pula dengan suatu hal atau katakanlah seorang manusia (termasuk saya sendiri).
Kamu tidak akan bisa benar-benar mengetahui segala hal tentang sesuatu atau seseorang, walaupun kau mengatakan telah lama mengenalnya.
Bukan berarti bahwa kita harus mengetahui semua hal tentang sesuatu/seseorang untuk bisa memahaminya.
Dalam menilai seseorang, tidak hanya sudut pandang yang kita miliki yang kita pergunakan. Tetapi ada yang namanya kebijaksanaan dalam menilai sesuatu dan adanya perubahan sudut pandang yang kita miliki (salah satunya dengan memperluas sudut pandang yang kita miliki).
Jangankan orang lain, seseorang bahkan bisa saja merasa tidak mengerti dirinya sendiri.

Oke, mulailah aku dengan teori kehidupan yang dipikirkan sendiri (bahkan mungkin bisa terlihat sok bijak tulisan ini. Apalagi tulisannya rada formal gitu yak. Hehehehe…)

Sebagai contoh ni ya... (contohnya sederhana aja)

  1. Si A temanmu terlihat malas-malasan. Bahkan untuk mengerjakan tugas aja ogah-ogahan.
Atau kamu sering dinasehati atau dimarahi teman karena berbuat sesuatu. Atau kebalikannya, kamu sering menilai teman terhadap sesuatu yang dilakukannya.

  1. Menyukai seseorang karena perilakunya yang sering baik hati, suka menolong dan jarang marah.
Suka melihat seseorang karena selalu terlihat ceria dan bergembira.
Membenci seseorang karena perilakunya yang kasar atau perkataanya yang kadang tidak memperdulikan perasaan orang lain.
Mengagumi seseorang karena kelebihan yang dimiliki atau malah menghakimi dan mengasihani diri sendiri karena banyak kekurangan yang dimiliki.

Sebenarnya banyak sih ya. Tapi kok malah kesannya aku gak ngasi contoh ya? Hahahaha…
Sudahlah..
Mungkin kamu bias pikirkan sendiri juga contoh lainnya, atau apa sebenarnya yang aku maksud.


Hal yang lainnya adlah seperti ini:

Setiap orang itu tidak bisa diperlakukan sama. Tentu saja hal ini dilakukan karena setiap orang berbeda. Tetapi namanya juga sebagai pribadi, tentunya kita tidak bisa selalu bersikap berbeda untuk menyesuaikan dengan orang lain. Capek bukan rasanya? Hehehe..

Namun, yang bisa kita lakukan adalah mengendalikan diri terhadap sesuatu yang kira-kira akan menyinggung perasaan orang lain jika kita lakukan hal itu. (sama aja dengan menyesuaikan diri dong ya. Hahahahaa.. bingung ah..)

Sebaiknya hindari perilaku yang kira-kira akan menyakiti perasaan orang lain. Kita tidak tau kan orang akan bereaksi apa terhadap sikap dan ucapan kita. Taulah juga bahwa kita ini manusia yang bias saja salah dan lupa. Hehehehe…

Hei, aku malah kadang membenarkan suatu perkataan bahwa, “Saat kita merasa mengenal seseorang, saat itulah sebenarnya kita tidak mengenal dia sama sekali”
Aku gak tau ini perkataan siapa, tetapi kadang itulah yang aku rasakan. Ketika aku merasa atau menganggap diri mengenal seseorang, pada saat itulah kadang aku ngerasa banyak hal yang tidak kumengerti dari orang tersebut. Apa karena aku sok tau yak? Hahaha…


Sudahlah..
Akhiri saja teori ini. Mungkin saja bagi beberapa orang aku kesannya hanya menyambung-nyambungkan teori dan percobaanku. Tapi . . .
Apapun yang akan kita lakukan, semoga kita bijak dalam melakukannya.
Semoga kita menjadi orang baik dan bisa berguna bagi orang lain.
Oia, semoga kita juga senantiasa menjadi orang bahagia. Hahahaa…


M. Sulhan Habibi


6 komentar:

  1. hahaha...iyaa... jangankan orang lain, kadang mengerti diri sendiri saja susah.

    kadang harus banyak sabarnya juga sih, ktika kita menjadi korban sudut pandang orang lain (hehehe, pengalaman sendiri). dicap ini, diklaim begitu, hhhhhh....

    moga2 saya tidak pernah melukai orang lain dengan sudut pandang saya. coz i know sometimes it hurts. (ko' jadi curhat ga jelas begini ya? hahahah)

    BalasHapus
  2. Iya. begitulah. Mengrti diri sendiri aja kadang susah. hehehe..

    Tau gak sih, setelah saya nge-post tulisan ini siang hari, sore harinya saya mengalami kejadian yang bikin shock karena aku melihat pribadi seseorang yang berbeda dari seseorang hanya karena suatu peristiwa di jalanan.

    padahal kadang-kadang saya ngerasa aku mengerti dia, namun tentu saja saya salah besar. hehehe..

    BalasHapus
  3. Haha..
    ya deh, ditunggu cerita selanjutnya mengenai orang itu.

    BalasHapus
  4. Hmmm... sepertinya cerita itu gak akan saya publish. Biarkan sajalah terjadi.
    ada hikmah di balik semua itu.

    Palingan bakal nulis garis besar dan inti dari kejadian itu aja. hehehe
    tapi, nunggu mood nulis dulu aja deh.

    BalasHapus
  5. Ada cara lain untuk dapat melihat sesuatu secara lebih jelas, adalah dengan memadukan sudut pandang. Manusia kan punya sudut pandang yang berbeda-beda, dari sudut pandang yang dipadukan itu, mungkin kita akan menemukan suatu sudut pandang baru, yang bisa jadi jauh lebih baik.

    Mungkin, klo hubungannya dengan seseorang, kita bisa membantunya menjadi lebih baik?dll lah pokoknya gt.hehe...

    BalasHapus
  6. Hmm.. bagus juga itu.
    memadukan sudut pandang. itu bisa dikatakan memperluas sudut pandang juga kan? hehehehe...

    BalasHapus