26 Juni 2016

[Book Review] Penjelajah Antariksa #6 : Kunin Bergolak (Lagi) - Djokolelono

Penjelajah Antariksa #6 : Kunin Bergolak (Lagi)
Penulis : Djokolelono
Penyunting : Yessi Sinubulan
Desain Sampul dan Ilustrasi : Oki Dimas Mahendra
Penerbit KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Cetakan Pertama Juni 2016
KPG 59 16 01202
ISBN 978-602-424-063-9
Tebal v + 180 halaman

Setelah akhir yang cukup membuat penasaran, akhirnya petualangan para penjelajah antariksa berlanjut lagi di buku keenam ini yang berjudul "Kunin Bergolak (Lagi)".

Di antara semua seri Penjelajah Antariksa, buku ketiga "Kunin Bergolak" menurutku yang paling bagus dan cerita serta karakternya terbangun dengan sangat baik. Oleh karen itu aku berharap buku keenam dengan judul yang sama bisa melampaui kerennya buku ketiga.

Dalam hitungan 24 bulan Starx, Kunin II sebagai pusat kekuatan Jenderal Roon akan diserang oleh Skuadron X, skuadron penghancur sama sekali bukan lawan seimbang. Veta dipaksa untuk membuat peralatan perang tandingan, kalau tidak sisanya akan dimusnahkan.
Mesi melanjutkan aksinya pada akhir buku kelima yang membuat pandangan Veta terhadapnya berubah namun tetap mempercayakan keselamatan sisa Stri kepadanya.

Di Kunin sendiri tanda-tanda pembangkangan makin terasa. Kerten dan Rahi, penjahat dan ahli racun nomor satu di Kunin sedang mempengaruhi semua penduduk untuk memberontak dan keluar dari planet penjara itu.

Omodu, yang meninggalkan rombongan Veta dan Mesi setelah mengalami kecelakan pesawat, harus bertarung melawan Viravir dan membuatnya terdampar di pulai lain yang dikuasai penduduk Namnam.
 
Dan Raz yang kini sudah berdamai dengan Vied masih belum juga sembuh dari penyakitnya. Ia sering sedih mengingat broa dan sisanya, kapan mereka bisa bertemu lagi. Namun, sebuah peristiwa membuat penyakitnya 'sembuh' walaupun ada hal yang harus dikorbankan.

Kolonel Artap menemani Puteri Hon Gradi yang masih dikuasai dendam akibat kematian kakaknya. Mereka pun mengejar para anak buah kapten Raz dan harus bertempur melawan mereka.

Secara keseluruhan, buku keenam ini bagus namun belum melampaui buku ketiga. Masih sedikit di bawah kesolidan buku ketiga. Pertempuran yang terjadi cukup seru.

Ada hal yang agak berbeda di buku keenam ini dibandingkan buku-buku sebelumnya. Eyang Djokolelono melakukan perubahan gaya penceritaan. Dalam buku keenam ini, sering terjadi pergantian adegan dalam satu bab. Ketika ada adegan yang sedang seru, maka fokus cerita akan berganti ke tokoh dan peristiwa yang lain. Sangat berbeda dengan buku-buku sebelumnya.

Lagi-lagi banyak tokoh baru yang muncul yang menyebabkan agak kesulitan mengingat nama dan peran mereka. Namun hal tersebut bukan masalah karena ceritanya makin seru.

Oia, aku semakin menyukai istilah untuk salam, umpatan, luapan kekesalan, atau ungkapan perasaan lainnya di buku ini. Unik dan kalau coba diucapkan terasa seru juga. Contohnya...

"Jet panas!"
"Matahari Basah!"
"Semoga Starxz Cemerlang! Starx Gelap"
"Langit jernih, biru." 

Lagi dan lagi, gak sabar menantikan buku selanjutnya :0

Nilai : 3,7/5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar