27 Februari 2016

[Book Review] The Girl On The Train - Paula Hawkins



THE GIRL ON THE TRAIN

Judul asli : The Girl On The Train
Penulis : Paula Hawkins
Penerjemah : Inggrid Nimpoeno
Penyunting : Rina Wulandari
Penata Aksara : Axin
Perancang Sampul : Wirda Sartika
Cetakan I Agustus 2015
Penerbit Noura Books

ISBN 978-602-0989-97-6

Sinopsisnya nih...

Rachel, seorang wanita yang mengalami masalah dengan minuman keras. Hidupnya kacau yang berakibat hubungan dengan mantan suaminya (Tom) berakhir dengan tidak baik, Rachel pun harus kehilangan tempat tinggal dan juga pekerjaan. Semua akibat masalah mabuk.
Rachel tinggal (menumpang) di flat teman kuliahnya dulu, Cathy, dan berpura-pura masih bekerja. Setiap hari Rachel menaiki kereta komuter yang sama pagi dan sore. Di pinggiran London, keretanya akan berhenti di sebuah sinyal perlintasan, tepat di depan rumah nomor lima belas. Setiap hari Rachel selalu memperhatikan rumah tersebut, tempat sepasang suami istri menjalani kehidupan yang tampak bahagia, bahkan nyaris sempurna. Pemandangan ini mengingatkan Rachel pada kehidupannya sendiri yang sebelumnya sempurna. Rachel bahkan memberikan mereka nama Jason dan Jess. Rachel selalu membayangkan kehidupan yang dijalani oleh Jason dan Jess, yang juga sering mengingatkannya akan kehidupan bahagianya dahulu bersama Tom.

Bukan cuma suatu kebetulan Jason dan Jess di rumah nomor lima itu mengingatkannya akan masa lalunya. Tak jauh dari rumah nomor lima belas, yaitu rumah nomor dua puluh tiga, tinggallah Tom, mantan suami Rachel, bersama Anna istri barunya. Dahulu Rachel dan Tom tinggal bersama di rumah tersebut. Jadi membayangkan ada wanita lain yang menjalani hidup di tempat dia dulu bahagia sering membuat Rachel sakit hati. Sering kali dia masih mengganggu kehidupan Tom dan Anna, beserta bayi mereka baik dengan terus-menerus menelpon mereka maupun dengan mendatangi rumah mereka. Rachel masih terobsesi dengan mantan suaminya tersebut.

Rachel seorang alkoholik. Setiap hari dia menenggak berbotol-botol minuman keras sampai benar-benar mabuk. Cukup banyak masalah yang dia dapat karena mabuk. Namun, dampak yang paling parah dan yang akan mempengaruhi hidupnya adalah hilangnya ingatan atas apa yang terjadi dan apa yang dia lakukan ketika sedang mabuk berat.

Pada suatu pagi, dari dalam kereta komuter, Rachel menyaksikan sesuatu yang mengejutkannya. Hanya semenit sebelum kereta mulai bergerak, tapi itu pun sudah cukup. Kini pandangannya terhadap pasangan itu pun berubah. Jess bersama laki-laki lain di rumah nomor lima belas tersebut.

Suatu hari, terdengar berita bahwa Jess, yang bernama asli Megan, menghilang dari rumah. Rachel merasa bahwa ia terkait dengan peristiwa hilangnya Megan, terutama saat sebelum Megan menghilang, Rachel melihatnya dari balik jendela kereta, sedang bermesraan dengan seorang laki-laki. Didorong rasa empati yang dalam terhadap Scott, sang suami, Rachel memberitahu polisi apa yang ia ketahui tentang Megan. Sialnya, ternyata Rachel benar benar terkait dengan hilangnya Megan, ada laporan yang masuk ke kepolisian bahwa pada saat hilangnya Megan tersebut, Rachel masuk dan berbuat onar di rumah mantan suaminya yang tinggal hanya berjarak 4 rumah dari rumah Megan.

