22 Juni 2011

This is Who I am (a part of me that you don’t understand)

Oke.. Jadi apa yang akan aku bicarakan di sini?

Mari aku membicarakan mengenai sifat dan perilaku seseorang. Seseorang di sini sebenarnya sangat mengacu kepada diriku sendiri (sambil nunjuk orang lain, namun empat jari menujuk diri sendiri). Masa aku membicarakan orang lain di blog ini beserta sifat dan perilakunya? Ntar bisa menimbulkan fitnah, ghibah dan dampak buruk lainnya. Tidak baik itu, tidak baik. Ingat itu. Lagipula siapa aku yang bisa mengenal seseorang? Hehehe..

Sudah lama aku ingin membicarakan diri sendiri berkaitan dengan keperibadianku *ehm, aku punya keperibadian satu aja kok. Kapan sih aku bisa membicarakan diri secara blak-blakan *bukan juga sih sebenarnya.

Bukan. Bukan maksudku untuk bernarsis-narsis ria membanggakan diri mengenai sifat-sifatku yang baik. Betapa halus dan sopan tutur kataku, betapa mulianya perilaku-ku *haislah.
Lagian bukan tipeku untuk membanggakan diri dan jatuhnya malah sombong. Haduh, gak mau akunya. Serem. Dosa. Apalah aku ini yang membanggakan diri sedangkan masih banyak yang lebih dariku?

Bukan. Bukan pula aku akan menceritakan tentang sifat-sifat jelekku. Wajarlah ya aku sebagai manusia, bukan orang yang sempurna. Aku itu jauuuuuuuuuuuuh banget dari sempurna, lebih jauh dari Sabang sampai Merauke.

Aku itu ya punya salah dan khilaf juga. Aku juga punya sisi buruk. Tapi bukan berarti aku harus memberitahukannya kepada semua orang. Weiiit.. itu rahasia pribadi. Apa-apa yang jelek, aku yang nanggung akibatnya. Tapi tentu saja keinginan untuk merubah diri itu ada. Mari berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing agar kita menjadi orang baik. *aaamin...

Aku sadar aku punya sisi baik dan sisi buruk (walaupun kadar baik dan buruk itu relatif. tapi setidaknya ini dari sudut pandang dan keuakinanku sendiri). Nah, terus apa? Haissh.. lupa deh mau ngomong apa.
Kadang-kadang aku itu baik hati, rajin membantu orang lain dan membantu diri sendiri.
Tidak lupa beribadah dan berdoa kepada Allah SWT dan berbuat kebajikan yang lainnya.
Namun, iya, kadang-kadang aku melakukan kesalahan yang bisa juga disebabkan oleh kebisaaan.
Kadang-kadang sering marah-marah (waah, aku seorang pemarah)
Kadang-kadang di suatu waktu takut akan sesuatu (waaah, aku penakut juga)
Kadang-kadang bicara keterlaluan, kadang mengumpat (waah, ternyata sering berkata kasar)
Kadang khilaf yang lain dan sebagainya deh *kagak bisa kasih contoh saya ini.

Nah, kadang-kadang aku berpikir *kebanyakan mikir. Sebagai manusia yang katanya tempat salah dan lupa. Apa iya wajar bagi manusia untuk melakukan kesalahan dan kealpaan lainnya? Atau apa karena sebagai manusia ketika melakukan kesalahan dan kealpaan itu maka hal itu wajar? *beda kan dua hal itu ya? Bisa bedain kan?

Episode 2

Tuh, episode 1-nya yang di atas. Gak ada bedanya kok antara episode 1 dan 2.

Di suatu waktu, sebagai orang yang kebanyakan mikir,  sering kali atau kadang-kadang kalau sedang waras aku memikirkan dan menganalisis diriku sendiri. Aku ini orangnya kaya apa sih? Bagaimana aku menghadapi sesuatu dengan akal, pikiran, dan perasaan? Soalnya begini, sebagai orang yang kadang terlalu sensitive (aku mengakui hal ini) dan sebagai manusia yang kadang sering dapat masalah, aku ingin menemukan cara hidup yang nyaman buat diriku sendiri. Begetooo…

ORANG SEPERTI APA AKU INI??

