Mimpi atau cita-cita. Tentu yang muncul dibenak kita mendengar kata tersebut adalah “apa?” dan “bagaimana meraihnya”.
Tetapi bagiku sekarang adalah justru berniat untuk “mengesampingkan mimpi” atau “mengubur mimpi” jika tidak mau disebut “membuang mimpi”. Karena kalau dari pilihan kata tentu saja “mengesampingkan atau mengubur mimpi” berarti bahwa aku masih memiliki mimpi tersebut tetapi memutuskan untuk tidak memikirkan terlalu jauh. Kalau membuang berarti aku tidak membutuhkannya lagi, ataupun kalau aku menginginkannya lagi apakah aku akan mencari dan menemukannya kembali? Apakah masih utuh? Jika tidak maka aku harus membangun dari awal lagi.
Aku memutuskan untuk mengesampingkan mimpiku untuk menerbitkan suatu buku karya tulisanku sendiri. Entah kenapa aku merasa tidak berminat lagi. Dan perasaan itu semakin kuat setelah menonton anime “The Literature Girl” atau yang berjudul asli “Doki Bungaku Shoujo – the movie”
Film yang menceritakan tentang seorang perempuan sekolah menengah yang memiliki kebiasaan aneh, yaitu menjadikan buku atau cerita sebagai cemilannya. Cemilan bukan berarti sebagai bacaan diwaktu luang, tetapi memang memakan lembaran kertas yang bertuliskan cerita tersebut. Hingga suatu saat adik kelasnya, seorang laki-laki bernama Inoue, melihatnya sedang menyobek ujung kertas sebuah buku dan memakannya. Mengetahui hal tersebut si Literature girl merekrut dia masuk ke dalam Literature Club yang hanya beranggotakan mereka berdua. Sering si Literature Girl menyuruh si Inoue menuliskan dia cerita dan kemudian memakannya.
Ada suatu adegan yang mengisahkan bahwa seorang tokoh bernama Asakura ingin membahagiakan orang lain, oleh karena itu dia ingin menjadi penulis.
Suatu adegan juga, Inoue mengatakan dia menulis novel yang akhirnya memenangkan penghargaan untuk mengungkapkan perasaannya.
Entah ada hubungannya atau tidak, tetapi begitu menonton film ini aku meutuskan tidak ingin lagi mengejar mimpi untuk menulis sebuah buku atau novel kemudian diterbitkan.
Aku hanya memutuskan akan menulis untuk diriku sendiri.
Sebagai penghibur diri sendiri. Sebagai pengingat diri sendiri dan juga sebagai pengungkapan perasaan diri sendiri. Hahahahaa..
Mungkin ini terdengar klise ya atau apalah istilahnya. Tetapi begitulah yang aku rasakan, bahwa sebenarnya memang selama ini aku lebih banyak menulis untuk diri sendiri. Tetapi tidak mengapa jika orang lain membacanya, karena memang ada yang ingain aku agar orang lain membacanya. Sebagai pengungkapan aja. Alasan selain itu adalah karena aku berharap semoga apa yang aku tuliskan ada manfaatnya bagi orang lain, setidaknya membuat mereka berpikir walau hanya untuk sejenak.
Makanya di dalam tulisanku, mungkin bagi yang memang mengenalku akan menemukan sifatku di dalam tulisan tersebut. Ada keegoisan dan ada sudut pandangku dalam tulisan tersebut.
Sudahlah. Tulisan (curhat) ini diakhiri saja ^^,
pertama-tama....saya jadi penasaran sama film enime literatur girl itu!
BalasHapuskedua-dua....yah, jangan dibuang deh. disampingkan masih lebih baik. hehehe. menurutku, cuma masalah waktu aja si. mungkin ini masih fasenya saja menulis untuk diri sendiri. siapa tahu, kan, kelak, entah apa yang terjadi, kamu jadi penulis sukses.
ketiga, karena saya belum menonton film itu, saya belum menemukan benang merah antara film tersebut dengan niat saudara mengesampingkan mimpi... hehehe
keempat (ini yang terakhir deh), menurut saya, menulis seperti ini sangat penting. setiap orang memiliki kebutuhan untuk dipahami orang lain. cuman tidak semua orang kan gampang mengungkapkan dirinya sendiri? jadi...menulis bisa menjadi salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan itu...
Tonton aja filmnya. lumayan menarik kok.
BalasHapusEntah ada hubungannya atau tidak juga. Saya gak tau pasti. Cuma ya itu, setelah nonton tiba-tiba aja kepikiran seperti yang ditulis di atas. Hehehehee..
Akhirnya diputuskan untuk berjalan seiring berjalannya waktu aja. Tidak usah dipaksakan untuk diri saya sendiri.
ya.. bagus itu! (so' diplomatis)
BalasHapus