Celakanya, Rachel mengalami block out, ia kehilangan ingatan tentang apa yang ia lakukan malam itu. Tetapi ia memang mengingat kalau pagi saat ia terbangun di kamar apartemennya, kepalanya terluka dan ada darah di tangannya. Jika Rachel ingin membantu menemukan Megan, yang harus ia lakukan adalah mengembalikan ingatannya kembali. Tetapi bagaimana caranya? Lagipula ia seorang pemabuk, yang tentu saja kesaksiannya akan diragukan oleh polisi. Lalu sebenarnya apa yang terjadi pada Megan?

**

Begitulah kilasan kisah yang dipaparkan novel The Girl on The Train karya Paula Hawkins ini.



The Girl On The Train diceritakan dari tiga sudut pandang yang berbeda. Pertama, Rachel Watson. Bercerai karena suaminya selingkuh, pengangguran, teman serumah yang jorok (pribadinya emang jorok sih), tidak stabil secara emosional, pecandu alkohol. Seorang wanita yang menimbulkan perasaan kasihan dan kesal sekaligus. Sosok yang cukup menyedihkan-lah.

Kedua, Anna. Istri baru Tom, mantan suami Rachel. Tentu saja hal ini menjadikannya mendapat gelar perebut suami Rachel, tidak tahu diri, tipe perempuan yang bakalan dibenci oleh seluruh perempuan di dunia (ya iyalah perebut suami orang)

Ketiga, Megan Hipwell. Perempuan yang tidak tahu bersyukur karena memiliki suami yang sangat mencintainya namun tetap selingkuh. Sebenarnya ada masalah dari masa lalunya juga yang membuatnya menjadi wanita seperti sekarang ini.

Kalau membaca kisah dari sudut pandang Rachel, kalau akhirnya dia memulai untuk mabuk, secara otomatis aku langsung sebel banget sama dia (yaelaah mbak, sadar apa kalau mabuk-mabukan itu gak baik dan jelas-jelas sudah membuat hidup lo hancur – pengen banget ngatai hal ini langsung ke dia. Hahaha).
Membaca kisah Megan dan saat dia mulai berpikiran aneh tentang kehidupan bersama suaminya aku langsung bergumam dalam hati, “Syukuri apa yang ada mbaak. Kehidupan mu sempurna namun pikiran yang negatif akan merusak kehidupanmu.”
Membaca kisah Anna dan bersikap protetif, possesif, dan tidak tahu diri juga membuatku geram sendiri. Sadar diri dong mbak, kamu telah merebut suami orang tapi seolah-olah tidak merasa bersalah dan malah menyalahkan orang lain.

Yap, benar sekali. The Girl in The Train ini diceritakan dari sudut pandang 3 wanita bermasalah. Ketiga wanita ini memiliki masalah kepribadian dalam diri mereka sendiri. Bahkan rasa sebal, kesal, dan marah terhadap ketiga tokoh ini sering muncul walaupun kadang rasa simpati muncul di beberapa bagian. Selain itu, kalau kita mau mencermatidan mau berpikir, apa yang dilakukan oleh ketiga wanita ini bisa dimaklumi (walalupun tetap saja menyebalkan. Hahaha...)

Tapi, terlepas dari kisah para tokohnya yang tidak normal dan cenderung bermasalah, The Girl on The Train ini diceritakan dengan menarik. Penceritaan dari tiga sudut pandang itu justru menambah nilai bagi novel ini.
Kasusnya pun diselesaikan dengan cukup baik. Twist-nya mulai bisa tertebak menjelang sepertiga akhir novel ini.
Novel ini bagus dan layak kok untuk dibaca, terutama bagi penggemar kisah misteri.
Dengar-dengar sih novel ini banyak disangkut-pautkan dengan Gone Girl-nya Gillian Flynn. Bagiku sih kisahnya berbeda. Gone Girl tetap lebih bagus dan masih beberapa tingkat lebih keren dari novel ini.

Aku suka, tapi...
Tidak se-spektakuler yang aku bayangkan dan sebagus yang aku hrapkan ketika membaca ulasan dan nilai novel ini.

Nilai : 3,75/5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar