29 September 2010

TRAGEDI KOPAJA 88 di HARI YANG ANEH

TRAGEDI KOPAJA 88 di HARI YANG ANEH

by Sulhan Habibi on Saturday, April 10, 2010 at 11:44pm
HATI-HATI, JANGAN SAMPAI KALIAN MENJADI KORBAN SELANJUTNYA....

Waktu kejadian : Sabtu, 10 April 2010, Pukul 14.00 WIB
Lokasi Kejadian : Kopaja 88 dari arah Slipi Jaya menuju CitraLand (Pijay - CL)

Siang itu seharusnya menjadi siang yang cukup menyenangkan mengingat panas yang menyengat dengan apa yang telah kami dapatkan. Aku dan Andy (temanku) berencana ke Tanjung Duren (akhirnya diputuskan ke CL dulu) siang itu setelah dari Tanah Abang. Kami akhirnya memutuskan turun di Slipi Jaya dan menaiki Kopaja 88 setelah mendiskusikan turun di Pusdiklat Pajak kemudian naik metromini 91 atau Slipi Jaya kemudian naik Kopaja 88.

Seperti biasa kalau bepergian, aku membawa tas slempang yang berwarna (apa ya? cokelat tembok-lah. Sebenarnya aku juga bingung cokelat tembok itu warnyanya seperti apa) yang bernama tas merantau, di dalamnya aku taruh handphone LG, flash disk, 2 potong baju, buku dan kunci kamar. Andy membawa tas kresek berisi baju dan tas Eiger kecilnya.
Singkat cerita, naiklah kami ke Kopaja 88 yang lagi ngetem nunggu penumpang di depan Slipi Jaya persis. Siang yang panas dan terik, Kopaja 88 setengah penuh. Bangku depan terisi sebagian, begitu pula bagian tengah. Bagian belakang hanya ada seorang lelaki di pojok kanan dan seorang wanita (misterius) di pojok kiri. Agar lebih adem karena angin dan kebetulan belakang muat bagi kami berdua, akhirnya Aku dan Andy duduk di antara kedua orang tersebut. Keringatan dan lumayan kecapekan. Sejenak sang wanita misterius memperhatikan kami (menurut pengamatan Andy).

Di depan kami ada bapak-bapak yang baru naik membawa kardus sambil memakai helm (sesuatu yang tampak tidak lazim yang membuat kami menduga-duga apakah Bapak itu sengaja menggunakan helm atau itu helm tukang ojek yang lupa dia kembalikan) dan seorang laki-laki berpakaian oranye dengan lelaki di sebelahnya yang tidak aku perhatikan dengan seksama.

Kopaja pun berangkat, dan aku cuma bengong menatap ke depan sementara Andy tiba-tiba diajak ngobrol sama laki-laki di sebelah kanannya. Aku tidak begitu mendengar jelas apa yang mereka bicarakan (maklumlah, Kopaja kan berisik). Yang paling aku perhatikan adalah, lelaki itu beberapa kali minta maaf kepada Andy setelah menanyakan sesuatu dan Andy menjawab “gak apa-apa”. Sebuah pembicaraan yang ingin aku tanyakan ke Andy tentang apa yang sebenarnya laki-laki itu tanyakan. Sementara itu, wanita misterius di sebelahku masih saja terdiam sambil menyandarkan kepala ke dinding Kopaja seperti hendak tertidur.

Inilah kira-kira percakapan Andy (A) dan laki-laki di sebelahnya (T1 alias Tersangka 1) dari apa yang aku tanyakan kepada Andy setelah kejadian itu:

T1; mas dari palembang ya??
A; he...oh bukan mas.
T1; dari mana?
A; jawa.
T1; Ni maap ya mas klo nanya2 soalnya tadi ponakan saya baru aja dipukulin di 88..
A; owh....
T1; mau kemana mas?
A; maen...
T1; mas, ntar klo ada yang nanya2 lagi tolong dijawab aja dengan sopan, bilang tadi dah ditanyain sama Andy makasar...
T1; oh ya namanya sapa mas?
A; Andy juga...

Aku masih aja tidak terlalu memperhatikan mereka ngobrol sampai laki-laki tersangka itu menanyaiku juga.

T1 ; Mas dari Palembang?
H ; ya?
T 1; Mas dari Palembang?
H ; oh, bukan.
T ; dari mana, Mas?
H ; Lombok
T1 ; Dari mana?
H ; Lombok
T1 ; Oh, yang di Bali?
H ; bukan, tapi sebelahnya mas. Bali trus Lombok.
T1 ; oh, Mataram?
H ; iya. Mataram

Kopaja kemudian berhenti sebentar di Halte depan Twin Tower, seorang cewek naik dan dipersilahkan duduk oleh laki-laki berbaju oranye (namanya berubah menjadi T2 alias tersangka 2). Kemudian T2 pindah berdiri dan mendekati pintu keluar. Aku kira dia mau turun, tapi tiba-tiba dia bertanya kepada mbak-mbak misterius itu (MBM) dan kepadaku (H)

T2 ; mbak dari Palembang?
MBM ; (menggeleng) dia tetap tidak bersuara.
T2 ; mas dari Palembang? (menanyaiku)
H ; bukan.

Tiba-tiba dia menyuruh si mbak misterius bergeser dan duduk di antara kami. Dia (T2) mulai nanya-nanya si mbak tapi tetap tidak bersuara.

Sementara itu si T1 juga mulai nanya2 Andy lagi.
T1 ; bawa senjata gak mas? Pisau atau apa gitu?
A; kagak lah, buat apa coba?
T1; coba donk di perut ada enggak?
A; gak ada
T1; buka donk, angkat bajunya. Kalau emang gak salah kenapa mesti takut...

Karena dikatai seperti itu, akhirnya si Andy membuka dikit bajunya. Sementara aku udah mulai gak nyaman karena pasti akan ditanyai juga. Aku juga mulai ditanyai. Aku jawab gak. Disuruh juga angkat baju di bagian pinggang.

T1; kalau di tas??
A ; gak ada juga.

Pertanyaan serupa juga diajukan kepadaku. Aku jawab juga gak ada.
Sementara itu, si lelaki baju oranye mulai menginterogasi cewek misterius itu. Meminta tasnya untuk diperiksa. Si mbak misterius dengan kalemnya memberikan tasnya kepada laki-laki baju oranye. Tasnya dibuka, kemudian sambil berkata, “Ini tas mbak ya. Ada Hp-nya. Tenang saja, gak bakal saya ambil kok. Mana dompet mbak?”. Mbak misterius itu pun memberikan dompet-nya. “Ini HP dan dompet mbak ya. Saya gak ambil. Gabungin semua di tas ya! Gak ada senjata tajam kan?” masih terus berbicara seperti itu sampir menginterogasi dan menggeledah isi tas mbak misterius itu.

Sementara dalam hati aku terus bertanya-tanya, “astagfirullah, ada apa ini? Kenapa orang ini minta tas mbak itu untuk diperiksa. Mencurigakan. Kenapa si mbak itu tidak berusaha menolak sedikit pun? Kenapa dia juga tidak mengeluarkan kata-kata sedikit pun? Kenapa dia menurut dengan enteng?”. Aku mulai berpikir tentang hipnotis. Aku berdoa dalam hati kalaupun ini hipnotis jangan sampai aku kena. Karena mau gak mau aku pasti bakal di tanyain juga. Apalagi si laki-laki samping Andy juga mulai menginterogasi Andy.

“Mas, bisa liat tasnya gak?” si T1 mulai beraksi kepada Andy. Si Andy mulai membuka tasnya dan menunjukkannya sama orang itu. Tali tasnya masih terselempang di bahunya andy. Laki-laki itu pun menyuruh si andy menyerahkan tasnya biar dia geledah sendiri. Lagi-lagi aku terheran-heran karena si Andy juga melakukannya tanpa perlawanan.
“Ya Allah! Ada apa ini? Kenapa si Andy dengan entengnya ngasi tasnya kepada orang itu?” aku makin gak nyaman dengan kondisi ini. Penumpang yang lain adem ayem gak tahu apa-apa. Aku mulai istighfar dan berdoa. Karena pasti sebentar lagi giliranku.

Aku ingin secepatnya bilang ke Andy kalau sebaiknya kita turun di Taman Anggrek saja segera. Suasana makin gak nyaman. Tapi gak ada kesempatan buat bilang ke Andy. Apalagi jalanan yang sedikit macet membuat orang itu memiliki waktu yang lebih lama melakukan aksinya. Si baju oranye masih berurusan dengan mbak misterius itu sesekali juga aku. Dan si lelaki sebelah Andy pun mulai meminta tasku.

Lagi-lagi untuk kesekian kali dia menanyakan ada senjata (pisau) gak di tasku. Aku jawab gak ada. Dia memintaku membuka tasku dan meminta untuk dia periksa sendiri. Aku membuka tasku dan meunjukkannya bahwa gda senjata di dalam tasku. Dia meminta tasku. Aku menolak sambil membuka tasku. Aku bilang, “Saya bukakan saja sendiri, nih gda senjata”. Lagi-lagi dia meminta tapi ada sikap penolakan dariku (ya ogah-lah tasku diambil sama dia). Melihat penolakanku dia mulai bersikap tidak sopan sambil megeluarkan kata-kata yang bernada ancaman. Sambil memaki (Brengs** ni orang) aku memberikan juga tasku kepada lelaki itu karena aku lebih mementingkan keselematan diri-sendiri dulu daripada tas. Tasku mulai digeledah. Ah, ada HP-ku di sana. Dia berkata sambil terus bongkar-bongkar, “Ini HP mas ya, saya masukin di sini. Saya gak ambil.” Masih terus digeledah, dia mengomentari tas kresek di tasku, botol parfume di dalamnya dan sebagainya.

Lagi-lagi nanya masalah senjata. Lagi-lagi nanya mau kemana yang dijawab Andy mau maen. Lagi-lagi ngomongin masalah kalau ditanya jawab yang sopan. Lagi-lagi ngomong yang semakin bikin gak nyaman dari kedua tersangka itu. Aku meminta tasku juga dengan susah dan aku bersukur mungkin dia lupa meminta aku mengeluarkan dompet (terus terang aku khawatir karena dompetku berisi uang yang lumayan banyak. Maklum baru ambil duit).

Perjalanan ke Taman Anggrek agak tersendat karena agak macet. Andy pun bilang kami mau turun di Taman Anggrek. Aku pun mengiyakan (untungnya aku dan Andy punya pikiran yang sama, karena kalau tidak, mampuslah kami ketahuan berbohong). Aku akhirnya mendapatkan tasku. Andy buru-buru ke depan untuk turun dari pintu di sana. Sedangkan aku dengan bego-nya aku urungkan niat ngikutin Andy turun dari depan karena selain rame, aku pikir dari belakang lebih cepat dan urusan dengan orang itu selesai.

Tapi aku salah.

Ketika aku berdiri, lagi-lagi kedua orang itu menanyakan senjata. (sial** ni orang) lagi-lagi aku memaki mereka. “Coba angkat bajumu?” mereka meminta. Aku bilang gak ada sambil memperlihatkan mereka. “ Di ikat pinggang?” lagi-lagi aku ditanya. Aku jawab gak ada. Si Andy udah turun. Aku juga mau turun, tapi tiba-tiba lagi-lagi dia meminta tasku. Aku tolak, tapi mereka tetap memaksa (lagi-lagi aku memaki. Astagfirullah. Kurang ajar ni orang). Tas ku lagi-lagi diambil mereka, dibuka dan digeledah lagi. Tangan dia terus di dalam tasku. Perhatianku lagi-lagi dialihkan oleh si baju Orange begitu melihat tonjolan di saku celanaku. Dia bertanya, “Apa itu di sakumu?” aku jawab HP (ini HP Nokia-ku yang satu lagi). Mereka gak percaya dan menyuruhku mengeluarkannya. Aku keluarkan itu HP Nokia sama duit seribu rupiah. Begitu aku mau memasukkan lagi ke dalam saku celana. Si laki-laki sebelah Andy meminta HP-ku (Bangs** ni orang, kesekian kalinya kau memaki). Sini HP-nya, saya masukkan ke sini, digabung aja. Oooh, aku udah gak berdaya mengahadapi kedua orang ini. Mampuslah aku (begitu pikirku). Lagi-lagi meraka menyakan isi saku celanaku yang satunya lagi. Akupun mengeluarkan konci kamar dan duit.

Kopaja 88 udah berhenti di depan Taman Anggrek dari tadi. Andy sudah memanggil-manggil sambil memeperhatikan tangan orang itu di dalam tasku.
Aku memaksa mengambil tasku, tapi tetap tidak dikasi. Lagi-lagi aku bilang minta tasku, dia lagi-lagi nolak. Kurang ajar benar tu orang. “Mas, saya mau turun, sini tas saya!” aku lagi-lagi meminta. Dia menjawab, “sebentar dulu. Saya tandai dulu tas ini” dia menjawab. Lalu dia mengambil semacam penyegel dan mau dipasang ditasku. Tas mau aku rebut tapi dia tetap memaksa memasang tanda itu.
Beruntunglah si Andy dan kenek Kopaja itu terus memaksa mereka memberikan tasku karena Kopaja mau berangkat. Akhirnya tanpa sempat memasang tanda itu, aku merebut tas itu dan langsung turun.
Sungguh, kejadian itu membuat kami berdua shock. Kami bingung mau ngapain. Samapai akhirnya mampir ke Taman Anggrek dulu menghilangkan shock. Bahkan begitu mau masuk TA, seperti biasa Security memeriksa tas sebelum masuk. Andy sampai kaget dan berkata tanpa sadar, “Hah, tas kita diperiksa???” sungguh pertanyaan yang gak perlu ditanyakan karena kami tentu saja sudah mengetahui hal ini dari dulu.

Yah, ini mungkin pelajaran bagi kami dan juga bagi kita semua. Aku pernah dikasitau udah cukup lama, bahwa hati-hatilah kalau naik bus-Kopaja-Metromini dan sejenisnya di Jakarta juka duduk di belakang.
Tapi aku lupa dan tidak berpikir panjang karena selama ini tidak pernah terjadi apa-apa. Apalagi aku paling sering berpergian kemana-mana sendiri dan tempat duduk favorit-ku adalah di belakang...


Semoga kejadian ini bisa meningkatkan kewaspadaan teman-teman jika berpergian. Apalagi kalau pergi sendirian...

Gara-gara kejadian ini, jiwa petualang-ku sebagai “walker”penjelajah bergejolak...

---------------------------------------------------------------------------------------------------------

STORY 2 - bersambung dengan kisah yang sama tetapi di tempat dan waktu yang berbeda

3 komentar:

  1. suram....
    kenapa gak naek trans apa ... gitu? naek taksi?

    BalasHapus
  2. busway atau Trans Jakarta?
    kebetulan jalurnya belum beroperasi dari Slipi Jaya ke Taman Anggrek atau CL. Hehehe..

    Tapi, pengalaman ini asyik untuk dikenang.

    BalasHapus
  3. tapi serem juga y tinggal di jakarta? hehehe. tiang seumur-umur cuma dua kali ke jakarta (tiga kali ding, ma pas SMP dulu itu). dan tidak terlalu tertarik untuk tinggal di sana,(emangnya siapa juga yang nawarin? hehehe) yah, tinggal di manapun pasti ada enak dan ga enaknya juga sih. punya keseruan sendiri-sendiri (so' bijak)

    gud luck di desa orang y!

    BalasHapus