Langsung ke konten utama

Postingan

Cinta yang Tersadur

Bersettingkan suatu malam dengan suasana yang entah seperti apa (karena si penulis terlalu sibuk dengan dirinya sendiri) si sebuah ruang kamar yang bukan miliknya, duduklah seorang laki-laki di depan monitor komputer. Kepalanya sedang mumet karena pekerjaannya belum selesai juga, padahal malam semakin larut. Sambil menatap monitor yang terkadang hanya dengan tatapan kosong, terdengarlah lantunan lagu-lagu yang menjadi playlist di musik playernya. Lagu yang dia putar hanya sebagai pemecah keheningan saja. Tanpa sadar lagu-lagu tersebut membuat jari-jari tangannya memencet keybord yang tentu saja berada di depannya. Inilah hasilnya... Semua kata yang terucap dari mulutnya bergema di dalam kepalaku. Terus menerus menggema. Itu serasa tidak cukup untuk menyakiti. Semua lebih menyiksa. Cinta itu, katanya, telah terambil dariku. Terenggut dengan paksa. Dia meninggalkanku. Aku tak punya pilihan karena tak ingin mengucapkan selamat tinggal. Semua yan...

(Bukan) JANJI (Joni)

ada lagu kaya gini dulu yak? Malam-malam aku berpikir lagi. Kali ini tentang janji. Janji-ku, janji-mu, janji-kalian dan bukan janji Joni (tiba-tiba teringat sebuah judul film) Sebelum membaca lebih jauh tulisan ini, ada satu pertanyaan yang ingin aku ajukan kepada siapapun  yang (memang sengaja atau kebetulan) membaca tulisan ini. Pertanyaannya sederhana saja, yaitu, “Seberapa sering kamu menepati janjimu kepada orang lain dan sebisa mungkin tidak mengecewakan orang tersebut?” Jawaban tentunya beraneka ragam. Ada yang bakal menjawab selalu, sering, kadang-kadang, jarang, atau bahkan barangkali ada yang menjawab tidak pernah? Untuk yang menjawab ‘tidak pernah’ aku jadi berfpkir bahwa orang tersebut termasuk ke dalam tipe ‘orang tidak berperasaan’ sehingga tidak pernah memperdulikan perasaan orang lain (mohon maaf kalau orang itu kamu). Hahahaha... Sekarang bagi orang yang menjawab ‘selalu, sering, kadang-kadang’, pertanyaannya aku ubah sedikit...

Aku Tidak Suka Kamu Suka Dia

“Aku tidak mau memakai baju itu karena aku gak suka!” Tentu sering mendengar kata-kata tersebut dan juga sejenisnya. Disadari atau tidak, begitulah manusia. Bergerak atas suasana hatinya. Cobalah untuk memperhatikan sejenak orang-orang di sekitarmu atau diri sendiri. Sering melakukan sesuatu karena suka dengan hal tersebut dan sering menolak atau menghindari sesuatu yang dibenci atau tidak disukainya. Seorang menjadi penulis karena dia menyukai kegiatan tulis-menulis, membaca dan berimajinasi. Seorang pemusik tentunya menyukai alat-alat music dan memainkannya. Seorang pemain film pun menyukai kegiatan acting makanya melakukan pekerjaan itu selain tentu saja menghasilkan banyak uang, dan ingin terkenal juga barang kali karena menyukai popularitas. Seseorang bisa menjadi begitu percaya diri atau narsis bernyanyi atau bergaya di depan kamera karena tentu saja dia menyukai hal tersebut. Seseorang bisa bertindak nekat dan bodoh demi mendapatkan orang yang...

LEMPAR KODOK

Minggu pagi yang cerah. Suasana taman kota tidak begitu ramai. Hanya terlihat beberapa orang yang duduk-duduk di bangku pinggir taman. Dua orang tampak duduk di pinggir kolam di tengah taman dan juga terlihat seorang anak perempuan bersama ayahnya bediri memandangi air mancur di tengah kolam tersebut. Anak perempuan itu berumur sekitar lima tahun. Rambutnya sebahu di kepang dua. Memakai baju kaus, celana pendek dan sandal jepit. ”Ayah, itu bunga apa yang di tengah kolam? kok gak tenggelam?” Anak perempuan itu tiba-tiba bertanya. ”Oh, itu namanya bungan teratai.” Ayahnya menjawab. ”Kok di tengah air? gak tenggelam, Yah? Terus daun yang bulat di tengah air itu apa?” Anak perempuan itu kembali bertanya. ”Hidupnya memang di air, tapi, akarnya tetap di dalam tanah. Terus, yang hijau bundar itu daunnya.” Ayahnya menjawab. ”Ayah, ada kodok di daun teratai itu.” Anak perempuan itu berteriak senang. Ayahnya hanya menjawab, ”Iya!” ”Ayah, aku lempar ya!” ...

The History of Love (Novel)

Berawal dari suatu sore yang cerah (menurut dugaan ingatanku pada saat itu) aku dan seorang teman (sebut saja namanya Ana) jalan-jalan ke toko buku Gramedia Bintaro Plaza. Kebiasaanku kalau ke toko buku adalah keluar dari toko buku dengan membawa pulang apapun dari toko tersebut. Rasanya sia-sia ke toko buku hanya untuk melihat-lihat buku bagus tetapi tidak dibeli (rasanya menyakitkan, jadi lebih baik tidak usah ke toko buku kalau tidak berniat membeli). Bukan kebiasaanku juga ke toko buku hanya untuk numpang membaca buku sambil berdiri atau duduk di tempat duduk yang di sediakan di dalam toko tersebut. Menurutku itu bukan hal yang asyik untuk dilakukan. Aku cenderung pusing kalau hanya menumpang membaca buku, makanya hanya akan membaca ringkasan di sampul belakang buku yang menurutku menarik saja. Lebih enak itu, bukunya dibeli trus dibaca di kamar sambil tiduran, dengerin musik atau ngapain aja. Ngomong-ngomong soal ini, aku jadi mengagumi orang yang betah memb...

QUOTE 6 - 7 - 8

6. SENYUM   Tersenyumlah jika kau inginkan dan teruskanlah begitu jika kau tulus 7. WAKTU UNTUK DIRI Luangkanlah waktu untuk berbicara dengan diri sendiri supaya kau mengetahui apa yang kau inginkan dan apa yang kaurasakan. Sehingga dengan demikian kau akan lebih mengenal dirimu sendiri dan lebih menghargainya 8. SAHABAT TULUS Jika berpisah dalam jangka waktu yang lama, maka kau akan merasa seolah perpisahan itu terjadi kemarin saat bertemu kembali. Kalau dulu kau telah terbiasa, maka tidaklah membutuhkan waktu yang lama untukmu membiasakan diri kembali.   Itulah yang terjadi apabila suatu hubungan dilandasi oleh ketulusan

Quote 5 - MENGELUH

"Daripada mengeluh tentang suatu pekerjaan, lebih baik gunakan energi dan waktu yang kau buang saat mengeluh untuk bekerja. Niscaya itu jauh lebih baik bagimu dan juga orang-orang di sekitarmu" * yosh...!! mari kita semangat bekerja dan juga bersemangat dalam melakukan kegiatan apapun. Jangan mengeluh. Ingat pepatah dari seseorang yang dulu aku dengar, bahwa "Kepala berpikir, Tangan mengukir, Hati berzikir".