11 Maret 2015

[Book Review] Sabtu Bersama Bapak

Sabtu Bersama Bapak Cover + Sinopsis Sampul Belakang
Judul : Sabtu Bersama Bapak
Penulis : Adhitya Mulya
Penerbit : Gagas Media
Cetakan Pertama : 2014
Tebal : 278 halaman, paperback
ISBN : 978-780-721-5

Sabtu Bersama Bapak adalah sebuah cerita tentang sebuah keluarga kecil yang terdiri dari Bapak, Ibu dan dua anak laki-laki mereka.

Bapak Gunawan Garnida, seorang sosok suami dan bapak yang sangat menyayangi keluarganya. Bapak Gunawan meninggal karena kanker, namun sebelum meninggal dia telah mempersiapkan segalanya untuk Istri  dan kedua anak laki-lakinya. Satya yang berumur 8 tahun dan Saka yang berumur 5 tahun. Segala hal telah dipersiapkan sehingga mereka tidak susah dan merepotkan orang lain stelah dia meninggal.

Sang bapak berjanji akan ada bersama mereka walaupun sudah meninggal. Oleh karena itu, sebelum meninggal dia membuat pesan melalui sebuah video yang ditujukan kepada kedua anaknya. Video yang jumlahnya ratusan. Video yang mereka tonton setiap Sabtu sore, sebagai bekal kehidupan mereka kelak dan untuk menjawab pertanyaan mereka tentang hidup yang tidak bisa mereka tanyakan langsung kepadanya.
*Dari kegiatan inilah judul novel ini diambil :)

Ibu Itje, seorang istri dan ibu yang sangat menyayangi keluarganya. Seorang wanita yang tegar, kuat, dan membesarkan kedua anak laki-lakinya seorang diri dengan cara luar biasa. Sosok ibu yang tidak ingin merepotkan siapapun, bahkan kedua anaknya. Bahakan rela menyembunyikan penyakit yang dideritanya. Seorang ibu yang pintar memasak. Seorang ibu yang disayangi dan dikagumi oleh anak-anaknya.

Satya Garnida, adalah anak sulung keluarga Garnida. Seorang yang pintar, tampan, dan tegar. Setelah sukses bekerja di industry minyak mengakibatkan dia harus meninggalkan keluarganya untuk sementara waktu. Dia ingin menjadi sosok kepala keluarga yang tegas dan sempurna sehingga menuntut banyak hal dari keluarganya. Sampai akhirnya dia sadar bahwa dia jauh dari sosok suami dan bapak yang baik. Satya pun belajar menjadi bapak dan suami yang baik.

Cakra Garnida, adalah anak bungsu keluarga Garnida. Belajar mencari cinta. Di usia yang menginjak 30 tahun, belum juga menemukan labuhan cintanya. Walaupun telah menjadi direktur bank yang sukses, namun masih belum sukses dalam soal asmara.

Teringat pesan ayahnya, bahwa pernikahan itu harus dipersiapkan dengan baik. Rencana harus matang. Sebagai kepala keluarga nanti, jangan sampai malah membuat keluarganya menderita. Dia sadar, walaupun ibunya jarang membahas soal pernikahan, dia tahu bahwa ibunya sangat mengharapkan dia untuk segera menikah.

**

Yah, itulah sebenarnya gambaran besar novel Sabtu bersama bapak ini. Terus terang, ini adalah novel pertama Adhitya Mulya yang aku baca jadi aku tidak tahu gaya penceritaan Adhitya Mulya sebelumnya. Ternyata cara berceritanya asyik. Aku suka.

Cerita yang disampaikan ringan dan sederhana. Sederhana tersebut bukan berarti biasa saja. Justru sederhana di sini adalah hal yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, terasa dekat dan nyata, serta penuh dengan makna hidup. Sederhana bersahaya dan melekat di hati *halah bahasa apa pula ini

Cerita tentang keluarga ini pun dibalut dengan kelucuan. Beneran, di beberapa kalimat ataupun dialog terasa lucu. Aku juga suka dengan lelucon yang diselipkan melalui catatan kaki si penulis sendiri. Itu lucu. Keren.

Sebagai seorang anak, aku menyukai kisah dalam novel ini. Aku memang mungkin sosok anak yang dekat banget sama orang tuaku. Namun, novel ini mengingatkanku akan betapa aku menyayangi mereka. Betapa aku menghormati mereka. Betapa banyaknya pengorbanan yang telah mereka berikan, namun betapa sedikitnya yang telah aku berikan kepada mereka.

Sebagai seorang suami, aku juga menyukainya. Cerita ini mengingatkan aku betapa aku menyayangi istriku. Dia pantas untuk seseorang yang lebih baik, oleh karena itu aku harus menjadi lebih baik lagi.
Sebagai seorang ayah, aku pun suka banget cerita ini. Cerita ini mengingatkan aku untuk selalu ada untuk anakku tercinta. Aku ingin selalu ada dalam setiap momen kehidupannya. Membimbingnya, mengajarinya, melindunginya dan sebagainya.

Ah, buku ini mengingatkan aku untuk menjadi kepala keluarga yang lebih baik lagi. Banyak hal yang masih harus aku pelajari dan persiapkan.

Sebagai anak, suami, dan ayah, buku ini terasa personal (semenjak jadi bapak, perasaan lebih sensitive kalau udah menyangkut keluarga. Hehehe) dan kadang membuatku terharu


#maafkan kalau terdengar lebay

Nilai : 4/5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar