27 Oktober 2015

[Book Review] Nobody’s Baby But Mine – Calon Ayah Untuk Bayiku






Judul Buku :  Nobody’s Baby But Mine – Calon Ayah Untuk Bayiku
Judul Asli :  Nobody’s Baby But Mine
Pengarang :  Susan Elizabeth Phillips
Penerjemah :  Dewi Sunarni
Penerbit  :  Gagas Media
Tebal :  viii + 548 halaman
Cetakan Pertama, 2012
ISBN 979-780-569-7

Akhirnya setelah sekian lama aku bisa menyelesaikan membaca novel hanya dalam jangka waktu 2 hari. Prestasi tersendiri nih mengingat kesibukan dan mood yang sering hilang untuk membaca buku dan itu berlangsung sudah cukup lama. Horraaaay...

Novel Nobody’s Baby But Mine ini kebetulan aku lihat di antara deretan buku dalam lemari. Aku ambil kemudian baca sinopsis di sampul belakang. Wah, sepertinya menarik juga nih (pikirku), akhirnya aku putuskan untuk dibaca. Novel ini kata istriku sih dibeli karena lagi diskon (diobral sih lebih tepatnya) karena, kalau gak salah, harganya hanya lima ribu rupiah. Wow, murah banget. Hahaha...

Oke, cukup basa-basinya. Saatnya untuk mengulas novel Nobody’s Baby But Mine (NBBM) ini. Untuk selanjutnya kita sebut saja NBBM biar lebih ringkas nyebutnya.

NBBM ini bercerita tentang seorang profesor, ahli fisika, bernama Dr. Jane Darlington yang sangat menginginkan seorang anak. Mengingat umurnya yang sudah tidak muda lagi (sudah kepala tiga) keinginan untuk mempunyai seorang anak dar rahimnya sendiri semakin menggebu-gebu. Namun, untuk mendapatkan anak tentu saja harus ada pria yang akan membuahinya dan Jane tidak mau sembarangan dalam memilih ayah dari calon anak yang diinginkannya.

Dr. Jane adalah seorang yang pintar, jenius bahkan, dan memiliki masa lalu yang tidak menyenangkan akibat kurangnya perhatian keluarganya (terutama ayah) dan perlakuan orang-orang sekitarnya akibat dari kepintarannya. Oleh karena itu, dia ingin seorang pria yang sehat, latar belakang bagus, dan tidak pintar – katakan saja bodoh – untuk menjadi ayah dari anaknya. Pria tidak pintar dimaksudkan agar anaknya lahir dengan kecerdasan biasa saja dan bukannya seorang anak yang pintar. Alasan kenapa dia tidak ingin anaknya adalah seorang yang pintar adalah karena dia tidak ingin anaknya mengalami nasib yang telah dialaminya.

Kebetulan dia bertemu dengan Jodie – seorang pelayan bar – yang berkunjung ke rumahnya untuk meminta kopi dan kebetulan sedang mencari seorang wanita panggilan berkelas untuk hadiah ulang tahun seorang atlit football Cal Bonner – yang terkenal dan sudah tidak muda lagi karena berumur 36 tahun. Jodie dimintai bantuan oleh rekan-rekan tim Cal  di club Chicago Stars untuk mencarikan wanita yang cukup dewasa karena sudah lama Cal tidak berhubungan serius dengan seorang wanita sejak ditinggal oleh pacarnya yang masih muda. Cal memang cenderung mengencani wanita yang masih muda (di bawah 22 tahun).

Setelah merasa Cal adalah pria yang cocok menjadi ayah anaknya – karena dianggap bodoh oleh Jane, berkat bantuan Jodie, Jane pun menjadi hadiah ulang tahun bagi Cal dengan berpura-pura menjadi wanita panggilan berkelas dengan nama Rosebud (nama yang aneh – seperti nama untuk seorang penari telanjang). Tapi, yang tidak diketahui Cal adalah bahwa Jane hanya memanfaatkan dia hanya untuk memperoleh seorang anak ‘semprna’ tanpa mau ikatan apapun dengan Cal atau pria manapun.

Setelah mengalami malam yang panas, yang terjadi 2x karena ternyata Jane tidak hamil pada hubungan yang pertama dan Cal merasa penasaran tentang jatidiri Rosebud akhirnya Jane pun hamil. Namun, begitu Cal Bonner tahu bahwa dia hanya dimanfaatkan oleh Jane hanyak untuk proyek mendapatkan anaknya membuatnya marah besar. Cal pun menuntut Jane agar menikahinya karena dia tidak ingin anaknya menjadi ‘anak haram’ tanpa seorang ayah.

Cal menuntut Jane melalui pengacaranya, memaksanya untuk menikah, dan berencana untuk membalas semua perbuatan Jane terhadap dirinya. Pernikahan mereka bukan pernikahan yang ideal. Menikah secara sembunyi, Jane diasingkan ke rumah di kota kelahiran Cal, dijauhkan dari kerabatnya dan berencana akan menceraikan jane suatu hari nanti.

Lalu apa yang akan terjadi antara mereka berdua?
Akankah mereka akan terus saling menyakiti dan membalaskan rasa sakit hati mereka?
Atau bagaimanakah kisah ini akan berakhir? Tentu saja jawaban dapat diketahui dengan membaca novel ini sampai selesai. Hahaha...

Dari sinopsisnya tentu saja genre novel ini adalah romance. Tema cerita yang diangkat sih bukan sesuatu yang baru. Tentang benci dan cinta serta segala problema yang menjadi bumbu-bumbu yang membuat suatu hubungan lebih berasa. Walaupun bukan tema yang baru, tapi seenggaknya ceritanya masih lebih menarik dibandingkan cerita ftv yang sering diputar sama stasiun tv negara kita yang temanya hampir sejenis semua. Hahaha...

Ending cerita bergenre cinta seperti ini pun bisa dengan mudah ditebak. Tapi yang cukup menarik dari NBBM ini adalah jalinan kisah dan konflik yang membawa cerita menuju akhir yang sudah kita tahu akan seperti apa.

Salah satu hal yang menarik selain konflik antara Cal dan Jane adalah cerita tentang keluarga Cal sendiri. Orang tua Cal – Jim dan Lynn – ternyata memiliki kisah dan masalah yang menarik juga dan menjadi kisah pelengkap dan selingan yang bagus. Aku suka dengan kisah mereka.

Ceritanya bisa dibilang klise sih, tapi justru kadang yang klise itu menarik dan aku suka. Kisahnya dibuka dengan kocak, begitu pula cerita dalam tiap bab-nya.

Romance merupakan salah satu genre yang aku sukai juga. Unik dan seru aja sih membaca cerita tentang hubungan antar manusia yang selalu ada konflik. Selain itu, dari kisah mereka dapat memberi gambaran tentang hubungan antara dua insan dan orang-orang di sekitarnya.
Lagipula akhir-akhir ini, buku yang aku baca kebanyakan bertema fantasi, young adult, misteri, thriller, dan action jadi ketika membaca genre romance rasanya lebih fresh gitu. Hehehe...

Novel NBBM ini menarik dan asyik di baca, tapi ada hal yang sangat mengganggu yaitu terjemahan yang berantakan. Bab-bab awal sampai pertengahan sih masih enak dibaca karena terjemahannya masih bagus, namun menjelang bab-bab akhir (sekitar 5 bab terakhir – kalau tidak salah ingat) terjemahannya semakin kacau. Kalimatnya terasa aneh, dialog-nya jadi terkesan gak nyambung, dan banyak kata-kata yang salah dalam penulisannya akibat salah huruf, ada huruf yang dipangkas, adapula yang kelebihan huruf.

Nah, kualitas terjemahan yang kacau ini jadi mempengaruhi kenikmatan membaca. Kelucuan, keseruan, dan konflik yang menarik yang dibangun di bagian awal terasa sia-sia karena bagian akhir yang gak enak dibaca. Feel-nya jadi hilang. Aku sendiri membaca tiga bab terkahir dengan tergesa-gesa, asal baca dan rasanya gak puas. Hal ini sangat disayangkan sih.

Cukup sekian lah ya review singkatnya.

Oia, sebagai penutup. Novel NBBM ini sebenarnya dikhususkan untuk dewasa dan sebaiknya diberi label keterangan DEWASA di bagian sampulnya. Sayangnya sih gak ada keterangan yang menjelaskan hal tersebut di sampulnya. Hal ini aku sarankan karena cukup banyak adegan yang disampaikan hanya untuk konsumsi dewasa dan tidak baik untuk para remaja (terutama pelajar) – cukup vulgar lah . Yaaaa.. ratingnya 18+ lah ya.

Nilai : 3/5

*sebenarnya sih, novel ini berpotensi untuk dapat rating 3,5/5 dariku, tapi terjemahan yang kacau mengurangi nilai novel ini sebesar 0,5 poin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar