7 Agustus 2017

[Book Review] 3 in 1 Short Review Buku Jostein Gaarder (Penerbit Mizan)

Postingan kali ini aku ingin membahas secara ringkas tiga buku karya Jostein Gaarder yang diterbitkan oleh Penerbit Mizan.
Jostein Gaarder dikenal dengan buku-buku yang mengandung filsafat sehingga kadang dibutuhkan pemikiran dan perenungan dalam membaca karya-karya beliau.

Ulasan singkat ini pernah aku tuliskan di akun instagram milikku @sulhanhabibi
Ulasannya sih benar-benar singkat, namun semoga siapapun yang membaca ulasan ini menjadi tertarik untuk  membaca karya-karya Jostein Gaarder.
Selamat membaca.



The Magic Library – Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken | Jostein Gaarder & Klaus Hagerup | Penerjemah Ridwana Saleh | @PenerbitMizan | Edisi Ketiga Cetakan Kedua Maret 2016 |284 Halaman | ISBN 9789794339244

“Setiap kali aku membuka sebuah buku, aku akan bisa memandang sepetak langit. Dan, jika membaca sebuah kalimat baru, aku akan sedikit lebih banyak tahu dibandingkan sebelumnya. Dan, segala yang aku baca akan membuat dunia dan diriku sendiri menjadi lebih besar dan luas. Selama beberapa saat, aku melongok ke dalam dunia buku yang fantastis dan berdaya magis.”

Dua orang sepupu, Nils dan Berit, tinggal di kota yang berbeda. Berkat ide seseorang, mereka mebuat buku-surat untuk berkomunikasi. Mereka secara bergantian bercerita dalam buku tersebut dan mengirimkan satu sama lain. Anehnya, tiba-tiba mereka merasa ada yang menginginkan buku-surat yang mereka tulis. Mereka mencurigai seorang wanita, yang diketahui bernama Bibbi Bokken, seorang yang menginginkan buku mereka, apalagi Bibbi Bokken pindah dan tinggal tidak jauh dari rumah Berit.

Melalui buku-surat mereka mengungkapkan kecurigaan dan penyelidikan yang mereka lakukan. Nils merasa ada lelaki botak yang sering membuntutinya. Merit pun melakukan penyelidikan terhadap Bibbi Bokken. Perlahan-lahan mereka mencurigai bahwa beberapa orang di sekitar mereka mungkin terlibat sebuah ‘konspirasi’ yang menyangkut buku-surat mereka dan proyek Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken yang ‘tidak sengaja’ mereka dengar. Mereka pun berencana mengungkapkan misteri ini karena mereka terlibat di dalamnya.

Buku ini bercerita tentang buku, perpustakaan, sejarah buku, penerbitan, ide, imajinasi, inspirasi, film perpustakaan, dan juga sebuah misteri dan cerita ala detektif. Cukup menyegarkan dan menyenangkan. Ide yang dituangkan dalam buku ini pun menarik. Aku suka Nils dengan imajinasi dan fantasinya. Aku pun suka Merit dengan kepandaiannya mencari informasi.

Awalnya aku mengira buku ini berisi hal-hal yang magis dan mengandung unsur fantasi, namun ternyata yang aku dapatkan berbeda jauh. Tapi, menarik. Sangat menarik. Terutama jika kalian ingin lebih banyak mengetahui tentang buku, kata-kata, imajinasi, ide, inspirasi, dan tentu saja mengenai perpustakaan.

Rating ★★★½



--oOo-- 




"Dunia Anna" karya Jostein Gaarder | @PenerbitMizan | Penerjemah Irwan Syahrir | 244 Halaman | Oktober 2014 | ISBN 9789794338421

Huaaahh...
*Hela nafas dulu setelah membaca buku ini

Buku kedua Jostein Gaarder yang aku baca ini lagi-lagi bertema berat yang disajikan dengan takaran berat namun kadang pula disajikan ringan.

Siapa sangka buku ini bercerita mengenai Global Warming? Setidaknya aku tidak menduga bahwa hal tersebutlah pokok utama yang dibahas dalam buku ini.

Bumi tahun 2082, Nova terkejut saat tiba-tiba di terminal online-nya muncul surat dari neneknya, Anna. Surat yang ditulis 70 tahun lalu, tanggal 12-12-2012. Tepat saat nenek buyutnya berusia 16 tahun seperti Nova saat ini.

Keseimbangan bumi terancam di tahun 2082. Jutaan spesies makhluk hidup sudah punah. Namun, ada kesempatan kedua yang katanya bisa diwujudkan/ diberikan lewat permohonan cincin rubi merah dari legenda Aladdin agar keseimbangan bumi bisa kembali lagi. Cincin yang dimiliki oleh Anna di tahun 2012.

Hmm..
Berat ya?
Buku ini membahas pula bahwa kita, manusia, yang hidup di masa sekarang ini bertanggung jawab kepada generasi masa depan terkait keseimbangan alam, ketersediaan sumber daya alam, dan semua hal yg menyangkut hajat hidup orang banyak.
Bahkan jika ingin menyelamatkan spesies di bumi, setidaknya kita harus membuat organisasi/penggalangan dana untuk masing-masing spesies.
Misal, pencinta Harimau menyumbang untuk kelestarian harimau, namun, apa dia peduli terhadap kelestariaan hewan lain, kodok misalnya? Padahal jika ada yg punah, keseimbangan alam bisa terganggu.

Well, kegelisahan Anna bisa aku rasakan.
Setidaknya buku ini pun membuatku berpikir ttg keseimbangan alam.
Namun, alih-alih berpikir berat seperti buku ini, aku menyederhanakannya dengan ikutan lewat apa yg kita bisa, bahkan lewat hal-hal kecil.

Contohnya: Tidak buang sampah sembarangan dan penghematan sumber daya, terutama listrik dan bahan bakar yg sangat dekat dengan keseharian kita.

Buku yang menarik.
Yuk kita jaga bumi kita ini.

Rating ★★★
 
 
--oOo-- 
 
 
Dunia Cecilia (Through A Glass, Darkly) karya Jostein Gaarder | @penerbitmizan  | Juni 2015 | 209 Halaman | ISBN 9789794338865
 
Hmmm...
*jernihkan pikiran setelah baca buku ini

Buku ini tentang dialog seorang anak yang sedang sakit keras, Cecilia, dengan seorang malaikat, Ariel, tentang manusia, dunia, dan surga.

Buku ini sempat membuatku benar-benar berpikir tentang manusia yang terdiri dari darah dan daging, indra manusia, pikiran dan perasaan manusia, mimpi, alam semesta, dan tentang penciptaan alam semesta.
Cukup berat.

Buku ini bagus.
Banyak dialog yang mengajak kita untuk merenung dan beetanya-tanya tentang hakikat dunia dan surga, dan penciptaan Tuhan (kalau mau berpikir sih). Cukup menarik.

Namun, beberapa hal memang berbeda dengan yang aku yakini dan ini sedikit tidak berpengaruh terhadap kenikmatan membaca buku ini. Bukan berarti aku tidak menyukainya.
Aku suka kok walaupun tidak sampai benar2 mengaguminya.

Salah satu kutipan yang aku suka dari buku ini adalah, "Alam semesta maupun surga adalah misteri akbar yang tak bisa dipahami manusia di bumi ataupun malaikat di surga. Tapi, ada yang tak benar di alam semesta ini. Ada cacat dalam keseluruhan rancangan agung ini."
.
.
Aku setuju kalimat pertama, namun tidak setuju dengan kalimat kedua dan ketiga. Tuhan Maha kuasa. Kalimat pertama mengatakan misteri yang tak kita pahami, namun bukan berarti kita berhak mengatakan ciptaan Tuhan tidak sempurna. Tuhan itu Maha segala-galanya. Kita saja yang tidak sampai pemikirannya ke sana.
Ini salah satu yang aku katakan berbeda dari yang aku yakini. But, it's OK.

Btw, kalau aku belajar filsafat, otakku berasap kali ya. Sedap sedap berat penasaran tapi khawatir gak kuat kalau mendalami fiilsafat itu bagiku. Hahaha.

Rating ★★★

Tidak ada komentar:

Posting Komentar