24 Oktober 2015

[Book Review] The 100-Year-Old Man Who Climbed Out Of The Window And Disappeared


My Book



The 100-Year-Old Man Who Climbed Out Of The Window And Disappeared

Pengarang : Jonas Jonassson
Alih Bahasa : Marcalais Fransisca
Penerbit Bentang (PT Bentang Pustaka)
Tebal Viii + 508 halaman
ISBN 978-602-291-018-3
Cetakan keenam, Juni 2015
Soft cover


“Segala sesuatu berjalan seperti apa adanya, dan apapun yang akan terjadi, pasti terjadi.”


Sinopsis

Allan Karlsson hanya punya satu jam sebelum pesta ulang tahunnya yang keseratus dimulai. Wali Kota akan hadir. Pers akan meliput. Seluruh penghuni Rumah Lansia juga ikut merayakannya. Namun ternyata, justru yang berulang tahunlah yang tidak berniat datang ke pesta itu.


Melompat lewat jendela kamarnya, Allan memutuskan untuk kabur. Dimulailah sebuah perjalanan luar biasa yang penuh dengan kegilaan. Siapa sangka, petualangan itu menjadi pintu yang akan mengungkap kehidupan Allan sebelumnya. Sebuah kehidupan di mana – tanpa terduga – Allan memainkan peran kunci di balik peristiwa penting pada abad kedua puluh. Membantu menciptakan bom atom, berteman dengan Presiden Amerika dan tiran Rusia, bahkan membuat pemimpin komunis Tiongkok berutang budi padanya! Siapa sih, Allan sebenarnya?

--

Dari sinopsisnya sendiri novel ini terdengar menarik. Jawabanku sih novel ini memang menarik, segar, penuh kejutan, penuh petualangan yang lucu, konyol, dan absurd!

Premisnya tentang seorang kakek yang berusia satu abad kabur dari rumah lansia, kabur dengan memanjat jendela danmasih menggunakan sandal tidur. Bayangkanlah seorang kakek tua banget (100 tahun bo') memanjat dan memulai petualangan. Apa sih yang bisa dilakukan oleh seorang kakek seratus tahun? Ah, palingan sebuah kekonyolan-kekonyolan karena kebodohan si kakek (humor slaptick). Petanyaan dan perkiraan yang akan terjadi itulah yang terlintas pertama kali dalam benakku sebelum akhirnya memutuskan untuk membeli novel ini dan membacanya.

Tapi, tentu saja aku salah besar!!!
Novel ini menceritakan 2 bagian kisah hidup tentang Allan Karlsson yang berumur seratus tahun yang kabur memulai petualangan dan kisah masa lalu Allan ketika masih muda sampai hari di mana dia memutuskan untuk kabur.

Kalau dibagi sih sekitar 30% menceritakan tentang petualangan Allan berusia seratus tahun yang kabur dan 70% nya adalah kisah tentang masa lalu Allan – yang tentu saja bukan kakek biasa. Dari sinopsisnya sendiri pasti sudah ketahuan kalau Allan bukan seorang kakek seabad yang merepotkan.

Kisah kaburnya Allan secara tidak sengaja membawanya ke petualangan yang mengasyikkan karena melibatkan koper yang berisi uang yang sangat banyak, kelompok penjahat “Never Again”, penjahat kecil-kecilan yang tidak sengaja ditemuinya, penjual hot dog, seorang janda jelita dengan seekor anjing dan gajah (iya, GAJAH!), seorang pebisnis yang ‘sukses’ dan religius, seorang polisi kesepian dan jaksa. Petualangan mereka penuh dengan kejadian yang konyol, kebetulan, dan bisa dikatakan penuh dengan keberuntungan.

Kisah masa lalu Allan bagian awal sih rasanya masih kurang menarik dan kurang menghentak, jadi ketika membaca masa lalu awal petualangan Allan Karlsson aku gak sabar untuk melanjutkan kisah Allan seratus tahun yang menurutku lebih menarik. Aku katakan kurang menarik sih karena Allan yang seorang tukang rakit bom belum menunjukkan kepolosan, kepintaran, kebodohan, ataupun kekonyolannya.

Namun, (lagi-lagi) aku salah. Ternyata semakin banyak kisah masa lalu Allan diceritakan dan terkuak, justru pengalaman hidupnya semakin menarik dan membuatku semakin penasaran. Apa lagi sih yang bakal dilakuin sama si Allan ini.
Kejutan apa lagi?
Kekacauan apa lagi?
Petualangan apa lagi?
Yap, kisah masa lalu Allan semakin menarik setiap lembarnya.

Siapa sangka Allan yang berprinsip “yang terjadi, terjadilah. Jangan terlalu dipikirkan dan jangan terlalu dipusingkan” menjalani petualangan yang sangat menakjubkan. Dari sinopsisnya saja dapat dibayangkan berapa banyak tokoh penting dan negara yang dipengaruhi oleh Allan secara langsung maupun tidak. Bagian prinsip hidup Allan yang seperti ini, tidak cemas akan hal yang mungkin terjadi, selalu yakin dan berpikir positif, dan membiarkan hal mengalir apa adanya adalah bagian yang aku suka.

Ada satu kisah petualangan Allan yang membuatku cukup terkejut dan terkesan, yaitu ketika Allan memutuskan ‘berlibur’ di Bali – Indonesia. Wow, gak sangka ternyata Indonesia salah satu negara yang disinggung dalam novel ini menjadi bagian dadri petualangan Allan.

Ketika Allan dan Herbert (saudara Einstein - iya Albert Eninstein yang terkenal jenius itu) bertemu dengan Amanda (sebut saja namanya seperti itu) gadis Bali yang bodoh dan idiotnya gak ketulungan, kejadian yang ada sangat menggelikan tapi sekaligus miris. Aku bilang miris sih karena penggambaran tentang kondisi politik Indonesia dengan praktek suap-menyuap, kelakukan pejabat, kepentingan-kepentingan yang yang mempengaruhi digambarkan cukup akurat. Duh, membacanya ketawa sambil meringis karena malu. Oh, Indonesiaku, apakah memang seperti ini dunia memandangmu?

Tapi, kisah di Bali dan yang berhubungan dengan Indonesia adalah satu bagian yang sangat lucu.
Kisah dalam buku ini sebenarnya bisa dibilang ‘agak’ berat karena unsur politiknya sangat terasa dan cukup dominan. Bagi yang tidak tertarik politik (seperti aku) sih kadang bikin bosan dan baca sambil lalu saja. Karena sama seperti Allan yang tidak peduli (tidak minat) dengan pembicaraan politik, begitu pula denganku, aku juga gak bisa konsentrasi kalau diajak berbicara politik. Walaupun tema politiknya cukup banyak, tapi buku ini tetap saja lucu.

Banyak hal yang masih diceritakan tentang kisah Allan di berbagai negara di belahan dunia ini. Review ini hanya mengulas sedikit sekali dari petualangan Allan yang penuh keseruan. Buatlah dirimu kagum, terkejut, sekaligus tertawa geli akan kisah Allan - si pembuat bom karya Jonas Jonasson sang penulis dari Swedia ini.

Akhir kata, novel ini recommended :)

Nilai : 3,75/5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar