14 Maret 2011

Oh na na.. What’s My Name

Pembukaan yang ngawurnya kebangetan

Sebelum membaca lebih jauh tulisan ini mungkin perlu kiranya saya memberikan “Peringatan Konten” bahwa isi tulisan ini bisa menjadi sangat tidak penting bagi Anda yang membacanya. Bahkan mungkin bisa juga membuat Anda mengernyitkan dahi sambil bergumam, “apaan sih?” 

Tulisan ini murni pemikiran saya yang sedang jayus kalau gak mau dikatakan error. Padahal sejatinya bukan hal ini yang ingin aku tulis, tapi apa daya tangan tak sampai menulisakan hal yang mau ditulisa dan terciptalah buah pena karyaku ini *hayyah, bahasa apaan pula ini yang aku pakai.

Sudahlah, kita mulai saja pembicaraan yang “aneh” menurut saya ini... 

Kita mulai dengan kalimat “Apalah arti sebuah nama”

Tentu pernah mendengar kata-kata tersebut kan? Terus terang aku gak tau apakah kalimat itu diakhiri tanda titik (.), tanda seru (!) atau tanda tanya (?). Sebenarnya bisa saja aku mencari tau, tapi berhubung lagi malas gak usah sampe googling segala.

Kalau diakhiri tanda titik, berarti itu sebuah kalimat *yaiyalah. Sebuah pernyataan deh kalau mau lebih tepatnya. Sebuah pernyataan yang menyatakan “apalah arti sebuah nama” *lho? Ini mah sama aja. Maksudnya menyatakan bahwa nama itu tidaklah begitu penting, atau esensi/makna nya tidak begitu penting. Bukan masalah yang penting (pentingnya banyak banget yak? Bingung milih kata sih).

Apapun nama seseorang atau sesuatu, itu bukanlah hal yang penting (terus terang aku bingung milih kata lain selain kata “penting”), bukan hal yang utama, bukan hal yang prioritas, atau maknanya tidak penting (ya ampun, aku benar-benar gak tau harus pakai kata apa).

Kalau diakhiri tanda seru (!), itu artinya lebih menegaskan pernjelasan yang diakhiri tanda titik (.).

Kalau diakhiri tanda tanya (?) maka berarti nama itu dipertanyakan maknanya. Seberapa penting dan berperan dalam kehidupan ini. Fungsi dan maksud dari sebuah nama itu sebenarnya apa. Kira-kira begitulah. Eh, sebenarnya aku nyadar sih kalau lebih tepatnya mungkin penjelasanku ini untuk kata tanya “apakah arti sebuah nama?”.

Halah, biarin ajalah. Suka-suka saya aja yang mau berteori. Suka-suka saya juga yang mau sok-sokan berpikir *membela diri sendiri.

Isi yang mulai serius

Pembicaraan mulai ke arah yang lebih serius namun aku bahas dengan bahsa yang ringan saja *gak ringan banget sampe bisa ketiup angin dan hilang begitu saja. Tetap saja walaupun tulisan ini ngelantur, setidaknya aku ingin ada kesan yang ditinggalkan kepada pembaca (minimal betapa aku sedang tidak waras ketika menulis tulisan ini).

Selain karena aku gak tau banyak istilah-istilah ilmiah yang saking kerennya aku gak ngerti, juga untuk mengantisipasi tulisan ini bisa dibaca oleh siapa saja dan kapan saja. Lagipula aku belum bisa nulis yang berat-berat. Kecuali tulisanku aku beri pemberat (bau gitu) *halah. Hehehe..

Nama itu paling gampangnya adalah sebuah identitas yang melekat dalam diri seorang individu (selain jenis kelamin, ciri-ciri lain dan lain-lain *males mikir yang lain).

Nama bisa membedakan seorang yang lain dengan yang orang yang lainnya. Dari nama saja kamu bisa mengetahui siapa atau dari nama saja bisa mengetahui jenis kelaminnya *tanpa harus melihat orangnya (bukan kelaminnya *uupss Hahahaha…) walaupun bukan jaminan 100% sih.

Bayangkan jika semua manusia di dunia ini tanpa nama atau memiliki nama yang sama. Ribetnya minta ampun.
Suatu produk itu bisa terkenal juga karena namanya. Misal saja merk (nama) jam tangan G-Shock. G-Shock itu hamper semua orang tau dan bagaimana kualitasnya.

Suatu temuan aja sampai repot-repot diberi nama agar bisa dikenal (kadang-kadang diselipin nama penemunya juga agar bisa dikenal. Hehehe)

Makanya siapa yang bilang nama itu gak penting?

Orang tua pun memberikan nama anaknya tidak sembarangan. Dalam nama seorang nama tercermin doa dan harapan orang tuanya (ada yang bilang begitu sih). Lagipula nama itu menjadi sesuatu yang disukai atau tidak. Kalau aku ditanya apakah aku menyukai namaku sendiri, aku akan menjawab “tentu saja aku suka”.

Makanya aku bertanya-tanya sekarang apa yang ada di dalam pikiran si Shakespeare hingga mengatakan “What’s in a name?” atau kalau diterjemahkan “Apalah arti sebuah nama?” Sedang mikir apa dia, sedang ada masalah atau ada kejadian apa dia sehinga mengatakan hal tersebut dll. (Sok-sokan bertanya-tanya, eh tapi beneran dia kan ya yang mengatakan itu? Aku takut salah trus dikira fitnah orang lagi. Hahaha…

Eh.. setelah aku googling sebentar (Ya ampuun.. padahal sebelumnya gak niat, malah jadi pake mbah gugel segala. Tapi dapet ilmu tambahan sih), ada nih kutipan dari jawaban pertanyaan yang menanyakan perkataan ari Shakespeare tersebut (aku kopi paste aja, males ngetik) 

Kutipan itu sebenarnya bukan hanya terdiri dari sekitar empat kata. Kalau terdiri hanya dari empat kata itu, maka kesan yang didapat dari kutipan itu bahwa arti dari sebuah nama itu tak penting.

What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet.
(Apalah arti sebuah nama? Meskipun kita menyebut mawar dengan nama lain, wanginya akan tetap harum.)

pembicaraan di atas, latar belakangnya adalah dialog Romeo dengan Juliet saat membahas kisah cinta mereka. Dan Romeo mempertanyakan, Apa sih arti nama Capulet (nama keluarganya) yang justru membuat perselisihan.

dalam nama sendiri terkandung do'a dan harapan orang tua kepada anaknya. Akan tetapi kalau nama itu hanya membuat perselisihan saja, maka nama itu tidak akan berarti apa2.

materi referensi:
janganlah mengutip sepotong-sepotong dari sebuah pesan, karena makna yang dimuat bisa hilang atau justru berubah.

Naah.. begitu katanya. Dan dikasi pelajaran pula. Hahahaha..
Aku juga baru ngeh kalau ternyata banyak sekali orang (termasuk aku yang mendengar) yang hanya mengutip sebagian dari kalimatnya saja. Pantas saja terdengar aneh diucapkan oleh seorang sastrawan (dia sastrawan kan si Shakespeare?) sebesar dan seterkenal dia.

Mencoba Sok Filosofis Lagi...

Hohohoho...
Kita mulai dengan ketawa aneh lagi dulu aja. Btw, busway on the way behind bajay lebay, ada sebuah kutipan dari sebuah buku yang berjudul “YOUR LEADERSHIP LEGACY” yang kalau diterjemahkan terikat ke bahasa Indonesia akan berjudul “WARISAN KEPEMIMPINAN” (iya, aku baca buku ini kok). Iya ada kutipan di salah satu dari 3 poin tentang warisan kepemimpinan itu mengenai pasal “Berani Menjalin Hubungan dengan Orang-orang”  di ayat  “Ingat dan gunakan nama orang-orang secara konsisten”.

Pengarang buku itu siapa aku lupa. Males bongkar rak buku hanya buat ngintip nama pengarangnya. Lagipula kalian ingin tahu gak sih nama pengarangnya? (aku sih menyimpulkan kalian gak mau tau).

Apa maksudnya?

Maksudnya adalah kalau ingin menjadi seorang pribadi yang menyenangkan, apalagi untuk menjadi seorang pemimpin, ingatlah nama-nama orang di sekeliling Anda dan gunakan secara konsisten. Maksudnya jika Anda memanggilnya dengan sebutan atau nama AAA sejak awal, secara konsisten gunakanlah nama AAA itu untuk memanggilnya.

Masalah mengingat nama itu adalah perkara yang sepele (mungkin bagi Anda) namaun memilki dampak yang besar. Tentunya tau kan gimana perasaan nama kita dilupakan atau tidak diingat oleh seseorang? Oke, mungkin saja Anda marah atau sedih. Dan tentunya begitu bahagian dan merasa tersanjung dan dihargai seseorang bila namanya selalu diingat.

Masalah nama juga tentunya bukan hal sembarangan. Kamu atau aku atau kita tentu saja tidak bisa memanggil seseorang dengan nama seenak jidat kita mau kepentok pitu yang mana *halah.

Panggillah seseorang dengan nama yang bagus. Dengan nama yang mereka sukai. Dengan nama yang membua mereka bangga menggunakan nama itu. Kalaupun ada julukan, jangan sampai nama itu merendahkan harkat, martabat, derajat orang yang kita panggil tersebut *Ya Tuhan bahasaku kenapa jadi berat begini?

Jangan memanggil dengan julukan atau nama yang mereka benci. Kamu pun tidak menyukainya bukan? Begitu pula orana lain. Makanya kalau kamu sendiri gak suka, jangan coba-coba lakukan terhadap orang lain deh. Kecuali kamu emang pengen cari musuh, gak ada kerjaa, pengen digebuk orang dan lagi iseng aja.
Kalau mau ngejek, liat-liat dulu juga dong orang yang diejek seperti apa. Kalau kira-kira kamu bisa melawannya dan bisa menang, sok atuh dilanjutin. Kalau kalah tapi bisa melarikan diri dengan selamat juga gak apa-apa diterusin. *Hahaha, panas-panas.. ada kompor di sini.

Pokoknya kekuatan mengingat nama orang itu kuat sekali.

Lagipula dalam agama kita (islam) juga ada sunnah untuk memanggil orang dengan nama yang bagus dan indah dan mereka sukai (begitu kan ya? Cmiiw). Hayooo... siapa juga yang mau dipanggil dengan nama penghuni bonbin?

Malah kadang di Jakarta sini sering tuh kedengeran orang manggil temennya “NYET” (mungkin nama aslinya PENYET kali ya. Tapi aku tau orang itu namanya bukan penyet. Hahaha...) atau ada pula yang manggil dengan panggilan sok deket, yaitu “SAY” maksudnya sih SAYUR atau SAYTON gitu. Hahahaa..
**makin ngawur dah saya...

Tulisan yang isinya pengungkapan diri a.ka Curhat colongan

Judul tulisan ini bisa juga dikatakan terinspirasi dari lagunya Rihanna feat Drake yang berjudul “What’s My Name”. Judulnya iya, tapi isinya tidak. Karena tentu saja tulisan ini tidak akan berisi lirik lagunya Rihanna.*baru dibahas sekarang setelah ngelantur panjang x lebar (=luas)

*NB : Lagunya bagus

Cuma mau mengungkapkan salah satu kebiasaanku saja dalam memberi nama barang-barang kepunyaanku.
Aku suka memberi nama kepada barang-barang kepunyaanku. Apalagi kalau barang itu barang kesayangan atau punya arti dan kenangan khusus. Suka aja kasi nama.

Alasan lain aku kasi nama selain karena suka, yaitu aku merasa arti mereka untukku itu lebih dibandingkan yang lain. Sebagai tanda juga aku menyukai dan menyayangi mereka (barang-barangku itu).
Berikut beberapa nama barang-barangku (ada juga yang dikasi nama mendadak). Sebenarnya sih niatan mau potret satu-satu tapi kok ya males gitu bawaannya. Jadi gak jadi deh *tuh kan geje.

1. Topi Eiger – Si Pione
2. Topi Quiksilver – Dudul
Guarda Nusantara
3. Boneka anjing (pemberian) – Guarda Nusantara
4. Laptop Compaq HP – si CeQi
5. Tas main (merk lupa) – Tas Merantau
6. Handphone LG (si Kace) dan Handphone Nokia (Xipur)
7. Botol minum – bodi
8. Payung – Pangupi
9. dan lain-lain
Masih banyak lagi yang lainnya. Cuma ngapain juga ya disebut semua di sini. Cuma ada satu barang kesayanganku yang paling berkesan, paling dikenal, paling memorable Cuma sayang HILANG DI MALING...

si Obit in memorian
Sepeda lipatku – Si OBIT (Sepeda lipat merk FOLDX Slider 20”)
Oh Obit.. aku kangen sama kamu. Sudah 6 bulan kamu menghilang dari hidupku...


Udah deh..
Ada gak sih yang sudi membaca tulisan panjang gak jelas gini? Hahahaha..

*Serasa membuka aib sendiri (gak apa deh, gak jelek gini juga =)

5 komentar:

  1. aku suka tuh sama lagunya rihanna yang ituh..!! *malah gak nyambung juga ama postingannya* hohoho..

    unik juga ya kebiasaanmu kasih nama ke benda2 di sekitar, tapi waktu kasih nama nya gak perlu pake tumpeng kan?? kalo iya..*boros gila*hehehe

    salam kenal.. :)

    BalasHapus
  2. hahaha....

    iya si, nama itu penting kok. dan aku juga merasa tersanjung kalau sseorang bisa mengingat namaku. kalau nama kita ga diinget, seolah-olah kita tidak penting. nama kan masalah eksistensi juga toh?

    jadinya manggil orang memang harus pakai nama yang bagus. kalau eksistensinya diakui sama dengan warga bonbin, wajar aja si kalau marah.

    saya ko so' banget yak...hahaha..

    emang si obit belum ada penggantinya ya? heee

    BalasHapus
  3. >Bestari : salam kenal juga.
    Waktu ngasi namanya pake acara motong ayam tetangga. ekekeke...

    iya, lagunya bagus *nimpalin

    btw, terima kasih telah di-foolow dan berkunjung


    >Huda : Hahaha, begitulah. Padahal niat awalnya saya mau nulis tentang apa gitu *lupa
    eeeh, tapi malah ngawur jadi nulis ini. tapi gak apa-apa deh. Anggap aja jadi ajang mengekspresikan diri =)

    Hmm..rencananya sih mau beli bulan April. tapi liat bulan depan deh jadinya gimana. hehe

    BalasHapus
  4. betul2!! aku setuju dengan yang 'jangan mengutip sepotong2', karena artinya bisa jadi berbeda atau malah berkebalikan dgn yg sebenarnya. mengartikan sesuatu terkadang(atau mgkn seringkali ya?) harus memahami konteksnya trlebih dahulu.

    kalo soal nama, aku sering sebel tuh.soalnya banyak yg suka salah nulis namaku. yang 'y' diganti 'i', yang 'n'-nya dua dikasih satu, yang 'hamida' diganti 'hamidah'.apa mungkin namaku yg kelewat susah ya??hahaha

    *walah malah jd curhat sendiri :p

    BalasHapus
  5. Yen : masalah nama emang bisa jadi senditif.
    Dulu aja aku gak pernah nyaman dipanggil Sulhan, tapi sekarang biasa-biasa aja. Walaupun emang bukan itu panggilanku. hehehe...

    BalasHapus