13 Februari 2011

The Ghost Writer (Sang Penulis Bayangan)

The Ghost Writer
The Ghost Writer (2010 - Summit)

Directed          : Roman Polanski
Screenplay      : Robert Harris, Roman Polanski
Produced        : Robert Benmussa, Roman Polanski, Alain Sarde
Cast                : Ewan McGregor, Pierce Brosnan, Olivia Williams, Kim Cattrall, Timothy Hutton, Tom Wilkinson, James Belushi, Robert Pugh, Jon Bernthal.
Based on the novel by Robert Harris

The Ghost Writer . Sang Penulis Bayangan

Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Pengarang        : Robert Harris
Tebal               : 320 halaman
Harga              : Rp 50.000,-
Cetakan Kedua Maret 2010




Sudah cukup lama aku melihat buku ini terpajang di rak buku Gramedia, tetapi tidak ada keinginan untuk membelinya hingga suatu hari akhirnya novel ini di-film-kan. Banyak pujian yang mengalir sehingga mebuatku penasaran tentang apa sebenarnya novel dan film ini.

Membaca judulnya, The Ghost Writer (Sang Penulis Bayangan) mungkin kamu beranggapan novel ini bercerita tentang hantu, makhluk halus dan sejenisnya. Aku pun awalnya berpikiran seperti itu. Namun, ternyata novel ini adalah tentang politik. Ya, politik. Sepertinya agak berat ya? Hehehe...

Tapi, karena justru itulah aku tertearik dengan novel ini. Temanya berbeda dengan buku yang selama ini aku baca. Maklum, sedang bosan dengan cerita fantasi.

Pernah membaca sebuah buku tentang seorang tokoh besar (biografi)?
Mungkin saja nama pengarang atau orang yang menyusun buku tersebut adalah bukan yang teercantum dalam buku tersebut. Bisa saja disusun dan ditulis oleh orang lain yang tidak diketahui oleh publik. Mungkin saja orangnya tidak terkenal dan tidak dikenal oleh siapa-siapa kecuali bagian penerbit buku. Itulah yang kira-kira disebut dengan Penulis Bayangan (The Ghost Writer). Karena dia benar-benar bekerja di balik layar atau kalau mau dikatakan ud-nderground kali yak? (bikin istilah seenaknya. Hahaha)

Begitulah yang dialami oleh seorang Penulis Bayangan (The Ghost Writer) yang direkrut untuk menulis autobiografi seorang mantan Perdana Menteri Inggris, Adam Lang, setelah beberapa hari sebelumnya Sang ajudan politik Adam Lang, yaitu McAra meninggal secara tak wajar.

McAra membantu penulisan memoar sang Perdana Menteri yang menghadapi tuntutan perang. Kematiannya dianggap tidak wajar karena ditemukan tewas di pantai sunyi Martha’s Vineyard.
Setelah terlibat di dalamnya. Sang Penulis Bayang perlahan-lahan menemukan sesutu yang tidak wajar dalam penulisan autobiografi sang Perdana Menteri tersebut.

Banyak rahasia yang terselubung dan menyimpan misteri. Apalagi pada saat ada yang menyerang sang Penulis Bayangan dan mengambil naskah yang diduga naskah Adam Lang.

Semakin mendalami penyusunan naskah ini dan semakin dalam melakukan riset menyeluruh tentang masa lalu Adam Lang, semakin banyak hal ganjil yang ditemui sang Penulis Bayangan. Apalagi sampai mengancam jiwanya. McAra yang ditemukan tewas pun barangkali disebabkan karena mengetahui terlalu banyak rahasia – rahasia yang mengancam jiwanya.

Ada apa sebenarnya di balik kisah masa lalu Adam Lang? Bagaimana dengan istri sang Perdana Menteri, Ruth Lang?  Apa peran sang sekretaris Amelia?

Banyak misteri yang dihadapi Sang Penulis Bayangan. Aku tidak ingin menceritakan lebih lanjut, biar penasaran (emang ceritaku mengundang rasa penasaran?) dan temukanlah jawaban atas rahasia-rahasia dengan membaca novelnya dan/atau menonton filmnya.

--
Yang unik adalah bahwa Sang Penulis Bayangan (The Ghost Writer) sama sekali tidak disebutkan namanya. Namanya siapa, tidak pernah diketahui oleh pembaca. Benar-benar orang di balik layar yang tentu saja masih memilki bayangan (apa sih?).

Selain itu pula, setiap bab di novel ini diawali dengan sebuah informasi mengenai Sang Penulis Bayangan (atau bisa juga dibilang tips menjadi The Ghost Writer)

Butuh perjuangan yang cukup lama bagiku untuk menghabiskan novel ini. Sekitar 5 bulan kalau gak salah. Bukan karena novel ini tidak menarik, namun karena akhir-akhir ini minat membacaku menurun drastis. Jangankan novelsetebal 318 halaman ini, komik pun yang bisa dibaca sekali duduk selama setengah jam tidak  berminat untuk aku lakukan.

Namun, karena kesabaran akhirnya novel ini aku selesaikan juga bulan Januari 2011 dan itu pun menghabiskan setengah bagian isi novel ini yang ternyata sungguh menarik. Mengapa saya katakan menarik? Karena saya tidak ingin melepaskannya hingga akhir cerita novel ini. Rasa penasaran, ketegangan dan keingintahuan tentang apa yang akan terjadi dan nasib Sang Penulis Bayangan benar-benar menghipnotisku untuk segera menghabiskan novel ini.

