30 Maret 2011

The Brain is Wider than The Sky


Menyambut berakhirnya bulan Maret (gak ada yang spesial sih dengan bulan ini), kita rayakan dengan segelas es teh manis dan sepiring ubi rebus.
Ah, sebenarnya saya bahagia karena sebentar lagi gajian (senang banget rasanya dapat duit). Akhir-akhir ini sedang sibuk lagi makanya jarang posting *alasan lagi

Selagi saya lupa waktu itu sedang ngapain, tiba-tiba aku menemukan sebuah dokumen yang berisi sebuah puisi yang sudah cukup lama aku simpan. Kurang lebih aku membacanya 5 tahun yang lalu.

Sebuah puisi yang begitu bagus (menurutku) namun terus terang aku gak begitu mengerti maknanya (kan puisi bagus itu gak harus dimengerti yak. Yang penting menurutku keren, makanya jadi bagus. Hehehehe..)

Penasaran sama puisinya? berikut aku copy paste-kan

The Brain is Wider than the Sky

The Brain is wider than the sky,
For, put them side by side,
The one the other will include
With ease, and you beside.


The brain is deeper than the sea,
For, hold them, blue to blue,
The one the other will absorb,
As sponges, buckets do.


The brain is just the weight of God,
For, lift them, pound for pound,
And they will differ, if they do,
As syllable from sound.


Naah, jujur nih ya.
Aku cuma mengerti maksud dari kalimat pertama setiap bait puisi tersebut (kecuali yang kalimat di bait ketiga). Secara gampangnya ya, Otak manusia itu emang spesial, berharga, bernilai dan memang tiada dua-nya.

Otak manusia itu (terutama bagi mereka yang mau berpikir) akan lebih luas dari langit dan akan lebih dalam daripada lautan. nah, karena yang ketiga aku gak ngerti makanya kira-kira apa ya?

Otak manusia itu, jika dipergunakan untuk berpikir maka akan bisa melakukan apa saja, bisa memikirkan apa saja sehingga bisa menaklukkan langit dan bumi.
Lihat, dengar dan rasakan saja apa yang telah dilakukan, ditemukan, dan diciptakan oleh manusia selama beribu tahun ini.
Mau disebutkan? Aku rasa tidak perlu karena kalian bisa mencari sendiri dan tentunya sudah tau walaupun tidak semua kan ya? Hehehee...

Ah, iya. Karena kau gak mau banyak bicara, aku cuma mengatakan jangan pernah lupa kepada Sang Maha Pencipta kita dan ingat selalu untuk bersyukur. Cukup segitu aja deh.

Sebagai penutup, mungkin ada yang mau mengartikan atau menginterpretasikan makna puisi tersebut kepadaku? Aku tunggu dengan senang hati.
Hehehehe =)

5 komentar:

  1. suka kata2nya 'brain is wider than sky'
    that's right i think
    nyambung ma postinganku yg dulu :p

    BalasHapus
  2. I do always love poem, no matter whether I could understand it ore not, as long as it sounds good in my ear, hehehhe..

    nice poem! mau nyoba cari2 artinya sendiri versi ku ah, :))

    BalasHapus
  3. jadi ingat dengan yang saya baca di bukunya ajahn brahm. Ada seorang guru SD bertanya ke murid-muridnya: apakah yang paling besar di dunia?

    ada yang menjawab rumah, gunung, dan sebagainya.....

    kemudian ada anak perempuan yang menjawab: mata kita-lah yang paling besar! mata kita bisa menangkap gunung, rumah dan benda-benda besar lainnya, berarti mata kitalah yang paling besar.

    >>kemudian dikoreksi lagi>> pikiran kitalah yang paling besar. karena sanggup memikirkan semua yang nyata dan abstrak. yang besar maupun kecil.


    #edisikuliahfilsafat^^"

    BalasHapus
  4. Yen - postingan yang mana? jadi pengen baca postingan yang itu. hehehe..

    Rabest - wah, pecinta puisi ya?

    Huda Tula - wah, bacaanya buku filsafat.
    Kalo puisi ini lupa baca di mana, pengarangnya siapa juga gak tau. hehehe...

    BalasHapus
  5. haha, itu cuma menurutku aja kok :p
    tapi dipikir-pikir rasanya ga juga,haha

    kalo mau liat coba aja cari yg judulnya what's on your mind

    BalasHapus