Aku ingin mengenal diri sendiri lebih jauh. Lebih mengerti perasaan diri sendiri dan sifat-sifat yang aku miliki dan tentu saja reaksiku terhadap segala sesuatu. Kadang ketika menghadapi sesuatu yang menykitkan, aku berpikir? Ah, aku saja yang terlalu ambil pusing, gak seharusnya aku sseperti itu. Namun yang namanya udah sifat ya akan terus terasa seperti itu. Mangkanya, kadang aku berusaha untuk menganalisis gejala dan reaksi diri sendiri. Bagaimana nantinya aku mengelolanya dan menekannya hingga akhirnya tidak lagi terasa menyakitkan. Yah, aku sering melakukan hal itu. Dan syukurlah, untuk sesuatu yang sama dan kadang sering terjadi aku merasa lebih siap dan tidak lagi terasa menyakitkan
*walaupun aku akui kadang gagal sih T.T

Ah, yang penting kan sudah berusahaaa.. Dan tentu saja aku gak akan menyerah untuk berusaha hidup nyaman buat diri sendiri. Kan berkeluh kesah itu sering-sering gak baik, lagian siapa sih yang mau merasa menderita sering-sering? Hahaha…

Episode 3

Pernahkah kamu merasa membenci diri sendiri?

Aku pernah. Hal itu dikarenakan aku tidak menyukai atas apa yang telah aku perbuat dan atas apa yang ada pada diriku. Bukan, bukan berarti aku tidak pandai bersyukur. Namun, kadangkala sifat yang aku miliki itu begitu buruk dan aku ingin mengenyahkannya. Hal itu kadang bikin aku sakit. Aku juga tau (jika sedang waras) bahwa hal itu bisa membauat lebih kuat kalau aku bisa melaluinya, bisa mengatasinya. Tapi, perasaan itu muncul ketika aku merasa gagal untuk mengatasinya. *haissh, bahasaku…

Pernahkah kamu merasa begitu mencintai diri sendiri?

Tentu saja aku pernah. Begitulah aku sebagai manusia. Labil. Pernah menyukai diri sendiri, namun pernah juga membenci diri sendiri. Aku menyukai dan begitu bahagia atas apa sifatku dan atas apa yang aku lakukan serta rasakan.

Episode 4

Berhubungan dengan episode 1-3. Eh, pernahkan membaca buku tentang sifat manusia. Mencoba mencari tau sifat atau tipe seperti apa kita sebagai orang. Kadang kita merasa cocok. Eh, iya, ini aku banget *jerit dalam hati. Atau bisa juga tuh baca-baca ramalan bintang, shio atau apalah itu.

Mungkin pernah juga (walaupun sekedar iseng) mencari tau sifat berdasarkan tulisan tangan atau berdasarkan tanggal lahir *Jujur, aku kadang ikut kok, karena pengen tau hasilnya seperti apa. Hehe..

Yaaah, mengenai hasilnya ada yang *benar-benar tepat, *lumayan tepat, *gak begitu juga sih, tapi sedikit tidak begitulaah atau *tidak tepat sama sekali. Atau kadang-kadang membaca hasilnya berpikir, emang aku kayak gitu ya? Masa sih?

Nah, nah. Aku itu kan tipe orang yang kadang melawan arus. Atau kalau dikhususkan lagi, sering aku tidak akan menerima begitu saja apa yang dikatakan kepadaku walaupun itu benar adanya. Tentu saja gak bakal aku terima mentah-mentah.

Misalkan ya, aku membaca hasil analisis sifatku sendiri. Memang benar adanya aku memilki sifat X yang disebutkan itu. Aku mengakuinya. Namun, sifat itu tidaklah baik jika dibiarkan begitu saja. Menyakitkan terasa kalau terjadi (eh, terutama ini yang hasil akhir sifatnya menyakitkan. Kalau sifat yang baik dan menyenangkan, dengan senang hati aku akan menerimanya. Hahaha…).

Aku berpikir. Iya, ini sifatku. Aku ini ya orang yang kaya gitu (ehm). Namun, aku gak mau terima gitu aja. Sifat ini jelek, aku mau mengubahnya. Naah, itulah. Aku akan berusaha mengubahnya agar sifat itu ebih bermanfaat dan menyenangkan. Okelah katakana kalau diubah itu susah (namanya juga sifat dasar), Cuma mungkin aku modifikasi atau kendalikan atau mengelolanya dengan bijaksana sehingga akan lebih bermanfaat dan tidak akan merugikan, terutama buat diri sendiri. #Haisshlah…

Episode 5

Pernahkan kan mengeluh karena merasa orang lain tidak mengerti akan diri kita sendiri?
“Kenapa sih gak ada yang bisa ngertiin akyu?”
“Kenapa kamu tidak juga mengerti? Kamu seharusnya jangan marah dong kan aku orangnya emang seperti itu! Kamu seharusnya maklum.”