Buku Vs. Film

Aku menahan diri untuk tidak segera menonton film The Ghost Writer ini sebelum menghabiskan novelnya. Alasan utamaku adalah, aku ingin segera menghabiskan membaca novel ini kemudian ingin melihat visualisasinya seperti apa.

Seringkali ketika aku menonton film yang diangkat dari sebuah novel, maka aku tidak lagi begitu berminat membaca novel-nya. Sungguh berbeda dengan membaca novel-nya terlebih dahulu, kemudian menonton filmnya walaupun garis besar ceritanya tentu saja sudah aku ketahui.

Beberapa bulan terakhir ini aku menyadari bahwa tidaklah bijaksana membandingkan sebuah novel dan filmnya. Hal ini disebabkan karena buku dan film adalah dua media yang berbeda.

Tentu banyak yang kita dengar bagaimana kekecewaan yang dilontarkan oleh pembaca setia novel yang menonton film yang diangkat dari novel kesayangannya tersebut. Salah satu alasannya tentu saja karena tidak memungkinkan untukmemasukkan semua elemen yang ada di buku ke dalam film yang berdurasi sekitar 2 jam. Mau berapa lama durasinya? Dan tentu saja budget yang dibutuhkan berapa? Aah.. tentu saja ini bukan urusan kita ya dan penonton pun tidak mau tahu. Hehehe...

Berbicara mengenai The Ghost Writer ini, baik novel maupun filmnya, kedua-duanya memuaskan saya walaupun ada beberapa hal yang berbeda dibandingkan buku dan filmnya.

Tentu saja bukan masalah tidak semua yang ada dibuku divisualisasikan melalui film ini. Tap, yang ingin saya sroti perbedaannya adalah mengenai ending novel dan film ini.
Sungguh berbeda menurut saya. Tetapi kedua-duanya memiliki kelebihan masing-masing.

Ending di novel mungkin akan lebih memuaskan pembaca dibandingkan dengan di film karena menurut saya ending di novel lebih terasa jelas dan mudah dimengerti oleh pembaca.
Namun, ending di film justru menarik dengan adanya suatu pertanyaan yang ‘mungkin masih’ tersisa. Selain itu pula, penyelesaian suatu misteri di filmnya lebih dimengerti kata-katanya dan lebih terasa masuk akal. Di novel-nya justru terdapat kata-kata yang agak janggal untuk misteri tersebut. Hal ini mungkin disebabkan karena kesalahan penerjemahan atau memang seperti itu adanya. Melalui film saya lebih mengerti maksud sebenarnya apa, dan mengenai apa sebenarnya yang terjadi kepada si Penulis Bayangan novelnya memuaskan saya. Hehehe..

Sebenarnya ingin membahas suatu film dari segi editing, cinematografi dan juga hal-hal lainnya. Tapi, aku belum memiliki kemampuan untuk itu. Belum ngerti. Jadi harus belajar dulu. Hehehehe.. (sebenarnya alasan lain adalah, aku merasa keren aja bisa membahas film dari segi sinematografi, pengambilan gambar, editing, music score dll.)

Dan inilah penilaian saya terhadap The Ghost Writer ini.
      
      The Ghost Writer (Novel)
Rating : 8,25/10
Sebagai sebuah novel, The Ghost Writer enak untuk dibaca. Tidak perlu mengetahui banyak tentang politik untuk bis menikmati novel ini. Lagipula bahasa yang digunakan pun tidak berat dan bahasa-nya mengalir enak untuk terus diikuti sampai akhir kisah ini.

      The Ghost Writer (The Movie)
Rating : 7,75/10
Sebagai sebuah film, The Ghost Writer adalah film yang menarik dan enak untuk diikuti walaupun bertema penulis dan politik. Tidak perlu berpikir terlalu berat untuk bisa menikmati film ini.
Acting para pemeran di film ini aku rasa pas. Nuansa yang diciptakan dan setting-nya mendukung untuk cerita ini.


*Note : Aku sudah bisa untuk melepaskan kaitan antara buku dan film. Ketika aku menonton sebuah film, memang kadang-kadang masih membandingkan dengan novelnya. Namun, tidak saya bandingkan sebagai media (elemen) yang sama. Pisahkanlah, karena dengan begitu kamu dapat menikmati kedua-duanya.
Hal yang sama terjadi ketika saya menonton Harry Potter sebagai sebuah film, bukan sebuah novel. Hasilnya adalah, Harry Potter adalah film yang bagus dan memuaskan saya. Hehehe...

Mohon maaf jika review-nya kurang memuaskan. Masih belajar soalnya. Hehehe..

5 komentar:

  1. boleeeh..

    tapi piye caranya? hehehe..

    BalasHapus
  2. ah kupikir sama..
    sepertinya ghost writer ini beda ya sama ghost writer yg aku baca..

    bisa jd referensi untuk bacaan nih..

    BalasHapus
  3. Yen, emang baca yang mana?
    pengarangnya?

    Sebelum cetak ulang dan dibuat filmnya, novel ini cuma berjudul "THE GHOST" kalau aku gak salah inget.

    BalasHapus
  4. Permisi min, kalo ada yang minat the ghost writter bisa mampir ke sini http://www.lintas.me/go/aksiku.com/the-ghost-writer-sang-penulis-bayangan

    BalasHapus