3 Januari 2016

[Book Review] To Kill a Mockingbird - Harper Lee


 TO KILL A MOCKINGBIRD – Harper Lee

Judul Asli : To Kill a Mockingbird
Penulis : Harper Lee
Penerjemah : Femmy Syahrani
Penyunting : Berliani Mantili Nugrahani
Desain Sampul : Windu Tampan
Penerbit Qanita
Edisi Gold, Cetakan I Oktober 2010
Tebal 536 Halaman
ISBN 978-602-8579-34-6

"Mockingbird menyanyikan musik untuk kita nikmati, hanya itulah yang mereka lakukan. Mereka tidak memakan tanaman kebun orang, tidak bersarang di gudang jagung, mereka tidak melakukan apapun kecuali menyanyi dengan tulus untuk kita. Karena itulah, membunuh mockingbird itu dosa."

To Kill a Mockingbird adalah sebuah karya fenomenal dan sangat terkenal di seluruh dunia sehingga pasti sudah familiar dong dengan buku yang satu ini. Sebenarnya, aku sudah pernah membaca novel ini sekitar 5 tahun yang lalu, namun lupa detail ceritanya karena aku tidak menemukan cerita yang spesial waktu itu.

Mengapa demikian? Kalau aku ingat sih karena novel To Kill a Mockingbird yang kubaca waktu itu adalah pinjaman dari seorang teman. Aku pun membacanya ketika semangat membaca sedang menurun, jadi kesannya aku hanya sekadar membaca tanpa meresapi isi cerita. Selain itu, buku ini tidak aku habiskan dalam sekali baca. Ada jeda sekitar setengah tahun sampai aku melanjutkan membacanya lagi sehingga inti ceritanya sudah agak terlupakan. Niat waktu itu adalah segera selesaikan buku ini dan kembalikan ke pemiliknya. Ditagih terus sih waktu itu. Hehe... 

Nah, Desember kemarin aku membaca ulang novel ini. Hasilnya adalah novel ini memang luar biasa. Dengan penceritaan dari sudut pandang seorang anak perempuan berumur 8 tahun, To Kill a Mockingbird terasa spesial dan menggugah perasaan. 

Novel To Kill a Mockingbird ini bercerita tentang prasangka dan kasih sayang. 
Fokus utama ceritanya adalah mengenai sebuah keluarga di di Maycomb County, Alabama, tahun 1930-an. Keluarga kecil ini terdiri dari dua bersaudara, Jem dan Scout, bersama ayah mereka, Atticus Finch, yang berprofesi sebagai pengacara, serta pembantu mereka yang berkulit hitam, Calpurnia. Novel ini bercerita dari sudut pandang seorang si anak perempuan yang berusia 8 tahun, yaitu Scout (Jean Louis Finch).

Novel ini terbagi ke dalam 2 bagian.

Bagian pertama menceritakan keseharian kehidupan Jem dan Scout, kakak adik yang selalu berdua. Umur Jem dan Scout hanya terpaut 4 tahun. Mereka sering bermain berdua karena di lingkungan mereka memang tidak banyak anak-anak seumuran mereka.

Banyak kegiatan harian yang mereka lakukan, namun yang paling berkesan adalah kegiatan memata-matai  tetangga mereka yang misterius Boo Radley. Keluarga Radley sangat misterius karena jarang terlihat keluar dari rumah. Oleh karena itu, banyak beredar desas-desus bahwa keluarga Boo Radley tidak waras. Boo Ridley sering berbuat jahat terhadap orang tua-nya, bahkan dikabarkan membunuh ibunya dan menyembunyikannya di cerobong asap. 

Bersama teman mereka Dill yang selalu datang setiap musim panas, mereka kerap memata-matai rumah tersebut. Bahkan kadang-kadang mereka melakukan ‘uji nyali’ untuk sekadar masuk ke halaman, menyentuh pintu mereka, atau mengintip apa yang terjadi di dalam rumah.
Jem, Scout, Dill ada bocah yang penuh rasa ingin tahu. Berbagai macam kenakalan anak-anak mereka lakukan untuk mencari tau tentang Boo. Bahkan sampai memainkan sandiwara tentang keluarga Radley. Perbuatan mereka adalah wajar untuk seumuran mereka, hanya ingin bersenang-senang tanpa sadar kelakuan mereka tepat atau tidak. 

Bagian pertama juga menceritakan tentang Scout yang mulai masuk sekolah. Ternyata sekolah bukanlah tenpat yang menyenangkan bagi Scout. Ia mendapati dirinya tidak menyukai gurunya, yang sejak awal tidak senang dengan Scout yang sudah bisa membaca di hari pertama sekolah. Bahkan, Scout berkelahi dengan anak yang mengganggunya. Menyela gurunya dan menyatakan kebenaran tentang keluarga Cunningham – yang memang benar – tapi tidak etis untuk diungkapkan karena bisa saja menyinggung perasaan orang lain. Scout memang anak yang ‘pintar’ untuk seumurannya. Atticus mengajarinya membaca sejak kecil. Begitu pula Jem. Jem adalah sosok kakak lelaki yang bersikap layaknya lelaki terhormat. Menghormati ayahnya dan ingin menjadi bijaksana layaknya Atticus. Begitulah kehidupan Scout. Ia dan kakaknya saling menyayangi walaupun kadang tidak sependapat. Mereka pun sangat menyayangi ayahnya, dan mereka juga sayang pada Calpurnia, meski pembantu kulit hitam itu tak segan-segan memarahi mereka ketika mereka bersikap nakal.

Bagian kedua dari novel ini fokus menceritakan bagaimana kehidupan Atticus, Jem, dan Scout yang seketika berubah karena kasus Tom Robinson yang ditangani oleh Atticus. 

Tom Robbinson, seorang pemuda berkulit hitam, yang dituduh memerkosa gadis kulit putih bernama Mayella Ewell. Bagi masyarakat Maycomb (di Amerika pada masa itu), warga kulit hitam adalah warga yang dianggap lebih rendah derajatnya dibanding orang kulit putih, sampah masyarakat dan selalu mendapat prasangka buruk sebagai kaum yang selalu membuat masalah. 

Kecaman terhadap keluarga Finch datang dari sebagian seluruh warga penjuru kota. Scout dan Jem pun tak luput dari ejekan teman-temannya yang mengatakan ayah mereka adalah pecinta ‘nigger’. Tak hanya dari lingkungan sekitarnya, Atticus pun mendapat tantangan dari kakaknya sendiri, Alexandra, yang saat itu tinggal bersama mereka. 
Alexandra – sang kakak pun sering memarahi Scout karena tidak bersikap layaknya wanita terhormat. Namun, dia tetap menyayangi keluarganya sekalipun sering tidak suka dan berdebat tentang kelakuan Atticus, Jem, maupun Scout.

Tentu saja ada bab-bab yang menceritakan tentang pengadilan tentang kasus Tom Robinson. Bagian proses pengadilan Tom Robinson adalah salah satu bagian yang aku sukai. Pengadilan kasus ini mendapat perhatian yang besar dari peduduk kota Maycomb, baik kulit putih maupun warga kulit hitam. Jem, Scout, dan Dill pun ikut menghadirinya – tentu saja tanpa sepengetahuan Atticus. 

Atticus dengan piawai mengemukakan berbagai fakta, yang sebenarnya tak dapat disangkal, bahwa Tom Robinson tidak bersalah. Bahwa hal yang tejadi kepada Tom Robinson adalah sebuah ketidakadilan dan merupakan upaya seseorang untuk melimpahkan kesalahan dan mengubur kehinaan yang telah dia lakukan. Namun, seorang negro tetaplah orang dengan derajat rendah bagi masyarakat Maycomb; prasangka buruk terhadap kaum negro tak dapat dipatahkan oleh sejumlah fakta. Walaupun jelas-jelas Tom Robinson tidak bersalah, kesempatannya untuk menang di pengadilan memang hampir tidak ada – Atticus pun menyadari hal tersebut. Dari sinilah Scout dan jem yang menyaksikan secara langsung proses pengadilan itu  dan melihat bahwa kehidupan tak melulu hitam dan putih. Prasangka seringkali mendominasi dan membutakan manusia sehingga keadilan tidak bisa ditegakkan dengan sempurna bahkan walaupun prasangka itu berarti membohongi diri sendiri dan menolak kebenaran. 

Aku suka dengan tema yang diceritakan novel ini. Tokoh-tokohnya pun sangat berkarakter dan sangat mudah untuk disukai. 

Aku menyukai Atticus Finch sebagai seorang ayah yang luar biasa. Atticus mengajarkan kepada anaknya tentang menjadi orang terhormat dengan cara yang dianggap tidak lazim pada masa itu. Bahkan oleh anak-nya sendiri, Atticus hanya tampak hanya seorang yang biasa saja tanpa keahlian apapun yang bisa dibanggakan anaknya. Dia mendidik anaknya dengan caranya sendiri, menjadikan anaknya mampu melihat kebenaran dan kebijakan dalam hidup.

Aku menyukai Jeremy Atticus Finch (Jem). Sebagai seorang anak laki-laki yang berumur 12 tahun, pemberani, bijaksana, penuh rasa ingin tahu, dan begitu menghormati ayahnya. Dia begitu ingin menjadi lelaki terhormat seperti ayahnya, menyayangi adiknya, dan menyadari bahwa menjadi orang dewasa itu ‘berat’. 

Aku suka Jean Louis Finch (Scout) sebagai seorang anak perempuan berumur 8 tahun yang cerdas. Dari sudut pandang Scout-lah novel ini diceritakan. Scout anak yang tomboy, selalu ikut Jem, kakaknya. Penuh rasa penasaran, sering membangkang dan masih memiliki sifat agak pemarah. Scout pintar karena diajarkan membaca dan diceritakan semua hal oleh Atticus. Scout yang sering dimarahi karena tidak bersikap layaknya wanita terhormat ini luar biasa. Scout pun sering melontarkan kalimat yang blak-blakan dan jujur walaupun sering bukan pada kondisi yang tepat. Hal itu wajar bagi anak kecil pintar yang polos.

Selain itu pula, banyak adegan-adegan favorit dalam novel ini. Banyak peristiwa yang aku sukai terjadi pada kehidupan Jem dan Scout. Beberapa peristiwa yang aku sukai dalam novel ini adalah :

- Scout membicarakan masalah warisan kepada Mr. Cunningham ketika Atticus didatangi oleh sekelompok orang yang ingin mengeroyok Tom Robinson yang dijaga oleh Atticus. Adegan ketika Scout mencoba menyelamatkan Atticus dengan menyapa Mr. Cunningham ini lucu banget, apalagi Scout adalah anak perempuan yang pintar dan polos.

- Kejadian Atticus menasihati Jem dan Scout, bahwa apapun yang dikatakan orang terhadap mereka/Atticus, jangan sampai marah. Tetap berjalan tegak dan terhormat. Atticus mengajarkan bahwa amarah itu tidak ada gunanya. Apapun kata orang tentang keluarga mereka, jangan sampai mereka marah. Ah, suka!

- Jem marah terhadap Mrs. Durbose karena mengejek Atticus dan mengatakannya pecinta niger – Jem dihukum untuk membaca buku untuk Mrs. Durbose selama beberapa jam per hari dengan Scout menemani. Adegan ini sungguh menarik. Adegan Jem yang akhirnya tidak bisa menahan amarah, Atticus memarahinya dan menjelaskan maksud dari Mrs. Durbose melakukan hal itu memang tidak terduga. Ah, kadang apa yang terlihat memang tidak seperti apa yang sebenarnya terjadi. Pasti ada alasan di balik segala tindakan.

- Scout, Jem, Dill mengintip malam-malam ke rumah Boo Ridley, ada suara tembakan, kabur, dan mereka terpaksa berbohong Adegan ketika Jem balik mengambil celana yang sobek dan ternyata celananya dia temukan dalam keadaaan terlipat dan sudah diperbaiki. Jem sangat ketakutan.

- Adegan Scout dan jem menemukan barang-barang di sebuah lubang di pohon tempat ditaruhnya benda-benda yang ‘seolah-olah’ untuk mereka. Barang-barang di lubang tersebut seolah-seolah ada yang selalu memperhatikan mereka dan tahu tentang mereka.

- Adegan di pengadilan persidangan Tom Robinson. Aku sangat menyukai keseluruhan cerita di pengadilan. Aku sangat suka dengan proses pengadilan tersebut. Penasaran, deg-degan dan bersemangat. Adegan pengadilan ini langsung mengingatkanku tentang keseruan para juri yang berdebat menentukan nasib seorang remaja yang ituduh membunuh ayahnya dalam film 12 Angry Men. Suka. Suka. Suka. 

Secara keseluruhan aku sangat menyukai novel ini. Karya yang sangat luar biasa. Tulisan ini aku akhiri dengan kutipan dari novel ini. Kata-kata yang diucapkan Atticus kepada Scout.

“Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya . . . hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya”
-          Harper Lee dalam To Kill a Mockingbird

Nilai : 4,75/5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar