17 Agustus 2011

Simulasi Segelas Air

Jadi, pada suatu hari beberapa waktu yang lalu aku ketiban suatu masalah seperti yang (mungkin) pernah dialami oleh (sebagian besar) orang lain di dunia ini. Masalah yang membuat hari-hari terasa begitu berat. Tubuh capek, pikiran terasa lelah, begitu pula dengan perasaan. Bahkan ketika bangun tidur pun badan terasa begitu lelah dan pikiran nggak jernih. Tidur yang seharusnya untuk mengistirahatkan tubuh dan pikiran justru malah membuat lelah.


Mungkin hal ini yang dinamakan stress. Akumulasi dari masalah-masalah kecil yang kadang secara tidak sadar dan secara gak langsung membebani pikiran dan hati (itu kadang terjadi). Ditambah suatu masalah yang cukup besar dan menjadi pemicu meledaknya tumpukan masalah (besar dan kecil) yang membuat diri tidak bias lagi membendungnya. Kira-kira itulah gambaran yang terjadi pada diriku (wew, serem ya).

Masalahnya apa? Hehehe, gak perlu diceritain. Pokoknya ada masalah dan kejadian yang terjadi. Sampai-sampai aku hanya ingin hari segera berakhir, pulang, istirahat dan menenangkan diri. Kalau mau agak lebay, inilah yang dinamakan ‘aku merasa lelah menjalani hari’..

Karena terasa lelah badan dan perasaan ini menanggungnya, akhirnya aku mencoba berusaha menyelesaikan semuanya. Namun, semangat kurang karena kondisi cukup lelah. Akhirnya sempat berbagi dengan seorang teman dan meminta bantuin sesuatu.

Naah, dalam peristiwa meminta bantuan itu dengan bijaknya dia mengatakan sesuatu kepadaku yang katanya emang mungkin aku sudah mencapai batas untuk menahan beban itu…



"Beban itu kalo udah terasa berat ya ditaruh dulu"
Sama aja kayak simulasi segelas air..”

“Maksudnya, misalkan kita memegang segelas air dengan tangan lurus ke depan.
Awalnya sih biasa aja, tapi semakin lama semakin capek dan terasa berat.
Semakin lama semakin banyak kekhawatiran yang muncul.
Takut gelasnya pecah
Takut airnya tumpah
Takut kamunya pingsan, dll, dst..
Kalau udah terasa capek dan berat, sebaiknya segelas air itu ditaruh dulu.
Jangan dipegang terus..

“Dan, ibaratkan segelas air itu adalah sebuah masalah yang sebenarnya kecil dan simple, semakin lama akan semakin terasa berat dan kompleks kalau terus dipendam.”


Hal itulah yang dikatakan kepadaku.

Kemudian aku berpikir, “iya sih. Secara tidak sadar aku mungkin memendam beberapa masalah yang awalnya aku kira kecil dan biasa-biasa saja, namun justru ketika ada masalah yang menjadi pemicu, masalah kecil yang menumpuk itu semakin membebani”

Naah, akhirnya aku mencoba untuk memaparkan maksud simulasi segelas air tersebut, yaitu sebagai berikut :

1.  Kalau ada masalah, besar atau sekecil apapun, janganlah dipendam. Keluarkan, selesaikan dan jangan diambil pusing (tapi bukan berarti diremehkan begitu saja). Karena kadang-kadang masalah-masalah kecil jika terakumulasi dan ada pemicu (masalah yang lebih besar) membuat kita tiba-tiba meledak karena tidak sanggup menampungnya lagi.
Cara menyelesaikannya gimana?
Aku gak bisa memberikan tips ataupun cara yang jitu. Aku bukan ahlinya. Lagipula setiap orang biasanya memiliki cara yang berbeda dalam menyelesaikan masalahnya dan tentu saja memakai cara yang paling nyaman untuknya.

2.  Aku pernah membaca suatu buku yang mengatakan kalau ada masalah, rasakanlah masalah tersebut. Rasakan dan resapi kemudian lepaskan.
Merasakan dan meresapi masalah itu bertujuan agar pada saat kita mengalami masalah yang mirip atau serupa pada suatu waktu, kita tau rasanya dan bias lebih ringan dalam menjalani dan menyelsaikannya (kurang lebih begitu yang aku ingat).

3.  Perbanyak beribadah dan berdoa.
Mengadu kepada sang Maha Pencipta akan semua keluh kesah dan permasalahan yang kita hadapi. Kemana lagi kita akan mengadu selain kepada Allah SWT?
Kadang tanpa kita sadari, ketika kita menjauh dari Allah dan segala perintah dan ajaran-Nya, hati akan merasakan kekosongan dan biasanya gak tenang apalagi ketika menghadapi suatu masalah.

4.  Perbanyak melakukan kebaikan. Cara ini ampuh untuk lebih menenangkan diri sendiri dan bisa merasakan kebahagiaan yang tulus.

5.  Jangan lari dari masalah, karena kemana pun kamu pergi masalah itu bisa membayangi sewaktu-waktu tanpa kita sadari, kapan pun dan di manapun.
Jangan pula memecahkan masalah, karena kalau pecah akan semakin banyak masalah yang timbul.
Lalu bagaimana? Selesaikanlah masalah tersebut. Kalau sudah selesai kan tidak aka nada kelanjutannya bukan? Lo (masalah), gw, eeend….

Cukup itu saja dulu. Cuma itu juga yang kepikir sama otakku sekarang ini.
Sekarang aku apa kabar? Alhamdulillah, baik-baik saja (gak ada yang nanya padahal ya..)

Btw, pembahasan di atas cukup berat ya? Tapi gak apalah. Aku ingin berbagi pengalaman, siapa tau ada yang bias kalian dapatkan dari tulisan ini…

3 komentar:

  1. postingan ini pas banget sama apa yang lagi aku alamin sekarang..makasih udah share.. :)
    hmm..tapi meresapi masalah itu imana sih sebenernya caranya? #kurngpaham#

    BalasHapus
  2. hihih, iya juga ya? jangan lari dari masalah. jangan ditumpuk2 juga #menasihati diri sendiri.

    BalasHapus
  3. Rabest - mungkin aku salah mengutip, maklum udah lama. Tapi, kalo gak salah maksudnya adalah kita kenali masalah itu, tentunya kita cari tau penyebabnya, bagaimana tubuh dan perasaan kita bereaksi saat mengalaminya.
    Intinya adalah mengenal masalah itu sendiri dahulu, sehingga ketika kita mengalaminya lagi, kita bisa lebih siap dalam menghadapinya.

    Huda - iya, Hud.. jangan ditumpuk-tumpuk. Jangan lari juga.
    capek kan kalo lari terus? wkwkwk

    BalasHapus