14 Desember 2010

Melupakan Vs. Dilupakan


Pernah suatu hari seorang teman bercerita (curhat) kepadaku. Dia mengatakan ingin melupakan seseorang (yang dulu begitu disayangnya). Bukan hanya orangnya tentu saja, tetapi juga semua kenangan yang berkaitan dengan orang tersebut.
Mengingat orang itu hanya akan membuatnya sedih dan menangis. Orang itu telah bahagia bersama orang lain. Sakit kalau mengingatnya terus. Hanya menyiksa hati dan pikiran.
Bahkan, kadang-kadang kalau hanya menyinggung nama orang tersebut reaksinya langsung berubah sedih. Dia pun kadang-kadang benci dengan diri sendiri mengapa tidak bahagia sedangkan orang yang ingin dilupakan telah bahagia. Berbagai cara ingin dia lakukan untuk melupakan orang tersebut.
MELUPAKAN, itulah yang diinginkannya

Pada suatu hari yang berbeda, teman yang sama (yang ingin melupakan seseorang) bercerita lagi kepadaku bahwa dia sedang kesal dengan seseorang. Dia bercerita mengenai seseorang teman yang juga aku kenal. Sebut saja Y.
Jadi, pada hari itu mereka kebetulan kebetulan berjumpa di suatu tempat. Temanku ini mengajaknya berbicara dan bertanya apakah si Y masih mengingatnya. Yang membuat dia kesal adalah karena Y sama sekali tidak mengenalnya, malahan waktu dia menyebutkan namanya, Y malah balik bertanya, “…. yang mana ya?” tentu saja temanku ini jengkel setengah mati karena (merasa) dilupakan.
DILUPAKAN, itulah yang dia alami

Satu orang mengalami hal yang bertolak belakang dalam waktu yang berdekatan. Melupakan dan dilupakan.
Tentu sudah jelas apa yang ingin aku bicarakan (pikirkan di sini), yaitu masalah melupakan dan dilupakan. Aku persempit masalah melupakan orang lain dan yang berhubungan dengannya, bukan melupakan yang lainnya.
Melupakan dan dilupakan ini berkaitan dengan otak (memori) dan hati (perasaan). Marilah aku memulai teori tentang hal ini. Tulisan ini tentu saja merupakan apa saja yang aku pikirkan dan pendapatku tentang hal ini.
Pada dasarnya tidak ada manusia yang ingin dilupakan oleh seseorang. Bila perlu (ada beberapa orang) selalu ingin diingat oleh banyak orang. Bukan hanya sesaat, tetapi terkadang ingin untuk diingat selamanya.
Caranya bisa saja dengan menjadi artis (penyanyi, aktor/aktris), sutradara, pelukis, pengarang. Atau ada pula yang ingin dikenal sebagai pengusaha sukses, ilmuan, tentara dan sebagainya. Tentu saja aku ingin selalu diingat orang lain. Keingainanku adalah ingin diingat (dikenang) oleh orang lain sebagai orang baik. Itu saja, simpel tetapi bagiku begitu penting.
Kembali ke topik.
Ada beberapa hal (orang atau kenangan) yang tidak ingin dilupakan selamanya, malah selalu diingat dan dikenang. Biasanya hal tersebut adalah sesuatu yang dia sukai dan membuatnya merasa bahagia.
Ada pula hal yang benar-benar ingin dilupakan selamanya. Bila perlu seolah-olah hal tersebut tidak pernah dia alami sebelumnya. Bisa juga ini untuk sesuatu yang dia benci atau trauma yang terus menghantui seseorang.
Seseorang atau suatu kenangan dirasakan begitu membahagiakan atau menyakitkan (oleh hati) dan baik sadar atau tidak sadar akan disimpan dalam memorinya (diingat oleh otak). Dan bisa berlanjut, yaitu, begitu kenangan diingat kembali maka hati terasa bahagia atau sedih tergantung memori yang diingatnya tersebut.
Makanya aku bilang melupakan dan dilupakan ini berkaitan dengan otak dan hati.saling mendukung.
Seberapa mudah?
Tentu sakit rasanya dilupakan oleh seseorang apalagi saat kita bertemu dan dia seperti tidak ada ide siapa diri kita sendiri.
Apakah memang dia berniat untuk melupakan kita?
Pernahkah kau berpikir bahwa kadang-kadang pun kau melupakan (malah sering tanpa disadari dan tidak ada unsur kesengajaan) sesuatu  atau seseorang dan bersusah payah untuk mengingatnya?
Aku tahu kadang tidak ada yang bermaksud untuk melupakan, tetapi memang itulah yang kadang terjadi kepada manusia, mengingat tidak hanya dia, sesuatu tersebut atau diri kita yang ada di otak dan selalu dipikirkan bukan?
Lihatnya besar (volume) otak manusia, seberapa banyak yang bisa ditampungnya? Dengan banyaknya masalah yang datang silih berganti, memori atau kenangan yang terekam setiap hari. Aktivitas yang terus berjalan seiring berjalannya waktu, dan tentu saja banyaknya hal yang ditemukan dan dialami manusia seiring bertambahnya usia mereka.
Hal yang wajar bukan kalau mereka hanya mengingat hal yang terbaru yang mereka alami, atau hal yang benar-benar penting bagi mereka atau hal-hal yang memang tanpa sadar terekam dalam memori mereka karena adanya hal khusus yang terjadi.
Sikap kita?
Berusahalah untuk memakluminya.
Kalau memang kamu tidak ingat akan sesuatu atau tentang orang yang kau temui, janganlah menunjukkan reaksi yang benar-benar menunjukkan bahwa kamu tidak kenal dia. Dan sikapnya hanya mengganggumu saja.
Pancinglah untuk membantumu mengingat siapa dia, atau bersikaplah ramah dengan (mungkin berpura-pura) mengingatnya.
Pikirkanlah kalau kamu berada di posisinya sekarang. Sebagai orang yang dilupakan. Tentunya kamu akan tahu bagaimana rasanya.
Lupa ulang tahun?
Lupa hari spesial?
Lupa apa pun yang penting..
Asal jangan lupa diri sendiri. Jangankan mengingat orang lain, diri sendiri saja tidak mampu diingat.
-------
Ada (entah pepatah, petuah atau apalah namanya) kalimat yang pernah aku dengar, yaitu semakin kita berusaha untuk melupakan, semakin sulit bagi kita untuk melupakannya. Dan itu semakin terasa menyakitkan.
Ada yang melakukannya dengan mengalihkan akan memori tersebut.
Ada pula yang memang mati-matian melupakannya dengan cara apapun.

Ada suatu ungkapan yang bagiku tepat, yaitu ada seorang anak yang baru saja kehilangan ayahnya karena meninggal dunia. Dia merasa sangat kehilangan dan selalu merindukan ayahnya. Tetapi semakin lama kenangan akan ayahnya malah semakin kuat dan dia merasa semakin sedih. Kemudian dia bertanya kepada seseorang, “ Bisakah rasa rindu ini hilang?” Kemudian dijawab, “Tidak. Rasa itu tidak akan pernah hilang, namun waktulah yang akan membuatnya terasa lebih mudah.” (kata-kata yang aku ingat dan entah kenapa aku sangat menyukainya. Dahulu aku dengar di film Power Rangers Ninja Storm sewaktu SMA)

Nyambung atau tidak.
Kita melupakan atau dilupakan. Yang manapun di antara dua hal tersebut yang terjadi kepada kita, ingatlah selalu bahwa jalani hidup ini dengan senyum dan selalulah menjadi pribadi yang berbahagia.
Kalaupun kau merasa tidak berbahagia, minimal berusahalah untuk bahagia =)

3 komentar:

  1. emang, sewaktu seseorang seperti tak punya ide sama sekali siapa diri kita, kita merasa dilecehkan.. hehehe. it's kinda humiliating. kayanya eksistensi kita tak dihargai (lebay). tapi...yah itu tadi, sebenarnya wajar-wajar aja si kalau orang tiba2 bingung dan merasa tak kenal.

    yang paling sakit sebenarnya ketika berusaha mencoba melupakan "seseorang". in this case, I guess it is much better to be forgotten then trying to forget (apaan si, pake bahasa inggris segala).

    ada satu kalimat yang pernah saya baca di chiken soup, sebuah kalimat yang amat bijak: "ada banyak orang yang lalu lalang dalam kehidupan kita. Sebagian pergi begitu saja. Sebagian yang lain meninggalkan jejak yang dalam di hati kita, membuat kita tak pernah sama seperti sebelumnya."-->>anonim

    BalasHapus
  2. "ada banyak orang yang lalu lalang dalam kehidupan kita. Sebagian pergi begitu saja. Sebagian yang lain meninggalkan jejak yang dalam di hati kita, membuat kita tak pernah sama seperti sebelumnya."-->>anonim

    wah, kata-kata ini keren banget. Saya suka. Hehehehe..
    btw, baru nyadar kalau ada beberapa kalimat yang ilang. sekarang udah komplit. hehehee..

    BalasHapus
  3. Ehmm...Karena gak ingin dilupakan,Qrasa juga qt g shrusnya berusaha sengaja melupakan seseorang.Qrsa dengan sengaja melupakan seseorang, itu berarti kita sedang berlari dari kenyataan.Karena itu, kenyataan itu akan semakin "mengejar" qt, dan kita jdi inget truz n makin sedih. Makanya lebih baik kita "menerima" kenyataan yang terjadi.

    Klo memang kebetulan gak diingat, emang sih, rasanya sedih juga, pasti. Tapi ya dimaklumi aja, emang gak semua orang bisa ingat segala hal yang ada dalam hidupnya sih. Gak menghilangkan rasa kecewa spenuhnya sih, tapi paling nggak kan kita bisa memaklumi.

    Setuju sama kata-kata mas Huda. Aq juga suka kata-kata itu.

    BalasHapus