Yaaa.. kira-kira begitulah yang kadang orang lain dan kita katakan. Secara inti-lah, bukan kata-kata secara persis. Cuman ya, aku kepikiran kadang-kadang. Kadang-kadang kita menuntut orang lain untuk mengerti diri kita. “Oi, ngertiin aku dong!”. Tapi, pernahkah kita menuntut diri sendiri untuk memahami akan diri kita sendiri?

Dalam artian hal di atas, pernahkah kita berpikir bahwa kita harus mengerti, bahwa orang lain tidak sepenuhnya memahami kita. Tak bisa kita memaksakan semua kehendak kita. Bisa saja yang kita lakukan berdampak sebaliknya dari apa yang kita harapkan. Setidaknya pernahkah kita merasa bahwa kadang kitalah yang harus mengerti, bukan hanya mereka?

Makanya, mari kita saling mengerti. Karena banyak yang hanya mementingkan diri sendiri di dunia ini (kadang aku egois juga), makanya sering terjadi bentrokan kepentikan dan rusuh deh jadinya. Makanya, mari kita memulai untuk saling mengerti, atau kalau susah untuk mengerti orang lain, buatlah diri sendiri mengerti akan pribadi sendiri *siapa sih lo yang sok nasihatin gue? *ya begitulah saran akhir dari saya.

Penutup

Akhirnya, tulisan ini tidak menggambarkan diriku sendiri ya? Malah pembicaraannya menyimpang dari yang seharusnya. Tapi, kadang emang gitu sih kalau aku udah mulai nulis, akhirnya akan keluar dari focus utama.
Tidak apalah –memaafkan diri sendiri – tetap aja apapun isinya, aku berharap ada manfaatnya bagi yang membaca.

Terima Kasih aku ucapkan bagi yang bersedia membaca tulisan yang panjang sekali ini (dengan kata-kata yang belepotan dan mungkin susah dimengerti). Hehehe…

Eh, iya. Marilah cintai dirimu sendiri dengan segala apa yang ada padamu. Setiap orang itu unik dan spesial kok. Dan tunjukkan bahwa ke-unikan-mu itu luar biasa. Okeeee....

*Note:
> This is Who I am  - Michael Learns To Rock (MLTR)

6 komentar:

  1. eh kebayang kok lewat tulisan ini, hab-hab seperti apa, hehehe

    yang episode ke tiga, saya banget. atau mungkin semua orang memang begitu. setiap orang mungkin melalui episode itu, episode tarik menarik antara suka dan benci dengan dirinya sendiri.

    mungkin...^^

    BalasHapus
  2. waaah.panjang juga ya, udah kayak makalah ada penutupnya segala ..heheh

    nggak ada abisnya emang kalo berbicara tentang diri sendiri, dalam artian yang ositif tentunya.. ^^

    BalasHapus
  3. Wahaha saya pernah coba mengetahui sifat lewat tanda rangan. Dan hasilnya: tidak sama :p

    BalasHapus
  4. Huda Tula > Jadi tergambar seperti apa saya ini? wkwk..

    Rabest > iya, panjang. membicarakan diri sendiri itu emang kadang mengasyikkan. Ini aja tiba-tiba tertulis sepanjang ini, padahal niatnya gak. hehe

    iam > kalau lewat tulisan tangan aku gak begitu percaya sih. soalnya kadang-kadang tulisanku beda beda sepanjang waktu. tergantung kemauan. haha

    BalasHapus
  5. aku juga pernah baca2 soal karakter2 gitu kdg ikutan tesnya juga. hasilnya? ya kdg ada benernya juga sih. tapi masalahnya kalo dilit dari peng-kategori-annya seringkali satu orang memiliki keseluruhan ciri karakter2 itu, hanya saja beda porsinya. malah aku pernah dapet hasil sama antara karakter satu dgn karakter lainnya. lalu apakah kemudian aku berkepribadian ganda??hahaha.entahlah..

    BalasHapus
  6. Yen - kalau menurutku sih sifat itu bisa sama secara umum, namun setiap individu meiliki cara menunjukkan atau berbeda dalam perkembangannya, itulah yang membuat setiap orang berbeda.

    Kalau masalah keperibadian ganda? Hehe, aku gak tau. mungkin kita bisa memperlihatkan sifat yang berbeda dalam situasi dan kondisi yang berbeda.

    BalasHapus