7 Juli 2014

[Book Review] And The Mountains Echoed (Dan Gunung-Gunung pun Bergema)



And The Mountains Echoed (Dan Gunung-Gunung pun Bergema)


Khaled Hosseini (2013)
Penerbit Qanita
Cetakan III, Februari 2014
Tebal 516 halaman 
ISBN 978-602-9225-93-8

Khaled Hosseini adalah pengarang yang sukses dengan novel The Kite Runner dan A Thousand Splendid Sun.

Bermula dari menunggu keberangkatan di bandara, untuk mengusir bosan biasanya aku mengunjungi toko buku “Periplus” di Bandara Internasional Lombok. Di etalase kaca deretan best seller, aku melihat buku ini “And The Mountains Echoed” karya Khaled Hosseini dan langsung tertarik untuk membacanya. Sayangnya, buku yang ada hanya edisi asli berbahasa Inggris dan dalam hati berharap segera diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Berharap. Berharap banget.

Kenapa gak beli yang edisi bahasa Inggris? Ah.. kemampuan bahasa inggris saya masih cetek, boro-boro baca novel bahasa indonesia, beberapa tahun belakangan ini, butuh berbulan bulan untuk menghabiskan sampai tamat, apalagi yang bahasa inggris? Mungkin butuh waktu yang lebih lama atau bahkan mungkin gak bakal selesai. Tapi suatu saat aku berharap bisa membaca novel bahasa inggris tanpa beban dan tanpa harus mencari-cari arti setiap kalimatnya, karena banyak buku yang ingin aku baca tapi belum ada terjemahan bahasa Indonesianya. Hehee...

Membaca sinopsis yang tertulis di sampul belakang, tentang dua bersaudara Abdullah dan Pari yang saling menyayangi. Ibu mereka telah meninggal dan ayah mereka menikah lagi dengan Parwana. Dalam kehidupan pedesaan Afganistan, Pari adalah seberkas cahaya matahari bagi Abdullah. Namun, kerasnya hidup memaksa sang ayah untuk menjual Pari kepada pasangan kaya di Kabul. Hati Abdullah hancur.

Semula aku menduga bahwa buku ini akan bercerita mengenai perjuangan hidup Abdullah dan Pari setelah mereka berpisah, kisah sedih seperti The Kite Runner atau A Thousand Splendid Sun. Ternyata aku salah. Buku ini bercerita lebih luas dan lebih kompleks dengan berbagai cerita yang ada dan saling berkaitan.

Kisah di buku And The Mountain Echoed ini diawali dengan cerita ayah dari Abdullah dan Pari tentang keluarga petani, para div, jin, dan raksasa. Kisah yang sangat menarik tentang seorang ayah yang sangat mencintai anaknya yang diculik div. Aku suka kisah ini karena mengingatkan akan cerita dari negeri arab dan sekitarnya.

Cerita kemudian dilanjutkan dengan perpisahan Abdullah dan Pari. Rasa iri dan sayang Parwana terhadap saudara perempuannya. Surat Nabi – paman tiri Abdullah dan Pari – tentang penyesalan atas tidakan di masa lalunya. Rasa kesepian Suleiman Wahdati dengan cintanya yang terpendam, kehidupan Nina Wahdati dengan rasa kesendiriannya di balik gaya hidupnya yang glamour dan rasa yang entah ingin membuat Pari merasa bertanggung jawab akan hidupnya. Cerita Markos, seorang dokter bedah yang ingin pergi mencari sesuatu dalam dirinya. Seorang anak yang memuja ayahnya. Kesengsaraan Iqbal, adik tiri Abdullah, dan lain sebagainya.

Ternyata memang benar bahwa buku ini lebih kompleks dibandingkan dua buka Khaled Hosseini sebelumnya. Buku ini bagaikan kumpulan cerpen, tapi setiap cerita saling berkaitan dan dapat dikatakan sebuah kesatuan yang utuh dari awal sampai akhir. Kisah antara Abdullah dan Pari bagaikan gema di pegunungan yang membawa perubahan dan menghubungkan kisah-kisah orang lain yang secara langsung maupun tidak terkait dengan mereka.

Sebagai pembaca, aku tersentuh dengan kisah-kisah yang ada. Bahkan terasa membawa kepedihan di hati namun juga membawa sebuah senyuman (bahkan mungkin juga kelegaan dalam hati). Sedihnya tidak didramatisir dan juga tidak lebay namun kerasa di  hati.

Para tokoh dalam buku ini, ada yang merasa kehilangan, ada yang melakukan pencarian, ada yang merasa ingin melarikan diri dari kakunya kehidupan yang dijalaninya, ada yang mencari kedamaian dan kebenaran, adapula yang ingin menyembuhkan hati mereka. Ah, betapa indahnya kisah-kisah dalam buku ini.

Sebagai penutup, aku menyukai kisah penutup dalam buku ini.

“Saat masih kecil, ayah dan aku punya ritual khusus tiap malam. Setelah aku mengucapkan Bismillah 21x dan ayah menyelimutiku, dia akan duduk di pinggir ranjang dan memetik mimpi buruk dari kepalaku dengan jempol dan jari telunjuknya. Jari-jarinya akan bergeser dari dahi ke pelipisku, dengan sabar mencari-cari di belakang telingaku, belakanga kepala, lalu ayah akan mengeluarkan suara POP – seperti suara tutup botol yang terbuka – setiap kali dia membuang mimpi buruk dari benakku.

Ayah menumpuk mimpi-mimpi buruk itu, satu demi satu, di kantung tak terlihat di pangkuannya, lalu mengikat talinya erat-erat. Setelah itu, ayah akan meraih-raih udara, mencari mimpi indah untuk menggantikan mimpi buruk yang telah dia singkirkan.

Aku menatap penuh harap saat ayah sedikit memiringkan kepala dan mengerutkan dahi, matanya melirik ke kanan kiri, seakan-akan mencoba mendengar suara di kejauhan. Aku menahan nafas, menunggu saat ketika wajah ayah bersinar dengan senyuman. Saat dia bersenandung, “Ah, ini dia” lalu menangkupkan kedua tangan, dan membiarkan mimpi indah itu jatuh di telapak tangannya, seperti kelopak bunga yang perlahan turun dari pohon. Kemudian, dengan lembut, oh sangat lembut – ayah mengatakan betapa hal-hal indah di dunia ini sangat rapuh dan mudah hilang -  dan mengulurkan tangannya yang tertangkup ke wajahku, mengusapkan tangannya ke alisku dan memasukkan kebahagiaan ke benakku.”

“Apa mimpiku malam ini, Baba?” - Pari

Skor : 4/5 

suka :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar