23 Januari 2011

KONTES MENYANYI (Part II)

lanjutan cerita KONTES MENYANYI...


Setelah satu jam kemudian, lomba pun dimulai. Cewek makin panik. Kerjaannya mondar-mandir melulu di ruangan peserta. Kakinya pegel tapi untung dia bawa balsam aroma melati (racikan sendiri), jadinya kaki yang pegel bisa dipijit sendiri dan gak berwangikan balsam-mint.
“Baiklah para penonton, kita sambut peserta pertama kita yang datang jauh-jauh dari Kampung An Banget, si Cowok ganteng.... Sanjui.....!!!” suara pembawa acara bergema sampai ruang tunggu tempat si Cewek mondar-mandir.
Peserta pertama tampil. Suaranya cukuplah membuat penonton menutup mata. Begitu mendayu-dayu. Bahkan kalau diperhatikan seksama, ada juga lho penonton yang ketiduran (gara-gara begadang juga sih semaleman-begitu katanya waktu diwawancarai wartawan Koran Kampung).
Peserta kedua pun akhirnya tampil juga. Seorang lelaki dari Kampung Tawaras. Wah, yang ini sih heboh banget. Walaupun suaranya ancur abis, tapi, yang bikin penonton puas, gayanya seru, unik dan lucu abis. Penonton dibikin puas ketawa dengan penampilannya (“Wah, dia emang kurang waras. Mentalnya terganggu sejak tiga tahun lalu” begitu jawaban waktu salah seorang temannya tersebut ditanya tentang peserta kedua ini oleh Koran kampong. Hmm, pantesan gayanya kaya gitu).
Peserta kedua pun akhirnya selesai bernyanyi dan turun dari pentas. Tibalah giliran cewek itu bernyanyi. Penonton bertepuk tangan dan bersorak tak sabar menanti tampilnya. Ternyata penampilannya ditunggu-tunggu oleh sebagian besar penonton, lho. Terkenal juga dia. Tapi, kalau dipikir-pikir ya wajarlah, soalnya kan dia bernyanyi (latihan) dengan membabi buta di pasar, jalan raya dan di tempat-tempat umum.
Dia pun naik ke atas panggung begitu namanya disebut. Begitu berdiri langsung di hadapan beribu penonton (kira-kira sebanyak itu lah), malu dan groginya langsung kambuh. Latihan tempa mentalnya gak berhasil. Gagal total dan tidak membuahkan hasil sama sekali. Saking grogi yang ditambah keringat dingin dan kaki gemetaran, syair, lirik lagu yang akan dia nyanyiin terlupa. Pokoknya semuanya dia lupa. Gak ada sedikitpun yang dia ingat (untung aja dia masih ingat siapa dirinya dan lagi ngapain di atas panggung).
Aku sebagai pencerita sih sebenarnya pengen bantuin mengingat lagunya, tapi, berhubung aku gak tahu apa yang dia nyanyiin (dia merahasiakannya sih, di awal cerita juga gak disebutin), jadi sia-sia saja bantuan mikir. Aku tawarin dia ganti lagu, “gak ah!” gitu jawabannya. Oia, aku juga gak tahu karena emang gak pernah dengerin dia nyanyi. Kalau dia lagi latihan, aku gak ada. Eh, waktu aku ada, dianya nyanyi dalam hati. Rese emang tu cewek (pengarangnya juga iya, rese).
Selama beberapa menit dia cuma berdiri mematung dengan kaki yang terus bergetar. Microfon dia pegang terus dengan kedua tangan di depan mulutnya. Dia berupaya keras mengingat lagunya, tapi melihat penonton yang mukanya udah berubah tak sabaran, gak ada sedikitpun yang dia ingat. Pengen ganti lagu (saranku diterima juga), celaka dua belas dilanjutin dengan celaka tiga belas yang memang dasarnya (katanya) angka sial, gak ada satu pun lagu yang diingatnya. Jadilah dia cuma patung hidup yang hanya bisa bergumam, “eemmm… ee… ee..”.
Ngeliat peserta ketiga yang sudah ditunggu-tunggu gak mulai nyanyi juga, penonton  mulai kesal. Kecewa dan marah-marah. Ada yang berteriak, “Huuu….. Turuuun… cepat turuuunnn” dia disuruh turun dari panggung. Saking marahnya juga, ada penonton yang melempar dia. Kulit pisang, tomat busuk dan kaleng serta sampah-sampah mulai dilemparkan. Wah, ngeliat benda-benda yang tiba-tiba saja melayang ke arahnya membuat si cewek terkejut setengah mati (untung saja yang setengahnya masih hidup dan sadar, jadi bisa langsung bereaksi. Kalau gak, udah bonyok dia). Si cewek pun langsung menghindari semua terjangan lemparan itu.
Tomat busuk di sebelah kanan. Dia pun menghindar ke kiri.
Kaleng bekas dilempar ke sebelah kiri. Dengan anggun plus gemulai, di pun melenggok ke arah kanan.
Sampah-sampah di lempar ke mukanya, bisa dihindari dengan kayang gaya film matrix ke belakang. Lemparan ke arah bawah pun sukses dihindari dengan lompat ke atas.
Melihat gaya menghindar laksana joget gaya kontemporer, musikpun dinyalakan. Si cewek makin bergoyang dengan semangat (bayangin kaya yang di film kartun itu. Pasti seru). Ngos-ngosan euy. Bukan karena musiknya. Tapi, karena lemparan penonton semakin banyak.
Penonton pelan tapi pasti mulai puas. Tapi, seperti kata pepatah, “sehati-hati dan sehebat apapun tupai melompat, akhirnya jatuh juga.” Begitulah nasib si Cewek. Lemparan kulit pisang yang melesat bak peluru yang ditembakkan pistol pertama bisa dia hindari. Saking terkejutnya, diapun berkata, “GAK KENA…” dengan melodi. Lemparan kedua pun dengan susah payah berhasil dihindari sambil berkata, “GAK JUGA…”lagi dengan melodi. Tapi, lemparan kulit pisang ketiga tak bisa dia hindari. Kena telak ke dadanya. Kaget setengah mati dia berkata, “UNTUNG KENA DADA.. TIDAK KENA MATA. BERBAHAYYYAA..” sambil bernyanyi.
Kalimat tadi diulangnya kembali…
“TOMAT BUUSUUK, LEMPAR KE KANAN…”
“GAK KENNA…”
“KALENG MINUMAN KAU LEMPAR KE KIRI…”
“GAK JUUGGAA…”
“AH… KULIT PISANG KAU LEMPAR TAK BISA KUHINDARI…”
“OUCCH…!!!”
“UNNTUNG KENA DHADHA… TIDAK KENA MATA. BERBAYYYAA…”
Ya, itulah lagu yang akhirnya dinyanyikan oleh si Cewek. Lagu dadakan ciptaan sendiri. (Mau tau lagunya kaya gimana? Tanya aku aja ya. Bakalan ta nyanyiin di depan kamu deh ntar. Hahaha…)
Karena suaranya bagus dan ditambah aksi panggung yang atraktif (akibat lemparan), penonton pun tak disangka puaasss dan langsung tepuk tangan, “PLOOK PLOOK PLOOKk…”
Abis itu, penampilannya dikomentari oleh juri.
Juri pertama (diva dangdut local) mengatakan, “Gaya kamu keren banget walaupun penyebabnya aneh. Aku salut dengan kreativitasmu. Gaya itulah yang diperlukan sebenarnya oleh penyanyi dangdut, bukan goyangan seksi dan cabul seperti sebagian penyanyi dangdut belakangan ini. Saya yakin kamu bakalan jadi terkenal. Mengenai suara sudah gak diragukan lagi.”
Juri kedua (juara pertama ‘kontes menyanyi’ tahun lalu) mengomentari, “wow, kamu aneh sekali… gak nyangka tahun ini bakalan ada peserta seaneh kamu. Ok, bukan itu yang mau saya bahas. Untung bukan kali ini saya mengikuti ‘kontes menyanyi ini’, soalnya kalau saya ikut tahun ini, gak yakin bisa menang dari kamu. Tapi, secara keseluruhan, vocal, gaya panggung n fashion  kamu keren. Tepuk tangan buat Cewek Wulandari…”
Juri ketiga (Pak Bupati) mengatakan hal kaya gini, “Bombastis… gak nyangka aku punya warga secantik Nia Ramadhani. Ikutan sms selebriti juga gak? Nomor ponsel kamu berapa? Ok, maap-maap, gak usah teriak gitu dong penonton!! Saya ingin mengatakan kamu adalah penampil terbaik kali ini. Istri saya saja kalah sama kamu. Sukses juga ya buat kamu”
Setelah ketiga juri memberikan komentarnya, si cewek pun turun dari panggung. Lega sudah hatinya. Banyak penonton yang memuji penampilannya. Tak sedikit pula yang langsung menyalami, meminta tanda tangan dan mengajak fot bareng. Kagetlah dia dan gak nyangka sama sekali.
Ok, selanjutnya peserta keempat…
Peserta kelima…
Dan peserta yang lainnya pun tampil hingga peserta terakhir.
Karena pesertanya 60 orang (semula 64 orang. Empat orang mengundurkan diri dengan alasan yang tak jelas), lombanya dibagi dalam tiga hari. Dengan pembagian 20 peserta sehari yang tampil.
Lalu, bagaimana hasilnya???
Cukup mengejutkan. Si Cewek mendapatkan juara III.
Juara III untuk suara (bergelar Cewek_diva bersuara perunggu), kreatifitas, originalitas dan kepercayadirian. Walaupun cuma mendapat juara III, si Cewek merasa cukup puas. Mengapa? Ternyata peserta favorit juga diembatnya. Wah, hebat tuh. Sejak itulah rasa percaya dirinya meningkat. Kini, dia tidak pernah malu lagi untuk tampil di muka umum. Bahkan, dia yang paling antusias untuk menonjolkan diri.
Ngomong-ngomong yang juara I dan II siapa? Kalian mungkin bertanya seperti itu kan? (banyak nanya ya kalian. Atau dari awal kalian gak pernah bertanya? Ah, mungkin emang hanya perasaanku saja). Nih, aku kasi tau. Yang juara satu itu cowok (katanya sih bersuara emas-si golden compass). Julukannya kaya gitu karena cowok itu, denger-denger sih, matre, makanya compass (cowok matre passtinya). Dan yang juara II cewek paruh baya (yang katanya memiliki suara perak-sang silver queen). Julukannya seperti itu karena cewek paruh baya itu emang berangan-angan jadi ratu dangdut (queen gitu de…). Eh, jangan-jangan kalian menyangka dia diberi julukan seperti itu karena suka makan cokelat silver queen ya? He, salah tuh. Mengenai nama mereka aku gak tahu. Gak kenal sih dan gak kenalan juga (apa si? Gak penting).

Epilog Catatan gak penting yang semoga saja memberikan manfaat bagi orang yang berkepentingan membaca tulisan ini maupun tidak…

“Let your problems turn you into a winner…”
“Berhentilah berhenti…”
(itulah pesan-pesan terakhir cewek kepada pembaca sebelum dia menghembuskan nafasnya yang terakhir. Semua warga menangisi kepergiannya. Sungguh haru...
Lho? Emang Cewek meninggal? Kapan?
Belum sih, dia meninggalnya masih lama-gitu katanya. Kan, yang nentuin ajal adalah Tuhan. Tapi, dia pengen kasi wasiat kata-kata bijak lebih awal aja kepada kita semua, biar ntar, kata-katanya abadi. Dikenang semua orang.)
__The end__

Cerita ini hanyalah (memang bukan hanya, tapi emang) fiktif belaka. Apabila ada kesamaan nama tokoh dan tempat (perasaan nama tempatnya gak disebutin deh-gak jelas) itu hanyalah kebetulan belaka. Oia, kalau pun ada yang sama, aneh juga ya ada kejadian beneran kaya gitu. Gak nyangka sih. Ide kreatifku (garing tau…) menjadi inspirasi (??). Hehehe...

Hahaha… cukup seginilah ceritaku. Ide ceritanya aku peroleh dari cerita tanteku waktu SMP (kira-kira waktu itulah. Bahkan mungkin juga waktu SD, aku gak ingat. Pokoknya sudah lebih 10 tahun yang lalu)
Ini cerita lucu. Aku ingin menuliskannya karena ingin membagi tawa dengan pembaca. Tapi, kalau ternyata cerita yang aku niatkan lucu ini tidak membuat kalian tertawa, aku minta maaf.

2 komentar:

  1. heheheheh....
    jagain warnet tengah malem..

    melewati malam bacain ini cerita. Ada yang rada geje' gitu si. heqheqheq...

    terusin deh.

    BalasHapus
  2. Hehehehe..
    emang sengaja beberpa dibuat geje.

    btw, terima kasih udah dibaca. panjang soalnya.

    BalasHapus