5 Desember 2015

[Book Review] Penjelajah Antariksa #1 : Bencana di Planet Poa - Djokolelono



Penjelajah Antariksa #1


Penjelajah Antariksa #1 : Bencana di Planet Poa
Penulis : Djokolelono
Penyunting : Pradhika Bestari
Desain Sampul dan Ilustrasi : Oki Dimas Mahendra
Penerbit KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Cetakan Pertama 2015
KPG 59 15 010 72
Tebal 221 halaman
Edisi pertama diterbitkan oleh Gramedia pada tahun 1985


Berbekal dari info sebuah group penggemar novel fantasi, aku baru tahu kalau ada novel lokal bertema luar angkasa karya Djokolelono. Dulu sih sewaktu SMA tahunya cuma novel AREA-X karya Eliza V. Handayani yang menyinggung masalah benda antariksa, selain itu gak pernah baca yang lain sih.

Nah, hari Minggu lalu aku jalan-jalan ke toko buku, begitu melihat novel ini tanpa pikir panjang langsung kubawa ke kasir dan langsung dibaca setiba di rumah.

Penjelajah Antariksa 1 : Bencana di Planet Poa merupakan buku pertama seri Penjelajah Antariksa (yang dengar-dengar sih berjumlah 7 seri). Bencana di Planet Poa bercerita tentang kehidupan para manusia Terra di Planet Poa. Setelah Terra atau Bumi, planet tempat tinggal mereka sebelumnya hancur, para manusia Terra menjelajah ruang angkasa untuk menemukan planet untuk menjadi tempat tinggal yang baru. Planet Poa yang mereka tempati sekarang ternyata memiliki penghuni yakni Bangsa Poa. Planet Poa adalah milik bangsa Poa yang mirip manusia namun lebih primitif dibanding bangsa Terra. Oleh karena itu, Bangsa Terra hanya sementara di Planet POA sementara mencari planet baru untuk mereka huni. Janji mereka adalah, “Jangan tempati planet yang telah berpenduduk. Jangan lagi berperang. Sudah cukup.”

Hubungan bangsa Poa dan manusia Terra bisa dikatakan tidak begitu harmonis. Keunikan Planet POA adalah siklus siang dan malam terjadi sekitar 6 bulan. Bangsa Poa, uniknya, keluar untuk berkativitas pada Malam Panjang yang sangat dingin, sedangkan penduduk Terra justru beraktivitas ketika matahari terbit.  Cerita ini fokus pada petualangan 4 bersaudara, yaitu 2 anak laki-laki dan 2 anak perempuan.

Pada hari sebelum Malam Panjang tiba, Raz, seorang gadis kecil, dan kakeknya terjebak di luar kota karena berusaha menolong seorang manusia Poa. Vied, Veta, dan Stri, ketiga kakak Raz, berusaha menemukan Raz dan kakek mereka. Di saat yang sama, muncullah kelompok manusia Terra lainnya yang memiliki teknologi yang lebih canggih. Kali ini mereka datang untuk menguasai planet itu.
Sementara manusia Terra lainnya juga berupaya untuk mempengaruhi bangsa Poa untuk melakukan penyerangan kepada penduduk Terra planet Poa karena mereka berusaha untuk merampas planet Poa dari mereka. Oleh karena hal tersebut, maka pertempuran antara Penduduk Terra, Bangsa Poa, dan manusia Terra asing lainnya tidak terelakkan lagi.

--

Pendapatku tentang Petualangan Antariksa 1 : Bencana di Planet Poa ini adalah novel ini keren-laah dan gak nyangka kalau novel ini sudah ada sejak tahun 1985 (aku belum lahir bo’!) Penggambaran suasana luar angkasanya, peralatan dan teknologi yang dipakai, dan pertempurannya cukup keren, bisa diacungi jempol.

Bagus sih. Gak nyangka ada cerita tentang perang luar angkasa karya lokal. Cerita pun lumayan seru, namun yang aku sayangkan cerita novel ini langsung to the point tanpa perkenalan setting dan tokoh yang kurang membangun pondasi cerita.
Bisa dikatakan bahwa perkenalan dan penggambaran dari universe yang mau dibangun dalam cerita ini minim banget. Setting tempat, pondasi cerita, penokohan tidak terbangun dengan baik.

Sebab kehancuran planet Terra atau Bumi sebelumnya tidak diketahui. Pokoknya langsung mengungsi.
Bahkan planet POA sepeti apa alamnya, kondisinya bagaimana kurang tergambarkan dengan baik.
Aku sih maunya di awal-awal cerita bisa membayangkan Planet Poa seperti apa, Orang Poa ciri-ciri fisiknya seperti apa? Orang Terra pun demikian juga, apakah seperti manusia bumi atau ada yang berbeda?

Seandainya ada gambaran mengenai Planet Poa itu seperti apa, alamnya bagaimana, lokasi di mana, dan sebagainya maka Planet Poa akan terasa lebih indah, lebih dekat dan lebih dikenal pembaca. Aku sangat berharap penggambaran setting tempat dengan lebih detail lagi.
Maunya sih seperti membaca The Hobbit, atau LoTR, atau Harry Potter, atau novel fantasi lainnya. Jujur, penasaran, apakah Planet Poa seperti dunia dalam film Avatar-nya James Cameron? Apakah seperti film pertualangan antariksa Doraemon? Atau seperti apa
Aku suka membaca deskripsi setting tempat yang baru. Membacanya itu bisa sambil membayangkan. Dan sayangnya itu tidak digambarkan oleh sang pengarang :)

Penokohan pun tidak terbangun dengan baik. Penokohan 4 bersaudara tidak tergambarkan dengan detail. Siapa mereka? Sifat bagaimana? Umur berapa? Sifat dan kemampuan mereka cuma tergambarkan dengan seadanya.
Bangsa Terra dan Orang Poa seperti apa juga tidak tergambarkan dengan baik. Ciri fisik, sifat, kemampuan, dsb. Tokoh banyak, nama beragam, dan tidak ada pendalaman karakter.
Akibat dari penokohan yang cukup lemah, simpati terhadap para tokoh, orang Terra, Orang Poa terasa kurang, bahkan tidak terasa. Membaca petualangan mereka dan membaca apa yang terjadi pada mereka terasa hambar dan cenderung ada rasa ketidakpedulian terhadap mereka.
Oh iya, enaknya sih buku Penjelajah Antariksa ini tidak terlalu teba dan ukuran bukunya pas. Sangat enak dibawa kemana-mana, mau dibaca dengan posisi apapun juga terasa enak banget. Mau sambil duduk, tiduran, berdiri, atau gaya lainnya. Ukuran font juga pas. Tata bahasa juga tergolong enak dibaca. Ah, ada beberapa kata yang masih typo sih tapi jumlahnya sedikit banget.

Secara keseluruhan cukup bagus. Cukup bikin penasaran kelanjutannya.
 
Nice job Djokolelono. Senang mengetahui ada novel fantasi dari negeri sendiri. Setelah ini sih mau langsung lanjut baca buku ke-2 dan berencana langsung beli buku 3 dan 4.

Nilai : 3,4/5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar